LOGINDominic yang menyaksikan interaksi singkat itu hanya menatap adiknya dengan dingin, sebelum akhirnya melangkah maju mendekati Nadine untuk memutus perhatian wanita itu dari Matteo. "Nadine," panggil Dominic lembut. Nadine menoleh. Mata jernihnya yang jeli reflek menangkap sesuatu. Ujung kemeja putih Dominic yang tidak dimasukkan rapi kedalam celana akibat pengobatan yang baru selesai, melambai agak panjang menembus bagian bawah jasnya. Napas Nadine seketika tertahan, noda merah pekat yang merembes lebar di ujung kain kemeja tepat dirusuk kanan Dominic lengkap dengan jejak goresan tipis dipelipis sang kakak tiri terlihat begitu jelas, usaha untuk menutupi yang berujung sia-sia. Rasa mual Nadine menguap seketika, berganti rasa cemas yang meremukkan dadanya, usaha menjaga jaraknya runtuh begitu saja. Nadine mendekat dengan langkah gemetar, mengulurkan tangannya di udara dengan raut wajah panik. "Kak... kemejamu berdarah... Kakak terluka parah, kan?" cicit
Keheningan mendadak menyergap ruang kerja Dominic. Dominic yang baru saja hendak merapikan kemeja putihnya yang koyak mendadak kaku. Victor terdiam seketika, sementara Matteo menoleh cepat ke arah pintu dengan sepasang mata menyipit tajam. "K-Kak Dominic...? Benarkah itu...?" Suara cemas Nadine di balik pintu terdengar begitu lembut, bergetar menahan panik. Sebenarnya Nadine sudah berusaha keras menjaga jarak dan membatasi diri usai kejadian emosional di kamarnya. Namun, ketika seorang pelayan tak sengaja berbisik bahwa Dominic kembali dalam keadaan terluka parah, naluri dan rasa khawatirnya langsung mengalahkan akal sehat. Tanpa sadar kakinya menyeretnya ke ruang kerja pria itu. Mendengar kedatangan Nadine yang tiba-tiba, Dominic yang panik tak ingin membuat wanita itu cemas berlebihan, terutama demi menjaga kondisi batin Nadine dan janin di rahimnya. Pria itu buru-buru menyambar jas hitamnya di atas meja, memakainya dengan gerakan cepat untuk menutupi keme
Atmosfer ruangan mendadak membeku. Aura dingin yang mencekam saling mengunci di antara dua bersaudara Moretti. Dominic berbalik perlahan, menatap adik bungsunya dengan pandangan menusuk. "Jaga bicaramu, Matteo." "Kenapa? Kau mau melarangku?" cela Matteo, terkekeh tajam tanpa rasa takut. "Aku tahu Ayah tidak pernah menikahi ibunya. Nadine bukan adik tiri kita. Dan kau tahu betul aku menyukainya, bahkan lebih gila darimu. Kau mungkin bisa menahan diri dengan topeng kakak idamanmu, tapi aku tidak." "Matteo," potong Dominic rendah, suaranya mengandung ancaman berbahaya. "Kau tidak berhak atas Nadine." "Atas dasar apa?" tantang Matteo maju satu langkah. "Hanya karena kau anak sulung? Atau karena kau yang menemukan rahasia Ayah lebih dulu?" Dominic menatap lurus ke dalam manik mata adiknya, lalu mengucapkan satu kalimat datar yang menghantam tepat di dada Matteo. "Karena anak yang ada di dalam rahim Nadine... adalah darah dagingku." DEG. Lan
Dua hari berlalu merambat cepat. Kabar pertunangan Nadine dan Lukas Kaiser Vance menyebar ke seluruh pelosok Kota Nasan, memancing pergerakan panik dari jaringan keluarga Miller. Namun, Dominic tidak memberi mereka ruang untuk bernapas. Malam itu juga, serangan balasan Moretti meledak secara brutal. Dominic bergerak tanpa ampun. Ia tidak hanya mengomandani aliansi dari balik meja, melainkan turun langsung ke lapangan. Di bawah komando Dominic, unit pembantai nomor satu Moretti dikerahkan membabi buta. Suara tembakan bersahut-sahutan di kompleks markas logistik Miller. Darah menyembur menghantam dinding beton. Pertempuran itu murni pembantaian: kepala yang bolong ditembus peluru berkaliber tinggi, leher menganga tersabet pisau lempar, hingga tubuh para pengawal Miller yang roboh dengan perut terburai. Orang-orang Moretti memang ada yang tumbang, tetapi jumlah kubu Miller yang rata dengan tanah jauh lebih mengerikan. Kebrutalan itu bert
Di sisi lain, saat bibirnya masih menempel lembut di perut Nadine, suara hati Dominic berteriak pilu dalam kesunyian. 'Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah yang sudah membuat ibumu menderita selama ini,' bisik Dominic dalam batinnya, meratapi dosa besar yang baru saja terungkap. 'Aku bersumpah demi bernapasnya nyawaku, tak akan ada lagi yang boleh menyakiti kalian. Ayah akan melindungi dan memberi rasa aman untuk kalian berdua.' Nadine berusaha merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa canggung dan cemas akan batas hubungan mereka memaksa wanita itu memalingkan wajah, meski matanya sudah basah oleh genangan air mata. Tiba-tiba, Dominic berdiri dan menarik tubuh Nadine ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Nadine begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. "K-kak..." bisik Nadine bergetar. "Hanya sebentar..." potong Dominic lirih dengan suara pecah yang menahan isak. "Hanya sebentar saja... biarkan seperti ini, Nadine..." Dekapan Dominic terasa makin rap
Dominic melangkah cepat menelusuri selasar menuju taman belakang. Napasnya masih terasa berat, membawa tumpukan penyesalan yang membakar dadanya. Namun, begitu matanya menyapu sekeliling area taman, sosok yang dicarinya sama sekali tidak terlihat. Kursi kayu tempat biasa Nadine duduk sepi, hanya suaravangin yang berembus pelan. Pandangan Dominic terhenti pada seorang pelayan paruh baya yang tengah menyiram tanaman bunga tak jauh dari gazebo. Dominic mengikis jarak dengan langkah tegap. Pelayan itu tersentak kaget melihat kedatangan tuannya. Serta-merta ia menundukkan kepala penuh hormat. "T-Tuan Muda..." "Di mana Nadine?" tanya Dominic singkat, nadanya datar namun tak bisa menyembunyikan ketergesaan. "Nona Nadine sudah dari tadi kembali ke atas, Tuan Muda. Beliau kembali ke kamarnya," jawab pelayan itu cemas. Tanpa membuang kata, Dominic langsung membalikkan badan. Langkah kakinya berdentang lebar memotong koridor, kembali menuju lantai utama. Di







