Share

Kecelakaan

Author: PhiKey
last update publish date: 2026-06-18 00:35:39

Bab 38

Alya bangkit dengan gerakan patah-patah, kakinya gemetar hebat hingga hampir tak sanggup menopang tubuh. Ia terus melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kamar yang dingin. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi tengkuk, sementara napasnya memburu tak beraturan, seolah paru-parunya kekurangan pasokan oksigen. Tangannya yang dingin terkepal kuat, mencoba menyembunyikan getaran hebat yang menjalar ke seluruh anggota tubuhnya.

Emran mulai membuka kancing kem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Ambisi dan obsesi

    Siang itu, ruang tamu kediaman Mahendra terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Zahira, yang seumur hidupnya selalu dimanja dan dibanggakan, kini hanya bisa terpuruk di lantai marmer dengan pipi yang memerah bekas tamparan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tangan sang Papa, Mahendra, mendarat di wajahnya."Papa nampar aku?" tanya Zahira getir, suaranya parau."Itu supaya kamu sadar, Zahira!" teriak Mahendra. Maya, sang ibu, hanya bisa terisak di atas sofa. Ia tidak berani membela anaknya karena ia tahu betul, obsesi Zahira terhadap Raka telah membawa malapetaka bagi reputasi keluarga mereka.Air mata Zahira jatuh tanpa henti. "Pa... aku Zahira. Pernah aku melakukan kesalahan selama ini? Bahkan bisnis kotor itu, Papa yang melakukannya, bukan aku!""Justru itu!" bentak Mahendra. Pria itu sudah kehilangan kendali. Ia tidak peduli lagi pada harga diri anaknya. "Aku sudah menutupinya sebaik mungkin selama belasan tahun, tapi karena ulah cerobohmu menyerang Raka, kebobrokan itu digali la

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Serangan balik Raka

    Suasana ruang istirahat terasa menyesakkan sore itu. Raya tampak kehilangan kesabaran melihat Alya yang terus membisu meski telah berkali-kali didesak untuk menceritakan apa yang terjadi setelah obrolannya dengan Zahira."Kamu masih nggak mau cerita ke aku?" tanya Raya dengan nada tinggi, hampir berteriak.Alya menatap sahabatnya itu dengan mata yang masih sembab. "Maaf, Ra. Aku belum bisa cerita sekarang. Nanti, kalau aku sudah siap, aku pasti cerita. Tapi bukan sekarang," ucapnya lirih dan tenang. Raya menghela napas panjang, akhirnya menyerah. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Alya lebih jauh.Keheningan menyelimuti ruangan hingga Lina mengetuk pintu dan masuk dengan ragu. "Mbak Raya, ada Pak Raka di luar.""Raka? Suruh masuk sini," jawab Raya cepat.Alya sontak menjadi gelisah. Ia tahu betul matanya yang bengkak tak mungkin bisa disembunyikan. Tak lama kemudian, Raka melangkah masuk. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan. "Pulang," ucapnya singkat, sebuah perintah mutlak yang tak

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pengakuan Raka

    "Pak, banyak telepon masuk hari ini. Semua media terus bertanya soal rumor yang beredar. Anda yakin kita harus menahannya sampai besok?" tanya Rehan dengan nada cemas. Di hadapannya, Raka sore itu tampak sangat tenang, menyilangkan kaki sambil sesekali menatap layar ponsel, membaca komentar-komentar pedas yang ditujukan pada bisnis keluarganya seolah itu hanyalah berita cuaca."Tunggu saja, Rehan. Bukankah ini lucu? Bagaimana mereka bisa menilai sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka lihat secara langsung? Kita lihat saja dulu, nikmati ini sebagai hiburan," jawab Raka santai. Ia meletakkan ponselnya, menatap Rehan dengan sorot mata yang tajam namun tenang. "Kamu tidak perlu khawatir. Pastikan semua materi yang aku minta sudah siap untuk konferensi pers besok pagi."Rehan mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Saya sudah meminta tenaga ahli untuk melacak aliran dana yang masuk ke media-media kotor itu. Saya akan memastikan bahwa Bu Zahira tidak akan lepas dari kasus in

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Air mata penyesalan

    "Jadi kamu mengikutiku seharian, kemarin? Sampai kamu tahu semalam aku ada di mana dan sama siapa?"Alya mencoba tenang. Tangannya bergerak lincah membilas rambut Zahira walau terasa lebih berat, ia berusaha keras menyembunyikan getaran di jemarinya. Suara gemericik air yang sengaja ia buat lebih deras menjadi benteng pertahanan agar Raya yang entah di mana agar tidak mendengar sepatah kata pun."Apa yang akan kamu lakuin sekarang? Kamu mau menamparku?" Alya melanjutkan dengan nada datar yang dingin. "Sepertinya pertemuanmu tadi pagi sama Raka nggak berjalan dengan manis, ya? Makanya kamu ke sini, mencoba membuang sampah emosimu ke aku."Zahira terkekeh di balik guyuran air. Ia memejamkan mata, seolah menikmati ritme pijatan Alya, padahal niatnya adalah untuk menyiksa mental wanita itu. "Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Mbak Alya.""Hari ini aku memberikan sedikit kejutan untuk Raka," lanjut Zahira santai. "Dia pasti sedang sibuk sekarang, atau bisa jadi kesibukannya akan bertahan

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Obsesi di luar batas

    Pagi itu, suasana di dalam mobil baru Alya terasa ringan. Raya yang duduk di kursi penumpang tampak begitu menikmati kenyamanan interior mobil tersebut."Al, jujur ya, aku suka banget sama mobil ini. Simple tapi elegan," ujar Raya sambil menoleh ke arah Alya yang fokus menyetir. "Di mana kamu beli mobil ini? Kayaknya aku bakal beli yang tipe serupa saja. Nggak perlu yang terlalu mewah, yang penting bukan pemberian Papa."Alya sudah mengantisipasi pertanyaan itu. Ia menarik napas tenang, menjaga intonasi suaranya agar terdengar wajar. "Aku beli di situs daring. Kemarin pagi aku sudah janjian ketemu langsung sama penjualnya buat cek unit. Makanya, kalau kamu nanti iseng cek rekaman CCTV salon soal kedatangan Mas Emran kemarin, jangan heran kalau aku baru sampai agak siangan. Aku memang harus mengurus pembelian mobil ini dulu."Raya manggut-manggut, tidak ada kecurigaan sedikit pun di wajahnya. Ia justru tersenyum lebar. "Ah, kayaknya nanti aku minta Raka aja yang beliin mobil, atau mung

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Siapa yang lebih berkuasa?

    "Kamu semalam dari mana saja, Al? Aku lihat kamu pulang larut sekali, dan... kenapa wajahmu sembab begitu?" tanya Raya sambil meletakkan sepiring roti bakar. Tatapannya tajam, penuh selidik. "Aku mau tanya semalem, tapi aku udah ngantuk parah karena kecapean."Pagi itu, Alya dan Raya sarapan bersama. Keduanya tidak sempat mengobrol semalam karena Raya sudah terlelap, sementara kondisi Alya sendiri sedang terlalu kacau.Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya. "Maafin aku, Ra. Aku... aku kangen banget sama anak-anak. Semalam aku kepikiran mereka terus, rasanya sesak sekali. Aku baru aja beli mobil dan rasanya aku pengen jemput mereka secepetnya. Sejak kejadian malam itu, aku bahkan nggak tahu kondisi anak-anak sekarang." Alya memaksakan senyum tipis. Ia menutupi bagian di mana ada keributan besar dengan Raka. "Ditambah lagi, kemarin pagi Mas Emran datang ke salon, dia buat keributan. Dia maksa aku buat balikan, aku sampai gemetaran menghadapi dia. Kamu bisa tanya Lina

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Terjebak dalam skenario sendiri

    Sore itu, suasana kafe di pinggiran kota terasa begitu tenang, kontras dengan gejolak batin yang dirasakan dua wanita yang duduk di sudut ruangan tersebut. Alya sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian demi privasi. Di hadapan mereka, dua gelas es jeruk tersaji, namun perhatian keduanya sepe

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi kekalahan anak perempuan

    Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Cium aku lagi!

    Pelukan yang tadinya hangat kini berubah menjadi sesuatu yang lebih menuntut. Alya bisa merasakan detak jantung Raka yang bergemuruh di balik punggungnya, seirama dengan detak jantungnya sendiri yang kini tak lagi beraturan.Perlahan, Raka memutar tubuh Alya. Tatapan pria itu tidak lagi dingin atau

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Salah minum

    “Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status