LOGIN“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.”
“Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang kalau kamu malu?” Wajah Aurora bertambah merah. Leon berhasil menebak pemikirannya dengan tepat. Ia menundukkan kepala, tidak berani bersitatap dengan Leon. Leon mendengus melihat reaksi Aurora. Tapi, ujung bibirnya terlihat tertarik sedikit seperti menahan senyum tipis. “Aurora, saya tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Tapi, kamu lupa kalau saya ini dokter? Badanmu tidak akan membuat saya bereaksi apa-apa,” ucap Leon yang menohok hati Aurora. “Saya sudah banyak melihat banyak badan pasien, pria maupun wanita. Jadi, hanya karena kamu adalah mantan kekasih saya, bukan berarti—” “Ba-baiklah! Saya mengerti!” potong Aurora malu. Tidak kuat mendengar ucapan Leon lebih lanjut. Padahal, ia tidak bermaksud mengarahkannya ke sana. Aurora hanya merasa malu karena tubuhnya akan dilihat oleh mantannya sendiri. Sudah bertahun-tahun putus. Kenapa sekarang jadi terjebak dalam posisi memalukan seperti ini? Aurora perlahan melepas cengkramannya di kerah seragamnya. Lalu duduk diam, membiarkan Leon dengan cekatan melepaskan kancing kemeja Aurora yang tersisa. Setelah terlepas semua, Leon lanjut membuka atasan perawat gadis itu. Aurora seketika menggigil ketika merasakan semilir angin AC di kulit telanjangnya. Jantungnya berdebar semakin kencang seiring kain yang melekat di badannya itu luruh ke bawah. Ia kini sempurna tidak memakai atasan. Hanya tersisa memakai dalaman yang sederhana menutupi dadanya. Aurora bisa merasakan tatapan lekat Leon pada tubuhnya. Tapi, tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Berbeda dengan Aurora yang kini tengah malu luar biasa. Tiba-tiba, jemari Leon menyentuh sisi badannya. Aurora seketika tersentak. Ia menggigit bibir, merasa geli karena sentuhan itu. “Tidak ada lebam di badanmu. Sepertinya, dia tidak memukulmu,” gumam Leon, jarinya menginspeksi setiap inci kulitnya. “Balik badan.” “B-baik.” Aurora perlahan membalikkan badannya. Membelakangi Leon. Pria itu seketika mengernyit begitu melihat punggungnya. “Ada lebam samar di sini,” ucap Leon pelan sambil menyentuh titik lebam itu, tepat di bawah kaitan branya. Aurora seketika menahan napas. “Kenapa bisa ada lebam di sini?” “Itu karena dia sempat membanting saya ke kasurnya tadi,” jawab Aurora gugup. Leon terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dengan jarinya, ia tiba-tiba membuka kaitan bra Aurora, bunyi “klik” terdengar nyaring. Seketika mengagetkan gadis itu begitu punggungnya terekspos sempurna. “Ke-kenapa dibuka, Dok?!” seru Aurora panik. “Jangan bergerak, Aurora. Saya harus memastikan lukanya separah apa,” balas Leon tegas, “Saya tidak akan melakukan apa-apa. Diam dan turuti perintah saya.” Aurora seketika kaku. Sebab Leon mendadak menggunakan suara penuh wewenangnya. Wanita itu terdiam dengan pipi memerah. Kenapa dia harus berkata begitu seolah Aurora yang orang mesum di sini?! Aurora akhirnya membiarkan Leon. Ia pun membungkuk sedikit, sambil menyedekapkan tangannya di depan dada, mencegah branya meluncur bebas. Panas semakin menjalari dirinya karena ia bisa merasakan tatapan lekat Leon lagi padanya. Ini benar-benar memalukan! “Saya akan ambil obat dulu. Tetap seperti ini,” ucap Leon. Aurora mengangguk. Ia kemudian mendengar langkah kaki Leon menjauh, lalu menghembuskan napas pelan yang entah sejak kapan sudah ditahannya. Tak lama, Leon kembali berdiri di belakangnya. Ia berjongkok dan mulai mengoleskan salep di punggung Aurora. Aurora tercekat. Bukan karena nyeri, melainkan karena sentuhan Leon terlalu lembut. Ia spontan menjauhkan badannya dari Leon. “Jangan bergerak,” ucap Leon tajam. “M-maaf, Dok,” ucap Aurora panik. Ia tidak sengaja menghindar karena merasa kegelian tadi. Suasana kemudian menjadi hening. Leon tidak berkata apa-apa, fokus mengoleskan obat tersebut ke punggungnya. Sementara Aurora kesusahan menahan rasa gelinya. Setelah beberapa saat, Leon akhirnya berhenti. Aurora bisa merasakan jemari pria itu menjauh dari punggungnya. “Saya sudah selesai mengobatinya,” ucap Leon memecah keheningan. “Baik, Dokter. Terima kasih—” “Sekarang buka celanamu.” Apa? Aurora terbelalak. Ia takut-takut mengintip ke belakang. Memastikan Leon tengah bercanda atau tidak, tapi ekspresi pria itu datar. “Do-dokter serius?” tanya Aurora bergetar. “Apa saya terlihat bercanda?” desis Leon, “Tadi kamu berlari terburu-buru, bahkan sempat hampir jatuh di depan saya. Kamu pasti sempat menghantam sesuatu, kan?” “Ti-tidak, Dok! Saya berani bersumpah!” seru Aurora. Leon berdecak, membuat Aurora bungkam. Ia menelan ludah melihat Leon mulai terlihat kesal. Ia tidak ingat. Dari dulu, apakah Leon orangnya memang sepemaksa ini? “Aurora, cukup malu-malunya. Sudah saya bilang kalau saya sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu,” ucapnya tajam, “Cepat buka celanamu atau saya yang akan membukanya dengan paksa!”Koridor lantai tiga mendadak sunyi.Tatapan semua orang tertuju pada Viona.Sementara itu, wajah wanita tersebut perlahan memucat."Aneh sekali."Leon menyimpan ponselnya."Karena unggahan itu dibuat dari jaringan internal rumah sakit."Viona tertawa kecil. "Itu tidak membuktikan apa-apa, Dokter.""Tentu."Leon mengangguk. "Saya juga tidak mengatakan Anda pelakunya."Wajah Viona sedikit melunak. Namun hanya sesaat."Makanya saya sudah meminta tim IT melakukan penyelidikan lebih lanjut."Jantung Viona langsung berdegup."Dan sampai penyelidikan selesai, saya tidak ingin ada yang menyebarkan rumor lagi."Tatapan Leon menyapu seluruh koridor. "Termasuk kalian."Semua orang langsung menunduk.Tidak ada yang berani membantah.Leon lalu menoleh ke Aurora. "Ikut saya."Aurora yang masih memegang ponsel buru-buru mengangguk.Namun sebelum ia sempat melangkah, suara Viona terdengar."Dokter."Leon berhenti. "Ada masalah?"Viona menggigit bibir. "Lalu bagaimana dengan hubungan pribadi antara Do
"Kak Aurora!"Aurora menoleh.Perawat junior berlari menghampirinya sambil membawa ponsel. "Waduh, Kak... masalah besar.""Ada apa?""Coba lihat forum staf."Aurora langsung membuka aplikasi internal rumah sakit.Begitu melihat layar, wajahnya seketika memucat.Foto dirinya dan Leon saat masih kuliah terpampang jelas.Di bawahnya puluhan komentar terus bertambah."Jadi mereka memang pernah dekat?""Pantas saja Dokter Leon membelanya.""Aku sudah curiga dari awal.""Perawat baru bisa masuk tim operasi direktur? Sekarang masuk akal."Aurora menggenggam ponselnya erat. "Siapa yang unggah ini?""Tidak tahu. Akunnya anonim."Belum sempat Aurora berpikir lebih jauh, suara lain terdengar."Wah, ternyata benar."Aurora mengangkat kepala.Viona berjalan mendekat bersama dua perawat senior.Ekspresinya terlihat terkejut.Terlalu terkejut."Jadi kamu memang punya hubungan dengan Dokter Leon?""Kak Viona, saya—""Kok bisa disembunyikan selama ini?" potong Viona. "Kalau memang mantan pacar, kenapa
Aurora buru-buru mengaitkan kembali branya, tidak ingin membuat Leon semakin murka. Ia menghadap Leon dan mulai menaruh tangannya di karet celananya. Dengan ragu-ragu, ia mulai menurunkan celananya. Aurora merasa bersyukur karena masih memakai celana ketat pendek di balik celana seragamnya, jadi ia tidak perlu terlihat hanya memakai dalaman. Aurora segera menundukkan kepalanya ketika celananya sudah terbuka semua. Ia tidak berani mengintip Leon yang berlutut di depannya, kini sedang menekuri kakinya itu. “Bajingan itu tidak menyentuhmu sampai bawah kan tadi?”Aurora menggeleng cepat, “Saya lebih dulu menekan bel emergency.”“Bagus,” ucap Leon, “Berdiri sekarang.”Aurora mematuhi perintahnya. Tapi, baru ia sadar kalau posisi ini sangat memalukan karena Leon semakin leluasa melihat tubuh bawahnya yang tidak berbusana. Ia menundukkan kepalanya lagi dan meremas-remas tangannya gugup.“Balik badan,” suruh Leon lagi yang dipatuhi Aurora.Jantung Aurora berdebar tidak karuan. Ia berharap
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang kalau kamu malu?” Wajah Aurora bertambah merah. Leon berhasil menebak pemikirannya dengan tepat. Ia menundukkan kepala, tidak berani bersitatap dengan Leon. Leon mendengus melihat reaksi Aurora. Tapi, ujung bibirnya terlihat tertarik sedikit seperti menahan senyum tipis. “Aurora, saya tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Tapi, kamu lupa kalau saya ini dokter? Badanmu tidak akan membuat saya bereaksi apa-apa,” ucap Leon yang menohok hati Aurora. “Saya sudah banyak melihat banyak badan pasien, pria maupun wanita. Jadi, hanya karena kamu adalah mantan kekasih saya, bukan berarti—” “Ba-baiklah! Saya mengerti!” potong Aurora malu. Tidak kuat mendengar ucapan Leon lebih lanjut. Padahal, ia
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat kusut. Rambutnya berantakan. Ada bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya, jelas habis dicengkeram paksa.Sorot mata pria itu seketika menggelap.“Aurora,” suara Leon merendah. “Siapa yang melakukan ini? Jawab saya dengan jujur!”Aurora menelan ludah melihat wajah mengeras Leo. Ia membuka mulutnya lagi, hendak menjawabnya. Tapi sebelum ia sempat bersuara, beberapa perawat terlihat berlari melewati lorong menuju kamar VIP setelah alarm emergency call barusan.Keduanya sontak menoleh pada kerumunan itu. Mendengar ucapan para perawat saat melewati mereka. “Cepat! Dari kamar 307!”“Pasiennya bikin masalah lagi!”“Pasien itu lagi?” salah satu dokter jaga terdengar mengumpat pelan.“Bukannya
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memenuhi benaknya dan tidak bisa ia tepiskan.Ia benar-benar tidak bermaksud tidak sopan pada Leon. Bagaimanapun, meski mereka pernah berhubungan di masa lalu, Leon tetaplah atasan dan seniornya. Pria itu pasti marah besar sekarang.‘Dia pasti akan semakin membenciku,’ desah Aurora dalam hati. Ia menghela napas lagi lalu mengambil map laporan pasien dari dalam lokernya.Hari ini, ia harus menyerahkan laporan langsung ke ruangan Leon. Meski akan canggung bertemu Leon lagi, tapi ia akan menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf.Tak apa, Aurora sudah menerima fakta bahwa mereka akan sering bertemu sebagai rekan kerja di rumah sakit.Dengan gugup, Aurora keluar dari ruang ganti dan berjalan meny







