Share

Bab 151

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-02-14 21:21:04

Alicia ingin menolak.

Seluruh nalurinya berteriak untuk menjauh, mendorong tubuh tinggi di depannya, berlari keluar kamar ini secepat mungkin. Namun pikirannya jauh lebih cepat menyadari satu hal yang membuat langkahnya membeku.

Jika ia keluar sekarang…

Tonny pasti menemukannya.

Pelukan itu justru menjadi satu-satunya tempat aman.

Pria itu tidak berkata apa-apa. Lengannya melingkar erat di tubuh Alicia, satu tangan menahan punggungnya, satu lagi melindungi kepala Alicia, seakan pria itu takut j
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
daffa
Devan.....diakan sudah menyelidik Alicia....KLO Jerry ga mungkin bgt,dia kaya tapi tak sekaya Devan....
goodnovel comment avatar
Rosantirosa
udah curiga Devan soalnya farpumnya yg pamiliar kan hanya Devan yg akrab dg alicia
goodnovel comment avatar
Mbk Indravivo
duh..... bener2 bikin penisirin. siapakah dia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 469

    Air mata meluncur deras dari sudut mata Rebecca, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya. Napasnya tercekat, dadanya naik-turun dengan cepat menahan sensasi robekan yang teramat perih di dasar tubuhnya."Sakit... Sakit sekali..." tangis Rebecca pecah secara lirih, suaranya bergetar hebat.Rayan membeku seketika. Seluruh gelora gairah yang tadi membakar kepalanya mendadak padam, berganti rasa cemas dan panik yang luar biasa. Pria itu menyangga tubuhnya, menatap ke bawah dengan mata membelalak. Di antara peraduan tubuh mereka yang menyatu erat, ia dapat merasakan cairan hangat yang mengalir pelan."Apakah... apakah aku terlalu bersemangat dan mendorong langsung keras?" bisik Rayan penuh penyesalan, suaranya terdengar begitu cemas.Di tengah rintihan dan rasa sakitnya, Rebecca berusaha menyunggingkan senyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Pria di atasnya ini memang benar-benar polos dan tanpa pengalaman; Rayan main dorong keras tanpa aba-aba, sama sekali tidak memperhitungka

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 468

    Gairah di dalam bridal suite itu sudah mencapai titik didih. Tidak ada lagi rasa canggung atau malu yang tersisa, digantikan oleh gelombang hasrat suci yang kian liar dan membakar.Rayan menatap lekat-lekat setiap inci kulit mulus istrinya. Di balik kepolosannya, jiwa pria sejati dalam dirinya sepenuhnya terungkit. Bibirnya yang basah tak henti-hentinya membisikkan pujian hangat di antara hembusan napasnya yang memburu."Kamu sangat indah, Rebecca... Bintang paling bersinar yang hanya milikku..." bisik Rayan dengan suara bariton yang amat berat dan serak.Bisikan itu membuat dada Rebecca berdesir hebat. Belum sempat ia membalas, bibir Rayan sudah meluncur turun dari bibirnya, menyusuri rahang hingga hinggap di leher jenjang Rebecca. Pria itu menyesap dan menghisap lembut kulit halus di sana, meninggalkan jejak-jejak nakal yang membuat Rebecca terperanjat."Rayan... geli, ah..." desah Rebecca halus. Kedua tangannya meremas sprei dengan erat, kakinya memanjang lurus saat sensasi aneh na

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 467

    Sentuhan bibir Rayan di bibir Rebecca semula terasa begitu ragu dan kaku. Hanya sebuah tempelan singkat yang kaku, seperti dua magnet yang dipaksakan bertemu namun kebingungan mencari kutubnya.Napas keduanya tertahan seketika. Rayan mematung dengan mata setengah terpejam, sementara Rebecca meremas gaun tidur sutranya hingga kusut di atas paha. Pipi sang aktris membara hingga ke leher, dadanya kempas-kempis menahan sensasi meledak-ledak yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."R-Rayan..." bisik Rebecca terbata saat Rayan menarik wajahnya berjarak satu sentimeter. Suara gadis itu tercekat di tenggorokan, gemetar parah. "B-bukannya... bukannya kalau ciuman... tidak cuma ditempel?"Rayan membelalakkan matanya tipis. Rasa malu langsung membakar telinga sang CEO muda. "S-saya... aku tidak tahu, Rebecca. Di majalah bisnis tidak ada panduannya."Rebecca terkekeh kecil di tengah napasnya yang terengah, meski matanya menatap Rayan dengan binar penuh kepasrahan. "Tapi di film Hollywood ya

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 466

    Pintu kamar bridal suite berukir mewah itu akhirnya tertutup rapat. Bunyi klik pengunci pintu seolah menjadi gumpalan ketegangan baru yang mendadak menyergap seluruh sudut ruangan.Aroma terapi lavender dan taburan kelopak mawar merah di atas tempat tidur berukuran king size tak lantas membuat suasana menjadi rileks. Sebaliknya, dua insan yang kini resmi menjadi suami istri itu justru berdiri kaku seperti dua patung es yang dipajang berhadapan.Rayan, seorang pengusaha muda yang begitu dominan dan kaku di dunia bisnis, kini berdiri kikuk di dekat meja rias. Longgaran dasinya sudah ia lepas, namun napasnya masih terasa tertahan. Sepanjang hidupnya, Rayan tidak pernah berpacaran. Dunia kepalanya selama ini hanya berisi angka, grafik saham, dan ekspansi bisnis. Ia benar-benar polos dan buta total mengenai dinamika hubungan asmara—terutama tentang apa yang harus dilakukan di atas ranjang pada malam pertama.Di sisi lain ruangan, Rebecca berdiri meremas jemarinya sendiri di depan lemari. W

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 465

    Setelah Charlotte melangkah pergi membawa kedamaian di hatinya, panggung pelaminan yang tadinya formal kini sepenuhnya dikuasai oleh keceriaan keluarga kecil Thomas."Mami, Papi! Ayo foto! Arabella mau gaya yang ini!" seru Arabella penuh semangat. Gadis kecil itu melompat kecil, lalu memasang pose love besar di atas kepalanya dengan kedua tangan.Sofia tertawa renyah, rasa lelah yang menumpuk selama dua hari penuh seolah menguap begitu saja melihat binar bahagia di mata putri kecilnya. Tanpa ragu, Sofia langsung menirukan gaya Arabella.Thomas yang berdiri di samping istrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum terkembang lebar. Pria paruh baya yang biasanya tampil berwibawa dan disegani di dunia bisnis itu kini menurut tanpa bantahan. Ia ikut mengangkat kedua tangannya yang kekar, membentuk lambang hati separuh di atas kepalanya bersama Sofia.Cprekk!"Sekarang gaya yang konyol, Pi! Papi pegang pipi Mami, Mami pegang hidung Papi!" titah Arabella lagi bak sutradara ci

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 464

    Sofia diam sesaat. Matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah Charlotte yang penuh penyesalan. Setelah keheningan yang terasa begitu panjang dan menghimpit dada, Sofia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan."Aku akan berusaha," ucap Sofia lirih namun tulus."Aku janji tidak akan mengganggu kehidupan Mami lagi... Aku janji akan menjadi anak yang baik," racau Charlotte dengan air mata yang menetes semakin deras membasahi pipinya. "Tapi aku mohon, Mi... jangan benci aku. Aku sungguh tidak sanggup kalau Mami membenciku. Aku benar-benar sayang Mami... Sembilan belas tahun aku dibesarkan Mami Sofia. Aku benar-benar menganggap Mami adalah ibu kandungku sendiri..."Sofia meremas pelan jemari Charlotte yang dingin. "Charlotte... seperti yang kamu katakan tadi, kita semua di sini adalah korban. Aku akan berusaha untuk tidak membencimu."Mendengar bisikan kehangatan itu, pertahanan Charlotte runtuh seketika. Tanpa peduli lagi pada tempatnya berada, gadis itu langsung meluncur turun dari kursin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status