Share

Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Penulis: Raisaa

1. Ayo Bercerai , Duke!

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-16 16:26:27

"Nyonya!" "Nyonya!"

Teriakan terdengar dari bawah. Semua orang melihat ke arah menara tertinggi kastil, tempat seorang wanita dengan gaun putih penuh darah berdiri di tepi.

Selene Moreau Leventis.

Duchess Leventis. Wanita yang biasanya tenang dan penurut itu kini berdiri di tempat yang paling berbahaya. Para penjaga di belakangnya bergerak hati-hati, takut salah langkah akan membuatnya benar-benar melompat.

Tangisnya pecah, jelas dan memilukan. Selene memegang perutnya yang sakit. Ia baru saja keguguran untuk kelima kalinya. Kali ini ia tahu kebenarannya: semua itu bukan karena penyakit atau kelemahan tubuhnya, tapi karena ulah suaminya sendiri yang tidak menginginkan dia melahirkan keturunan.

"Selene!" suara berat memanggil dari belakang. Dirian, sang Duke, suaminya.

Selene mendengar tapi enggan menoleh. Kecewa sudah terlalu dalam.

"Apa ini trik lain untuk menarik perhatianku?" tanya Dirian dingin. Ia memang tidak suka dibuat repot. Selene tahu, pria itu datang hanya karena tidak tahan mendengar bisik-bisik orang soal istrinya yang berdiri di puncak menara.

Selene tersenyum miris. Suaranya serak saat ia menjawab, "Bukankah kau seharusnya meminta maaf?" Pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang berdiri di antara para pelayan. Wanita yang rapi, berbeda jauh dari dirinya yang berantakan. Wanita itu dicintai Dirian, wanita yang bahkan tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan dirinya dimata Dirian 

"Apa kau gila?" Dirian membalas, nadanya meremehkan.

Selene berbalik menatapnya. Mata suaminya merah, tapi tetap dingin.

"Ya, aku memang gila! Aku gila karena mencintaimu, padahal kaulah yang membunuh lima anakmu sendiri!" teriak Selene.

Semua pengawal terkejut. Dirian pun terdiam sesaat.

"Selene, jangan bicara omong kosong," ucapnya, mencoba menahan kendali.

Selene tertawa getir. Darah terus merembes membasahi gaunnya.

"Pernahkah kau mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.

Dirian diam. Lalu ia mengalihkan pandangan 

"Tidak pernah " Selene menjawab sendiri karena reaksi Dirian 

Kata dari mulutnya sendiri  menghantam Selene. Ia menarik napas gemetar.

"Hentikan semua ini dan turun. Kau butuh istirahat," kata Dirian.

"Jangan pura-pura peduli!" bentak Selene. Air matanya jatuh. "Mengapa tidak membunuhku saja, daripada membunuh semua janin yang tidak berdosa itu?"

"Selene, berhenti! Turun sekarang!" Dirian berteriak memberi perintah.

"Aku akan melompat dan mati lalu bertemu dengan anak-anakku untuk meminta maaf karena tidak mampu melindungi mereka dari ayah mereka sendiri!" balas Selene lagi.

"Jangan gila, Selene! Kau tidak boleh mati!" seru Dirian, gelisah. Langkah mundur Selene membuatnya semakin rentan di tepi menara.

Selene justru tersenyum. "Demi anak-anakku yang kau bunuh, aku bersumpah! Kau akan membayar semuanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup dengan penyesalan dan penderitaan tanpa akhir!"

Ia lalu melompat.

"Selene!" Dirian menjerit, berlari ke tepi menara bersama para pengawal. Tapi mereka terlambat. Tubuh Selene meluncur cepat dan menghantam tanah.

Brak 

Suara seluruh tulang yang dihancurkan dan darah yang menggenang disana . 

Matanya masih terbuka, sempat melihat wajah Dirian yang kacau melihat tubuhnya di bawah.

Teriakan pelayan dan orang-orang pecah memenuhi udara malam. Langit gelap tanpa bintang malam itu menjadi saksi tragedi yang menimpa Duchess Leventis.

.

.

"Selene!"

Selene tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya pendek, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Di depannya berdiri Dirian Leventis, suaminya. Wajahnya tenang, dingin, matanya tajam. Di belakangnya ada dokter dan pelayan, bau obat memenuhi ruangan. Semua terasa nyata, seperti panggung yang sama ketika hidupnya berakhir dulu.

Dia menoleh ke samping. Jam di meja kecil berdetak. Hari dan tahun yang tertera menunjukkan dua tahun sebelum ia mati. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma yang sama dengan saat ia terjatuh dari menara. Ingatan itu kembali: tubuhnya menghantam tanah, sakit yang luar biasa, lalu gelap. Ia meraba perutnya, mencari bekas luka. Tangannya berbalut kasa, hangat, berdarah. Ia bingung — pernah mati, tapi sekarang hidup lagi.

"Nyonya Duchess, tangan anda berdarah. Saya akan memasang infus," kata dokter cepat. Selene menatap gerakannya dengan kaku, masih tidak percaya.

Dirian berkata, suaranya terdengar jengkel. "Jangan mempersulit dokter."

Selene menarik napas panjang. Kepalanya penuh dengan bayangan jasadnya, jeritan orang-orang, dan terutama lima janin yang tidak pernah lahir. Semua itu menghantam dirinya sekaligus.

Ia menoleh pada Dirian. Suaranya pelan tapi jelas.

"Dirian."

Suaminya menatap. "Apa?"

Selene menatap lurus ke matanya.

"Ayo bercerai."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Rika Modom
Kok lama kelamaan cerita nya berbelit” ya. Trus pun gak selesai” itu kutukan, sampe kapan coba kutukan itu? Jadi bosan lama” bacanya
goodnovel comment avatar
Nova Silvia
pelayan itu yg ngasih obat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   640. Seperti itu yang terjadi

    Di tempatnya sekarang, Sylar berdiri menghadap Mona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding ikut menahan napas saat nama Viviene kembali disebut.“Ceritakan lagi,” ucap Sylar akhirnya, suaranya tenang namun dingin. “Tentang lelaki yang kau bilang mengikuti Viviene.”Mona menatapnya.Sylar masih berdiri di tempatnya, punggungnya tegak namun bahunya sedikit menegang tanda yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang terdekatnya. Mona berdiri di hadapannya, ragu untuk berbicara lagi, namun kegelisahan di dadanya jauh lebih besar daripada rasa takut pada sikap dingin Sylar.“Apa yang sebenarnya kau lihat?” tanya Sylar akhirnya, suaranya rendah dan terkendali, namun ada tekanan yang jelas di se

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   639. Wanita penghibur yang terkenal

    Selene menghela napas perlahan. Ia mengangkat tangannya, menyentuh lengan Dirian gerakan kecil, namun cukup untuk menghentikan amarah yang masih bergejolak di balik mata suaminya.“Aku tahu,” katanya lembut. “Dan aku tahu kau melakukan semua itu bukan karena harga diri atau kekuasaanmu.”Dirian menatapnya, alisnya sedikit berkerut.“Kau melakukannya,” Selene melanjutkan, “karena aku.”Keheningan kembali turun, kali ini berbeda. Tidak menekan, tidak mengancam. Hangat meski rapuh.“Aku tidak ingin kau menahan diri sampai melukai dirimu sendiri,” ujar Selene lagi. “Aku tidak butuh dunia ini tunduk padaku. Aku hanya butuh kau tetap menjadi dirimu.”

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   638. Bukan Dewa

    Ilard menegang. Ia menatap Selene, seolah sedang menimbang sejauh mana ia boleh jujur.“Bukan soal suka atau tidak suka, Yang Mulia,” katanya hati-hati. “Namun fokus yang terpecah membuat pengawasan melemah. Dan saat pengawasan melemah… celah akan muncul.”Selene kembali menoleh ke luar jendela.Di bawah sana, suara protes mulai meredup. Pengawal istana bergerak teratur, membentuk barisan, mendorong para bangsawan itu menjauh dari pintu utama. Tidak ada kekerasan berlebihan hanya ketegasan yang tidak memberi ruang tawar-menawar.Selene tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung kemenangan, hanya pemahaman.“Dirian tidak pernah bertindak tanpa alasan,” katanya pelan, lebih kepada d

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   637. Kekacauan yang lain.

    Selene menoleh sekali lagi pada Lucien, Jayreth, dan Sylar tatapan penuh permintaan maaf yang tak terucap lalu akhirnya mengalah. Ia tahu, jika ia menunda satu detik saja, Dirian bisa benar-benar kehilangan kendali.Ia pun masuk ke dalam kereta.Pintu tertutup.Kereta mulai bergerak, meninggalkan halaman istana, meninggalkan pesta yang masih diliputi bisik-bisik dan tatapan waspada.Di dalam kereta, Dirian duduk kaku, pandangannya lurus ke depan, rahangnya masih mengeras. Selene duduk di sampingnya dalam diam, tahu bahwa malam ini bukan waktunya untuk banyak kata.Dirian menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya.Bukan diam yang dingin, bukan pula diam yang menjauh, melainkan diam yang teng

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   636. Bukan masalah sepele

    Keheningan itu pecah bukan oleh musik, melainkan oleh rasa takut yang menyebar cepat karena semua orang di aula tahu, pada detik itu, Dirian tidak sedang berbicara sebagai seorang tamu pesta.Dirian benar-benar murka.Bukan kemarahan yang meledak dengan teriakan liar melainkan amarah pekat yang menekan udara, membuat setiap orang di aula merasa napas mereka ikut tertahan.Aura itu begitu nyata hingga beberapa bangsawan tanpa sadar mundur setapak, seolah jarak beberapa langkah saja bisa menyelamatkan mereka dari tatapan Duke yang kini membeku.Sylar adalah yang pertama bereaksi saat melihat Selene bergerak.Begitu Selene melangkah cepat dari kelompok bangsawan senior, Sylar langsung meninggalkan posisinya, instingnya bekerja lebih dulu daripada pikirannya. Ia tahu betul raut wajah Dirian itu bukan

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   635. Wanita yang mirip

    Tuan Moreau menatap Mona dengan sorot mata yang berubah bukan lagi tenang seperti sebelumnya, melainkan tajam dan penuh perhitungan.“Di mana kau melihatnya?” tanyanya, suaranya rendah namun tegas.Mona mengangkat wajahnya. Napasnya masih sedikit tersengal, namun matanya jernih yakin. “Di luar,” jawabnya cepat. “Dia sepertinya baru saja keluar. Ayah… aku harus menemuinya.”Ia melangkah maju, berniat melewati Tuan Moreau. Namun suara ayahnya menghentikannya tepat sebelum ia benar-benar melangkah lebih jauh.“Mona,” panggilnya.Langkah Mona terhenti. Ia menoleh, menatap ayahnya.“Apa kau yakin?” tanya Tuan Moreau. “Kau yakin or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status