LOGINMobil sedan hitam Kinara berhenti tepat di depan pelataran megah kediaman utama keluarga Pramudita. Bangunan bergaya klasik modern itu berdiri kokoh, namun bagi Kinara, rumah itu tak ubahnya seperti penjara tak kasatmata yang selalu siap menghimpit kebebasannya.
Kinara menggenggam erat jemari kecil Arkana saat melangkah masuk melewati pintu kayu jati yang menjulang tinggi. Namun, baru saja Kinara menapakkan kakinya di ambang ruang tamu utama ... PLAK! Tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Kinara. Kibasan tangan yang begitu kuat membuat wajah Kinara terlempar ke samping. Suara tebasan telapak tangan itu bergema nyaring di dalam ruangan yang luas. "Mas Hendra!" Sebuah pekikan kaget meluncur dari mulut Ratih, ibu Kinara. Wanita berusia 58 tahun itu bergegas berlari dari arah ruang keluarga dengan raut wajah panik tak percaya. "Mas! Kenapa kamu malah langsung main tangan pada anak sulungmu sendiri?!" Arkana yang berada di samping ibunya seketika membeku. Mata bulatnya melebar syok, sebelum akhirnya erupan amarah mungil meletup dari dadanya. Bocah lima tahun itu memasang badan di depan Kinara, mendorong kaki kakeknya dengan tangan kecilnya. "Kakek jahat! Jangan pukul Mama! Kakek jahat!" teriak Arkana dengan suara bergetar menahan tangis. "Arka, cukup, Nak …" panggil Kinara lirih. Kinara mengusap sudut bibirnya yang terasa agak kebas. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya. Dengan ketenangan yang dipaksakan, Kinara berlutut dan menatap putranya. "Mama tidak apa-apa," bisik Kinara lembut, berusaha mengusir ketakutan di mata Arkana. Kinara lalu mendongak menatap ibunya yang sedang menatapnya penuh iba. "Ma ... tolong bawa Arka ke kamar atas. Kamar lamaku." "Tapi, Kinara, kamu—" "Tolong, Ma. Bawa Arka dulu," potong Kinara dengan suara bergetar namun tegas. Dia tidak ingin Arkana menyaksikan lebih jauh pertengkaran orang dewasa yang beracun ini. Ratih mengusap air matanya, lalu merengkuh tangan Arkana. "Ayo, Arka Sayang ... ikut Oma ke atas dulu, ya." Meski sempat memberontak karena tidak ingin meninggalkan ibunya, Arkana akhirnya menurut setelah Kinara mengangguk menenangkan. Langkah kaki Ratih dan Arkana perlahan menghilang menaiki tangga menuju lantai dua. Kini, hanya tersisa Kinara dan ayahnya, Hendra Pramudita, yang berdiri tegap di ruang tamu. Pria paruh baya itu menatap anak perempuannya dengan pandangan dingin penuh dominasi. Kinara berdiri perlahan. Dia membetulkan posisi pakaiannya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata sang ayah tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar. "Kenapa Ayah begitu impulsif hari ini?" tanya Kinara tenang, meski napasnya terengah halus. "Datang-datang langsung main tangan tanpa bertanya apa pun. Setidaknya, tolong jangan tunjukkan itu di depan Arkana." "Masih bertanya?!" Hendra membentak, suara beratnya menggelegar dipenuhi amarah yang membara. "Apa harus dijelaskan lagi?! Seluruh relasi bisnis Ayah sudah membicarakan ulah mantan suamimu yang murahan itu! Rian terus-terusan mendatangi kantor Danantara, membuat keributan, dan mempermalukan nama besar Pramudita!" Hendra melangkah maju satu langkah, menunjuk tepat di depan wajah Kinara. "Sejak awal Ayah sudah sangat membenci Rian! Pria tidak tahu diri dari keluarga Ardiansyah itu sama sekali tidak layak menjadi menantu di rumah ini!" bentak Hendra murka. "Tapi, lima tahun lalu ... gara-gara kesalahan satu malam yang bodoh itu! Gara-gara kamu mabuk di acara kantor dan tidur dengan pria bajingan itu, Ayah terpaksa merestui pernikahan kalian demi menutupi aib keluarga!" Deg. Hati Kinara mendadak memanas, seolah disiram minyak tanah lalu dibakar hidup-hidup. Kata-kata ayahnya menghujam tepat di luka lama yang berusaha dia kubur rapat-rapat. Peristiwa lima tahun lalu, sebuah malam jebakan di mana dia terbangun di sebuah kamar hotel dengan memori yang samar setelah meminum minuman di acara perayaan kantor. Ia tidur dengan seorang pria yang tak dapat ia ingat wajahnya. Kejadian itu menjadi awal mula kemerosotan hidup Kinara. Kejadian yang memaksa Kinara terikat dalam pernikahan yang menjadi tragedi. Meski begitu, Kinara tidak ingin terus mengingatnya sebagai hal buruk. Sebab dari semua itu, ia bisa melahirkan Arkana. "Cukup, Ayah," desis Kinara, matanya berkilat menahan kepedihan mendalam. "Jangan terus-terusan mengungkit masalah lima tahun lalu, seolah-olah aku belum cukup dihukum atas kesalahan yang tidak kulakukan dengan sengaja!" Kinara menarik napas panjang, menekan rasa sakit di dadanya. "Katakan saja langsung pada inti masalahnya. Apa yang sebenarnya Ayah inginkan dariku hari ini?" Hendra menatap anaknya dingin tanpa penyesalan sedikit pun. "Ayah tidak akan membiarkan nama Pramudita terus diseret dalam masalah Rian dan keluarganya," ujar Hendra tegas. "Satu-satunya cara untuk membungkam mulut mereka dan menghentikan Rian mengganggumu adalah dengan memberikanmu pelindung baru." Hendra merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu melemparkannya tepat ke hadapan Kinara. Amplop itu mendarat di atas meja kaca. Kinara mengambilnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Ada sebuah foto profil pria asing. “Terima perjodohan yang sudah Ayah siapkan ini,” perintah Hendra tanpa menerima bantahan. “Pria ini memiliki pengaruh besar yang bisa menghancurkan Rian dalam sekali tepuk, sekaligus mengamankan posisi bisnismu. Bulan depan, kamu harus menikah dengannya.”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala divisi mulai saling melirik dengan gelisah. Baskara masih berusaha terlihat tenang. Ia menatap Kinara dengan pandangan menekan. "Bu Kinara, saya rasa kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan perbedaan angka." "Saya setuju." Kinara menatapnya lurus tanpa kedip. "Itulah alasan saya belum menyimpulkan apa pun." Baskara terdiam, tak bisa membalas kalimat itu. Kinara kemudian mengambil sebuah dokumen lain. "Namun, saya ingin tahu mengapa beberapa pembayaran kepada pemasok baru dipecah menjadi beberapa transaksi dalam jumlah yang lebih kecil." Baskara menghela napas pendek. "Untuk mempermudah proses administrasi." "Mempermudah?" "Ya. Beberapa pemasok memiliki batas pembayaran tertentu." Kinara mengangguk pelan. "Lalu mengapa rekening penerima dari tiga perusahaan berbeda menggunakan alamat korespondensi yang sama?" Kali ini Baskara tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen tersebut dari meja dan menelitinya sej
Leo yang biasanya duduk sebagai anak magang di salah satu meja bagian Pengembangan Bisnis kini menempati meja tepat di depan ruangan Kinara. Sebuah papan nama kecil sudah terpasang di atas mejanya. LEOAsisten Pribadi Manajer Pengembangan Bisnis' Jabatan itu memang belum membuat banyak orang memahami siapa sebenarnya dirinya. Bagi sebagian besar karyawan, Leo hanyalah anak muda yang baru beberapa hari bekerja di perusahaan, kemudian secara tiba-tiba mendapatkan kepercayaan langsung dari Kinara. Namun, sejak pagi, Leo sudah menunjukkan bahwa jabatan itu bukan sekadar nama. Ia memeriksa jadwal rapat Kinara, menyusun dokumen yang akan dibutuhkan, memastikan laporan dari beberapa divisi sudah diterima, sekaligus menandai bagian-bagian penting dari dokumen yang perlu mendapat perhatian. Sesekali ia mengetuk pintu ruangan Kinara untuk menyerahkan berkas. "Dokumen rapat pukul sepuluh sudah saya susun, Bu." Kinara yang sedang membaca sebuah laporan mengangkat wajahnya. "Letakkan di me
Sedan hitam milik Kinara membelah jalanan malam yang tenang. Di dalam kabin mobil, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan kilatan lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah Kinara dan Leo. Kinara memegang kemudi dengan jemari yang masih sedikit kaku. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian di restoran tadi. Reaksi panik Adhijaya saat Leo menyebutkan soal rekening rahasia dan draf manipulasi aset terus berputar di kepalanya. Ia melirik pria muda yang duduk tenang di kursi penumpang di sampingnya. Leo hanya menatap lurus ke depan, seolah hal besar yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa. "Leo," panggil Kinara memecah keheningan. Suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan. Leo menoleh perlahan. "Iya, Bu Kinara?" "Dari mana kamu tahu soal rekening Singapura dan draf manipulasi aset milik Tuan Adhijaya?" tanya Kinara langsung pada intinya. "Informasi seperti itu bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang. Apalagi oleh seorang anak magang." Le
Kinara terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap pria itu tanpa berkata apa-apa.Rian mengenakan kemeja gelap dengan jas yang tidak dikancingkan. Wajahnya terlihat tegang, seolah sudah mencari Kinara ke berbagai tempat sebelum akhirnya menemukan perempuan itu di restoran ini.Matanya langsung tertuju kepada Kinara. "Aku ingin bicara denganmu."Kinara menghela napas pendek. "Rian, ini bukan tempat yang tepat.""Aku tahu."Rian melangkah mendekat. "Tapi sejak kapan kamu mau menikah lagi tanpa memberitahuku?"Kinara menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu lagi."Rian terdiam sejenak. Kalimat itu jelas membuat wajahnya berubah."Aku mantan suamimu, Kinara.""Dan itu sebabnya kamu seharusnya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir.""Aku masih ingin memperbaikinya."Kinara menahan napas. "Aku tidak."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Rian menatapnya, seolah masih berharap menemukan sedikit keraguan di mata Kinara. Namun tidak ada.Adhijaya yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka akhirnya
Pintu kaca restoran fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu terbuka perlahan. Kinara melangkah masuk dengan gaun hitam berpotongan rapi yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sebuah blazer putih tersampir anggun di bahunya, melengkapi penampilannya malam itu.Ia berjalan dengan tenang dan teratur. Meski tahu dirinya sedang menuju sebuah pertemuan yang dirancang oleh ayahnya sendiri, Kinara tetap memasang ekspresi profesional. Tidak ada tanda-tanda gugup ataupun keberatan yang terlihat dari wajahnya.Seorang pelayan pria segera menyambutnya dengan senyum ramah."Atas nama reservasi Tuan Adhijaya, Kak?""Iya, betul," jawab Kinara singkat dan sopan.Pelayan itu mengangguk, lalu mempersilakan Kinara mengikutinya menuju area privat di sudut restoran. Tempat itu cukup jauh dari meja pelanggan lain dan menghadap langsung ke pemandangan kota yang dipenuhi gemerlap lampu.Di sana, di sebuah meja bundar yang dilapisi kain putih bersih dengan lilin kecil di tengahnya, seorang p
Tangan Kinara yang memegang lembaran dokumen perjodohan itu tampak tenang, tanpa getaran sedikit pun. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan sang ayah. Ia sempat menekan lidah ke bagian dalam pipinya, memastikan tidak ada darah yang keluar.Kemudian, ia kembali mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, menatap lurus pada pria paruh baya di hadapannya.Tidak ada air mata. Tidak ada pula raut wajah pasrah dari seorang wanita yang sedang dipojokkan.“Jadi, ini alasan Ayah memanggilku pulang dengan terburu-buru?” tanya Kinara dengan suara rendah dan datar.Hendra menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih keras, tetapi matanya sempat turun sekilas pada pipi Kinara yang memerah.Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali memasang wajah seorang kepala keluarga. “Ayah tidak memanggilmu pulang untuk berdebat.”Kinara mengangkat sebelah alis. “Lalu?”“Tuan Adhi adalah pemegang saham utama di grup bisnis besar yang sedang kita incar.” Nada suara Hendra terdengar lebih terkendali. “Dia







