Share

Bab 7 Pasrah

Author: Qin Mecca
last update publish date: 2026-06-03 20:41:00

“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.”

“Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah.

“Jangan bilang kalau kamu malu?”

Wajah Aurora bertambah merah. Leon berhasil menebak pemikirannya dengan tepat. Ia menundukkan kepala, tidak berani bersitatap dengan Leon.

Leon mendengus melihat reaksi Aurora. Tapi, ujung bibirnya terlihat tertarik sedikit seperti menahan senyum tipis.

“Aurora, saya tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Tapi, kamu lupa kalau saya ini dokter? Badanmu tidak akan membuat saya bereaksi apa-apa,” ucap Leon yang menohok hati Aurora. “Saya sudah banyak melihat banyak badan pasien, pria maupun wanita. Jadi, hanya karena kamu adalah mantan kekasih saya, bukan berarti—”

“Ba-baiklah! Saya mengerti!” potong Aurora malu. Tidak kuat mendengar ucapan Leon lebih lanjut.

Padahal, ia tidak bermaksud mengarahkannya ke sana. Aurora hanya merasa malu karena tubuhnya akan dilihat oleh mantannya sendiri.

Sudah bertahun-tahun putus. Kenapa sekarang jadi terjebak dalam posisi memalukan seperti ini?

Aurora perlahan melepas cengkramannya di kerah seragamnya. Lalu duduk diam, membiarkan Leon dengan cekatan melepaskan kancing kemeja Aurora yang tersisa. Setelah terlepas semua, Leon lanjut membuka atasan perawat gadis itu.

Aurora seketika menggigil ketika merasakan semilir angin AC di kulit telanjangnya. Jantungnya berdebar semakin kencang seiring kain yang melekat di badannya itu luruh ke bawah.

Ia kini sempurna tidak memakai atasan. Hanya tersisa memakai dalaman yang sederhana menutupi dadanya.

Aurora bisa merasakan tatapan lekat Leon pada tubuhnya. Tapi, tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Berbeda dengan Aurora yang kini tengah malu luar biasa.

Tiba-tiba, jemari Leon menyentuh sisi badannya. Aurora seketika tersentak. Ia menggigit bibir, merasa geli karena sentuhan itu.

“Tidak ada lebam di badanmu. Sepertinya, dia tidak memukulmu,” gumam Leon, jarinya menginspeksi setiap inci kulitnya.

“Balik badan.”

“B-baik.”

Aurora perlahan membalikkan badannya. Membelakangi Leon. Pria itu seketika mengernyit begitu melihat punggungnya.

“Ada lebam samar di sini,” ucap Leon pelan sambil menyentuh titik lebam itu, tepat di bawah kaitan branya. Aurora seketika menahan napas.

“Kenapa bisa ada lebam di sini?”

“Itu karena dia sempat membanting saya ke kasurnya tadi,” jawab Aurora gugup.

Leon terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dengan jarinya, ia tiba-tiba membuka kaitan bra Aurora, bunyi “klik” terdengar nyaring. Seketika mengagetkan gadis itu begitu punggungnya terekspos sempurna.

“Ke-kenapa dibuka, Dok?!” seru Aurora panik.

“Jangan bergerak, Aurora. Saya harus memastikan lukanya separah apa,” balas Leon tegas, “Saya tidak akan melakukan apa-apa. Diam dan turuti perintah saya.”

Aurora seketika kaku. Sebab Leon mendadak menggunakan suara penuh wewenangnya.

Wanita itu terdiam dengan pipi memerah. Kenapa dia harus berkata begitu seolah Aurora yang orang mesum di sini?!

Aurora akhirnya membiarkan Leon. Ia pun membungkuk sedikit, sambil menyedekapkan tangannya di depan dada, mencegah branya meluncur bebas. Panas semakin menjalari dirinya karena ia bisa merasakan tatapan lekat Leon lagi padanya.

Ini benar-benar memalukan!

“Saya akan ambil obat dulu. Tetap seperti ini,” ucap Leon.

Aurora mengangguk. Ia kemudian mendengar langkah kaki Leon menjauh, lalu menghembuskan napas pelan yang entah sejak kapan sudah ditahannya.

Tak lama, Leon kembali berdiri di belakangnya. Ia berjongkok dan mulai mengoleskan salep di punggung Aurora.

Aurora tercekat. Bukan karena nyeri, melainkan karena sentuhan Leon terlalu lembut. Ia spontan menjauhkan badannya dari Leon.

“Jangan bergerak,” ucap Leon tajam.

“M-maaf, Dok,” ucap Aurora panik. Ia tidak sengaja menghindar karena merasa kegelian tadi.

Suasana kemudian menjadi hening. Leon tidak berkata apa-apa, fokus mengoleskan obat tersebut ke punggungnya. Sementara Aurora kesusahan menahan rasa gelinya.

Setelah beberapa saat, Leon akhirnya berhenti. Aurora bisa merasakan jemari pria itu menjauh dari punggungnya.

“Saya sudah selesai mengobatinya,” ucap Leon memecah keheningan.

“Baik, Dokter. Terima kasih—”

“Sekarang buka celanamu.”

Apa?

Aurora terbelalak. Ia takut-takut mengintip ke belakang. Memastikan Leon tengah bercanda atau tidak, tapi ekspresi pria itu datar.

“Do-dokter serius?” tanya Aurora bergetar.

“Apa saya terlihat bercanda?” desis Leon, “Tadi kamu berlari terburu-buru, bahkan sempat hampir jatuh di depan saya. Kamu pasti sempat menghantam sesuatu, kan?”

“Ti-tidak, Dok! Saya berani bersumpah!” seru Aurora.

Leon berdecak, membuat Aurora bungkam. Ia menelan ludah melihat Leon mulai terlihat kesal.

Ia tidak ingat. Dari dulu, apakah Leon orangnya memang sepemaksa ini?

“Aurora, cukup malu-malunya. Sudah saya bilang kalau saya sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu,” ucapnya tajam, “Cepat buka celanamu atau saya yang akan membukanya dengan paksa!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Marimar
haish si Leon
goodnovel comment avatar
Ayruw
halah si Leon.. golek kesempitan dalam kesempatan...
goodnovel comment avatar
BunNa
oalah Leon. emboh karepmu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 73 Dokter Galak Itu Milikku

    Pesawat yang membawa Leon dan Aurora akhirnya mendarat setelah perjalanan bulan madu mereka selesai.Begitu keluar dari bandara, Aurora menarik napas panjang. Ada rasa berat meninggalkan tempat yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kehidupan baru mereka, tetapi ada pula perasaan tenang karena mereka akan kembali ke rumah.Leon berjalan di sampingnya sambil membawa koper.“Kamu kenapa diam?” tanyanya.Aurora menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Berpikir apa?”“Bulan madu kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana.”Leon mengangkat alis. “Kamu menyebut hampir ada anak tenggelam sebagai bagian dari bulan madu?”“Aku tidak bilang begitu.” Aurora tertawa kecil. “Maksudku, kita pergi untuk beristirahat, tapi malah tetap bekerja.”Leon mengambil tas dari tangan istrinya. “Aku sudah bilang, profesi kita tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.”“Aku tahu.”“Dan kamu juga tidak bisa melihat orang membutuhkan pertolongan lalu pura-pura tidak tahu.”Aurora tersenyum. “Kamu juga begitu.”Leon

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 72 Jiwa Dokter dan Perawat

    Suara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 71 Tubuhnya Bikin Candu

    Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 70 Bercinta

    Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 69 Cuti untuk Cinta

    Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 68 Di Balik Pintu Darurat

    Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 6 kamar 307

    Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 5 Ketakutan

    Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 4 Interupsi

    Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 3 Pusat Perhatian

    Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status