Share

37. Gertakan Pahit

Author: Blue Ice
last update publish date: 2026-09-22 21:22:30

Langkah kaki Kinara terasa begitu berat saat menyusuri lorong marmer kediaman utama keluarga Pramudita. Setiap pijakannya serasa menghantam jalan setapak yang penuh dengan pecahan kaca. Pagi yang semula ia harapkan membawa ketenangan, mendadak berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan sepanjang hidupnya.

Ia tahu akan ada hal buruk lagi jika ayahnya sudah memberikan titah tegas untuknya pulang. Kali ini Kinara pulang sendirian. Ia takut ayahnya akan menamparnya lagi jika ia membawa anak. Wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    41. Fokus ke Hubungan Kita

    Tak lama setelah Sarah pergi, pintu ruangan terdorong pelan kembali. Kali ini Leo yang melangkah masuk dengan senyum cerah dan binar mata yang memancarkan kejutan manis. "Bu Kinara," panggil Leo seraya melangkah mendekat. "Sudah dengar berita pagi ini?" Kinara mendongak bingung. "Berita apa?" Leo menyunggingkan senyum tipis, menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Kinara. "Adhijaya Wiratama baru saja digelandang pihak berwajib atas dugaan korupsi, penipuan publik, dan manipulasi pajak raksasa. Seluruh perusahaannya dinyatakan bangkrut hari ini." Mata Kinara membelalak lebar membaca rentetan headline berita di layar ponsel Leo. Rasa tidak percaya berbaur dengan kebahagiaan luar biasa yang membuncah mendadak di dadanya. "A-Adhijaya ... ditangkap?" bisik Kinara dengan napas tertahan. "Iya, Bu," sahut Leo hangat. "Proyeknya hancur, perusahaannya habis, dan pria itu dipastikan membusuk di penjara." Beban berat yang menekan dada Kinara sejak kemarin seketika terangkat tanpa sisa. Itu

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    40. Pindahkan Leo, Mbak

    Pagi hari di ibu kota mendadak diguncang oleh berita megah yang menyebar secepat kilat di seluruh stasiun televisi nasional dan portal berita finansial. Eksekusi bawah tanah yang diperintahkan Valentino Sutedja berjalan dengan presisi yang mengerikan. Dalam hitungan jam, saham Adhijaya Group terjun bebas hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah. Seluruh akses kredit dibokot total oleh jajaran perbankan nasional, sementara tim penyidik kepolisian dan kejaksaan bergerak serentak mengepung kantor pusat Adhijaya Wiratama. Skandal raksasa terbongkar ke publik. Mulai dari manipulasi pajak bernilai ratusan miliar, penipuan dana investasi publik, hingga dokumen terselubung mengenai perilaku asusila dan pelecehan yang dilakukan Adhijaya selama bertahun-tahun. Di kediaman utama keluarga Pramudita, suasana pagi yang tenang seketika pecah oleh dentang cangkir teh yang jatuh menghantam marmer. Hendra Pramudita membeku di kursi kebesarannya. Matanya yang membelalak lebar tertuju lurus pada

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    39. Pergerakan Leo di Balik Layar

    Di sebuah koridor sepi di dekat area darurat, Leo meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Panggilan itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil. "Tuan Muda," panggil suara berat dari seberang telepon. "Gunakan jalur finansial privat milikku," perintah Leo dengan suara bariton yang dingin, tak ada lagi nada manis seperti yang biasa ia gunakan di depan Kinara. "Tarik seluruh saham, batalkan semua izin kredit, dan eksekusi audit pajak darurat untuk seluruh lini bisnis Adhijaya Group. Buat perusahaan itu hancur sebelum sore ini." "Baik, Tuan Muda. Apakah kami juga perlu menyebarkan laporan pelanggaran internal mereka ke media?" "Lakukan," pangkas Leo tajam. Manik mata hitamnya berkilat penuh intimidasi. "Pastikan Adhijaya tidak punya ruang sedikit pun untuk bernapas, apalagi berpikir untuk melamar wanita mana pun." Setelah menutup telepon, Leo memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. Senyum tipis yang amat dingin terukir di bibirnya. Tanpa perlu mengotori tangannya secar

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    38. Malah Curhat

    Suasana di lantai lima gedung PT Danantara terasa seperti hari-hari biasanya. Namun, bagi Kinara yang duduk di kursi kebesarannya, ruangan itu terasa bak penjara yang makin menyempit. Kinara menyandarkan punggungnya yang lemas, pandangan matanya kosong menatap layar laptop. Pikiran dan jiwanya sepenuhnya terguncang. Selain ancaman perebutan Arkana yang terus terngiang-ngiang di kepalanya, kehadiran Leo di luar ruangan kerjanya makin menambah beban batinnya. Kinara merasa sangat serba salah. Pengakuan sepihak Leo kemarin pagi yang menyebut mereka berdua 'berpacaran'—serta persetujuan pasrah yang Kinara lontarkan karena rasa bersalah—membuat Kinara sengaja membangun jarak. Ia tahu hubungan ini tidak masuk akal. Leo terlalu muda, dan statusnya sebagai anak magang hanya akan menjadi umpan empuk bagi Rendra dan ayahnya untuk terus menyerangnya. Tok, tok. Pintu ruangan terdorong pelan. Leo melangkah masuk membawa cangkir teh chamomile hangat yang baru saja ia seduh. "Selamat pagi, Bu

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    37. Gertakan Pahit

    Langkah kaki Kinara terasa begitu berat saat menyusuri lorong marmer kediaman utama keluarga Pramudita. Setiap pijakannya serasa menghantam jalan setapak yang penuh dengan pecahan kaca. Pagi yang semula ia harapkan membawa ketenangan, mendadak berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan sepanjang hidupnya. Ia tahu akan ada hal buruk lagi jika ayahnya sudah memberikan titah tegas untuknya pulang. Kali ini Kinara pulang sendirian. Ia takut ayahnya akan menamparnya lagi jika ia membawa anak. Wanita itu tak ingin Arkana makin trauma melihat kekerasan fisik di rumah ini. Di ruang keluarga yang megah namun dingin itu, Hendra Pramudita duduk di kursi kebesarannya. Di samping sang ayah, Rendra berdiri bersedekap dada seraya menyandarkan tubuhnya di tepi meja. Kondisi rumah yang sepi menandakan ibunya, Ratih, belum pulang dari luar negeri. Biasanya, Ratih akan membela Kinara jika ayahnya mulai keterlaluan. Kali ini ia harus menghadapi ayahnya dan adik keduanya sendirian. Kinara menggengg

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    36. Akan ada Sebuah Badai

    Matahari pagi menyinari pelataran rumah bernuansa asri di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah sedan hitam berhenti mulus di depan pagar. Kinara melangkah turun dari mobil bersama Leo yang tampil santai dengan kemeja kasualnya. Suasana hunian itu terasa sangat asri dengan deretan tanaman hias di pelataran. Pintu rumah terbuka, menyambut kedatangan mereka. Maya—sepupu perempuan Kinara—keluar seraya menuntun Arkana yang sudah rapi berpakaian. Di belakang Maya, Haris, suaminya, menyunggingkan senyum hangat. Mbak Yuni juga tampak berdiri di dekat pintu, merapikan tas perlengkapan Arkana yang ia jaga sepanjang malam di sana. "Mama!" seru Arka riang. Bocah empat tahun itu langsung berlari memeluk kaki Kinara. "Hai, anak mama yang pintar," sapa Kinara lembut seraya merengkuh tubuh putranya. Namun, pandangan Arka seketika beralih begitu melihat sosok tinggi di samping mamanya. Wajah kecilnya berbinar makin terang. "Om Leo! Om Leo ikut jemput Alka juga?!" Leo terkekeh renyah, berlutut cepat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status