เข้าสู่ระบบAlthea merasa tidak tenang jika tidak menanyakan keberadaan ketiga kultivator itu.Kamala melihat mereka memang tidak berniat jahat, bahkan mereka memperhatikan Tirta dengan tulus. Jadi, dia baru menceritakan kejadian sebenarnya, "Ketiga orang itu dibunuh Tirta ... eh, salah ... sepertinya bukan dia. Tadi ... sepertinya seorang senior yang sangat hebat tiba-tiba muncul di tubuh Tirta.""Senior itu membunuh tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dalam sekejap dengan tubuh Tirta, lalu ... senior itu menghilang. Oh iya. Sebenarnya tadi Tirta terluka parah. Seharusnya senior itu yang mengobatinya," lanjut Kamala.Mendengar cerita Kamala, Elisa dan lainnya kaget. Althea bertanya, "Senior yang sangat hebat membunuh tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dalam sekejap? Ini ...."Luvia langsung tahu alasannya. Dia berbicara dengan ekspresi kagum, "Pantas saja kita tiba-tiba nggak bisa merasakan energi tiga orang itu. Ternyata senior di dalam tubuh Tirta yang bertindak. Kultivator tingkat p
Itulah sebabnya Genta menghabiskan waktu yang agak lama. Kalau tidak, Vikrama dan lainnya pasti mati lebih cepat.Setelah memastikan tidak ada kesalahan, Genta baru mendarat dan menghampiri Kamala.Kamala melihat tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dibunuh tanpa bisa melawan. Dia yang ketakutan bertanya dengan suara bergetar, "Kamu ... Tirta, 'kan?""Tentu saja bukan, tapi kamu nggak usah tahu. Dia sangat lelah. Kamu jaga dia dan biarkan dia istirahat dengan baik," pesan "Tirta". Selesai bicara, dia memejamkan mata dan tubuhnya jatuh ke arah Kamala.Kamala berteriak. Awalnya dia tidak berani memapah Tirta karena takut. Alhasil, Tirta langsung jatuh ke dalam pelukan Kamala.Wajah Tirta terbenam di dada Kamala yang lembut. Tirta masih tidak sadarkan diri. Dia tidak bisa mengerahkan tenaga sedikit pun.Kala ini, dada Kamala menjadi penopang agar Tirta tidak jatuh. Untung saja, dada Kamala berisi. Kalau tidak, Tirta pasti langsung jatuh ke lantai.Posisi ini sangat aneh. Kamala merasa
Melihat kejadian yang mengerikan itu, Cakra berteriak dengan ekspresi panik, "Ah .... Senior, aku salah. Aku rela menyerahkan semua hartaku untuk menebus kesalahanku. Aku juga bersedia mengabdi padamu! Tolong berikan aku kesempatan sekali untuk memperbaiki kesalahanku!"Selangkangan Cakra basah. Dia sangat ketakutan sampai-sampai kencing di celana. Inti jiwa di dalam tubuh Cakra gemetaran dan hampir keluar dari tubuhnya."Tirta" mencibir, lalu menanggapi, "Memangnya aku butuh pecundang sepertimu untuk mengabdi padaku? Apa kamu pantas?""Tirta" menjulurkan jarinya lagi dan melenyapkan Cakra. Seketika Cakra menghilang dari dunia ini.Genta sangat marah kepada mereka. Jadi, dia juga tidak ingin menyerap inti jiwa mereka biarpun kultivasi mereka tidak rendah.Genta membunuh dua orang dalam sekejap. Sekarang, hanya tersisa Zelia.Zelia makin takut. Dia yang ingin hidup berusaha menghadapi niat membunuh Genta yang mengerikan sambil bicara terbata-bata, "Senior ... aku nggak ada apa-apanya ..
Setelah orang itu melontarkan ucapannya, suasana di sekitar menjadi tenang sampai-sampai terdengar suara detak jantung Zelia dan lainnya. Dug ... dug .... Detak jantung mereka makin lambat. Ketiganya sangat ketakutan.Hal ini karena mereka bisa merasakan dengan jelas pemilik suara memancarkan niat membunuh yang intens. Jadi, mereka merasa sesak dan ketakutan setengah mati.Yang paling menakutkan adalah jelas-jelas mereka hampir meraih kaki dan tangan Tirta. Namun, sekarang mereka sama sekali tidak bisa bergerak.Bahkan jari-jari mereka tidak bisa digerakkan, apalagi maju atau mundur. Mereka seperti ditahan oleh kekuatan tak kasatmata di udara. Seberapa mengerikan kekuatan orang itu sampai-sampai bisa melakukan hal seperti ini?Wajah Zelia memucat dan bibirnya bergetar. Dia yang bungkuk terlihat makin lemah. Zelia berucap, "Gawat, ada yang bersembunyi di sekitar sini. Selain itu, kita nggak menyadarinya. Jangan-jangan ....""Jangan-jangan ... orang itu kultivator tingkat pembentukan dew
Vikrama tersadar dari keterkejutan terlebih dahulu.Vikrama menunjuk Tirta yang jatuh seraya berkata, "Nggak apa-apa. Kalian lihat, pemuda itu nggak mampu bertahan lagi. Dia nggak mungkin bisa melukai kita. Kita juga nggak perlu repot-repot bertindak lagi karena dia sudah membunuh Gundala."Tatapan Vikrama tetap tertuju pada Zelia dan Cakra. Sekarang mereka berdua adalah musuh Vikrama setelah musuh lain tumbang.Tirta tidak bisa mempertahankan tekniknya lagi setelah mengerahkan kekuatan terakhir untuk membunuh Gundala. Saat terjatuh, dia bergumam, "Sialan, sakit sekali .... Tapi, akhirnya aku bisa bantu Pak Aldari dan lainnya balas dendam ...."Efek samping dari esensi darah yang terkuras dan reaksi hebat dari luka di tubuhnya membuat Tirta kehilangan kesadaran. Kertas emas juga terbang kembali ke dalam tubuh Tirta.Melihat kondisi Tirta, Cakra makin antusias. Dia berseru, "Ternyata pemuda itu baru mencapai tingkat inti emas! Haha, bagus! Aku nggak menyangka pemuda itu punya dua barang
Gundala memperhatikan perubahan situasinya. Dia terkejut dan juga marah. Gundala membatin, 'Gawat, tiga orang ini bilang mereka berkultivasi dengan jalan yang benar. Tapi, tindakan mereka lebih kejam daripada Sekte Asura. Takutnya hari ini aku nggak bisa kabur kalau diincar mereka!'Serangan Gundala pada Tirta melambat. Dia memilih untuk menyimpan kekuatan dan berseru, "Teman-teman, pemuda ini membunuh juniorku dan murid dari sekteku. Aku punya dendam kesumat dengannya. Aku harap kalian mendukungku dan berpura-pura nggak melihat kejadian ini."Gundala menambahkan, "Kalau kalian lepaskan aku, ke depannya aku pasti nggak akan melupakan kebaikan kalian. Aku juga akan membalas kebaikan kalian berkali-kali lipat."Zelia terkejut sejenak, lalu tersenyum dan membalas, "Aku nggak menyangka pemuda tampan ini punya dendam denganmu. Pak Gundala balas dendam saja. Kami nggak akan ikut campur."Cakra mengelus janggutnya sambil menimpali, "Benar. Pak Gundala bertarung dengan pemuda itu saja. Kami ba
Bagi Tirta, daripada menghabiskan waktu dengan wanita-wanita biasa, lebih baik dia mempererat hubungannya dengan kekasih-kekasihnya yang cantik. Setelah bersama Melati dan Agatha, Tirta sama sekali tidak tertarik lagi pada wanita-wanita biasa.Usai berpisah dengan Bima, Tirta kembali ke rumah Agatha.
"Setelah dipikir-pikir lagi sekarang, kami sudah mengorbankan jerih payah kami seumur hidup di Farmasi Santika. Kalau pergi begitu saja, memang nggak terlalu baik.""Kami benar-benar tulus menyadari kesalahan kami sekarang. Kami berharap bisa kembali ke perusahaan," ucap Rudi dengan tulus."Jadi ... b
Setelah mendengar sapaan itu, Bella hanya mengangguk dengan tidak acuh. "Ya."Tidak ada sapaan yang terlontar dari mulut wanita itu. Kekuasaan Keluarga Purnomo sangat besar, sampai Bella berani mengabaikan seorang wali kota.Agatha melirik Tirta untuk menanyakan pendapatnya. Tirta langsung menggeleng
"Panther, kalau ingin mati, coba saja keluarkan pistolmu," ancam Bima sambil menatap Panther dengan ekspresi menghina."Master, sekalipun aku bernyali besar, aku nggak mungkin berani melakukannya," ujar Panther sambil tersenyum canggung. Dia tahu betul kemampuan Bima. Tidak ada gunanya melawan Bima d







