LOGINAlarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai
Bukti tidak pernah benar-benar diam.Ia hanya menunggu seseorang cukup teliti untuk menyatukan potongan-potongan yang sengaja dibuat berantakan.Di ruang rapat rumah sakit, beberapa berkas tersusun di atas meja. Leon duduk bersama Dimas, Irish, Florina, serta beberapa dokter senior yang ikut dalam pemeriksaan internal.Kali ini wajah Leon jauh lebih tenang.Tidak ada kemarahan.Tidak ada kepanikan.Justru ketenangan itu yang membuat Dimas yakin bahwa sahabatnya sudah menemukan sesuatu.Dimas meletakkan sebuah tablet di hadapan Leon."Ini rekaman akses sistem rumah sakit."Leon menatap layar."Jelaskan.""Catatan operasi yang dipermasalahkan memang berubah. Bukan pada saat operasi berlangsung, tetapi beberapa menit setelahnya."Irish menyandarkan tubuh ke kursi."Dan akun yang digunakan?"Dimas memperbesar layar."Akunnya milik dokter magang."Ruangan mendadak hening.Florina menatap Leon."Rowan?"Dimas mengangguk.Leon tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan waktu akses yang te
Ruang operasi tidak pernah mengenal siapa yang paling berkuasa.Di balik pintu itu, gelar direktur, kekayaan keluarga, jabatan, bahkan nama besar rumah sakit seharusnya tidak memiliki arti apa pun. Yang ada hanya satu tujuan: menyelamatkan nyawa pasien.Pagi itu, Leon berdiri di depan ruang operasi dengan pakaian bedah lengkap. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya serius ketika membaca kembali hasil pemeriksaan pasien yang akan menjalani tindakan."Tekanan darah terakhir?""Sudah stabil, Dok.""Riwayat alergi?""Sudah dikonfirmasi kepada keluarga. Tidak ada alergi obat yang tercatat."Leon mengangguk. "Baik. Kita mulai sesuai prosedur."Dimas yang berada tidak jauh darinya memperhatikan Leon sekilas. "Kondisi pasien cukup berat, tapi peluangnya bagus kalau tindakan berjalan lancar."Leon mengangguk."Karena itu jangan ada satu pun yang bekerja berdasarkan asumsi."Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi semua orang di ruangan mengerti maksudnya.Leon memang dikenal galak.Ia ti
Suara sirene ambulans kembali memenuhi halaman rumah sakit. Debu vulkanik menempel pada pakaian para pasien yang datang dari wilayah terdampak erupsi, sebagian membawa luka akibat terkena material panas, sebagian lain mengalami sesak napas setelah terlalu lama menghirup abu, sementara keluarga mereka memenuhi lorong dengan wajah cemas dan tangan yang tak berhenti menggenggam tas berisi barang-barang seadanya.Bencana kembali membuat rumah sakit bekerja tanpa mengenal waktu.Leon baru saja selesai menangani seorang pasien ketika dari kejauhan ia melihat Aurora berdiri di antara beberapa pasien dan keluarganya. Perempuan itu mengenakan seragam perawat, rambutnya tertata rapi, wajahnya terlihat lelah tetapi tetap tenang ketika memberikan penjelasan kepada seorang ibu yang terus menangis karena anaknya harus mendapatkan perawatan."Bu, anak Ibu sudah ditangani. Lukanya memang cukup dalam, tetapi dokter sudah melakukan pembersihan dan penanganan awal. Sekarang kami pantau kondisinya secara
Monitor jantung berbunyi teratur di salah satu ruang pemeriksaan, disusul suara roda troli yang melintas cepat di koridor. Rumah sakit kembali menjalankan kehidupannya seperti biasa, dan di tengah kesibukan itu Aurora akhirnya diperbolehkan mulai melakukan aktivitas ringan. Namun ada satu orang yang tampaknya belum menerima kabar tersebut dengan baik. Leon. "Jangan terlalu lama berdiri." Aurora yang baru keluar dari ruang perawat langsung menoleh. "Aku baru berdiri lima menit." "Lima menit cukup." "Aku hanya mengantarkan berkas." "Berikan kepada perawat lain." Aurora menatap suaminya dengan wajah tidak percaya. "Leon, aku ini perawat, bukan pasien yang harus dijaga setiap detik." Leon mengambil berkas dari tangannya. "Sekarang kamu memang bukan pasien, tetapi kamu baru selesai menjalani masa pemulihan." "Aku sudah mendapat izin melakukan aktivitas ringan." "Ringan, bukan berarti berlari dari satu ruangan ke ruangan lain." "Aku tidak berlari." "Tadi aku melihatmu berjalan
Denyut nadi, tekanan darah, kadar hemoglobin, hingga tanda-tanda pemulihan menjadi hal yang setiap hari diperhatikan Leon. Di rumah sakit, ia dikenal sebagai dokter yang mampu membuat satu ruangan operasi diam hanya dengan satu tatapan, tetapi ketika berhadapan dengan Aurora, ketegasan itu berubah menjadi perhatian yang nyaris berlebihan.Sudah beberapa hari Aurora menjalani masa pemulihan di rumah. Tubuhnya perlahan kembali bertenaga setelah prosedur yang harus dijalaninya, tetapi Leon belum memberikan izin baginya untuk kembali melakukan aktivitas seperti biasa."Aku sudah merasa jauh lebih baik," ujar Aurora sambil menutup buku yang sejak tadi dibacanya. "Aku bahkan sudah tidak terlalu lelah seperti beberapa hari lalu, jadi mungkin besok aku bisa mulai membantu pekerjaan ringan di rumah sakit."Leon yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung mengangkat wajah. "Tidak."Aurora menghela napas panjang. "Aku bahkan belum selesai menjelaskan.""Aku sudah tahu ujung pembicaraanmu.""K
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
“Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah
Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sa







