LOGINDarah yang mengalir dari tubuh manusia selalu dingin lebih cepat dari yang dibayangkan, tetapi bau amisnya menempel lama di dalam ingatan.
Tubuh Hao Yu tergeletak tak bergerak di atas salju basah. Dada pangeran itu nyaris tak menanjak lagi, hanya menyisakan hembusan napas tipis yang memicu uap putih tipis di udara dingin. Luka tusuk di perut dan dada kanannya masih mengucurkan darah segar, mewarnai es
Musim gugur perlahan melarikan diri, berganti menjadi hembusan dingin awal musim salju yang lembut. Kabut putih tebal saban pagi membungkus lembah perbukitan Utara, menyulap pepohonan pinus hijau menjadi deretan raksasa berhias kristal es tipis. Namun di dalam pondok kayu di lereng gunung itu, kehangatan tidak pernah pudar. Asap tipis membumbung pelan dari cerobong dapur setiap pagi, membawa aroma kayu bakar dan rebusan sup herbal segar.Kehidupan baru mereka berjalan dalam irama yang sangat damai. Hao Yu menjalani hari-harinya sebagai pria pegunungan sejati. Setiap pagi, ia membelah gelondongan kayu bakar dengan kapak besinya, merawat dua ekor kuda di kandang samping, atau berkeliling hutan membawa busur panah untuk berburu kelinci liar. Warga desa kecil di kaki bukit sama sekali tidak tahu bahwa pria berwajah tegas dengan bekas luka di pipi itu adalah seorang Pangeran dari Canglan. Mereka hanya mengenalnya sebagai 'Tuan Yu', seorang pemburu ulung yang tidak segan membantukan tenagan
Suara gemericik air sungai yang menghantam bebatuan licin terdengar bagaikan alunan musik alam yang menyegarkan telinga. Roda kereta kayu berderit pelan menyusuri jalan tanah berkerikil di antara lembah hijau yang membentang luas. Lima hari perjalanan meninggalkan ibu kota terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Bau debu kota, kepulan asap dupa istana, dan ketegangan intrik politik perlahan menguap, digantikan oleh aroma tanah basah serta embun segar yang menempel di balik daun-daun pinus.Perjalanan menyusuri wilayah utara ini berlangsung tanpa hambatan. Tidak ada lagi prajurit pengintai yang membuntut dari balik semak-semak, tak ada lagi anak panah beracun yang mengintai di balik pepohonan. Hanya ada kicauan burung-burung liar dan hembusan angin sejuk yang membelai lembut wajah.Di balik jendela kereta yang terbuka setenga
"Kau sengaja membiarkan gorden itu terbuka supaya seluruh istana tahu kau mau melarikan diri?"Suara berat dan datar itu terdengar dari arah pintu Studio Tekstil Utama, memutus keheningan tebal yang menyelimuti ruangan sejak pagi.Yi Fang tidak langsung menoleh. Tangannya masih sibuk mengikat simpul kain rami di atas meja kerja kayu pinus yang biasa ia gunakan. Ia hanya menghela napas pelan, membiarkan jemarinya merapikan ujung kain sebelum akhirnya membalikkan badan."Kalau hamba berniat melarikan diri, Yang Mulia, hamba tidak akan menyisakan seluruh berkas pewarnaan benang di atas meja Anda," balas Yi Fang tenang.Raja Xiu Wei berdiri di ambang pintu tanpa pengawalan satu pun kasim atau prajurit zirah. Jubah penobatannya yang bernuansa indigo—hasil rancangan tangan Yi Fang sendiri—tampak sangat pas melingkupi tubuh
Fajar hari penobatan menyingsing dengan keindahan yang tidak biasa. Cahaya keemasan matahari menerobos awan tipis di atas Pegunungan Timur, menyiram atap-atap genteng emas dan pelataran Istana Kebesaran dengan binar yang hangat. Tidak ada pesta pora mewah yang membuang kas negara atau parade berlebihan yang membebani rakyat. Sesuai instruksi Raja yang baru, seluruh prosesi dirancang dengan keindahan yang bersahaja, namun memancarkan kewibawaan yang sangat mendalam.Di sepanjang persimpangan jalan protokol ibu kota, ribuan warga berkumpul secara tertib. Pemandangan hari ini sangat berbeda dibanding masa pemerintahan Hao Ran. Tak ada lagi prajurit yang mengacungkan cambuk atau menyita barang dagangan. Prajurit berzirah perak berdiri dalam barisan rapi, menjaga keamanan seraya membagikan makanan hangat kepada warga yang kurang mampu di pinggir jalan.
Bau besi darah yang amis perlahan menguap dari marmer Aula Utama Istana Kebesaran, tergantikan oleh wangi dupa kayu cendana yang dinyalakan para pelayan istana. Beberapa pelayan sibuk menyapu sisa-sisa pecahan keramik dan menyiram air bunga di atas lantai marmer yang sempat memerah. Jejak pertempuran singkat nan berdarah itu dibersihkan secara cepat, seolah-olah kekaisaran hendak menghapus sisa kegilaan Hao Ran dari ingatan dinding-dinding batu istana.Pengadilan terbuka yang awalnya dirancang sebagai puncak kepatuhan hukum kini berakhir menjadi panggung pertumpahan darah terakhir sang tiran. Namun di balik kebrutalan momentum itu, ada rasa lega yang tak terucapkan membayang di raut wajah para pejabat. Dengan tewasnya Hao Ran di hadapan seluruh dewan dan tetua suku, tak ada lagi ruang bagi fraksi tersembunyi di provinsi timur untuk menyusun konspirasi atau memanfaatkan sang mantan raja sebaga
Pagi hari di ibu kota disambut langit mendung tebal yang menggantung rendah. Aula Utama Istana Kebesaran yang biasanya menjadi tempat sidang kerajaan kini diubah menjadi panggung pengadilan tertinggi. Ratusan pejabat sipil, menteri tua, serta perwira militer berdiri membentuk barisan ketat di sepanjang lorong marmer.Di atas podium utama, Pangeran Xiu Wei duduk berdampingan dengan Ibu Suri Mu Rong. Sementara itu, Pangeran Hao Yu berdiri di sisi kanan tangga dengan pakaian perangnya, memegang gagang pedang panjang yang terkunci di sarungnya.Suara gesekan rantai besi menggema nyaring saat Hao Ran digiring masuk oleh empat prajurit zirah berat. Kedua tangan dan kakinya terikat rantai belenggu yang tebal. Kendati tubuhnya tampak tirus dan jubah kasarnya ternoda lumpur, mata sang tiran masih memancarkan kegilaan yang membara.Yi Fang berdiri di sudut barisan de
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya
Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu
Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit restoran fine dining hotel bintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang menyilaukan. Cahayanya memantul di atas permukaan meja panjang dari kayu jati solid yang dipoles sempurna tanpa noda, menciptakan ilusi yang mewah. Di atas meja i
Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s







