Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 44 — Rasa nyeri dikepalaku

Share

Bab 44 — Rasa nyeri dikepalaku

Author: Za_dibah
last update publish date: 2026-01-23 23:49:05

Suasana kamar yang biasanya terasa luas kini seolah menyempit, seakan dinding-dindingnya merapat dan menekan dadaku perlahan. Aroma antiseptik menguar tajam, bercampur uap hangat dari semangkuk bubur yang mulai mendingin di atas nakas.

Langit-langit berukir emas itu masih sama, tapi kini seolah menatapku balik, dingin dan tak berperasaan, seakan mengingatkanku: bahkan saat aku terbaring tak berdaya, mansion Saint-Noire tetaplah penjara yang indah.

Setelah kegaduhan antara Dominic dan Matteo d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 318 — Dia adalah Nadine

    Victor menelan ludah dengan susah payah. Ia mengabaikan teguran itu, melangkah cepat mendekati meja kerja Dominic dan meletakkan flashdisk tersebut. ​"Maaf, Tuan Muda..." suara Victor terdengar serak dan panik. "Penyelidikan soal pelayan klub malam Le Noir dan saksi kunci malam di Hotel Saint Aurora dua setengah bulan lalu... sudah terdeteksi." ​Gerakan Dominic membeku seketika. Sorot mata abu-abunya mendadak tajam. ​Ingatan Dominic langsung melayang pada Martha Rosa, saksi kunci yang tewas diracun sebelum sempat menyebutkan nama gadis pelayan Le Noir di kamar 404. Selama ini, Dominic mengira pencarian itu akan terhenti total. ​"Kau sudah menemukan bukti siapa gadis itu?" tanya Dominic, suaranya mendadak berat dan menuntut. ​"Bukan sekadar data cetak, Tuan Muda. Tapi rekaman video," ujar Victor cepat. Ia segera menyambungkan flashdisk itu ke komputer di meja kerja Dominic. ​"Salah satu kolega VIP keluarga Moretti dari Prancis sedang menginap di hotel tepat di seberang lorong kam

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 317 — Mengubur rahasia kelam

    ​Dua minggu berlalu sejak malam yang mencekam itu. ​Kondisi fisik Nadine berangsur-angsur membaik. Ketakutan akan keguguran perlahan surut seiring berjalannya waktu dan perawatan medis yang dijalaninya secara intensif. Nadine memilih tidak lagi meratapi nasibnya secara berlebihan. Demi kesehatan janin di rahimnya, dan demi rasa hormatnya pada Sebastian, pria yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri, Nadine memutuskan untuk melapangkan dada. Ia mengubur dalam-dalam rahasia kelam tentang siapa ayah kandung dari anak ini. Biarlah kebenaran itu membeku selamanya. Ia tak sanggup membayangkan jika Sebastian tahu dan membenci janin yang tak berdosa ini. Baginya, menyetujui pertunangannya dengan Lukas Vance, yang kini sengaja ditunda oleh Sebastian hingga fisiknya pulih total adalah keputusan paling tepat dan masuk akal. ​Dengan menikah dengan Lukas, rahasia ini akan terkubur selamanya. Sebastian tak akan pernah tahu dan tak perlu membenci anak ini. Selain itu, statusnya sebagai

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 316 — Rasa ini seharusnya tak pernah ada

    Dominic mengamati interaksi itu dari sudut ruangan dalam diam. Ada sedikit kepuasan liar yang sempat mencuat di dadanya saat melihat reaksi Nadine pada Lukas, namun ia dengan cepat menekannya. Melihat Nadine seperti ini, bukan bentuk kemenangan yang ia inginkan. ​Begitu Lukas melangkah keluar kamar, Sebastian menoleh ke arah Dominic. Tatapan pria tua itu mengeras. ​"Kau juga harus tahu diri, Dominic," tegur Sebastian dengan nada penuh penekanan. ​Dominic mengangkat alisnya dingin. "Maksud Ayah?" ​"Nadine sedang sangat rapuh," balas Sebastian pelan namun menekan. "Jangan makin memperkeruh keadaannya dengan obsesimu." ​Mata abu-abu Dominic berkilat tajam. "Aku tahu batasanku." ​"Tahu?" Sebastian terkekeh sinis. "Cara yang kau sebut 'melindungi' itu... bagi Nadine tak ubahnya seperti cara mengurungnya di dalam sangkar." ​Kalimat itu menghantam dada Dominic dengan keras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, namun ta

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 315 — Nadine sadar

    ​Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa.​Kelopak mata Nadine bergerak perlahan. Sayup-sayup, suara gemericik hujan di luar jendela menjadi hal pertama yang menyapa inderanya.​Lalu, sebuah suara berat terdengar dari dekatnya.​"Nadine."​Suara itu membuat napas Nadine tertahan seketika. Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan dengan pencahayaan kamar yang remang.​Pandangan pertamanya langsung bertumpu pada Dominic.​Pria itu berdiri di samping ranjang dengan raut wajah yang tak pernah Nadine lihat sebelumnya. Tidak ada aura dingin yang mencekam. Tidak ada tatapan tajam mengintimidasi. Hanya ada guratan cemas yang gagal dipendam.​"Nadine, kau dengar aku?" tanya Dominic, suaranya terdengar agak serak.​Nadine tak langsung menjawab. Tatapannya perlahan turun, dan jemarinya yang gemetar refleks bergerak menutupi perutnya sendiri.​Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Dominic. Alis pria itu bertaut tegang.​"Ada yang sakit? Bay

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 314 – Hampir kehilangan

    Bentakan Dominic mengguncang seluruh Mansion Saint Noire. Langkahnya berlari tanpa pernah melambat. Lorong panjang yang biasanya ditempuh dengan tenang kini terasa terlalu sempit baginya. Dadanya naik turun, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus menghantam tanpa ampun. Darah... Kenapa ada darah...? Jangan sampai... jangan sampai bayinya...Pria yang biasanya tak pernah gentar oleh apa pun itu kini benar-benar panik. Logikanya mati total. BRAK! Pintu kamar Nadine terbuka lebar. Tatapannya langsung jatuh pada sosok Nadine yang terbaring pucat di atas tempat tidur besar. Rambut hitamnya masih sedikit basah, sementara wajah cantiknya kehilangan seluruh warna. Selimut tebal sudah menutupi tubuhnya.Dominic mendekat pelan. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang senjata kini bergetar hebat saat menyentuh pipi Nadine​Dingin. Sangat dingin.​Rahang Dominic mengeras. "Nadine..." panggilnya lirih, matanya m

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 313 — Jangan sampai terlambat lagi.

    Kening Sebastian berkerut."Sandiwara apa yang kau maksud?"Dominic akhirnya menoleh. Tatapannya kini beralih kepada sang ayah, dipenuhi kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada kemarahan."Memaksa seorang wanita yang sedang hancur untuk menerima pertunangan demi mengamankan sebuah aliansi."Suasana kembali hening. Hanya terdengar embusan napas pelan yang terasa begitu berat. "Semua yang kulakukan... demi keselamatannya." "Demi keselamatannya?" Dominic mengulang pelan, lalu menggeleng tipis. "Kalau Ayah benar-benar ingin melindunginya..." nada suaranya meninggi, "...kenapa Ayah terus memaksanya menjalani hidup yang bahkan tidak pernah ia pilih?" ​"Dominic..." "Setidaknya berikan dia ruang!" bentaknya, memotong ucapan Sebastian, suaranya menggema memenuhi ruangan. "Jangan terus memaksakan kehendak Ayah atas hidupnya!" Dadanya naik turun. Tatapan matanya mulai memerah oleh amarah yang selama ini ia tahan. "Ingat satu hal..." Suara D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status