แชร์

Rumah baru?

ผู้เขียน: PhiKey
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-24 22:34:42

Malam itu, begitu tiba di rumah, langkah Raya langsung membawanya menuju kamar sang adik. Di dalam, Raka baru saja selesai membersihkan diri selepas aktivitas yang melelahkan. Namun, Raka langsung disambut dengan wajah sang kakak yang tertekuk masam.

Hubungan kakak-beradik itu memang tengah sedikit renggang akhir-akhir ini. Raya salah paham mengira Raka tidak menyukai kedekatannya dengan Kevin, akibat sikap dingin sang adik pada pria tersebut. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Raka hanya sedang b
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hidup tak selalu berjalan sesuai harapan

    "Aku jauh-jauh ke sini karena kangen kamu. Aku pengen makan bareng sama kamu, dan kamu mau pergi sekarang? Setelah aku sampai di sini?" tanya Raya dengan suara yang menyisakan getir.Pagi-pagi sekali, ia meninggalkan rumah untuk mendatangi tempat tinggal Kevin. Namun, baru beberapa menit ia menjejakkan kaki di sana, kenyataan justru menyambutnya dengan dingin. Pria itu sudah berdiri di dekat pintu dengan ransel tersampir di salah satu bahunya, bersiap untuk pergi.Kevin menghela napas berat, tampak lelah, bukan hanya karena jadwalnya yang padat, tapi juga karena dinamika hubungan mereka yang belakangan sering diwarnai gesekan. "Aku ada jadwal pemotretan pagi ini, Sayang. Tolong jangan buat keributan pagi-pagi," ucapnya datar.Raya menatap nanar manik mata pria di hadapannya. Ada rasa sakit yang mendadak mencubit dadanya. "Apa kamu pikir aku ke sini... sepagi ini... hanya untuk membuat keributan?" tanyanya tertahan.Bukan hanya Alya dan Raka yang pagi itu harus menelan rasa sakit, Raya

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pagi yang getir

    Udara pagi di kediaman Sanjaya terasa begitu kontras dengan ketegangan yang diam-diam mengakar di dalam rumah. Soraya menyambut putra bungsu itu dengan senyuman dan kelembutan yang jarang ia tunjukkan belakangan ini."Selamat pagi, Raka," sapa Soraya hangat saat putranya melangkah menghampiri meja makan.Raka balas mengangguk, menarik kursi, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang. "Selamat pagi, Ma. Papa mana?" tanyanya, mendapati meja makan masih bersih tanpa hidangan tersaji untuk banyak orang."Sebentar lagi turun," jawab Soraya tenang."Kak Raya?""Kakakmu sudah pergi duluan. Katanya mau sarapan di salon saja karena ada banyak pekerjaan," sahut Soraya sambil menuangkan air putih.Raka kembali mengangguk. Setelah meneguk kopinya, ia terdiam sejenak, meresapi keheningan yang tersisa sebelum memutuskan untuk menggunakan momen ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sejak semalam mengusik pikirannya."Ma," panggil Raka pelan.Soraya langs

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Kenyataan pahit

    Suasana kamar Alya terasa begitu menyesakkan malam itu. Setelah kepulangan Raka ke kediaman Sanjaya, keheningan yang tersisa justru menjadi teman bicara yang menyiksa. Alya duduk di tepi ranjang, jemarinya bertaut erat, mencoba meredam gejolak di dadanya."Aku juga nggak mau kita pisah, Raka," bisiknya pelan, seolah sedang beradu argumen dengan bayang-bayang pria itu. "Tapi... kamu juga nggak bisa memaksaku untuk terus berada di posisi ini. Aku nggak mau orang tuamu makin membenciku. Aku nggak mau dicap sebagai wanita yang hanya memanfaatkanmu. Dan lebih dari itu, aku takut... aku takut akan menjadi ibu yang buruk untuk anak-anakku jika aku terus membiarkan diriku berada dalam ketidakpastian ini."Alya menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat dan menyakitkan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, membiarkan punggungnya tenggelam di kelembutan seprai. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar, menangkap bayang-bayang remang yang menari-nari di sa

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Ancaman baru

    "Dasar brengsek!" Maki Alya lirih, namun tatapannya tetap menghujam tepat ke manik mata Raka. Ada kilatan kesal dan bingung yang bercampur aduk di sana. "Kamu mau aku jadi wanita simpanan, tapi di sisi lain kamu ingin dunia tahu kalau aku wanitamu. Sebenarnya, kamu mau aku jadi yang mana, sih? Nggak jelas."Raka terdiam sejenak. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tuntutannya barusan memang tidak adil bagi Alya. Pria itu mencebik, berusaha menetralisir suasana yang mendadak tegang di dalam mobil."Baiklah, aku mengerti," jawab Raka dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Kita butuh waktu yang cukup. Nanti malam, kita bahas semuanya. Kebetulan ada sesuatu yang juga ingin aku tanyain ke kamu."Kini, giliran Alya yang tertegun. Rasa kesal yang tadi memuncak seketika berganti menjadi rasa penasaran. "Kamu mau tanya apa?"Raka menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sedikit misterius. Ia sengaja tidak memberikan jawaban langsung, justru membalas rasa ingin tahu Alya deng

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tiba-tiba penasaran

    "Kenapa Mama tiba-tiba minta maaf seperti itu?" tanya Raka lirih di kesendiriannya.Ia duduk di tepi ranjang dalam kamar yang temang. Raka bahkan belum berniat untuk mandi atau membersihkan diri karena pikirannya masih dipenuhi bayangan malam tadi. Ucapan permintaan maaf dari ibunya terdengar begitu tulus, sesuatu yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya."Apa Mama benar-benar meminta maaf? Apa yang Alya katakan sampai Mama berubah seperti ini? Apa setelah ini Mama akan mengizinkan aku sama Alya untuk terus berhubungan?" tanya Raka beruntun, menyisakan tanya yang belum menemukan jawabannya.Sementara itu, Soraya di dalam kamarnya duduk termenung di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan sendu."Maafin Mama, Raka," ucapnya lirih, menyadari betapa dalam beban emosional yang selama ini ia pikul dan ia timpakan pada sang putra.Keesokan harinya, suasana sarapan di rumah Sanjaya terasa berbeda. Raka duduk di meja makan dengan gaya tenang khas

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Rasa bersalah

    Malam itu, suasana ruang makan terasa begitu kontras dengan isi kepala Alya. Nana dan Rio makan dengan lahap, sesekali tertawa kecil menanggapi celoteh pengasuh mereka. Sementara itu, Alya hanya duduk diam, membiarkan teh panas di cangkirnya perlahan kehilangan uap hangatnya. Ia hanya menatap tanpa benar-benar melihat, pikirannya melayang jauh."Ibu," panggil Nana memecah lamunan Alya.Alya tersentak pelan, lalu menoleh dan memberikan senyuman terbaik yang bisa ia simpulkan. "Iya, Nana sayang. Ada apa?""Besok kan libur sekolah, boleh tidak aku pergi ke kolam renang? Aku sudah lama sekali tidak berenang," ucap Nana dengan tatapan penuh harap.Alya mengangguk pelan. "Tentu saja boleh. Nanti malam Ibu carikan kolam renang yang dekat dari sini. Tapi maaf ya, Ibu nggak bisa menemani kalian. Ibu harus bekerja, salon sedang ramai karena Tante Raya sedang ke luar kota.""Baik, Ibu. Terima kasih!" Nana berseru senang, lalu berbisik dengan antusias kepada adiknya, "Rio, besok kita berenang! Ho

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi kekalahan anak perempuan

    Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Perasaan yang mulai berubah

    Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tempat bersandar yang salah

    Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hati yang terluka

    Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status