LOGINDominic mengamati interaksi itu dari sudut ruangan dalam diam. Ada sedikit kepuasan liar yang sempat mencuat di dadanya saat melihat reaksi Nadine pada Lukas, namun ia dengan cepat menekannya. Melihat Nadine seperti ini, bukan bentuk kemenangan yang ia inginkan. Begitu Lukas melangkah keluar kamar, Sebastian menoleh ke arah Dominic. Tatapan pria tua itu mengeras. "Kau juga harus tahu diri, Dominic," tegur Sebastian dengan nada penuh penekanan. Dominic mengangkat alisnya dingin. "Maksud Ayah?" "Nadine sedang sangat rapuh," balas Sebastian pelan namun menekan. "Jangan makin memperkeruh keadaannya dengan obsesimu." Mata abu-abu Dominic berkilat tajam. "Aku tahu batasanku." "Tahu?" Sebastian terkekeh sinis. "Cara yang kau sebut 'melindungi' itu... bagi Nadine tak ubahnya seperti cara mengurungnya di dalam sangkar." Kalimat itu menghantam dada Dominic dengan keras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, namun ta
Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa.Kelopak mata Nadine bergerak perlahan. Sayup-sayup, suara gemericik hujan di luar jendela menjadi hal pertama yang menyapa inderanya.Lalu, sebuah suara berat terdengar dari dekatnya."Nadine."Suara itu membuat napas Nadine tertahan seketika. Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan dengan pencahayaan kamar yang remang.Pandangan pertamanya langsung bertumpu pada Dominic.Pria itu berdiri di samping ranjang dengan raut wajah yang tak pernah Nadine lihat sebelumnya. Tidak ada aura dingin yang mencekam. Tidak ada tatapan tajam mengintimidasi. Hanya ada guratan cemas yang gagal dipendam."Nadine, kau dengar aku?" tanya Dominic, suaranya terdengar agak serak.Nadine tak langsung menjawab. Tatapannya perlahan turun, dan jemarinya yang gemetar refleks bergerak menutupi perutnya sendiri.Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Dominic. Alis pria itu bertaut tegang."Ada yang sakit? Bay
Bentakan Dominic mengguncang seluruh Mansion Saint Noire. Langkahnya berlari tanpa pernah melambat. Lorong panjang yang biasanya ditempuh dengan tenang kini terasa terlalu sempit baginya. Dadanya naik turun, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus menghantam tanpa ampun. Darah... Kenapa ada darah...? Jangan sampai... jangan sampai bayinya...Pria yang biasanya tak pernah gentar oleh apa pun itu kini benar-benar panik. Logikanya mati total. BRAK! Pintu kamar Nadine terbuka lebar. Tatapannya langsung jatuh pada sosok Nadine yang terbaring pucat di atas tempat tidur besar. Rambut hitamnya masih sedikit basah, sementara wajah cantiknya kehilangan seluruh warna. Selimut tebal sudah menutupi tubuhnya.Dominic mendekat pelan. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang senjata kini bergetar hebat saat menyentuh pipi NadineDingin. Sangat dingin.Rahang Dominic mengeras. "Nadine..." panggilnya lirih, matanya m
Kening Sebastian berkerut."Sandiwara apa yang kau maksud?"Dominic akhirnya menoleh. Tatapannya kini beralih kepada sang ayah, dipenuhi kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada kemarahan."Memaksa seorang wanita yang sedang hancur untuk menerima pertunangan demi mengamankan sebuah aliansi."Suasana kembali hening. Hanya terdengar embusan napas pelan yang terasa begitu berat. "Semua yang kulakukan... demi keselamatannya." "Demi keselamatannya?" Dominic mengulang pelan, lalu menggeleng tipis. "Kalau Ayah benar-benar ingin melindunginya..." nada suaranya meninggi, "...kenapa Ayah terus memaksanya menjalani hidup yang bahkan tidak pernah ia pilih?" "Dominic..." "Setidaknya berikan dia ruang!" bentaknya, memotong ucapan Sebastian, suaranya menggema memenuhi ruangan. "Jangan terus memaksakan kehendak Ayah atas hidupnya!" Dadanya naik turun. Tatapan matanya mulai memerah oleh amarah yang selama ini ia tahan. "Ingat satu hal..." Suara D
Suara berat Sebastian menggema tajam, memecah ketegangan di ruang utama Mansion Saint Noire. Dengan langkah panjang dan mantap, pria tua itu menuruni tangga marmer. Wajahnya mengeras, sorot matanya menyapu dua pria yang hanya tinggal sejengkal lagi berubah menjadi pembunuh satu sama lain. Pandangannya berhenti saat melihat tangan Dominic masih mencengkeram kuat kerah jas Lukas Vance. Di belakangnya, Hans segera mengangkat satu tangan, memberi isyarat kepada seluruh pengawal agar tetap di posisi. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani mengangkat senjata lebih dulu. "Dominic." Suara Sebastian rendah, namun sarat wibawa seorang kepala keluarga. "Lepaskan." Dominic tidak bereaksi. Tatapan abu-abunya tetap terpaku pada Lukas, sedingin bilah pisau yang siap menggorok leher mangsanya. "AKU BILANG, LEPASKAN DIA." Kali ini suara Sebastian menggelegar memenuhi ruangan. Keheningan berlangsung b
Dominic tidak menjawab. Namun perubahan kecil pada wajahnya sudah cukup memberikan jawaban.Rahangnya mengeras, tatapan abu-abunya menjadi semakin gelap. Lukas menangkap reaksi itu, dan ia tahu bahwa Dominic Moretti benar-benar terguncang. Pria yang selama ini dikenal tidak pernah kehilangan kendali ternyata memiliki satu titik lemah.Nadine.Dengan langkah perlahan, Lukas mendekat.Ia menurunkan suaranya, cukup agar hanya Dominic yang bisa mendengarnya."Dominic..."Lukas berhenti tepat di sampingnya."Tahukah kau?"Tatapan Dominic tetap lurus ke depan, tetapi seluruh tubuhnya menegang."Aku mengenal Nadine jauh sebelum kau."Alis Dominic terangkat tipis.Untuk sesaat, ekspresi dinginnya berubah menjadi penuh pertanyaan."Maksudmu?"Lukas menoleh sedikit, menatap sisi wajah Dominic."Setahun sebelum kau diselamatkan di pantai..."Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung."...akulah yang lebih dulu bertem







