Share

Maaf

Author: NisfiDA
last update publish date: 2026-05-05 13:05:43

“Dokter, tolong!”

Suara Zavian menggema begitu ia memasuki ruang gawat darurat.

Para perawat dan dokter yang berjaga langsung berlari menghampiri.

“Ada apa?” tanya salah satu dokter dengan cepat.

“Dia pingsan!” jawab Zavian tegas namun panik. “Penyakit lambung… kambuh.”

Tanpa menunggu lagi, Naresa segera dipindahkan ke ranjang dorong.

Beberapa perawat langsung memeriksa kondisi vitalnya.

“Tekanan darah menurun, Dok!”

“Segera pasang infus!”

“Siapkan obatnya!”

Instruksi terdengar bertub
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Penjagaan Yang Ketat

    “Sorry Naresa… mulutku benar-benar nggak bisa dikontrol,” ucap Sonia sambil nyengir bersalah. Naresa hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya tampak benar-benar frustasi. Karena memang, sahabatnya itu terlalu polos untuk menyimpan rahasia. “Tidak perlu minta maaf.” Suara Zavian membuat Naresa dan Sonia langsung menoleh. “Mulai sekarang,” lanjutnya tenang, “kamu harus melaporkan siapa saja yang dekat dengan Naresa.” “Hah?” Sonia langsung membelalak. “A-aku?” “Iya.” Sonia langsung menunjuk dirinya sendiri dengan gugup. “Kak!” protes Naresa cepat. “Jangan sembarangan memberi tugas begitu!” Namun Zavian tetap terlihat serius. “Kau temannya paling dekat.” “Itu benar sih…” gumam Sonia pelan. “Sonia!” Naresa langsung melotot. Rayhan yang sejak tadi mendengarkan malah tertawa kecil. “Astaga…” gumamnya santai. “Sekarang Sonia resmi jadi mata-mata.” “Aku nggak mau jadi mata-mata!” protes Sonia cepat. “Kau sudah terlanjur dipilih,” sahut Zavian datar. Naresa langsung memeg

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Pengalihan

    “Naresa!” Suara itu langsung membuat Naresa menoleh cepat. “Sonia!” sambutnya dengan wajah jauh lebih cerah. Sonia baru saja masuk ke ruang rawat sambil membawa paper bag di tangannya. Begitu melihat kondisi sahabatnya— wajah Sonia langsung berubah khawatir lagi. “Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya sambil mendekat. “Tenang,” jawab Naresa sambil tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.” Sonia langsung menghela napas lega. “Syukurlah…” Ia duduk di kursi dekat ranjang. “Kamu tahu nggak? Aku susah banget dapat izin ke sini.” Naresa mengernyit bingung. “Loh, kenapa? Papamu nggak mengizinkan?” “Iya,” keluh Sonia. “Papa lagi dinas luar, jadi agak susah minta izinnya.” Rayhan yang sedang memainkan ponselnya langsung menoleh. “Memangnya rumahmu seketat itu?” “Tidak juga,” jawab Sonia cepat. “Cuma Papa lagi overprotektif akhir-akhir ini.” Rayhan langsung tertawa kecil. “Mirip Kak Zavian.” Seketika Sonia langsung melirik Zavian yang duduk di sofa. Sedangkan Naresa spontan menah

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bab 23-Sikap Yang Berbeda

    “Bu… kapan Naresa pulang?” keluh Naresa sambil memanyunkan bibirnya. “Naresa benar-benar bosan berada di rumah sakit…” Liana yang sedang mengupas buah hanya tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. “Kamu masih belum sembuh, Sayang,” jawabnya lembut. “Jadi harus dirawat beberapa hari lagi.” “Tapi kan Naresa sudah dua hari di sini, Bu…” Nada suaranya terdengar benar-benar pasrah. Liana baru saja ingin menjawab, namun suara pintu terbuka lebih dulu terdengar. Dan sosok yang masuk membuat Naresa langsung terdiam. Zavian. Pria itu masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di tangannya. “Kau belum sembuh total,” ucapnya datar begitu masuk. Naresa langsung menghela napas pelan. “Lihat kan, Bu…” gerutunya kecil. “Kak Zavian pasti ngomong begitu lagi.” Namun berbeda dari biasanya, kali ini Zavian tidak membalas. Ia justru berjalan mendekat lalu menaruh kantong belanja itu di atas meja. “Apa itu?” tanya Naresa penasaran. “Makanan.” “Makanan rumah sakit aja Naresa sudah bosan

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Maaf

    “Dokter, tolong!” Suara Zavian menggema begitu ia memasuki ruang gawat darurat. Para perawat dan dokter yang berjaga langsung berlari menghampiri. “Ada apa?” tanya salah satu dokter dengan cepat. “Dia pingsan!” jawab Zavian tegas namun panik. “Penyakit lambung… kambuh.” Tanpa menunggu lagi, Naresa segera dipindahkan ke ranjang dorong. Beberapa perawat langsung memeriksa kondisi vitalnya. “Tekanan darah menurun, Dok!” “Segera pasang infus!” “Siapkan obatnya!” Instruksi terdengar bertubi-tubi. Zavian hanya bisa berdiri di samping, menatap semua itu dengan napas tidak teratur. Tangannya masih sedikit gemetar. Saat ranjang mulai didorong masuk ke dalam ruang penanganan— Zavian refleks ingin ikut. Namun— seorang perawat menahannya. “Maaf, Anda tidak bisa masuk.” Kalimat itu membuat langkah Zavian terhenti. Pintu langsung tertutup di hadapannya. Seketika— dunia terasa sunyi. Beberapa detik kemudian, Rayhan dan Sonia datang dengan tergesa. “Kak!” panggil Rayhan. Zavia

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut

    “Loh, Sonia sedang apa di sini?” Suara itu membuat Sonia langsung menoleh cepat. “Ibu Rina!” ucapnya lega sekaligus panik. Tanpa menunggu, ia langsung menarik tangan guru kesehatan itu. “Ibu, ayo cepat masuk. Tolong periksa Naresa!” “Naresa?” ulang Ibu Rina heran. Namun saat matanya tertuju ke dalam UKS— ia langsung mengerti situasinya. Tanpa banyak bicara, Ibu Rina segera masuk dan menghampiri ranjang tempat Naresa terbaring. “Apa yang terjadi?” tanyanya serius. “Penyakit lambungnya kambuh, Bu,” jawab Sonia dengan suara gemetar. Ibu Rina langsung mulai memeriksa. Tangannya dengan hati-hati menekan bagian perut Naresa. Dan saat itu juga— wajah Naresa langsung mengernyit kuat. “Akh…” lirihnya menahan sakit. Ibu Rina langsung menarik napas kecil. “Sudah berapa lama dia tidak makan?” Sonia menggigit bibirnya. “Sepertinya dari pagi, Bu…” Ibu Rina menggeleng pelan. “Pantas saja.” Ia segera mengambil obat dari lemari. “Ini harus segera diminum.” Sonia langsung memban

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Panik

    “Sa, kamu nggak bawa obatmu?” tanya Sonia panik. Naresa hanya menggeleng pelan. Tangannya masih menekan perutnya yang semakin nyeri. “Aduh…” lirihnya. Sonia langsung semakin khawatir. “Ya ampun, Naresa! Kamu ini kenapa sih nggak sarapan tadi?!” Naresa memejamkan matanya. Bukan karena tidak mau— tapi karena hatinya masih terlalu penuh sejak semalam. “Aku nggak lapar…” jawabnya lemah. “Ini bukan soal lapar atau nggak!” ujar Sonia setengah panik. “Ini soal kesehatan kamu!” Naresa mulai berkeringat dingin. Tubuhnya terasa semakin lemas. Melihat itu, Sonia langsung berdiri. “Nggak bisa. Kita ke UKS sekarang.” “Nggak usah…” ucap Naresa pelan. “Nanti juga hilang…” Namun tiba-tiba— rasa nyeri itu datang lebih kuat. “Akh…” Naresa meringis kesakitan. Sonia langsung membelalak. “Oke, nggak bisa ditunda!” Ia langsung memapah tubuh Naresa. “Ayo berdiri pelan-pelan.” Dengan susah payah, Naresa mencoba bangkit dari kursinya. Namun kakinya terasa lemah. Hampir saja ia terjatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status