LOGIN"Apa caranya? Kalau kamu nggak bisa bilang jelas dalam hitungan ketiga, aku akan langsung membunuhmu. Lagi pula, aku juga nggak akan bisa hidup lagi, jadi nggak peduli dengan reputasi Dinasti Pembunuh lagi," kata Yandi itu dengan tatapan dingin dan suara rendah serta muram.Buzz buzz buzz!Saat itu, tiba-tiba ada banyak pedang tajam yang berkumpul di udara sampai memenuhi langit dan mengunci Yunda dari segala arah. Semuanya terlihat seolah-olah pada detik berikutnya tubuhnya akan ditusuk-tusuk hingga muncul banyak lubang."Satu ... Dua ....""Yandi, jangan gegabah. Aku ... sudah memikirkannya, kamu nggak perlu begitu," seru Yunda buru-buru tepat saat Yandi hampir meneriakkan angka tiga."Aku juga nggak mau membunuhmu. Cepat bilang!" teriak Yandi.Sebenarnya, semua yang dikatakan Yunda tadi hanya karangan untuk mengulur waktu saja. Namun, di saat genting seperti ini, dia benar-benar berhasil memikirkan sebuah cara."Aku bilang ... aku bilang .... Sebenarnya ... aku mau bunuh bocah itu k
Pembunuh pria di samping berbicara dengan penuh penyesalan. Pada saat yang bersamaan, dia juga merasa heran mengapa kedua naga purba jahat itu tidak memanfaatkan kesempatan untuk menyerang karena tidak mengetahui keberadaan pedang kecil itu."Itu juga nggak masalah. Selama bisa mendengar suara itu, sudah cukup untuk buat Yumika nggak bisa angkat kepala di Istana Samara selamanya," kata Yunda dengan nada tidak rela. Saat ini, naga purba jahat telah menyemburkan racun. Bukan hanya dia tidak berani mendekat, bahkan pembunuh di sampingnya pun tidak ingin mengambil risiko.Jangan lihat kultivasi pembunuh pria itu jauh lebih tinggi daripada naga purba jahat itu. Namun, begitu terkena racun dari naga itu, dia juga akan langsung kehilangan akal sehat.Di tempat lain, pembunuh wanita itu buru-buru hendak mundur ribuan mil saat naga purba jahat menyebarkan racunnya agar tidak ikut terkena dampaknya. "Celaka .... Kenapa ... bisa jadi begini ...."Namun, karena Tirta mengeluarkan pedang kecil itu,
"Kak, jangan panik."Swoosh! Saat itu, Tirta masih terlibat pertarungan dengan naga purba jahat jantan. Begitu mendengar suara Yumika, dia segera mengeluarkan pedang kecilnya untuk menekan kedua naga tersebut.Kemudian, dia langsung meraih Yumika dan menggendongnya di pelukannya. Sesudah menyimpan kembali pedang kecil itu, sosoknya terus bergerak lincah menghindari serangan."Tirta ... kamu ... sebenarnya mampu membunuh kedua monster ini. Kenapa kamu masih belum bergerak?" Begitu dipeluk seperti itu, Yumika langsung gemetar saat merasakan dada Tirta yang kokoh.Di saat bersamaan, ketika melihat Tirta tetap mampu bergerak bebas tanpa terluka sedikit pun, bahkan sambil menggendongnya dan menghadapi dua naga purba jahat, dia semakin terkejut."Soal itu, kamu nggak perlu tanya. Aku punya rencanaku sendiri." Tirta tersenyum misterius."Aku ngerti sekarang. Kamu ingin mancing Yunda keluar, lalu membereskan semuanya sekaligus," kata Yumika langsung."Benar." Tirta mengangguk.Tentu saja, soal
Karena itu, meskipun Tirta memiliki cara untuk mengalahkan musuh dalam satu serangan, dia tidak sembarangan menggunakannya.Dengan begitu, pembunuh yang bersembunyi di kegelapan juga tidak akan ketakutan, lalu melarikan diri.Selama orang itu muncul, Tirta punya kesempatan untuk membunuhnya. Tentu saja, hanya Tirta yang memiliki kekuatan dan kepercayaan diri seperti ini.Dalam situasi seperti sekarang, jika diganti kultivator tingkat pemurnian dewa biasa, mereka pasti sudah kabur dari tempat ini tanpa ragu."Bocah ini ... sebenarnya kenapa? Bahkan dua naga purba jahat tingkat pemurnian dewa tahap awal pun nggak bisa melukainya sedikit pun? Dia ... benar-benar masih menyimpan kartu truf.""Sepertinya biaya besar untuk mengundang pembunuh dari Dinasti Pembunuh memang nggak sia-sia." Di pusat Rawa Besar, Yunda yang mengamati pertarungan melalui cermin perunggu berkata dengan wajah suram."Hehe. Menurut pengamatanku, bocah ini hanya menggunakan semacam teknik rahasia untuk memaksa peningka
"Roar!" Dua makhluk raksasa itu menerobos keluar dari danau biru luas tak bertepi, memercikkan gelombang air ke segala arah. Rasanya seperti hujan deras yang mengguyur turun.Burung-burung yang bersembunyi di antara rerumputan hijau muda maupun ikan-ikan yang berenang di dalam air, semuanya ikut terusik. Mereka panik dan melarikan diri ke segala arah.Sudah dekat, semakin dekat. Bau amis menyengat menerpa wajah.Berdiri di bawah sana, Tirta bahkan bisa melihat jelas pupil mata kedua naga purba jahat itu yang tajam bak pedang. Tatapan mereka memancarkan penghinaan, sikap meremehkan, dan sedikit amarah layaknya manusia.Dari sudut matanya, Tirta juga melihat Yumika yang dicegat tidak jauh dari sana, bersama seorang wanita berjubah hitam yang memancarkan aura dingin."Yunda pasti bukan hanya mengundang satu orang. Pasti masih ada satu lagi yang bersembunyi untuk menyerangku. Tapi ... di mana dia?""Aku harus memahami kemampuan kedua naga purba jahat ini untuk membuktikan Mantra Evolusi Se
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Yumika sangat terkejut dalam hati dan tidak lagi membujuknya. Dia segera berbalik dan melarikan diri dengan kecepatan penuh.Dalam benaknya, setelah Tirta mati, semakin tidak mungkin ada orang yang tahu kalau dirinya telah mendapatkan tungku raksasa itu. Selain itu, setelah kembali, dia juga bisa mencari Yunda untuk menyelesaikan urusan mereka.Swoosh! Namun, baru terbang sepuluh kilometer, tiba-tiba sesosok wanita berjubah hitam muncul di hadapannya. "Maaf, kamu nggak bisa pergi dari sini. Kalau nggak, tugasku nggak akan selesai."Wanita ini adalah salah satu dari dua pembunuh tadi. Dengan kekuatan tingkat pemurnian dewa tahap akhir miliknya, ditambah aura membunuh yang terbentuk setelah membantai entah berapa banyak orang, tekanan yang dipancarkannya jauh lebih mengerikan daripada dua naga purba jahat itu.Hanya dengan tatapan dinginnya yang menatap Yumika, tubuh Yumika langsung membeku di tempat."Jadi kamu orang dari Dinasti Pembunuh? Apa keuntung
"Aku juga mau coba!" ujar Hizqil yang semangatnya membara. Dia segera menghampiri master itu. Kemudian, mereka mulai bertarung.Sesudah beradu puluhan jurus, Hizqil berteriak dengan antusias, "Ternyata memang benar! Walaupun aku nggak bisa mengalahkannya, dia juga nggak bisa menyakitiku! Air spiritu
Farida berdeham, lalu bertanya, "Iya, Tirta. Sebenarnya kamu sibuk apa di ibu kota?"Tirta menyahut, "Aku juga nggak ingin kembali begitu cepat. Tapi ...."Apa daya, Tirta terpaksa memberi tahu mereka 4 hari lagi ada kompetisi pasukan khusus internasional dan Orion akan kembali ke kediaman Keluarga
Tirta tidak tahu Devika mencari Marila untuk menanyakan kejadian semalam. Kalaupun sekarang Tirta tahu, dia juga tidak bisa menghalangi Devika.Setelah Tirta menggendong Bella masuk ke vila, ada orang yang menyambutnya dan membawanya ke halaman belakang vila. Tirta melihat Saba dan Yahsva di gazebo.
Tirta tertawa melihat anjing hitam menutupi bagian vital dengan ekornya. Dia juga terus mundur dengan ekspresi waswas. Hal ini karena seekor anjing yang menunjukkan gerak-gerik seperti ini sangat lucu.Tirta berujar, "Anjing hitam, jangan begitu. Aku nggak akan menyerangmu lagi. Turunkan kewaspadaan







