LOGINMusik jazz mengalun indah di restoran hotel tersebut. Menemani setiap momen pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka bersama keluarga, termasuk pasangan pengantin baru ini. Fahmi dan Nabila tengah menikmati makanan mereka setelah makanan pembuka sudah habis.
Kini, menu utama yaitu beef wellington dan lobster thermidor. Kedua menu itu dipilih sendiri oleh Fahmi dan Nabila. Saat menu tersebut disajikan oleh pelayan di atas meja, lagi-lagi Nabila terkagum-kagum pada penataannya"Mas, pulang yuk…” bisik Nabila tepat di sebelah telinga sang suami. Suara Nabila terdengar mengalun indah dan mesra di telinga Fahmi. Lelaki ini sampai mengedipkan matanya, ia merasa apakah salah dengar, namun suara itu terdengar jelas sekali. Fahmi menatap sang istri dengan hangat, namun sesuatu di dalam dirinya seperti memanggil-manggil. Suara sang istri sarat akan sesuatu yang membuatnya membangunkan jiwa kelelakiannya. Begitu juga dengan tatapan sang istri yang terlihat menginginkan dirinya. “Beneran? Baru sebentar loh di sini,” tanya Fahmi mencoba meyakinkan apakah istrinya memang benar-benar ingin pulang. Nabila mengangguk yakin. Tatapannya masih sama seperti tadi. Fahmi tersenyum setuju, ia ikuti saja kemauan sang istri. “Kita bayar dulu ya,” ucapnya lalu mengajak Nabila menuju kasir. Keduanya berjalan menuju kasir, Fahmi segera melakukan transaksi pembayaran non tunai atas belanjaan istrinya. Nabila yang berdiri di
Pikiran Nabila sudah berkelana ke arah sana, namun wajahnya yang telah merah padam membuatnya ketahuan sedang memikirkan hal tersebut. Sang suami tertawa renyah, ekspresi wajahnya pun terlihat jahil dan menggodanya. “Mikirin apa ayooo?” tanya Fahmi dengan nada jahil dan menggoda. Ia sudah dapat menebak ke arah mana pikiran sang istri berkelana, namun ia sangat menyukai hal itu. Nabila buru-buru menggeleng. “Nggak, nggak mikirin apa-apa,” elaknya dengan cepat. Wajahnya sudah merah padam menahan malu.Fahmi tertawa renyah, Nabila buru-buru berjalan ke arah lain. Entah ke mana, yang penting menyelamatkan kondisi muka dan jantungnya. Fahmi mengikutinya, ternyata langkah Nabila yang sembarangan itu malah mengantarkannya ke arah pakaian tidur wanita dewasa tersebut. ‘Aduh!’ Nabila menepuk keningnya. ‘Ini namanya menjebak diri sendiri,’ lanjutnya dalam hati. Fahmi yang mengikutinya, kini sudah berdiri di sampingnya. “Aku pilihin ya,” ucapnya
Pasangan pengantin baru itu, telah menyelesaikan sarapan mereka masing-masing. Perut Nabila sudah cukup terisi dengan seporsi mie celor. Senyum puasnya terbit di wajah, saat makanan tersebut sesuai dengan ekspektasinya. Begitu juga dengan Fahmi, sarapannya yang sangat sederhana, namun cukup mengenyangkan. Ditambah melihat senyum sang istri, semakin menambah rasa kenyangnya. Setelah ini sesuai dengan rencana mereka selanjutnya, yaitu pergi ke mal. Letak antara hotel dan mal terbesar di kota ini tidaklah jauh. Fahmi dan Nabila hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menuju mal dari hotel menggunakan taksi. Setibanya di sana, situasi dan kondisi cukup sepi pengunjung, dikarenakan sekarang masih pukul 09.30 pagi. Banyak toko yang masih dalam persiapan dan sebagian sudah siap. “Kita kepagian, ya, Mas,” ucap Nabila sambil menyisir ke sekitar. Fahmi tertawa kecil. “Iya, mungkin kita salah satu pengunjung pertama,” balasnya. Nabil
Mas Fahmi…” panggil Nabila dengan nada manja sembari terus berjalan menuju kamar. Ia berniat mau membalas kecupan itu. Dengan langkah yang cepat, Nabila berjalan menuju kamar. Setiba di sana ia sudah siap membalas Fahmi, namun langkahnya terhenti. Sosok tampan di hadapannya sedang berganti pakaian, menampilkan bagian atas tubuhnya yang atletis. Nabila terpaku, ia bingung harus melakukan apa. Padahal niatnya ingin membalas kecupan itu dengan mencubit sedikit ujung hidung mancung itu. Fahmi tersenyum jenaka melihat sang istri yang sedang terpaku. “Mau bales?” tanyanya dengan nada menggoda, lalu ia merentangkan tangannya. “Sini…” ujarnya menggoda dan menantang. Semula niat Nabila yang ingin membalas itu, malah batal. Ia semakin membeku melihat pemandangan di depannya yang memang menggoda dan ia pun tergoda. Wajahnya terasa hangat. ‘Oh, tidak, punya suami seperti ini, bisa-bisa bikin aku mimisan. Meleleh, deg-degan, tapi jangan sampai ja
Nabila membenamkan tubuhnya di dalam selimut, wajahnya masih terasa merah padam. Ia malu sekali saat tadi dengan tidak sadar, ia menyingkap selimut, dan otomatis memperlihatkan tubuhnya yang *tettt… Sang suami tertawa renyah, ia gemas sekali melihat istrinya yang bertingkah seperti itu. “Mas, udah dong ketawanya, aku malu,” rengek Nabila. Fahmi menyerahkan selembar handuk tebal pada sang istri. Ia masih ingin tertawa, namun ditahannya, lalu ia duduk di tepi tempat tidur. Ia memandang Nabila dengan hangat, namun perempuan di hadapannya ini malah makin salah tingkah. “Sayang, wajar kalau kamu merasa malu, memang sudah seharusnya begitu manusia. Tapi, karena kita sudah suami istri, jadi nggak apa-apa yang tadi itu,” ucap Fahmi dengan lembut dan lugas. Nabila memandang sang suami dengan tatapan haru. Mendengar penjelasan itu sedikit membuatnya merasa lega. “Tapi… tetep aja malu,” ujarnya dengan suara yang kecil sekali. Fahmi mengusap-usap puncak kepala Nabila dengan penuh
Kantuk itu belum kunjung datang, netra Nabila masih cukup segar. Ia masih memerhatikan sosok tampan yang sudah tertidur di sebelahnya. Suara dengkuran halus terdengar menghiasi lelapnya Fahmi setelah menjalani hari istimewa ini. Tubuh memang lelah, namun hati dan pikiran terasa tentram juga damai. Segaris ekspresi bahagia terbit di wajah tampan itu. Nabila mengembuskan napasnya dengan pelan, khawatir tidurnya sang suami terganggu. Ia menekuri setiap pahatan indah yang terbentuk di wajah Fahmi. Alisnya yang tebal tersusun rapi, netra yang tertutup kelopak dengan susunan bulu mata sedikit lentik dan lebat, hidung yang mancung, serta cambang tipis yang memberikan kesan maskulin. ‘Apa aku mimpi, ya?’ tanya Nabila dalam hati. Jika, memang mimpi, tapi terlalu terasa nyata. Ia pun mencubit tangannya, tentu saja terasa sakit. “Aw…” Nabila mengaduh pelan. “Hnggh…” Fahmi sedikit menggeliat, namun ia tetap terpejam. Tidurnya nyenyak sekali
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







