공유

Bab 47 Takut

작가: Nisa Hikaru
last update 게시일: 2026-07-11 18:39:27

Dahi Fahmi mengernyit, matanya menatap datar pada layar ponselnya saat membaca pesan tersebut. Ia tak membuka pesan itu, hanya membacanya dari bar notifikasi.

Nomor yang tak dikenal ini, sudah dua kali mengirimkan pesan padanya. Yang pertama tempo hari mengirimkan foto Nabila yang dibonceng oleh Aldo saat ban motornya pecah ditusuk paku, yang kedua beberapa detik yang lalu.

Ada yang mencoba bermain-main dengan Fahmi dan keluarganya.

Fahmi kembal
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 139 Bihun Kuah

    Hujan masih mengguyur seluruh kota, walaupun sudah tak sederas sore tadi. Dari kaca pintu dapur yang menghadap ke taman, nampak air membasahi pohon dan tanaman-tanaman hijau di sana. Sorot lampu putih memberikan penerangan dan pantulan kilau air hujan yang cantik. Segelas kopi hitam tanpa gula milik Fahmi mengepulkan uap panas serta aroma yang menentramkan. Teh panas milik Nabila juga tak mau kalah, uapnya menari-nari di udara. Beberapa potong kue juga tersaji di atas piring keramik datar. Pasangan suami istri ini duduk berhadapan di meja makan ruang dapur. Keduanya sedang menikmati cuaca dan waktu senggang di malam selepas salat maghrib. Kedua minuman itu memberi hangat pada tubuh, dan kue manis yang tersaji sebagai lawan yang sepadan. “Kamu mau makan yang berat nggak?” tanya Fahmi sembari menaruh gelas kopinya. Nabila belum menjawab, ia baru saja menelan potongan kue ke dalam mulutnya. “Kayaknya nggak deh, Mas. Kue-kuenya ini bikin kenyang j

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 138 Hujan Pertama

    Sore waktu yang dinanti Fahmi sudah tiba, lelaki itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Setelah menyelesaikan praktik di rumah sakit lain pada siang hari, Fahmi bergegas kembali ke rumah sakit milik keluarganya untuk menjemput pujaan hati. Pesan singkat yang mengabarkan dirinya sudah berada di jalan telah dikirim pada sang istri. Tak perlu menunggu lama, pesan itu dibalas dengan segera. Senyum manis merekah di wajah tampan itu. Sepekan lebih setelah pernikahan, ia mereguk nikmatnya jatuh cinta setelah cukup lama memendam rasa. Nabila membereskan barang bawaannya, ia bersiap menunggu sang suami tiba menjemputnya. Pekerjaannya di hari pertama bekerja setelah menikah hanya berbeda sedikit, yaitu status yang berubah. Data rekam medis yang ia masukkan ke dalam laptop cukup banyak seperti biasa. Laptop dan map berisi dokumen tertulis telah tersimpan rapi di dalam tas ransel. Nabila berdiri, ia memasangkan ransel ke punggungnya, terasa

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 137 Cinta atau...?

    Dengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 136 Termotivasi

    Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 135 Panggilan Sayang

    “Sayang, HPHT Ibu Marisa tanggal berapa tadi?” suara Fahmi yang tenang dan santai terdengar menggema di telinga Nabila. Seolah mulutnya sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Begitu juga dengan pasien dan pendamping yang turut terkejut pada panggilan yang diucapkan dokter obgyn tersebut. Tanga Fahmi memegang doppler, ia sudah siap untuk melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya. Ia duduk di hadapan layar dan mesin USG, serta di samping pasiennya yang sudah terbaring. Nabila belum menjawab, ia memeriksa dokumen berisi rekam medis pasien. “12 September, Dok,” jawabnya. Sebetulnya ia ingin tertawa saat sang suami keceplosan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, namun di satu sisi juga, ia merasa bahagia. “Nah iya tanggal itu, Dok,” timpal pasien dengan senyum nyengir masih terbawa kaget saat dokter yang hendak memeriksanya ini mengucap kata ‘sayang’. Pasien ini bingung panggilan itu ditujukan ke siapa, namun dijawab langsung oleh bidan asistennya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 134 Hari Pertama Bekerja

    Langkah kaki Nabila dan Fahmi sudah sampai di Instalasi Kebidanan dan Kandungan. Nabila segera mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Kehadirannya di sini belum mencuri perhatian, di koridor mereka hanya berpapasan dan menyapa saja. “Udah absennya,” ucap Nabila saat selesai melakukan absen. Ia hendak berbalik badan mengajak suaminya kembali ke ruang poli. Niat hatinya mau masuk ke ruang jaga, namun rasanya maju mundur. “Nggak masuk dulu? Menyapa teman-teman,” ucap Fahmi menawarkan istrinya untuk menyapa rekan-rekan kerjanya. Nabila tersenyum kikuk. “Eh, iya ya, tapi…” Fahmi tersenyum, ia mengerti maksud istrinya. Wanitanya itu pasti merasa tidak enak hati. “Aku tunggu di sini aja,” ucapnya. Fahmi memberikan ruang untuk Nabila agar merasa lebih leluasa menyapa rekan-rekannya. Ia juga paham, kehadirannya di sini mungkin akan dianggap berlebihan. Nabila mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, ia pun berjalan masuk ke dalam rua

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 5 Insiden

    Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status