Mag-log inSuara sirene ambulans memecah malam di halaman Rosmarin Medical Center. Beberapa tenaga medis berlari membawa brankar menuju Instalasi Gawat Darurat. Di balik kesibukan itu, Leon masih menatap foto yang baru saja dikirim Armand. Di layar ponselnya terlihat Sarah sedang berjalan seorang diri. Di bawah foto itu tertulis kalimat yang membuat rahangnya mengeras. Kalau kau ingin menyelamatkannya, datang sendiri. Jangan libatkan polisi. Aurora yang berdiri di sampingnya langsung meraih lengan Leon. "Jangan datang sendiri." Leon mengalihkan pandangan. "Kalau aku diam, Sarah yang menjadi korban." "Tapi itu jebakan." Leon mengangguk pelan. "Aku tahu." "Lalu kenapa tetap mau datang?" Tatapan Leon berubah tegas. "Karena aku sudah terlalu banyak kehilangan." "Aku tidak akan membiarkan orang lain terluka gara-gara aku." Aurora menggenggam tangan Leon lebih erat. "Kali ini izinkan aku ikut." Leon menggeleng. "Tidak." "Aku bukan Aurora yang dulu." "Aku tidak akan lari lagi." "Ak
Suara mesin MRI berdengung pelan dari lantai radiologi. Perawat dan dokter silih berganti melewati koridor Rosmarin Medical Center dengan langkah cepat. Di balik kesibukan rumah sakit yang tak pernah berhenti, Leon justru memilih mengunci pintu ruang direkturnya. Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang. Leon. Dan Aurora. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Leon tidak membawa berkas pasien, tidak membahas jadwal operasi, juga tidak memikirkan Armand. Ia hanya ingin mendengar satu hal. Kebenaran. Aurora berdiri di dekat jendela. Kedua tangannya saling menggenggam hingga jemarinya memucat. Leon melangkah mendekat. "Ora." Aurora menutup mata sejenak. "Hm." "Tiga tahun lalu..." "Apa sebenarnya yang terjadi?" Tidak ada jawaban. Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Leon tidak memaksanya. Ia hanya berdiri di hadapan perempuan yang pernah menjadi alasan terbesar dalam hidupnya. "Aku tidak ingin mendengar jawaban dari orang lain." "Aku ingin mendengarnya dari
Suara pendingin ruangan terdengar samar di ruang direktur Rosmarin Medical Center. Tak seorang pun bergerak setelah sambungan telepon dari Armand terputus. Kalimat terakhir pria itu masih menggantung di udara, seolah sengaja meninggalkan tekanan yang semakin menghimpit.Leon meletakkan ponselnya perlahan.Tatapannya beralih kepada Florina, lalu kepada Aurora yang masih terlihat pucat."Mulai hari ini tidak ada lagi yang bekerja sendirian," ucap Leon tegas. "Aurora, ke mana pun kamu pergi harus ada orang yang menemani. Florina, atur jadwal perawat. Irish, koordinasikan dengan bagian keamanan rumah sakit. Aku tidak mau ada celah sedikit pun."Irish mengangguk lebih dulu."Sudah kuduga dia akan mulai menunjukkan dirinya."Florina menyilangkan kedua tangan."Yang membuatku heran justru keberaniannya. Dia menelepon langsung ke rumah sakit.""Bukan karena berani," sahut Leon tenang. "Dia sedang menikmati permainan."Aurora menatap Leon."Lalu kita?"Leon membalas tatapan itu tanpa ragu."Ki
Bunyi monitor jantung saling bersahutan memenuhi Instalasi Gawat Darurat Rosmarin Medical Center. Brankar berlalu-lalang di lorong, roda-rodanya beradu dengan lantai keramik seolah sedang berlomba melawan waktu. Aroma antiseptik yang begitu akrab memenuhi udara, tetapi malam itu suasana rumah sakit terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.Ledakan di area parkir telah mengubah semuanya.Beberapa petugas keamanan masih memberikan keterangan kepada polisi. Garis kuning dipasang mengelilingi mobil Leon yang kini tinggal rangka hitam penuh jelaga. Unit identifikasi sedang memeriksa setiap serpihan logam yang berserakan.Di dalam ruang tindakan, Florina sedang membersihkan luka di pelipis Leon."Dokter, diam sebentar.""Aku baik-baik saja.""Kalau memang baik-baik saja, kenapa lukanya masih berdarah?"Leon tidak menjawab.Tatapannya justru tertuju ke luar jendela ruang tindakan.Pikirannya sama sekali bukan pada luka kecil di wajahnya.Melainkan pada seseorang.Aurora.Tak lama kemudian
Suara telepon itu masih menggema di telinga Aurora."Aurora... lama tidak bertemu."Tangannya semakin gemetar."Siapa Anda?"Terdengar tawa pelan dari seberang."Kamu masih pura-pura tidak mengenalku?"Aurora menutup mulutnya agar napasnya tetap teratur."Kalau tujuan Anda mengancam saya, katakan saja.""Aku tidak mengancammu.""Aku hanya mengingatkan.""Sudah tiga tahun kamu patuh.""Kenapa sekarang mulai berani mendekati Leon lagi?"Jantung Aurora berdetak semakin keras."Apa yang Anda inginkan?""Sesuatu yang sederhana.""Jauhi Leon.""Kalau tidak..."Sambungan telepon langsung terputus.Aurora mematung.Air matanya perlahan jatuh.Ancaman itu kembali.Dan kali ini...Armand sendiri yang menghubunginya.Keesokan harinya.Ruang rapat direksi dipenuhi beberapa dokter senior.Leon sedang memimpin evaluasi pelayanan rumah sakit ketika ponselnya bergetar.Pesan dari Aurora.Dokter, boleh bicara sebentar setelah rapat selesai?Leon langsung membalas.Tunggu aku.Hanya dua kata.Namun cuk
Bunyi mesin EKG kembali memenuhi ruang perawatan intensif. Seorang dokter residen tergesa menyerahkan hasil laboratorium, sementara perawat bergantian memeriksa infus pasien. Di rumah sakit, setiap orang memiliki tugasnya masing-masing. Namun pagi itu, Leon Rosmarin justru sibuk memikirkan satu orang yang sejak semalam terus memenuhi pikirannya. Aurora. Setelah pengakuan yang didengarnya semalam, Leon sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Berkali-kali ia mengingat setiap kalimat yang keluar dari bibir wanita itu. Bukan karena Aurora berhenti mencintainya. Melainkan karena Aurora berusaha melindunginya. Leon mengembuskan napas panjang sebelum keluar dari ruang direktur. Di sisi lain, Aurora sedang memeriksa obat-obatan bersama Sarah. Sarah melirik wajah seniornya itu lalu tersenyum tipis. "Kak, semalam nggak tidur, ya?" Aurora refleks menyentuh bawah matanya. "Kelihatan?" "Sedikit." Aurora terkekeh pelan. "Mungkin karena terlalu banyak pikiran." Sarah hendak bertanya la
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku







