LOGINSuara Dominic terdengar lebih berat. "Selama ini aku mencari gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupku. Aku tidak pernah berhenti mencarinya." Mata sembap Nadine perlahan beralih pada jepit rambut perak tersebut. Hatinya berdesir pilu menyadari benda peninggalan almarhum ayahnya ada di sana, namun benaknya terlalu kacau untuk memproses kenyataan itu. Dominic melanjutkan dengan suara tenang. "Victor telah menemukan seluruh kebenarannya. Kau memang gadis yang menyelamatkanku di pantai. Ayahku menyembunyikan identitasmu selama bertahun-tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana besar Arthur yang telah membunuh pewaris Moretti yaitu aku.""Victor telah menemukan seluruh kebenarannya," lanjut Dominic pelan. "Kau memang gadis kecil di pantai itu. Ayahku memalsukan identitasmu selama belasan tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua malapetaka ini terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana pembunuhan terhadapku
Pintu kamar terbuka perlahan. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang memecah kesunyian. Ruangan itu gelap. Gorden tebal masih tertutup rapat sehingga hanya sedikit cahaya bulan yang menyelinap melalui celah kain. Dominic berhenti di ambang pintu. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan. "Nadine..." Tak ada sahutan. Pandangannya akhirnya terkunci pada ranjang di sudut kamar. Di sanalah Nadine meringkuk. Tubuhnya dibungkus selimut hingga ke bahu. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat, sementara kedua matanya sembap karena terlalu lama menangis. Melihat langkah Dominic mendekat, tubuh Nadine mendadak kaku. Secara refleks ia merapatkan punggungnya ke sandaran ranjang, melingkarkan lengan memeluk dirinya sendiri. Dominic menghentikan gerakan. Dadanya serasa dihantam beban berat melihat kondisi gadis itu. "Jangan... Jangan mendekat!" jerit Nadine tipis. Suaranya pecah, parau, dan nyaris habis. "Aku tidak akan menyakitimu," bisik Dominic lembut. "Aku hanya ingin mema
Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Tuan Besar Sebastian mengambil tindakan yang sangat ekstrem," lanjut Victor. Ia mengeluarkan satu bundel dokumen resmi bertempel stempel kepolisian. "Seluruh dokumen kematian Nona Nadine dan keluarganya sengaja direkayasa. Secara hukum, mereka dinyatakan tewas dalam insiden kebakaran." "Direkayasa?" ulangi Dominic. "Benar. Identitas mereka dihapus total, diganti dengan nama baru, lalu dipindahkan ke kota kecil di utara. Mereka dibiarkan hidup dalam serba kekurangan agar tidak memicu kecurigaan jaringan intelijen Miller, namun mereka selamat." Dominic membaca cepat dokumen-dokumen itu. Victor berkata pelan, "Ada satu fakta lagi." "Apa?" Victor menarik napas panjang sebelum membuka dokumen krusial lainnya. "Termasuk pernikahan Tuan Besar dengan Nyonya Sarah dua bulan lalu." Dominic menatap Victor tajam. "Apa maksudmu?" "Pernikahan itu sepenuhnya adalah operasi perlindungan," papar Victor jujur. "Berdasarkan arsip priba
Dua hari telah berlalu sejak insiden berdarah di kolam renang lantai tiga Mansion Saint Noire.Namun, kemegahan bangunan itu justru terasa makin dingin dan mencekam. Koridor-koridor marmer yang biasanya dipenuhi langkah para pelayan kini diliputi kesunyian yang menyesakkan. Semua orang bergerak berjingkat dan berbicara dalam bisikan, seolah takut menyulut amarah sang penguasa muda.Satu rumor menyebar diam-diam di antara para staf. Nona Nadine mengurung diri di dalam kamar, dan tak seorang pun berhasil menemuinya.Seorang pelayan wanita berdiri gugup di depan pintu ruang kerja Dominic sambil memeluk nampan makan siang yang masih utuh. Pintu kayu ek tebal itu terdorong dari dalam, menampilkan sosok Victor."Ada apa?" tanya Victor bernada rendah.Pelayan itu menunduk makin dalam. "Nona Nadine hanya menyentuh dua suap sup, Tuan Victor. Selebihnya... sama sekali tidak dimakan."Victor memandangi piring yang mendingin itu beberapa saat. "Bagaimana dengan susu hamilnya?""Hanya bebe
Hening kembali merayap, begitu pekat hingga gema napas mereka terdengar menyiksa. "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu." Dominic menggeleng pelan. "Bukan tidak bisa... tapi tidak mau."Sebastian menatap putranya lama. Garis-garis penuaan di wajah pria tua itu memancarkan keletihan yang teramat sangat, dan akhirnya ia menghela napas berat. "Ya." Hanya satu kata, namun satu kata itu terasa seperti palu godam yang menghantam ruangan. Dominic memejamkan mata sesaat. Dugaannya yang paling mengerikan kini terbukti nyata. "Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu." Suara Sebastian terdengar jauh lebih lelah dibanding biasanya."Tapi bukan karena aku ingin menghancurkan hidupmu." Dominic membuka mata. "Lalu?" "Karena aku ingin menyelamatkan nyawa seorang anak." Dominic tidak bereaksi. Sebastian bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang mansion."Arthur Miller tidak pernah berhenti mencari penyelamatmu. Baginya... gadis kecil di
Keheningan memenuhi ruang kerja Sebastian. Cahaya kekuningan dari lampu meja memantul di atas permukaan kayu jati yang mengilap, sementara udara di dalam ruangan terasa semakin berat. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Sebastian masih menatap jepit rambut perak yang tergeletak di atas meja. Benda kecil itu—bukti bisu yang selama tujuh belas tahun terakhir menjadi rahasia paling mematikan yang disembunyikannya, kini berada tepat di depan mata putra sulungnya. Dominic tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah ayahnya. Ia sudah terlalu mengenal pria itu. Sebastian Moretti adalah kepala keluarga yang tidak pernah membiarkan emosinya terlihat. Bahkan ketika menghadapi puluhan kepala organisasi kriminal sekalipun, raut wajahnya hampir tidak pernah berubah. Namun kali ini... Dominic menangkap sesuatu, kejutan, kecemasan, dan rasa bersalah yang mendalam. Sudut bibir Dominic terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. "Ayah mengenal jepit ram







