LOGINSore itu di sudut ruang tengah apartemen Kinara, tawa renyah Arkana memenuhi udara. Bocah mungil itu duduk di atas karpet bersama Leo yang masih mengenakan kemeja kerjanya. Mobil mainan baru pemberian Leo meluncur melintasi lintasan plastik yang baru mereka rakit bersama. "Om, mobil yang ini kencang banget! Seperti mobil Om Leo yang di bawah, ya?" tanya Arkana riang, matanya berbinar menatap Leo. Leo menyunggingkan senyum tipis. Tangan tegapnya dengan penuh kasih mengacak pelan rambut halus Arkana. "Kalau Arka suka, nanti Om ajari cara menyetir kalau Arka sudah besar." Kinara yang baru selesai membuatkan teh hangat di dapur hanya bisa terdiam memperhatikan dari jauh. Ada rasa hangat sekaligus sesak melihat betapa alaminya kebersamaan mereka berdua. Lama-kelamaan, usai lelah bermain dan perutnya kenyang, kelopak mata Arkana mulai terasa berat. Bocah itu menyandarkan kepalanya yang terkantuk-kantuk tepat di atas paha tega
Sensasi hangat dari ciuman panas di lorong kantor tadi siang masih terus membayangi pikiran Kinara. Wajahnya merona merah tiap kali mengingat bagaimana tubuhnya melunak pasrah dalam kungkungan Leo. Namun, kejengkolan di dadanya jauh lebih besar. Leo telah bertindak terlalu jauh dan ceroboh di lingkungan kerjanya. Sore harinya, usai menyelesaikan tumpukan berkas di hari pertama kerja, Kinara bergegas pulang menuju apartemen. Ia ingin segera menjemput Arkana yang sore itu diantar oleh pengasuh dari tempat penitipan sementara ke taman bermain kompleks. Suasana taman bermain di area tengah kompleks apartemen terasa begitu sejuk. Angin sore berembus pelan menyapu rimbunnya dedaunan. Kinara menghentikan langkahnya di pinggir jalan setapak. Matanya membelalak kaku saat melihat pemandangan tak terduga di area ayunan kayu. Di sana, Leo yang masih mengenakan kemeja kerja abu-abu tanpa jas dan dasi yang sudah dilepas sedang berlutut di atas rumput. Pria tegap yang biasanya memancarkan aura d
Ini adalah hari ketujuh resminya menjabat sebagai Manajer Pemasaran. Kinara menarik napas panjang, menanamkan tekad bulat dalam dadanya untuk fokus membuktikan kemampuannya. Dengan setelan blazer biru tua yang rapi dan rambut terikat elegan, aura profesionalismenya terpancar sangat kuat. "Selamat pagi, Kinara," sapa Radit dengan senyum hangat saat mereka bertemu di depan lift utama. Pria itu tampil rapi dengan kemeja abu-abu terang. "Sudah siap untuk rapat direksi pagi ini?" "Selamat pagi, Mas Radit. Sangat siap," jawab Kinara mantap seraya menyunggingkan senyum tulus. "Aku sudah menyiapkan paparan strategi awal untuk target tiga bulan ke depan." "Bagus sekali," puji Radit seraya melangkah bersama Kinara menuju lantai dasar ruang rapat utama. "Oh ya, ada kabar kejutan. Pagi ini kita kedatangan calon investor dan mitra ekspor raksasa. Jika kerja sama ini berhasil, produk buah lokal kita bisa langsung menembus pasar Eropa dan Amerika." Kinara sedikit mengernyit heran. "Investor rak
Tangan Kinara bergetar hebat di dalam genggaman erat Leo. Keheningan kapel tua itu terasa makin menghimpit, menyisakan deru napas Leo yang memburu tepat di depan wajahnya. "Kamu gila, Leo ..." bisik Kinara seraya menarik tangannya secara paksa dari cengkeraman pria itu. Langkah kakinya mundur dua tindak menjauhi altar. "Kamu baru saja menghancurkan aliansi dua keluarga raksasa, dan sekarang kamu memintaku menikah di kapel sepi ini? Kamu tidak sedang berpikiran jernih!" "Aku sangat jernih, Kinara!" pangkas Leo tajam, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Giselle sudah hancur. Ayahku tidak lagi punya kartu untuk menekan posisiku. Apa lagi yang kita tunggu? Pria bernama Radit itu?" "Ini bukan tentang Mas Radit!" bentak Kinara dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang bertumpuk. "Ini tentang aku dan Arka! Aku baru saja menata hidup baru yang tenang di kota ini. Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri tanpa bayang-
"Aku bekerja untuk perusahaan Mas Radit sekarang. Dia atasanku, Leo! Jangan bertindak gila di sini!" tegas Kinara seraya melangkah maju, memutus tatapan intimidatif antara Leo dan Radit. Ada riak kepanikan yang berusaha keras ia sembunyikan di balik suara tegasnya.Suasana di sekitar berubah menyesakkan. Tanpa diberitahu, Radit sadar Kinara sedang menghindari Leo. Mungkinkah ada sesuatu yang dilakukan oleh mantan asisten Kinara itu. Radit memegang bahu Kinara pelan, berusaha menenangkan. "Kinara, kalau pria ini mengganggumu, aku bisa panggilkan keamanan—" "Tidak perlu, Mas Radit," potong Kinara cepat. Ia menatap Radit dengan tatapan memohon. "Tolong izinkan aku bicara sebentar dengannya. Mas Radit bisa tunggu di mobil atau duluan ke kantor." Radit menatap Leo dan Kinara bergantian. Ada keraguan besar di matanya, namun melihat permohonan Kinara, ia akhirnya mengangguk pelan. "Aku tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku." Setelah Radit kembali ke dalam sedannya, Leo
Suasana di halaman TK Alam Mentari pagi itu terasa begitu sejuk dan menenangkan. Cahaya matahari menerobos di antara rimbunnya dedaunan hijau, memancarkan kehangatan yang lembut. Suara gelak tawa anak-anak berlarian di area taman bermain membuat tempat itu terasa hidup dan penuh kedamaian. Arkana berlari kecil menuju ayunan kayu di sudut taman. Wajah mungilnya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Bunda, lihat! Ayunannya dari kayu pohon asli!" seru Arkana riang seraya melambaikan tangan kecilnya. Kinara menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas. Senyum tipis yang sudah sangat lama menghilang dari wajah anggunnya kini merekah kembali. Rasa sesak yang menumpuk di dadanya selama di Jakarta seolah terangkat perlahan saat melihat kebahagiaan sang putra. "Hati-hati lari-larinya, Arka," sahut Kinara lembut, matanya tak lepas mengawasi tiap gerakan putranya. Di samping Kinara, Radit berdiri seraya memegang stopmap berisi berkas pendaftaran sekolah. Pria itu menyunggingkan senyum hangat,







