تسجيل الدخولSore itu, suasana di salon terasa sangat mencekam. Seharian penuh, baik Raya maupun Alya lebih banyak diam, menciptakan aura dingin yang membuat Lina dan para pegawai lainnya serba salah.Saat mereka hendak beranjak pulang, Alya memberanikan diri mendekati Raya yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya."Aku antar pulang, ya?" tawar Alya hati-hati.Raya berhenti sejenak, memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menoleh dengan tatapan datar. "Nggak usah. Aku naik taksi aja."Hari itu, Raya memang sengaja tidak membawa mobilnya. Ia sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi menyentuh aset apa pun yang dibeli dengan uang sang Ayah. Meski sikapnya masih dingin, Alya bisa merasakan perhatian yang masih terselip di balik ketegasan Raya.Alya tak lantas menyerah. "Kamu masih marah sama aku?"Raya mendengus, lalu melangkah meninggalkan Alya tanpa menoleh. "Tentu aja. Kamu masih nggak mau cerita soal Zahira. Jadi, sekarang kita main rahasia-rahasiaan, kan?" seru Raya sambil terus berjalan, m
Siang itu, ruang tamu kediaman Mahendra terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Zahira, yang seumur hidupnya selalu dimanja dan dibanggakan, kini hanya bisa terpuruk di lantai marmer dengan pipi yang memerah bekas tamparan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tangan sang Papa, Mahendra, mendarat di wajahnya."Papa nampar aku?" tanya Zahira getir, suaranya parau."Itu supaya kamu sadar, Zahira!" teriak Mahendra. Maya, sang ibu, hanya bisa terisak di atas sofa. Ia tidak berani membela anaknya karena ia tahu betul, obsesi Zahira terhadap Raka telah membawa malapetaka bagi reputasi keluarga mereka.Air mata Zahira jatuh tanpa henti. "Pa... aku Zahira. Pernah aku melakukan kesalahan selama ini? Bahkan bisnis kotor itu, Papa yang melakukannya, bukan aku!""Justru itu!" bentak Mahendra. Pria itu sudah kehilangan kendali. Ia tidak peduli lagi pada harga diri anaknya. "Aku sudah menutupinya sebaik mungkin selama belasan tahun, tapi karena ulah cerobohmu menyerang Raka, kebobrokan itu digali la
Suasana ruang istirahat terasa menyesakkan sore itu. Raya tampak kehilangan kesabaran melihat Alya yang terus membisu meski telah berkali-kali didesak untuk menceritakan apa yang terjadi setelah obrolannya dengan Zahira."Kamu masih nggak mau cerita ke aku?" tanya Raya dengan nada tinggi, hampir berteriak.Alya menatap sahabatnya itu dengan mata yang masih sembab. "Maaf, Ra. Aku belum bisa cerita sekarang. Nanti, kalau aku sudah siap, aku pasti cerita. Tapi bukan sekarang," ucapnya lirih dan tenang. Raya menghela napas panjang, akhirnya menyerah. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Alya lebih jauh.Keheningan menyelimuti ruangan hingga Lina mengetuk pintu dan masuk dengan ragu. "Mbak Raya, ada Pak Raka di luar.""Raka? Suruh masuk sini," jawab Raya cepat.Alya sontak menjadi gelisah. Ia tahu betul matanya yang bengkak tak mungkin bisa disembunyikan. Tak lama kemudian, Raka melangkah masuk. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan. "Pulang," ucapnya singkat, sebuah perintah mutlak yang tak
"Pak, banyak telepon masuk hari ini. Semua media terus bertanya soal rumor yang beredar. Anda yakin kita harus menahannya sampai besok?" tanya Rehan dengan nada cemas. Di hadapannya, Raka sore itu tampak sangat tenang, menyilangkan kaki sambil sesekali menatap layar ponsel, membaca komentar-komentar pedas yang ditujukan pada bisnis keluarganya seolah itu hanyalah berita cuaca."Tunggu saja, Rehan. Bukankah ini lucu? Bagaimana mereka bisa menilai sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka lihat secara langsung? Kita lihat saja dulu, nikmati ini sebagai hiburan," jawab Raka santai. Ia meletakkan ponselnya, menatap Rehan dengan sorot mata yang tajam namun tenang. "Kamu tidak perlu khawatir. Pastikan semua materi yang aku minta sudah siap untuk konferensi pers besok pagi."Rehan mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Saya sudah meminta tenaga ahli untuk melacak aliran dana yang masuk ke media-media kotor itu. Saya akan memastikan bahwa Bu Zahira tidak akan lepas dari kasus in
"Jadi kamu mengikutiku seharian, kemarin? Sampai kamu tahu semalam aku ada di mana dan sama siapa?"Alya mencoba tenang. Tangannya bergerak lincah membilas rambut Zahira walau terasa lebih berat, ia berusaha keras menyembunyikan getaran di jemarinya. Suara gemericik air yang sengaja ia buat lebih deras menjadi benteng pertahanan agar Raya yang entah di mana agar tidak mendengar sepatah kata pun."Apa yang akan kamu lakuin sekarang? Kamu mau menamparku?" Alya melanjutkan dengan nada datar yang dingin. "Sepertinya pertemuanmu tadi pagi sama Raka nggak berjalan dengan manis, ya? Makanya kamu ke sini, mencoba membuang sampah emosimu ke aku."Zahira terkekeh di balik guyuran air. Ia memejamkan mata, seolah menikmati ritme pijatan Alya, padahal niatnya adalah untuk menyiksa mental wanita itu. "Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Mbak Alya.""Hari ini aku memberikan sedikit kejutan untuk Raka," lanjut Zahira santai. "Dia pasti sedang sibuk sekarang, atau bisa jadi kesibukannya akan bertahan
Pagi itu, suasana di dalam mobil baru Alya terasa ringan. Raya yang duduk di kursi penumpang tampak begitu menikmati kenyamanan interior mobil tersebut."Al, jujur ya, aku suka banget sama mobil ini. Simple tapi elegan," ujar Raya sambil menoleh ke arah Alya yang fokus menyetir. "Di mana kamu beli mobil ini? Kayaknya aku bakal beli yang tipe serupa saja. Nggak perlu yang terlalu mewah, yang penting bukan pemberian Papa."Alya sudah mengantisipasi pertanyaan itu. Ia menarik napas tenang, menjaga intonasi suaranya agar terdengar wajar. "Aku beli di situs daring. Kemarin pagi aku sudah janjian ketemu langsung sama penjualnya buat cek unit. Makanya, kalau kamu nanti iseng cek rekaman CCTV salon soal kedatangan Mas Emran kemarin, jangan heran kalau aku baru sampai agak siangan. Aku memang harus mengurus pembelian mobil ini dulu."Raya manggut-manggut, tidak ada kecurigaan sedikit pun di wajahnya. Ia justru tersenyum lebar. "Ah, kayaknya nanti aku minta Raka aja yang beliin mobil, atau mung
Hari Senin pagi yang dingin menyambut Alya saat ia memacu mobil milik Raya menuju rumah mantan suaminya. Sengaja ia meminjam mobil Raya karena jarak apartemennya dengan rumah mantan suaminya itu cukup jauh. Tangannya gemetar di atas kemudi, bukan karena takut pada Emran, tapi karena kerinduan yang
"Sudah tiga bulan, Raka. Laporan keuangan kuartal ini di luar ekspektasi. Kamu melakukannya dengan sangat baik," suara berat Sanjaya memecah keheningan di ruang makan yang mewah itu.Sanjaya dan Soraya baru saja tiba di tanah air tadi malam setelah menyelesaikan perjalanan panjang dari Swiss. Pagi
"Al, jangan pulang naik taksi, bareng aku saja. Aku mau mampir ke suatu tempat dulu, sekalian antar kamu pulang," suara Raya terdengar tegas namun hangat, memotong langkah Alya yang baru saja keluar dari area salon.Alya berhenti melangkah, hatinya langsung waswas. "Eh, nggak usah, Ra. Aku bisa pul
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden apartemen terasa terlalu menyilaukan bagi Alya. Dengan tubuh yang terasa begitu lelah, ia melangkah gontai menuju kamar mandi. Namun, begitu ia berdiri di depan cermin, matanya membelalak lebar.Di bagian depan lehernya, tepat di atas tulang selangka,







