Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 246 — Rencana cacat

Share

Bab 246 — Rencana cacat

Author: Za_dibah
last update publish date: 2026-06-14 00:34:43
​"Perlu usaha dan perhitungan yang matang untuk membawa keluar seorang wanita yang berada di bawah pengawasan ketat keluarga Moretti, Christian."

Suara pria tua itu terdengar pelan, namun setiap katanya mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

"Tetapi setidaknya langkah pertamamu berhasil. Nadine sekarang percaya bahwa anak yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingmu."

Ia berhenti sejenak. Senyumnya melebar tipis.

"Bukan darah daging Moretti."

Kalimat itu m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 307 — Kematian Ayah Nadine.

    Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat.​"Tuan Besar Sebastian mengambil tindakan yang sangat ekstrem," lanjut Victor. Ia mengeluarkan satu bundel dokumen resmi bertempel stempel panti asuhan dan kepolisian. "Seluruh dokumen kematian Nona Nadine dan keluarganya sengaja direkayasa. Secara hukum, mereka dinyatakan tewas dalam insiden kebakaran."​"Direkayasa?" ulangi Dominic.​"Benar. Identitas mereka dihapus total, diganti dengan nama baru, lalu dipindahkan ke kota kecil di utara. Mereka dibiarkan hidup dalam serba kekurangan agar tidak memicu kecurigaan jaringan intelijen Miller, namun mereka selamat."Dominic membaca cepat dokumen-dokumen itu.Victor berkata pelan,"Ada satu fakta lagi.""Apa?"​Victor menarik napas panjang sebelum membuka dokumen krusial lainnya. "Termasuk pernikahan Tuan Besar dengan Nyonya Sarah dua bulan lalu."​Dominic menatap Victor tajam. "Apa maksudmu?"​"Pernikahan itu sepenuhnya adalah operasi perlindungan," papar Victor jujur. "Berdasarkan arsip pribadi

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 306 — Target eliminasi

    ​Dua hari telah berlalu sejak insiden berdarah di kolam renang lantai tiga Mansion Saint Noire.​Namun, kemegahan bangunan itu justru terasa makin dingin dan mencekam. Koridor-koridor marmer yang biasanya dipenuhi langkah para pelayan kini diliputi kesunyian yang menyesakkan. Semua orang bergerak berjingkat dan berbicara dalam bisikan, seolah takut menyulut amarah sang penguasa muda.​Satu rumor menyebar diam-diam di antara para staf. Nona Nadine mengurung diri di dalam kamar, dan tak seorang pun berhasil menemuinya.​Seorang pelayan wanita berdiri gugup di depan pintu ruang kerja Dominic sambil memeluk nampan makan siang yang masih utuh. Pintu kayu ek tebal itu terdorong dari dalam, menampilkan sosok Victor.​"Ada apa?" tanya Victor bernada rendah.​Pelayan itu menunduk makin dalam. "Nona Nadine hanya menyentuh dua suap sup, Tuan Victor. Selebihnya... sama sekali tidak dimakan."​Victor memandangi piring yang mendingin itu beberapa saat. "Bagaimana dengan susu hamilnya?"​"Hanya bebe

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 305 — Dia milikku

    Hening kembali merayap, begitu pekat hingga gema napas mereka terdengar menyiksa. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu." Dominic menggeleng pelan. "Bukan tidak bisa... tapi tidak mau."Sebastian menatap putranya lama. Garis-garis penuaan di wajah pria tua itu memancarkan keletihan yang teramat sangat, dan akhirnya ia menghela napas berat. "Ya." Hanya satu kata, namun satu kata itu terasa seperti palu godam yang menghantam ruangan. Dominic memejamkan mata sesaat. Dugaannya yang paling mengerikan kini terbukti nyata. "Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu." Suara Sebastian terdengar jauh lebih lelah dibanding biasanya."Tapi bukan karena aku ingin menghancurkan hidupmu." Dominic membuka mata. "Lalu?" "Karena aku ingin menyelamatkan nyawa seorang anak." Dominic tidak bereaksi. Sebastian bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang mansion."Arthur Miller tidak pernah berhenti mencari penyelamatmu. Baginya... gadis kecil di

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 304 — Gadis kecil penyelamat

    Keheningan memenuhi ruang kerja Sebastian. Cahaya kekuningan dari lampu meja memantul di atas permukaan kayu jati yang mengilap, sementara udara di dalam ruangan terasa semakin berat. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Sebastian masih menatap jepit rambut perak yang tergeletak di atas meja. Benda kecil itu—bukti bisu yang selama tujuh belas tahun terakhir menjadi rahasia paling mematikan yang disembunyikannya, kini berada tepat di depan mata putra sulungnya. Dominic tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah ayahnya. Ia sudah terlalu mengenal pria itu. Sebastian Moretti adalah kepala keluarga yang tidak pernah membiarkan emosinya terlihat. Bahkan ketika menghadapi puluhan kepala organisasi kriminal sekalipun, raut wajahnya hampir tidak pernah berubah. Namun kali ini... Dominic menangkap sesuatu, kejutan, kecemasan, dan rasa bersalah yang mendalam. Sudut bibir Dominic terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Ayah mengenal jepit ram

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 303 — Aku rasa...

    Dominic memilih bungkam sejenak. Sorot mata abu-abunya yang dingin mengunci wajah sang ayah tanpa berkedip. Ada intensitas berbahaya di sana, bukan luapan emosi mentah, melainkan keheningan seorang predator yang sedang menyusun peta kebohongan lawannya. ​Lama tak melihat tatapan seperti itu pada putra sulungnya, Sebastian tanpa sadar ikut menegang. ​"Dominic?" panggil Sebastian lagi, suaranya mengeras demi menutupi kecemasan yang perlahan merayapi dadanya. "Jelaskan padaku apa yang terjadi." ​"Ayah..." potong Dominic pendek. Suaranya bergema amat pelan, namun mengandung bobot tekanan yang begitu berat. "Aku ingin kita bicara." ​"Bicara di sini. Apa yang kau lakukan pada Nadine?" ​"Bukan di sini," sergah Dominic mutlak, tidak memberi ruang untuk perdebatan. "Kita bicara di ruang kerja Ayah. Sekarang." ​Sebastian menatap tajam ke dalam manik mata anak sulungnya. Pria tua itu mengenal betul tabiat Dominic; semakin tenang dan p

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 302 — Tidak mungkin...

    ​TOK! TOK! TOK! ​"Nadine! Buka pintunya!" ​Gedoran keras Dominic memecah kesunyian lantai dua Mansion Saint Noire. Pria itu berdiri di depan pintu kayu tebal yang terkunci ganda, dengan napas yang memburu liar di balik dadanya yang tegap. Sensasi panik, sesuatu yang sangat asing dan jarang menguasai dirinya, kini menguasai seluruh jalan pikirannya. ​Bayangan Nadine beberapa menit lalu di tepi kolam renang terus berputar tanpa ampun. Tatapan mata gadis itu yang mendadak dipenuhi horor, tubuhnya yang berguncang hebat, serta air mata yang Luruh tanpa bisa ditahan, terasa sangat janggal. Nadine menatapnya bukan sekadar kaget, melainkan seolah-olah dirinya adalah sosok monster yang paling menakutkan. ​Di telapak tangan kirinya, Dominic mencengkeram erat sebuah jepit rambut perak berbentuk kelopak bunga. Benda logam kecil itu terasa dingin, namun ironisnya menyengat kulitnya bagai besi panas. ​Ia kembali mengangkat tangan, mengetuk dengan nada yang dipaksa serendah mungkin. TOK!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status