เข้าสู่ระบบSebelumnya, Priya sudah menjelaskan dengan detail bahwa segala bentuk konflik antara kultivator dilarang keras di dalam Kota Suci. Bahkan ayahnya Priya yang merupakan ketua Paviliun Ufuk pun harus sangat berhati-hati saat datang ke tempat ini secara langsung.Oleh karena itu, Tirta tidak terlalu khawatir saat Lavanya pergi membeli bahan-bahan sendirian. Apalagi dia juga sudah memberikan artefak rahasia pada Lavanya, bisa dibilang keselamatan Lavanya benar-benar terjamin.Setelah memperhatikan Lavanya memasuki gerbang kota yang megah itu hingga sosoknya menghilang di tengah kerumunan, Tirta baru berkata pada Priya, "Nona Priya, ayo kita berangkat juga.""Baik. Tuan Tirta dan kedua nona, silakan ikut denganku."Setelah itu, Priya berjalan di depan untuk memimpin jalan dan menjelaskan, "Tempat yang akan kita tuju dipenuhi kabut beracun yang alami dan sangat tebal. Selain itu, racunnya sangat mematikan sampai para kultivator pun sulit menahannya. Berbagai serangga beracun dan monster yang
"Jadi, tempat ini adalah reruntuhan kuno yang dibilang Nona Priya?" tanya Tirta."Bukan. Reruntuhan itu masih ada sekitar dua puluh ribu mil dari Kota Suci ini. Tapi, kalau mau ke sana, kita harus masuk ke Kota Suci lebih dulu untuk lakukan beberapa persiapan. Di sana ada banyak monster beracun yang punya racun mematikan di tubuh mereka, kita harus siapkan cukup banyak obat spiritual penawar racun. Kalau nggak, kita nggak pernah bisa kembali lagi," jelas Priya.Setelah diam sejenak, Priya melanjutkan, "Selain itu, Tuan Tirta, aku rasa aku perlu jelaskan sedikit soal Kota Suci ini. Kota ini adalah kota terbesar yang jadi pusat berkumpulnya para kultivator di dekat wilayah terlarang Laut Utara. Baik kultivator jalan lurus ataupun iblis, semuanya berkumpul di sini.""Tapi, begitu masuk kota ini, nggak peduli seberapa besar dendam seseorang ataupun ada konflik apa pun, orang itu nggak boleh bertarung di dalam kota. Kalau melanggar, akibatnya pasti mati.""Oh? Kenapa bisa begitu?" tanya Tir
Namun, saat memikirkan keselamatan Tirta tidak dapat dijamin, entah mengapa hati Suryana juga mulai merasa gelisah dan tidak pasti."Begini saja. Situasi saat ini memang nggak begitu baik. Mulai sekarang, kalian dua kultivasi bersamaku di aula utama sampai krisis ini benar-benar berakhir," kata Afifah pada kedua wanita itu setelah berpikir sejenak.....Sementara itu, kembali ke pihak Tirta.Tirta tidak mengetahui situasi cemas yang sedang melanda Istana Samara. Meskipun sekarang dia mengetahuinya, itu juga tentu saja tidak ada gunanya. Dia hanya bisa menunggu Priya membawanya ke reruntuhan kuno itu. Jika beruntung dan berhasil menemukan formasi teleportasi yang ditinggalkan leluhur generasi pertama Istana Samara, dia berkesempatan segera kembali ke Istana Samara.Sejak meninggalkan wilayah terlarang Laut Utara, Tirta dan rombongannya sudah terbang tanpa henti selama dua hari dua malam di bawah pimpinan Priya. Mereka bergerak dari bagian paling utara dunia awani hingga wilayah pinggira
Setelah meraung dua kali dan tidak peduli apakah keluarga pria paruh baya itu memahami maksud mereka atau tidak, pada binatang jurang raksasa itu membalikkan tubuh besar mereka. Setelah itu, mereka kembali ke dalam laut hitam yang gelap itu.....Sementara itu, di Istana Samara, di aula tempat Afifah berada.Shindy berdiri dengan patuh di samping dan mendengarkan percakapan antara Afifah, Suryana, Arshala, dan Nova dengan penuh hormat. Sejak terakhir kali dia meninggalkan kediaman Suryana dalam keadaan marah hingga memuntahkan darah, sudah hampir sepuluh hari berlalu.Meskipun sangat enggan, di hari kedua setelah muntah darah Shindy Nenek Shindy tetap membawa sejumlah besar kompensasi. Tanpa peduli dengan tatapan terkejut para murid, dia pergi menemui Arshala serta Nova dan meminta maaf secara langsung. Tindakan itu membuatnya kehilangan muka di sekte dan menghancurkan wibawanya.Namun, sejak saat itu, Shindy menyadari Afifah tidak pernah mencari kesalahannya lagi. Dia merasa keadaan s
"Huh huh. Manusia fana yang kecil juga berani sombong di hadapan para kultivator. Aku mau lihat apa tulangmu benar-benar sekeras itu," kata tetua tingkat pemurnian dewa tahap awal, lalu memberikan isyarat mata.Dalam sekejap, seorang tetua langsung keluar dari kerumunan. Dia mengangkat pedang panjangnya dan bersiap menebas kepala salah satu anak itu."Nggak ... jangan!" teriak wanita paruh baya itu dengan pilu sambil berdiri di depan anaknya.Pria paruh baya itu tidak sanggup melihat pemandangan itu, sehingga dia memejamkan kedua matanya dengan hati yang sangat menderita.Namun, tepat pada saat itu, beberapa binatang jurang raksasa di dalam laut hitam meraung dengan dahsyat dan suaranya bergema hingga ribuan mil. Gelombang suara tak kasat mata itu hampir berubah menjadi bentuk nyata dan mengguncangkan langit hingga awan hitam pekat di atas sana langsung lenyap.Puluhan kultivator yang berada di tempat itu sama sekali tidak mampu menahan gelombang suara mengerikan itu. Mereka menjerit k
"Huh. Kamu hanya seekor semut, aku tentu saja tahu kamu nggak mungkin mampu membunuh ketiga muridku. Kamu tunjuk jalan di depan, cepat jalan," kata tetua itu sambil mendengus.Kesadaran spiritual tetua itu sebenarnya sudah lama menyadari golok dapur yang disembunyikan pria paruh baya itu di dalam pakaian. Namun, dia sama sekali tidak menganggap hal itu sebagai ancaman, malah merasa sangat menggelikan."Baik baik," balas pria paruh baya itu, lalu berjalan di depan. Hatinya dipenuhi kecemasan karena merasa kemungkinan besar dia tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari kejadian ini. Namun, selama dia bisa memastikan Tirta dan rombongannya telah meninggalkan tempat itu, maka kematiannya terasa sepadan.Dengan pikiran seperti itu, pria paruh baya itu tanpa sadar sudah memaksa dirinya melangkah hingga tiba di tepi laut. Saat melihat tidak ada jejak Tirta dan rombongannya lagi di sana, dia diam-diam menghela napas lega.Setelah itu, pria paruh baya itu berbalik dan berkata, "Lapor Tuan, aku te
Tirta menanggapi dalam hati, 'Cih, aku memang genit. Tapi, aku cuma tidur dengan wanita yang kusukai. Kamu kira aku meniduri semua wanita?'Genta membalas, "Oh? Kalau begitu, kamu lumayan berprinsip."Tirta menimpali dengan bangga, 'Tentu saja, aku memang sangat berprinsip. Kalau wanita yang nggak k
Sekarang sudah pukul 8 malam. Hari ini tidak terlihat bulan di langit, hanya terlihat bintang-bintang. Daerah pegunungan sangat gelap.Namun, Tirta tidak mengurangi kecepatannya. Dia bisa menghindari bebatuan. Mata tembus pandang Tirta bisa membuatnya bergerak dengan mudah dalam kegelapan.Tirta ber
Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesa
Setelah kebohongannya terbongkar, Filda tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekati Tirta. Karena itu, dia begitu marah hingga tak bisa menahan diri untuk memaki Farida!"Berhenti! Barusan kamu bilang siapa yang menjijikkan?" Namun, setelah mendengar ucapannya, Tirta segera melangkah ke depan, me







