แชร์

Bab 6 kamar 307

ผู้เขียน: Qin Mecca
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-03 20:34:55

Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.

“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.

Leon menatap lamat sosok di depannya.

Seragam perawat gadis itu terlihat kusut. Rambutnya berantakan. Ada bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya, jelas habis dicengkeram paksa.

Sorot mata pria itu seketika menggelap.

“Aurora,” suara Leon merendah. “Siapa yang melakukan ini? Jawab saya dengan jujur!”

Aurora menelan ludah melihat wajah mengeras Leo. Ia membuka mulutnya lagi, hendak menjawabnya. Tapi sebelum ia sempat bersuara, beberapa perawat terlihat berlari melewati lorong menuju kamar VIP setelah alarm emergency call barusan.

Keduanya sontak menoleh pada kerumunan itu. Mendengar ucapan para perawat saat melewati mereka. 

“Cepat! Dari kamar 307!”

“Pasiennya bikin masalah lagi!”

“Pasien itu lagi?” salah satu dokter jaga terdengar mengumpat pelan.

“Bukannya dulu juga pernah hampir melecehkan perawat?”

Aurora langsung pucat. Jadi… Ini bukan pertama kalinya? Kenapa ia tidak pernah mendengar apa pun selama ini?

Mungkinkah karena pasien 307 itu adalah pasien VIP, jadi orang-orang menyembunyikan masalahnya? Atau yang mengetahuinya memang hanya orang-orang yang bertugas di bagian VIP?

Kalau begitu … Viona mengetahuinya atau tidak?

Tubuh Aurora gemetar lagi. Ia menyangkal dengan cepat dugaan tidak mengenakkan tentang situasi ini. Tentang Viona. Meyakinkan dirinya sendiri kalau seniornya itu tidak akan sejahat itu.

Belum selesai bergelut dengan pikirannya sendiri, Leon tiba-tiba membungkuk lalu mengangkat tubuhnya begitu saja.

Aurora tersentak kaget. “Dokter!”

“Diam.” Nada suara Leon rendah. Tapi sangat dingin.

Aurora sontak menutup mulutnya. Tubuhnya masih gemetar saat Leon membawanya berjalan melewati lorong rumah sakit.

Beberapa perawat yang lewat langsung menatap kaget. Aurora langsung malu setengah mati. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.

“Do-dokter… saya bisa jalan sendiri…” lirihnya.

Leon tidak memedulikan itu sama sekali. Langkahnya panjang dan cepat menuju area ruang dokter. 

Aurora akhirnya pasrah berada dalam kungkungannya. Lagipula, ia sendiri sebenarnya juga terlalu lemas untuk berjalan.

Di depan ruangan kantor khusus milik Leon, jantung Aurora berdegup kencang saat pria itu membuka pintu dengan satu tangan lalu masuk sambil masih menggendong Aurora.

Ruangan itu sunyi. Begitu pintu tertutup, Leon langsung menurunkan Aurora perlahan ke sofa panjang di sudut ruangan.

Sebelum Aurora sempat buru-buru merapikan pakaiannya, Leon sudah menarik tangannya dan memeriksa bekas kemerahan itu.

Rahang Leon semakin mengeras. “Pasien dari kamar 307 itu yang melakukannya, kan?” tanya Leon tajam, “Dia memaksamu?”

Aurora langsung menunduk. Masih gemetar dan syok untuk menjawab.

Leon mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata sesaat. Pria itu berjongkok di depannya. Tatapannya lurus meneliti wajah Aurora yang pucat.

“Ada bagian lain yang sakit?” Suaranya terdengar lebih lembut. “Apa dia melakukan sesuatu yang lain?”

Entah hanya perasaan Aurora saja atau tidak, tapi wajah pria di depannya itu terlihat lebih lunak juga. Sejenak, ia langsung teringat masa lalu lagi.

Aurora hampir saja tertegun sebelum menggeleng cepat. “N-nggak ada, Dok… Tadi saya langsung pencet emergency call…” jawabnya lirih.

Leon menghela napas, perlahan berdiri lalu meraih kerah seragam Aurora yang berantakan, melepas kancingnya dengan cekatan.

Aurora langsung tersentak panik. “Do-Dokter ngapain?!”

“Saya harus memeriksa apa ada luka lain.”

“Ti-tidak usah! Saya benar-benar nggak apa-apa!” sentaknya menepis tangan pria itu lalu mencengkram erat kerah seragamnya.

Kenapa dokter ini bersikap akrab sekali dengannya? Jika ini karena khawatir, bukannya ini berlebihan? Lagipula… kenapa ia peduli sekali?

Jantungnya berdebar, tapi kali ini bukan rasa takut. Melainkan rasa gugup yang membuat pipinya terasa panas.

Ruangan mendadak hening. Aurora langsung membeku melihat perubahan ekspresi pria itu. Mengingatkannya ketika mereka bertengkar, di masa lalu…

Gawat.

Leon perlahan menarik tangannya kembali. 

“Baik.” Nada suaranya datar, bergema di dalam ruangan yang sunyi itu.

“Ini urusan pribadimu, benar begitu? Bilang yang jelas, Aurora, kalau kamu tidak mau berurusan dengan saya, dan lebih suka dibiarkan terluka sendirian.”

Tatapan Leon menusuk ke dalam relung Aurora, membuat wanita itu membeku.

“Tapi, kalau itu bukan maksudmu, maka biarkan saya merawatmu.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Marimar
ini si Leon kenapa sih kok galak banget sama Rora
goodnovel comment avatar
Ayruw
haduuuhhh..... jangan galak galak dong on... nanti Rora kabur..
goodnovel comment avatar
BunNa
Leon itu kok bikin bingung. sebenernya msh suka kali ya sm Aurora. tapi kok galak banget
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 73 Dokter Galak Itu Milikku

    Pesawat yang membawa Leon dan Aurora akhirnya mendarat setelah perjalanan bulan madu mereka selesai.Begitu keluar dari bandara, Aurora menarik napas panjang. Ada rasa berat meninggalkan tempat yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kehidupan baru mereka, tetapi ada pula perasaan tenang karena mereka akan kembali ke rumah.Leon berjalan di sampingnya sambil membawa koper.“Kamu kenapa diam?” tanyanya.Aurora menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Berpikir apa?”“Bulan madu kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana.”Leon mengangkat alis. “Kamu menyebut hampir ada anak tenggelam sebagai bagian dari bulan madu?”“Aku tidak bilang begitu.” Aurora tertawa kecil. “Maksudku, kita pergi untuk beristirahat, tapi malah tetap bekerja.”Leon mengambil tas dari tangan istrinya. “Aku sudah bilang, profesi kita tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.”“Aku tahu.”“Dan kamu juga tidak bisa melihat orang membutuhkan pertolongan lalu pura-pura tidak tahu.”Aurora tersenyum. “Kamu juga begitu.”Leon

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 72 Jiwa Dokter dan Perawat

    Suara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 71 Tubuhnya Bikin Candu

    Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 70 Bercinta

    Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 69 Cuti untuk Cinta

    Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 68 Di Balik Pintu Darurat

    Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 7 Pasrah

    “B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 5 Ketakutan

    Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 4 Interupsi

    Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku

  • Dokter Galak Itu Milikku    Bab 3 Pusat Perhatian

    Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status