LOGINUcapan Ilard membuat Megan mematung sejenak, menatap punggung Ilard yang mulai menjauh. Di dadanya, jantungnya berdetak lebih cepat. Kini ia benar-benar sadar — ia baru saja melangkah ke dalam dunia yang lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan, dunia tempat sang Duchess yang tampak lembut menyembunyikan kekuatan yang tidak bisa dipahami orang luar.
Sementara itu, Selene duduk di kursinya, pandangannya kosong menatap ke arah jendela besar yang memantulkan cahaya lembut pagi hari.
Udara terasa tenang, tapi di dalam dirinya, badai sedang berputar.
Ia memikirkan segalanya — tentang dirinya, tentang bayi di dalam kandungan, tentang jalan keluar yang semakin sempit. Menggugurkan kandungan berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Pergi dari kastil hanya akan membuatnya lebih terkekang, lebih mudah dijatuhkan.
Viviene memalingkan wajahnya perlahan. Cahaya memantul di matanya, namun kilau itu tak mampu menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Morvena memperhatikannya lama, lalu tersenyum tipis. “Kau tidak perlu menyangkal,” ucapnya pelan, hampir seperti membelai udara. “Aku tahu.”Viviene menarik napas, lalu mengembuskannya dengan getir. “Kau tidak tahu apa-apa tentang aku… atau tentang dia.”“Oh, aku tahu,” sahut Morvena lembut, namun penuh keyakinan. “Pelayan-pelayan di kastil itu terlalu sering berbisik. Tentang bagaimana kau mencintainya tanpa syarat, bagaimana kau berdiri di sisinya ketika semua orang meragukannya, dan bagaimana pada akhirnya… kau ditinggalkan begitu saja.”
Daisy terkejut. “Melihat… semuanya, Nyonya?”“Ya,” jawab Selene datar. “Aku ingin dia tahu. Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana Dirian memilih, bagaimana anak-anakku bereaksi, dan bagaimana aku bersikap.”Ia berhenti sekali lagi, kali ini menoleh setengah, sorot matanya tajam.“Karena hanya dengan begitu,” lanjutnya pelan, “ia akan mengerti satu hal.”Daisy tidak berani bertanya lebih jauh. Ia hanya menunduk dan mengangguk.“Baik, Nyonya.”Selene kembali berjalan, menggandeng Dagny dan Divrio lebih erat. Di dadanya, ada sesuatu yang berdenyut bukan cemburu, bukan amarah semata, melainkan tekad ding
Wajah Morvena memerah. Semburat merah muda naik ke pipinya, membuat rautnya tampak jauh lebih lembut dari biasanya. Ada rasa senang yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan, namun ia segera menggeleng pelan, seolah ingin menepis bayangan yang terlalu besar untuk diucapkan.“Jangan katakan hal-hal seperti itu,” ujarnya pada Ilard, suaranya halus namun tegas. “Itu bisa membuat orang salah paham. Mana mungkin aku yang bahkan tidak mengerti apa pun tentang dunia bangsawan menjadi duchess. Posisi itu milik istri sah Dirian.”Annie menatapnya dengan mata berbinar, seolah mendengar sesuatu yang justru membuatnya semakin bersemangat.“Justru karena itu Anda tidak seharusnya berkata demikian,” katanya cepat. “Saya akan sangat senang jika suatu hari menjadi pelayan seorang duchess.”
Dirian menatap Viviene dengan sorot mata yang dingin namun lelah. “Apa maksudmu?” tanyanya pelan.Viviene tertawa pendek, tanpa humor. Wajahnya mengeras, matanya menyala oleh amarah yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Kau mencium wanita yang bukan istrimu,” ucapnya tajam. Setiap kata keluar seperti pisau. “Di hadapanku. Di kastil ini.”Ia menatap Dirian penuh kebencian dan di baliknya, kecemburuan yang pahit dan menyakitkan. Ia membencinya karena masih peduli dan Ia membenci dirinya sendiri karena hal itu.Dirian tidak mengelak dan tidak pula meminta maaf.“Aku hanya manusia,” jawabnya datar. “Dan terlebih lagi, aku lelaki. Melihat wanita secantik itu… wajar jika aku tertarik.&rdq
Viviene menatap Selene tatapan yang kali ini tidak lagi setajam sebelumnya. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang retak dan berantakan, seolah semua keberanian yang barusan ia pamerkan runtuh dalam satu detik. Selene bisa melihatnya dengan jelas, ejekan di wajahnya hanyalah topeng. Di baliknya, perasaan Viviene jauh lebih kacau daripada yang ia biarkan terlihat.Viviene akhirnya menunduk.Selene tidak tersenyum. Suaranya justru tenang, terlalu tenang. “Viviene,” katanya pelan, “selama ini aku tidak pernah hidup dengan cinta Dirian. Dan kau tahu itu.”Viviene masih menunduk.Ia menoleh sedikit, seolah kata-kata berikutnya sudah lama berdiam di dadanya. “Jadi entah ada wanita baru, atau kau sekalipun yang kembali… semuanya sama saja bagiku.”
Selene membeku.Waktu seolah berhenti.Dagny mencengkeram pakaian Selene lebih erat, menyembunyikan wajahnya di dada ibunya, bahunya naik-turun menahan isak.“Ayah tidak mau kami lahir,” bisiknya lirih. “Mereka bilang… ayah membunuh anak-anaknya sendiri.”Dirian mundur setengah langkah.Seumur hidupnya, ia menghadapi perang, pengkhianatan, kematian namun tidak satu pun yang menamparnya sekeras kata-kata itu. Wajahnya memucat, bibirnya terbuka namun tak ada suara yang keluar.“Apa… siapa yang mengatakan itu padamu?” tanyanya akhirnya, serak.Baru saja Divrio akan menjawab,







