LOGINSuara langkah kaki menggema di dalam gudang tua itu. Aurora masih berdiri terpaku, menatap Sarah yang kini sama sekali tidak terlihat seperti sahabat yang selama ini ia kenal. Tidak ada senyum, tidak ada kekhawatiran, bahkan tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya.Leon langsung bergeser menutupi Aurora."Jelaskan."Sarah tertawa kecil."Masih saja seperti itu.""Selalu berdiri di depan Aurora.""Padahal tiga tahun lalu kamu juga melakukan hal yang sama."Leon menyipitkan mata."Aku tidak mengenalmu."Sarah menggeleng."Justru itu masalahnya."Aurora menatap Sarah dengan air mata yang terus mengalir."Kenapa kamu melakukan ini?"Sarah akhirnya memandang Aurora."Karena aku membencimu."Kalimat itu membuat Aurora terdiam."Bukan karena kamu melakukan sesuatu kepadaku.""Tapi karena orang yang paling kusayangi hancur setelah mengenal kalian."Raka langsung berteriak."Sarah, jangan lakukan ini!"Sarah menoleh kepadanya."Kamu diam.""Kamu sudah terlalu lama berusaha menghentikanku.
Suara roda brankar berdecit di lorong yang mulai lengang, tetapi perhatian Aurora justru tertuju pada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Kalimat yang tertulis di kartu hitam itu masih terbayang jelas.Orang yang paling dekat dengan kalian sudah lama berada di depan mata.Mobil Leon melaju meninggalkan area rumah sakit. Aurora duduk di sampingnya, sementara tangannya terus menggenggam ponsel."Kak.""Hm?""Menurutmu siapa orang itu?"Leon tetap fokus pada jalan."Aku belum tahu.""Kalau benar seseorang yang dekat dengan kita...""Jangan berpikir terlalu jauh."Aurora menoleh."Tapi tadi di rumah sakit..."Leon mengangguk."Aku tahu.""Orang itu sengaja memberi kita petunjuk.""Supaya kita saling mencurigai."Aurora terdiam.Leon kemudian mengulurkan tangannya sebentar dan menggenggam tangan Aurora."Jangan sampai mereka berhasil.""Aku percaya padamu."Kalimat sederhana itu membuat Aurora sedikit tenang.Namun beberapa kilometer dari sana, sebuah mobil hitam mengikuti mereka da
Bunyi detak monitor jantung terdengar teratur dari ruang ICU, tetapi pikiran Leon justru berlari jauh ke masa lalu. Nama Raka Pradipta terus berputar di kepalanya, terlebih setelah Armand menyebut bahwa adiknya kehilangan masa depan karena keputusan Leon.Aurora duduk di sampingnya dengan wajah penuh kecemasan."Kak Leon..."Leon tidak menjawab."Kamu percaya dengan perkataan Armand?"Leon akhirnya menoleh."Tidak semuanya.""Lalu kenapa wajahmu seperti itu?""Karena aku mengenal Raka."Aurora terdiam."Dia bukan orang jahat.""Aku tahu.""Dia bahkan pernah membantu kita."Leon mengusap wajahnya."Itu yang membuat semuanya tidak masuk akal."Aurora menatapnya lekat."Apa yang terjadi pada Raka sebenarnya?""Aku tidak tahu."Leon berdiri."Tapi sekarang aku akan mencari tahu."Aurora ikut bangkit."Aku ikut."Leon menggeleng."Ora.""Jangan larang aku.""Aku tidak mau kamu kembali terluka."Aurora mendekat."Kalau kita terus seperti ini, Armand akan selalu menemukan cara untuk memisahk
Suara sirene ambulans memecah malam di halaman Rosmarin Medical Center. Beberapa tenaga medis berlari membawa brankar menuju Instalasi Gawat Darurat. Di balik kesibukan itu, Leon masih menatap foto yang baru saja dikirim Armand. Di layar ponselnya terlihat Sarah sedang berjalan seorang diri. Di bawah foto itu tertulis kalimat yang membuat rahangnya mengeras. Kalau kau ingin menyelamatkannya, datang sendiri. Jangan libatkan polisi. Aurora yang berdiri di sampingnya langsung meraih lengan Leon. "Jangan datang sendiri." Leon mengalihkan pandangan. "Kalau aku diam, Sarah yang menjadi korban." "Tapi itu jebakan." Leon mengangguk pelan. "Aku tahu." "Lalu kenapa tetap mau datang?" Tatapan Leon berubah tegas. "Karena aku sudah terlalu banyak kehilangan." "Aku tidak akan membiarkan orang lain terluka gara-gara aku." Aurora menggenggam tangan Leon lebih erat. "Kali ini izinkan aku ikut." Leon menggeleng. "Tidak." "Aku bukan Aurora yang dulu." "Aku tidak akan lari lagi." "Ak
Suara mesin MRI berdengung pelan dari lantai radiologi. Perawat dan dokter silih berganti melewati koridor Rosmarin Medical Center dengan langkah cepat. Di balik kesibukan rumah sakit yang tak pernah berhenti, Leon justru memilih mengunci pintu ruang direkturnya. Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang. Leon. Dan Aurora. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Leon tidak membawa berkas pasien, tidak membahas jadwal operasi, juga tidak memikirkan Armand. Ia hanya ingin mendengar satu hal. Kebenaran. Aurora berdiri di dekat jendela. Kedua tangannya saling menggenggam hingga jemarinya memucat. Leon melangkah mendekat. "Ora." Aurora menutup mata sejenak. "Hm." "Tiga tahun lalu..." "Apa sebenarnya yang terjadi?" Tidak ada jawaban. Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Leon tidak memaksanya. Ia hanya berdiri di hadapan perempuan yang pernah menjadi alasan terbesar dalam hidupnya. "Aku tidak ingin mendengar jawaban dari orang lain." "Aku ingin mendengarnya dari
Suara pendingin ruangan terdengar samar di ruang direktur Rosmarin Medical Center. Tak seorang pun bergerak setelah sambungan telepon dari Armand terputus. Kalimat terakhir pria itu masih menggantung di udara, seolah sengaja meninggalkan tekanan yang semakin menghimpit.Leon meletakkan ponselnya perlahan.Tatapannya beralih kepada Florina, lalu kepada Aurora yang masih terlihat pucat."Mulai hari ini tidak ada lagi yang bekerja sendirian," ucap Leon tegas. "Aurora, ke mana pun kamu pergi harus ada orang yang menemani. Florina, atur jadwal perawat. Irish, koordinasikan dengan bagian keamanan rumah sakit. Aku tidak mau ada celah sedikit pun."Irish mengangguk lebih dulu."Sudah kuduga dia akan mulai menunjukkan dirinya."Florina menyilangkan kedua tangan."Yang membuatku heran justru keberaniannya. Dia menelepon langsung ke rumah sakit.""Bukan karena berani," sahut Leon tenang. "Dia sedang menikmati permainan."Aurora menatap Leon."Lalu kita?"Leon membalas tatapan itu tanpa ragu."Ki
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.
“Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah
Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sa







