แชร์

Dilema

ผู้เขียน: PhiKey
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-12 21:33:25

Bab 150

Alya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung menunduk dan menyandarkan kepalanya di kemudi. Tangan dan kakinya gemetar hebat. Susah payah ia menyembunyikan rasa takut yang bercampur amarah saat berada di depan Soraya tadi.

"Tante, maafin aku..." ucap Alya lirih. Air matanya mulai menetes satu per satu. "Aku memang nggak pantas buat Raka, tapi aku terbelenggu karena perasaanku."

Alya memejamkan mata, merasakan dilema yang luar biasa. Di satu sisi, ia tak ingin hubu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tiba-tiba penasaran

    "Kenapa Mama tiba-tiba minta maaf seperti itu?" tanya Raka lirih di kesendiriannya.Ia duduk di tepi ranjang dalam kamar yang temang. Raka bahkan belum berniat untuk mandi atau membersihkan diri karena pikirannya masih dipenuhi bayangan malam tadi. Ucapan permintaan maaf dari ibunya terdengar begitu tulus, sesuatu yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya."Apa Mama benar-benar meminta maaf? Apa yang Alya katakan sampai Mama berubah seperti ini? Apa setelah ini Mama akan mengizinkan aku sama Alya untuk terus berhubungan?" tanya Raka beruntun, menyisakan tanya yang belum menemukan jawabannya.Sementara itu, Soraya di dalam kamarnya duduk termenung di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan sendu."Maafin Mama, Raka," ucapnya lirih, menyadari betapa dalam beban emosional yang selama ini ia pikul dan ia timpakan pada sang putra.Keesokan harinya, suasana sarapan di rumah Sanjaya terasa berbeda. Raka duduk di meja makan dengan gaya tenang khas

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Rasa bersalah

    Malam itu, suasana ruang makan terasa begitu kontras dengan isi kepala Alya. Nana dan Rio makan dengan lahap, sesekali tertawa kecil menanggapi celoteh pengasuh mereka. Sementara itu, Alya hanya duduk diam, membiarkan teh panas di cangkirnya perlahan kehilangan uap hangatnya. Ia hanya menatap tanpa benar-benar melihat, pikirannya melayang jauh."Ibu," panggil Nana memecah lamunan Alya.Alya tersentak pelan, lalu menoleh dan memberikan senyuman terbaik yang bisa ia simpulkan. "Iya, Nana sayang. Ada apa?""Besok kan libur sekolah, boleh tidak aku pergi ke kolam renang? Aku sudah lama sekali tidak berenang," ucap Nana dengan tatapan penuh harap.Alya mengangguk pelan. "Tentu saja boleh. Nanti malam Ibu carikan kolam renang yang dekat dari sini. Tapi maaf ya, Ibu nggak bisa menemani kalian. Ibu harus bekerja, salon sedang ramai karena Tante Raya sedang ke luar kota.""Baik, Ibu. Terima kasih!" Nana berseru senang, lalu berbisik dengan antusias kepada adiknya, "Rio, besok kita berenang! Ho

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Mulai goyah

    "Alya, maafin aku," ucap Raka pelan.Alya memalingkan wajahnya, hatinya hancur sehancurnya. Terlepas dari bagaimana sikap Soraya tadi, hal yang paling membuatnya hancur sekarang adalah kenyataan kalau ia dan Raka tak akan pernah menikah. Hubungannya dengan Raka mungkin akan menjadi aib seumur hidupnya."Kamu meminta maaf untuk apa, Raka? Meminta maaf karena memaksaku untuk menerima semua kesakitan ini?" tanya Alya tanpa menatap Raka. "Raka... pergilah. Aku sedang marah, aku sedang kalut. Pikiranku kacau, pergilah. Setiap kata yang akan aku ucapin mungkin hanya akan membuat kita sama-sama sakit hati," ucap Alya kemudian.Raka menatap nanar pada Alya yang masih tak mau menatapnya. "Baiklah, aku akan pergi untuk sekarang, aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Tapi, Alya, kamu harus ingat, aku akan selalu ada di sampingmu. Walau aku nggak bisa memberimu status pernikahan, di hatiku cuma ada kamu."Raka lalu pergi. Sebelum keluar dari ruang istirahat itu, ia sempat menatap Alya sesaat k

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Terlalu berisiko

    "Kamu mau kehilangan pekerjaanmu?!" sahut Zahira dengan nada melengking, emosinya seketika meledak.Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Hendri bagai remasan kasar yang makin menginjak-injak harga dirinya. Pertanyaan itu seolah menegaskan bahwa di mata Hendri pun, ia hanyalah wanita yang bergantung pada hubungan terlarang ini."Kamu berpikir aku cuma bisa melakukan hal itu sama kamu?!" teriak Zahira lagi, napasnya naik-turun menahan amarah yang membakar dada.Hendri langsung mundur setengah langkah, matanya membelalak panik melihat ledakan emosi atasannya."M-maaf, Bu... Saya tidak bermaksud apa-apa," ucap Hendri gagap, suaranya bergetar hebat. "Saya... saya cuma takut dengan apa yang bakal Pak Raka lakukan ke depannya. Tolong maafkan saya, Bu."Zahira terkekeh sinis, menatap Hendri dengan pandangan penuh kekecewaan sekaligus keheranan. "Jadi kamu lebih takut sama Raka dibanding sama aku?""Bukan begitu, Bu... Maafkan saya..." Hendri menggeleng cepat.Tanpa berpikir panjang lagi,

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Ketakutan sang sekretaris

    Di ruang kerjanya, Zahira berbaring lemas di sofa. Obat sakit kepala yang diberikan Hendri tadi belum juga bereaksi sepenuhnya. Bukannya makin tenang, bayangan wajah Raka justru terus berputar di kepalanya. Pikirannya benar-benar kacau, membuat matanya tak bisa dipejamkan walau sebentar."Ah, sial!" gerutu Zahira melampiaskan kekesalannya."Perlu saya antar ke hotel, Bu? Atau pulang ke rumah saja?" tanya Hendri penuh perhatian. Sekretarisya itu rupanya masih setia berdiri tak jauh dari sofa sejak tadi.Zahira tak langsung menjawab. Tangannya terangkat memijat pelipisnya sendiri, lalu menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong."Raka tahu semuanya, Hendri," ucap Zahira dengan suara hampir tak terdengar.Hendri mengerutkan kening, tidak paham. "Maksud Bu Zahira apa? Pak Raka tahu soal apa?"Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zahira meraih ponsel di samping tubuhnya dan menyodorkannya ke arah Hendri. Di layarnya terpampang jelas beberapa potret yang dikirimkan Raka sebelumnya,

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Dilema

    Bab 150Alya masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung menunduk dan menyandarkan kepalanya di kemudi. Tangan dan kakinya gemetar hebat. Susah payah ia menyembunyikan rasa takut yang bercampur amarah saat berada di depan Soraya tadi."Tante, maafin aku..." ucap Alya lirih. Air matanya mulai menetes satu per satu. "Aku memang nggak pantas buat Raka, tapi aku terbelenggu karena perasaanku."Alya memejamkan mata, merasakan dilema yang luar biasa. Di satu sisi, ia tak ingin hubungannya dengan Soraya makin memburuk. Namun di sisi lain, ia tidak bisa meninggalkan Raka karena semakin hari perasaannya untuk pria itu justru semakin kuat.Di tempat lain, Soraya masih duduk termenung di kursinya.Ia terus mengingat ucapan terakhir Alya, tentang bagaimana kalau Raka yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Soraya tertegun. Ia sadar, selama ini ia terlalu memaksa kehendaknya dan selalu berpikir bahwa Raka akan selalu sehat serta panjang umur."Apa aku salah?" bisik Soraya pelan pada di

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi kekalahan anak perempuan

    Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tanggung jawab

    Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Salah minum

    “Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status