Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 31 — Membantu Matteo

Share

Bab 31 — Membantu Matteo

Author: Za_dibah
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-16 23:59:53
Aku terbangun oleh hentakan halus, bukan suara keras, melainkan getaran lembut yang merambat dari bawah tubuhku. Roda mobil berhenti di atas kerikil halaman mansion Saint-Noire, dan kesadaranku perlahan ditarik kembali dari kegelapan yang berat dan lengket.

Untuk beberapa detik, aku hanya diam.

Udara di dalam mobil terasa hangat. Terlalu hangat untuk malam sedingin ini. Lalu indra penciumanku bekerja lebih dulu sebelum pikiranku menyusul, aroma kayu cendana yang dalam, maskulin, bercampur de
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
I'm Scorpio
thor, ada visual mereka bertiga?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 247 —

    ​Setelah badai di kediaman Miller mereda akibat ancaman otoritas mutlak Arthur, fokus takdir bergeser ke sudut lain kota Nasan. Di sebuah penthouse eksklusif yang berdiri tinggi menjulang di atas kawasan elit pelabuhan Nasan, suasana malam itu dilingkupi keheningan yang mewah namun mencekam. ​Cahaya bulan dan gemerlap lampu kota masuk menembus dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, membanjiri ruangan luas yang didominasi marmer putih dan kaca hitam itu dengan atmosfer dingin yang mengintimidasi. Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk kesibukan dermaga di bawah sana sama sekali tidak mampu menembus kedapnya dinding tempat tinggalnya. ​Di dalam ruangan tersebut, Lukas Kaiser Vance duduk dengan postur tegap yang sempurna di atas kursi kulit eksekutifnya. Pria itu sedang menggenggam sebuah gelas kristal berisi wine merah tua. Genggamannya begitu erat, menyembunyikan riak emosi dari sepasang mata abu-abunya yang biasanya tenang dan terukur. Di atas meja marm

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 246 — Rencana cacat

    ​"Perlu usaha dan perhitungan yang matang untuk membawa keluar seorang wanita yang berada di bawah pengawasan ketat keluarga Moretti, Christian." Suara pria tua itu terdengar pelan, namun setiap katanya mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa lebih dingin. "Tetapi setidaknya langkah pertamamu berhasil. Nadine sekarang percaya bahwa anak yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingmu." Ia berhenti sejenak. Senyumnya melebar tipis. "Bukan darah daging Moretti." Kalimat itu membuat Christian mengembuskan napas berat. Alih-alih merasa puas, rahangnya justru mengeras. Karena hanya dia yang tahu betapa berantakannya semua ini. Jika malam itu berjalan sesuai rencana... Jika Dominic tidak salah masuk kamar... Jika semuanya berjalan sempurna... Situasi mereka sekarang tidak akan serumit ini. "Sial." Christian mengusap wajahnya kasar. "Kalau saja malam terkutuk itu aku tidak gagal menjebak Dominic..." Max langsung melirik kakaknya. Arthur tetap diam, memb

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 245 — Rencana Miller

    Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang mendominasi kediaman mewah keluarga Miller. ​Christian Miller baru saja tiba di mansionnya yang megah. Dengan langkah kaki yang mantap namun sarat akan aura amarah yang meledak-ledak, ia berjalan cepat melintasi koridor utama, lalu menghempaskan tubuh atletisnya ke atas sofa kulit di ruang tamu dengan kekesalan yang teramat sangat. ​"Sialan! Dominic Moretti... akan kubalas seluruh pukulanmu ini sepuluh kali lipat!" geram Christian penuh amarah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan yang sepi. ​Ia menarik napas kasar, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menyeka sudut bibirnya yang kini pecah dan mengeluarkan sedikit darah segar—sisa dari hantaman keras tinju Dominic di dermaga tadi. Rasa perih di bibirnya justru semakin membakar dendam yang membara di dalam dadanya. ​Seorang pria muda yang sejak tadi duduk santai di sisi lain sofa panjang itu hanya menyeringai

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 244 — Meringkuk lelah

    ​Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan dentingan moncong senjata yang bergesekan di koridor luar perlahan-lahan menjauh. Badai ketegangan yang dibawa oleh Christian Alexander Miller baru saja bergeser meninggalkan lantai atas restoran L'Eclat de Nasan. Namun, di dalam ruangan kerja yang kini sunyi, takdir seolah menyisakan puing-puing emosi yang hancur berantakan.Di luar pintu, sebagian besar pengawal Moretti segera bergerak membagi tugas atas perintah tak tertulis; sebagian dari mereka ikut mengawal Dominic untuk mengawasi setiap pergerakan keluarga Miller, sementara sebagian lainnya tetap tinggal di lantai atas untuk menjaga keselamatan mutlak sang Nona Moretti, Nadine. ​Nadine berdiri lemas di balik meja kerjanya. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu.Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin pria malam itu adalah Christian Miller?Bagaimana mungkin takdir bisa sekejam ini?Dua minggu terakhir hidupnya sudah cukup kacau karena Dominic.Dan seka

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 243 — Kekecewaan Nadine 3

    Christian tersenyam tipis, merasa memenangkan ronde pertama pertempuran mental ini karena berhasil mengusik ketenangan Moretti. Ia merapikan sedikit kerah jas mahalnya yang sempat kusut.​"Baiklah."​Sebelum melangkah pergi mengikuti Dominic, Christian memalingkan wajahnya kembali ke arah Nadine. Detik itu juga, seluruh raut kejam dan licik di wajah Christian Miller lenyap tanpa bekas. Wajahnya melunak sepenuhnya, dan sebuah senyuman hangat yang teramat tulus terpancar di sana, sebuah ekspresi yang hanya ia dedikasikan untuk wanita yang berhasil mencuri hatinya.​"Dear... aku akan pergi sekarang demi ketenanganmu," ucap Christian dengan nada suara yang teramat lembut, mengabaikan fakta bahwa ada puluhan senjata yang siap mengarah padanya di koridor. "Tapi ingatlah, lain waktu kita pasti akan bertemu lagi di tempat yang lebih baik. Jaga baik-baik bayi kita di dalam sana, Dear. I love..."​"KELUAR KUBILANG, BRENGSEK!" potong Dominic cepat dengan teriakan yang meng

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 242 — Kekecewaan Nadine 2

    Christian memandangi Nadine yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang mendadak melunak sepenuhnya. Sorot mata elangnya yang biasanya kejam kini memancarkan rasa bersalah yang samar, namun di balik kelembutan sesaat itu, sebuah seringai misterius yang jauh lebih berbahaya kembali terukir di sudut bibirnya saat ia melirik Dominic. Christian mengabaikan napas kasar Dominic yang terdengar berat di dekatnya. Ia juga mengabaikan moncong pistol yang beberapa saat lalu hampir menembus dahinya. Sebaliknya, ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan melewati bahu Dominic, mencari Nadine dan mengunci pandangannya tepat pada wanita itu. ​"Tenanglah, Dear," suaranya terdengar begitu lembut, kontras dengan ketegangan yang mencekam di ruangan itu. "Aku tidak akan pernah mengotori tempat indah ini." Nadine menelan ludah. Christian tersenyum tipis, lalu perlahan melirik Dominic. Dan senyum itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam. "Tapi kurasa..." katanya sant

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status