LOGINAtmosfer ruangan mendadak membeku. Aura dingin yang mencekam saling mengunci di antara dua bersaudara Moretti. Dominic berbalik perlahan, menatap adik bungsunya dengan pandangan menusuk. "Jaga bicaramu, Matteo." "Kenapa? Kau mau melarangku?" cela Matteo, terkekeh tajam tanpa rasa takut. "Aku tahu Ayah tidak pernah menikahi ibunya. Nadine bukan adik tiri kita. Dan kau tahu betul aku menyukainya, bahkan lebih gila darimu. Kau mungkin bisa menahan diri dengan topeng kakak idamanmu, tapi aku tidak." "Matteo," potong Dominic rendah, suaranya mengandung ancaman berbahaya. "Kau tidak berhak atas Nadine." "Atas dasar apa?" tantang Matteo maju satu langkah. "Hanya karena kau anak sulung? Atau karena kau yang menemukan rahasia Ayah lebih dulu?" Dominic menatap lurus ke dalam manik mata adiknya, lalu mengucapkan satu kalimat datar yang menghantam tepat di dada Matteo. "Karena anak yang ada di dalam rahim Nadine... adalah darah dagingku." DEG. Lan
Dua hari berlalu merambat cepat. Kabar pertunangan Nadine dan Lukas Kaiser Vance menyebar ke seluruh pelosok Kota Nasan, memancing pergerakan panik dari jaringan keluarga Miller. Namun, Dominic tidak memberi mereka ruang untuk bernapas. Malam itu juga, serangan balasan Moretti meledak secara brutal. Dominic bergerak tanpa ampun. Ia tidak hanya mengomandani aliansi dari balik meja, melainkan turun langsung ke lapangan. Di bawah komando Dominic, unit pembantai nomor satu Moretti dikerahkan membabi buta. Suara tembakan bersahut-sahutan di kompleks markas logistik Miller. Darah menyembur menghantam dinding beton. Pertempuran itu murni pembantaian: kepala yang bolong ditembus peluru berkaliber tinggi, leher menganga tersabet pisau lempar, hingga tubuh para pengawal Miller yang roboh dengan perut terburai. Orang-orang Moretti memang ada yang tumbang, tetapi jumlah kubu Miller yang rata dengan tanah jauh lebih mengerikan. Kebrutalan itu bert
Di sisi lain, saat bibirnya masih menempel lembut di perut Nadine, suara hati Dominic berteriak pilu dalam kesunyian. 'Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah yang sudah membuat ibumu menderita selama ini,' bisik Dominic dalam batinnya, meratapi dosa besar yang baru saja terungkap. 'Aku bersumpah demi bernapasnya nyawaku, tak akan ada lagi yang boleh menyakiti kalian. Ayah akan melindungi dan memberi rasa aman untuk kalian berdua.' Nadine berusaha merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa canggung dan cemas akan batas hubungan mereka memaksa wanita itu memalingkan wajah, meski matanya sudah basah oleh genangan air mata. Tiba-tiba, Dominic berdiri dan menarik tubuh Nadine ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Nadine begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. "K-kak..." bisik Nadine bergetar. "Hanya sebentar..." potong Dominic lirih dengan suara pecah yang menahan isak. "Hanya sebentar saja... biarkan seperti ini, Nadine..." Dekapan Dominic terasa makin rap
Dominic melangkah cepat menelusuri selasar menuju taman belakang. Napasnya masih terasa berat, membawa tumpukan penyesalan yang membakar dadanya. Namun, begitu matanya menyapu sekeliling area taman, sosok yang dicarinya sama sekali tidak terlihat. Kursi kayu tempat biasa Nadine duduk sepi, hanya suaravangin yang berembus pelan. Pandangan Dominic terhenti pada seorang pelayan paruh baya yang tengah menyiram tanaman bunga tak jauh dari gazebo. Dominic mengikis jarak dengan langkah tegap. Pelayan itu tersentak kaget melihat kedatangan tuannya. Serta-merta ia menundukkan kepala penuh hormat. "T-Tuan Muda..." "Di mana Nadine?" tanya Dominic singkat, nadanya datar namun tak bisa menyembunyikan ketergesaan. "Nona Nadine sudah dari tadi kembali ke atas, Tuan Muda. Beliau kembali ke kamarnya," jawab pelayan itu cemas. Tanpa membuang kata, Dominic langsung membalikkan badan. Langkah kakinya berdentang lebar memotong koridor, kembali menuju lantai utama. Di
Dominic berdiri membeku di depan layar monitor. Pandangannya masih terkunci penuh pada sosok gadis berpakaian koyak yang berjalan tertatih dalam rekaman video itu. Di sampingnya, Victor berdiri tegang dengan wajah cemas. Sebagai orang yang menemukan rekaman itu lebih dulu, Victor sudah tahu betul siapa sosok di dalam video tersebut. Ia hanya bisa menahan napas, khawatir melihat emosi mendalam yang mulai membakar tuannya. "Tuan Muda..." bisik Victor pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran. Badai emosi bergejolak hebat di dalam dada Dominic. Rasa bersalah yang meremukkan, penyesalan mendalam, sekaligus rasa lega yang gila bertabrakan tanpa ampun. Gadis yang disentuhnya malam itu... gadis yang kesuciannya ia renggut hingga menanggung trauma berat... bukan orang asing. Janin yang ada di dalam rahim Nadine saat ini adalah darah dagingnya sendiri. Namun di saat yang sama, kenyataan itu menghantam kesadarannya bagai cambukan keras: dialah monster yang telah menghancurkan hidup wanit
Victor menelan ludah dengan susah payah. Ia mengabaikan teguran itu, melangkah cepat mendekati meja kerja Dominic dan meletakkan flashdisk tersebut. "Maaf, Tuan Muda..." suara Victor terdengar serak dan panik. "Penyelidikan soal pelayan klub malam Le Noir dan saksi kunci malam di Hotel Saint Aurora dua setengah bulan lalu... sudah terdeteksi." Gerakan Dominic membeku seketika. Sorot mata abu-abunya mendadak tajam. Ingatan Dominic langsung melayang pada Martha Rosa, saksi kunci yang tewas diracun sebelum sempat menyebutkan nama gadis pelayan Le Noir di kamar 404. Selama ini, Dominic mengira pencarian itu akan terhenti total. "Kau sudah menemukan bukti siapa gadis itu?" tanya Dominic, suaranya mendadak berat dan menuntut. "Bukan sekadar data cetak, Tuan Muda. Tapi rekaman video," ujar Victor cepat. Ia segera menyambungkan flashdisk itu ke komputer di meja kerja Dominic. "Salah satu kolega VIP keluarga Moretti dari Prancis sedang menginap di hotel tepat di seberang lorong kam







