تسجيل الدخول“Kakak capek karena Naresa, ya?” tanya Naresa pelan. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Melihat itu, Zavian langsung mengernyit kecil. “Aku bukan capek karena kamu.” “Lalu?” “Aku capek karena kamu terlalu keras kepala.” Nada suaranya tidak lagi terdengar dingin seperti sore tadi. Justru lebih terdengar pasrah. Naresa langsung menunduk pelan. “Maaf…” Zavian menghela napas kecil lalu memegang pelan pipi gadis itu agar menatapnya. “Aku marah karena khawatir.” “Aku tahu…” “Tidak, kamu tidak tahu.” Zavian menatap Naresa serius. “Kalau kamu tahu, kamu tidak akan sembarangan makan pedas setelah kemarin kesakitan sampai menangis.” Naresa langsung diam. Ia memang tidak bisa membalas ucapan itu. Karena semuanya benar. “Aku cuma bosan makan makanan hambar terus…” lirihnya pelan. Tatapan Zavian perlahan melembut. “Aku mengerti.” “Benarkah?” “Iya.” Untuk beberapa detik suasana menjadi hening. Lalu Zavian kembali mengusap kepala Naresa pelan. “Tapi kamu harus sabar sedikit lag
“Akhirnya tiba juga di rumah,” ucap Rayhan sambil meregangkan tubuhnya setelah turun dari mobil. Sonia pun ikut turun sambil membawa beberapa bahan kimia yang tadi mereka beli untuk tugas sekolah. “Astaga, ternyata banyak juga,” keluh Sonia saat melihat kantong belanjaannya. “Makanya jangan terlalu semangat beli,” sahut Rayhan santai. Sedangkan di dalam mobil— Zavian dan Naresa masih diam di tempat masing-masing. Suasananya terasa jauh berbeda dibanding biasanya. Naresa memainkan jemarinya gelisah sejak tadi. Ia beberapa kali melirik pelan ke arah Zavian yang masih diam menatap ke depan. Dan akhirnya— “Kakak marah?” tanya Naresa pelan. Zavian tidak langsung menjawab. Ia justru menghela napas kecil terlebih dahulu sebelum akhirnya menoleh. “Menurutmu?” Seketika Naresa langsung menunduk. “Maaf…” Namun Zavian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. “Aku capek harus terus mengingatkanmu.” Nada suaranya terdengar rendah. Dan itu membuat hati Naresa semakin tidak enak.
“Ah, tugas lagi, tugas lagi…” gerutu Sonia sambil merebahkan dirinya di atas meja belajar. Naresa yang sedang membereskan buku hanya terkekeh kecil melihat tingkah sahabatnya itu. “Sepertinya nanti sepulang sekolah kita sekalian cari barang-barangnya saja,” sahut Naresa sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. “Boleh.” Sonia langsung bangun semangat. “Nanti aku pulang ikut kamu saja. Sekalian kita kerjakan tugasnya, jadi besok sudah bisa langsung dikumpulkan.” “Baiklah.” Naresa akhirnya berdiri dari duduknya lalu memakai tasnya. “Ayo sekarang ke kantin. Aku sudah lapar.” Namun baru beberapa langkah berjalan— Sonia langsung menarik lengan Naresa cepat. “Eh, tunggu!” “Apa lagi?” “Jangan makan yang pedas, ya.” Sonia menyipitkan matanya curiga. “Tadi Kak Rayhan chat aku, loh.” Seketika Naresa langsung membelalak. “Hah?!” Sonia langsung mengeluarkan ponselnya dengan wajah tidak berdosa. “Tadi dia bilang, ‘Tolong awasi Naresa. Jangan biarkan dia makan sembarangan.’” Naresa la
“Loh, kalian mau ke mana?” tanya Rayhan bingung karena baru saja tiba di depan ruang BK. “Kembali,” jawab Zavian singkat. “Kembali?” ulang Rayhan tidak percaya. “Aku baru tiba, loh.” Tatapannya langsung beralih ke arah Naresa yang matanya masih sembap karena menangis. Keningnya langsung berkerut. “Eh, kenapa ini?” tanyanya cepat sambil mendekat. Namun belum sempat ada yang menjawab— Rayhan menyadari suasana di sana terasa sangat aneh. Bu Maya terlihat tegang. Lily menundukkan kepalanya. Sedangkan Sonia tampak seperti habis melihat sesuatu yang mengejutkan. “Aku ketinggalan apa?” gumam Rayhan bingung. Naresa langsung memalingkan wajahnya cepat saat Rayhan melihat ke arahnya. Karena sampai sekarang— pipinya masih terasa panas akibat tindakan Zavian tadi. Rayhan yang menyadari itu langsung menyipitkan matanya curiga. “Kak…” panggilnya pelan sambil menoleh ke arah Zavian. “Apa yang kamu lakukan?” “Tidak ada.” “Jangan bohong.” “Aku hanya menenangkan Naresa.” Jawaban itu
“Bagaimana bisa kamu mengatakan istri saya seperti itu?” ucap Rendra dengan nada penuh amarah. Suasana ruang BK langsung menjadi semakin tegang. Lily yang tadi masih berani kini langsung menundukkan kepalanya takut. “Istri saya tidak pernah menggoda saya,” lanjut Rendra tegas. “Justru saya yang mengejar-ngejar dia terlebih dahulu.” Liana langsung menoleh pelan ke arah suaminya. Sedangkan Naresa masih menangis dalam pelukannya. “Dan lagi,” sambung Rendra dengan tatapan tajam, “istri saya bukan wanita seperti itu.” Nada suaranya rendah, tetapi jelas terdengar sangat marah. “Apakah orang tua kamu tidak pernah mengajarkan sopan santun?” Seketika Lily langsung terdiam. Aura dan Nara yang sejak tadi berada di belakangnya pun mulai terlihat gugup. Karena mereka tidak menyangka masalah ini akan sebesar ini. Bu Maya langsung mencoba menenangkan suasana. “Pak Rendra, mohon tenang dulu…” “Bagaimana saya bisa tenang kalau anak saya sampai menangis seperti ini karena ibunya dihina?”
“Kenapa Kakak menahanku?!” teriak Naresa dengan suara bergetar. Air matanya terus jatuh karena emosi yang tidak lagi bisa ia tahan. “Mereka menghina Ibu, Kak!” lanjutnya sambil berusaha melepaskan pegangan Zavian. “Aku tidak terima kalau Ibu dihina seperti itu!” Zavian tetap menahan Naresa agar gadis itu tidak kembali menyerang Lily. Tatapannya terlihat serius. “Naresa, tenang dulu.” “Aku tidak bisa tenang!” Napas Naresa mulai memburu. Wajahnya memerah karena marah sekaligus menangis. Sonia benar-benar panik melihat keadaan sahabatnya itu. “Sa, sudah… nanti lambungmu sakit lagi,” ucap Sonia pelan mencoba menenangkan. Namun Naresa sudah terlalu emosional untuk mendengarkan. Sedangkan Lily masih berdiri sambil menatap Naresa kesal. “Lihat sendiri kan? Dia memang kasar,” ucap Lily kepada orang-orang di sekitar sana. Namun belum sempat keributan itu berlanjut— terdengar suara langkah kaki mendekat. Beberapa guru datang menghampiri mereka dengan wajah serius. “Ada apa ini?







