LOGINArkana mengedipkan mata bulatnya polos. Menengadahkan tatapan pada wanita anggun di sebelahnya, bocah kecil itu menarik pelan ujung kemeja Leo lalu menyapa ramah. "Halo, Tante cantik," sapa Arkana renyah seraya mengulas senyum polos yang memamerkan deretan gigi putihnya. Seketika, raut kaku dan dingin khas CEO Sutedja Group di wajah Valerie melunak. Pendar kehangatan yang amat langka memancar dari matanya. Ia berlutut perlahan di hadapan Arkana, mengabaikan ujung gaun mewahnya yang tersentuh lantai trotoar. "Halo ..." sahut Valerie lembut, jemari lentiknya terulur mengusap pelan pipi mulus Arkana. "Siapa namamu?" "Arkana, Tante!" jawabnya percaya diri. Valerie tersenyum tipis, lalu mendongak menatap Leo yang berdiri tegap menjaga bocah itu. "Dia benar-benar kombinasi yang luar biasa, Leo." "Tentu saja," jawab Leo datar namun tersirat rasa bangga. Valerie bangkit berdiri, merapikan kembali posisi blazernya. Ia melirik jam tangan mewahnya seraya menarik napas panjang. "Aku tidak
Darah Kinara mendadak berdesir dingin. Punggungnya menegang kaku, meremas tangan kecil Arkana dengan jemari yang gemetar kaku saat mendengar suara selot pintu di sebelahnya terdorong terbuka. Namun, ketakutan hebat yang membakar dada Kinara seketika menguap begitu sosok pria paruh baya mengenakan pakaian santai keluar dari unit tepat di seberang mereka seraya membawa kantong sampah. Tetangga itu tersenyum sopan seraya menganggukkan kepala pada mereka. Kinara mengembuskan napas panjang yang tertahan di tenggorokan. Rasa lega yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. "Ada apa, Mbak? Kok mukanya tegang begitu?" tegur Sarah sinis, menatap Kinara dengan dahi bertaut curiga. "Tidak ada apa-apa. Ayo cepat masuk lift, nanti Arka terlambat ke sekolah," pangkas Kinara cepat dan dingin, membimbing Arkana melangkah masuk ke dalam lift sebelum Sarah sempat menanyakan hal lain. Begitu pintu lift tertutup rapat dan derunya merendah turun, pintu
Angin malam berembus tipis di area balkon, membawa udara dingin yang langsung menyapu kulit leher Kinara. Namun, rasa dingin itu menguap dalam hitungan detik begitu lengan tegap Leo merengkuh pinggangnya erat, mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa. "Leo, kamu gila, ya?!" bisik Kinara tertahan dengan napas tersendapat. Wajah cantiknya memerah padam, kedua tangannya refleks menahan dada bidang Leo. "Di dalam ada Sarah! Bagaimana kalau dia tiba-tiba ke luar atau melihat ke arah jendela, hm?!" Bukannya gentar, Leo justru menyunggingkan senyum miring yang amat seksi sekaligus berbahaya. Binar mata hitamnya berkilat liar di bawah pendar rembulan. Tanpa mengindahkan teguran Kinara, Leo menundukkan kepalanya kilat, mencumbu bibir Kinara secara mendalam dan beringas. "Ngh ... Leo!" gumam Kinara terkejut. Jemari lentiknya mendadak lemas di atas kemeja hitam Leo. Cumbuan Leo terasa begitu menuntut, membakar, dan penuh dahaga posesif yang tak terikat aturan. Sentuhan tangan tega
Beberapa Jam Kemudian ...Sarah berdiri dengan dua koper besar di sampingnya. Wanita itu melangkah masuk dengan dagu terangkat, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan binar mata yang sarat akan kecurigaan. Kinara berdiri tegap di area ruang tamu. Wajah cantiknya tampak kaku, memancarkan aura dewasa yang dingin nan protektif. Di belakang kakinya, Arkana bersembunyi pelan, memeluk erat tungkai ibunya seraya menatap sang bibi dengan mata bulat yang polos. "Letakkan kopermu di dekat pintu," ujar Kinara lugas dengan intonasi datar. "Aku cuma mengizinkanmu tidur di kamar tamu untuk dua hari. Tidak lebih." Sarah tertawa kecil, sebuah tawa sumbang yang penuh kepalsuan. Ia sengaja melangkah melewati Kinara, matanya bergerak lincah memeriksa rak sepatu, meja makan, hingga gantungan baju di dekat dapur. Ia berencana mencari barang-barang pria—jas mahal, sepatu ukuran besar, atau aksesoris kustom milik Valentino Sutedja. Dalam pikiran liciknya, Sarah yakin betul pria dari klan k
Pagi baru saja merambat di pelataran parkir kantor Buana Alam Mandiri. Sebuah sedan hitam mewah berhenti halus di dekat lobi utama. Dari balik kaca jendela, Kinara mendengus pelan sebelum melangkah keluar. Pria muda itu benar-benar tak bisa dibantah. Leo bersikeras mengantarkan Arkana ke sekolah sekalian mengantar Kinara ke kantor demi memastikan keselamatan mereka. Kinara merapikan blazer kerjanya dan melangkah menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa tindak berjalan, langkahnya terhenti kaku. Radit berdiri di dekat pilar lobi dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang baru saja berlalu, lalu beralih penuh emosi pada Kinara. Tak jauh dari sana, Sarah melangkah menghampiri dengan senyum miring yang sarat akan provokasi. "Kinara!" panggil Radit dengan suara menekan, memangkas jarak di antara mereka. Di tangannya, sebuah lembaran cetak siaran pers dari Jakarta tergenggam erat. "Kamu masih mau diantar oleh pria itu setelah berita ini tersebar luas?!" Radit m
pintu apartemen terrbanting keras. Kinara melempar tas kerjanya ke atas meja konsol dengan napas memburu kencang. Raut wajah dewasa yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini dipenuhi oleh amarah yang membakar serta luka mendalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapt. Klek. Pintu utama terdorong lagi. Leo melangkah masuk dengan setelan jas kustomnya yang terpasang rapi. Binar mata hitam pria itu tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun, melainkan kegelapan posesif yang amat pekat. Ia melangkah tegap, memangkas jarak di antara mereka tanpa ragu. "Kinara, dengarkan aku dulu—" "Dengar apa lagi, Valentino?!" potong Kinara tajam, memutar tubuhnya dan menatap Leo dengan pandangan menusuk. Bibirnya tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang sarat akan kekecewaan. "Dengar bagaimana kamu merancang pernikahan megahmu dengan Giselle Chen di Jakarta?! Atau mendengar kebohongan manis apalagi yang mau kamu suapkan padaku setelah semalam berpura-pura menjadi pria paling setia?!" Leo







