ログインSetelah percintaan yang liar itu, keduanya tidur sebentar untuk memulihkan energi mereka. Naya tidur di dalam pelukan Ardi. Setelah melakukan percintaan, keduanya selalu tidur bersama dan Ardi selalu setia memeluk gadis yang selalu bersama dengannya. Setelah lima belas menit tidur dan cukup untuk menerima energi, mereka akhirnya terbangun. Ponsel Ardi berbunyi dan pria itu segera meraihnya. Panggilan dari istrinya telah masuk. Ardi menaruh kembali dan tidak menghiraukan ponselnya. "Kenapa?" tanya Naya yang baru keluar dari kamar mandi."Miya. Nggak tahu ada apa," jawab Ardi."Nggak mau diangkat aja? Tumben dia telepon jam segini loh, Pak." Naya memberi masukan."Nggak ah. Nanti aja biar ngobrol di rumah. Kalau lagi sama kamu, aku maunya sama kamu," kata Ardi yang sangat serius dengan apa yang dia katakan. Naya pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera memakai kembali bajunya, saat Ardi masuk ke kamar mandi. Naya duduk di kasur dan mulai merapikan riasan wajahnya. Naya menatap
"Ponsel lamanya Ores."Naya yang mendengar itu, langsung menatap wajah mamanya dengan serius. Dia tidak percaya kalau mamanya masih menyimpan barang Reski. Mama Naya membalas tatapan anak yang terlihat sangat heran."Papa yang minta buat simpan, karena banyak kenangan di ponsel itu, Nay. Foto-foto, bahkan video, Nay. Papa nggak mau kehilangan hal itu," kata mama Naya."Bukannya, pesawat Ores jatuh di laut? Kenapa ponselnya masih bisa diselamatkan?" tanya Naya heran."Ores pergi menggunakan ponsel lain. Dia meninggalkan ponsel lamanya itu dan menyimpan di rumah Nenek, Nay. Itu ponsel baru Ores yang dibawa. Lalu, saat kecelakaan, Papa ambil ponsel lama itu dan buka, ternyata semua kenangan ada di sana, termasuk tentang masa lalu Ores." Mama Naya menjelaskan."Jadi, Ores sempat ganti ponsel?" tanya Naya meyakinkan kembali."Iya. Kamu mau lihat?" balas mama Naya.Naya menganggukkan kepalanya dan menatap mamanya dengan sangat serius. Semua tentang Reski, dia sangat ingin tahu. Pria yang se
"Nama Ores sebenarnya itu, Reski. Om Reski."Satu kalimat dari Naya, mampu membuat Ardi terdiam. Nama yang sangat dia ingat. Namun, banyak lagi nama yang sama dengan nama orang yang dia kenal. Jadi, masih belum tentu, itu adalah orang yang dia kenal.Melihat Ardi yang terdiam setelah apa yang dia katakan, membuat Naya menatap heran pria di hadapannya tu. Naya mengetuk meja, membuat Ardi kembali Ardi kembali menoleh ke arahnya. Pria itu terlihat mencoba tersenyum padanya."Bapak kenapa? Ada yang salah dari saya atau cara bicara saya?" tanya Naya yang tidak tahu salah apa, tetapi Ardi malah terdiam begitu saja."Oh, nggak ada yang salah, Nay. Saya hanya kepikiran sesuatu aja, Nay. Maaf," jawab Ardi. "Oh, kirain kenapa." Naya tidak lagi memperpanjang permasalahannya dengan Ardi. Mereka pun melanjutkan makan yang diselingi dengan obrolan ringan. Setelah makan bersama, Ardi membayar bill dan mengajak Naya untuk segera pulang, karena hari semakin gelap. Naya pun masuk kembali ke mobil Ard
Naya berlari ke pinggir lapangan, saat melihat Ardi memberi kode untuk berganti dengan temannya. Dia mengambil tumblernya dan segera menegaknya. Naya duduk dan memperhatikan punggung Ardi, di mana pria itu sedang sibuk mengatur strategi. Mata Naya berganti menatap teman-temannya, meski sesekali dia berganti dengan menatap Ardi. Dia sangat menyukai Ardi, pria yang masuk ke hatinya yang paling dalam. Namun, dia sangat sadar, bahwa dia tidak bisa memiliki pria yang sangat dikagumi itu. Rangga menghampiri Naya dan duduk di sampingnya. Pria itu menyenggol bahu Naya perlahan, agar gadis itu sadar bahwa ada dirinya di sampingnya. Naya pun menoleh ke arah pria tersebut dan menatap heran. "Kenapa?" tanya Naya heran. "Kamu kenapa akhir-akhir ini jarang banget latihan, Nay?" tanya Rangga basa-basi. "Akhir-akhir ini? Perasaan aku cuma sering izin beberapa hari aja deh, Ngga. Itu juga ada alasannya dan Pak Ardi juga tahu alasannya. Aku sudah bilang sama beliau," jawab Naya. "Memang apa alas
“Dia kecelakaan pesawat dan meninggal.” Satu kalimat yang mampu membuat es krim rasa coklat vanila yang dinikmati Ardi, terasa seperti kopi. Ardi yang sedang menikmatinya, seketika menaruh sendok es krim tersebut dan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap Naya yang masih menundukkan kepalanya. “Nay?” Ardi memanggil gadis yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak menyangka apa yang tidak diceritakan Naya adalah hal pahit yang sangat tidak nyaman untuk diingat. Namun, sekarang dialah yang membuka luka itu.“Kenapa, Pak?” tanya Naya. “Kamu nggak papa? Masalah kayak gini menimbulkan trauma yang cukup besar pasti,” kata Ardi. “Ada traumanya. Cukup besar, tapi aku janji sama Aunty, kalau akan lebih menerima lagi, bukan hanya mencoba melupakan aja, Pak. Aku mau melakukan sesuai janjiku," balas Naya dengan sangat yakin."Aku tahu rasanya, Nay. Kamu akan jauh lebih baik nantinya. Tenang aja, di dunia ini, kamu masih banya yang sayang kamu. Aku, Daffa dan keluargamu, Nay. Jadi, janga
Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama dengan Xera, Naya merasa sangat bahagia. Banyak hal yang sangat dia rasa membuatnya semakin terasa hidup. Hidup yang dulu dia rasa berat, saat bersama dengan Xera, meski tidak ada Ardi, semua terasa sangat ringan. Setiap masalah seolah terangkat begitu saja. Namun, hari ini sudah tiba. Hari di mana Xera harus terbang kembali ke Taiwan. Naya mengantar Xera ke bandara. Bibirnya sudah melengkung, seolah sangat tidak rela melihat Xera harus terbang meninggalkannya lagi. Ada rasa khawatir, setiap datang ke bandara, karena itu setiap papanya melakukan perjalanan bisnis, Naya sebisa mungkin hanya menemuinya di rumah.Berbeda dengan saat ini. Dia ingin mengantar Xera ke bandara, meski dadanya mulai terasa sesak, sejak memasuki area bandara. Xera sangat paham dengan perubahan Naya. Dia pun meraih tangan Naya.“Masih suka takut, ya?” tanya Xera.Naya menganggukkan kepalanya dan memaksanya sebuah senyuman muncul di wajahnya. Xera mengusap lembut