MasukSemua mata tertuju pada Morvena.
Dagny, Divrio, Jay, para ksatria bahkan Annie secara naluriah berhenti bergerak. Udara di lapangan latihan terasa berubah, seperti angin yang mendadak menahan napasnya. Morvena berdiri di sana dengan sikap tenang, seolah ia tidak sedang menjadi pusat perhatian.
Sementara Selene… masih diam. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
Keheningan itu justru membuat Dagny dan Divrio panik.
“Ibu, jangan bicara dengannya!” seru Dagny lantang, refleks menarik ujung gaun Selene.
“Iya!” sambung Divrio cepat, berdiri setengah melindungi meski tubuhnya sendiri lebih kecil. “Ibu jangan bicara dengan orang jahat!”
Beberapa ksatria nyaris tersedak menaha
Semua orang terdiam.Pertanyaan Estela menggantung di udara seperti pisau tipis yang siap jatuh. Baru saat itulah para tamu benar-benar menyadari sesuatu yang sejak tadi mengusik, namun tak seorang pun berani menyebutkannya dengan lantang.Selene tidak ada.Di rumah kaca yang megah itu hanya ada Morvena dengan rambut merahnya yang mencolok, Viviene yang berdiri tak jauh dari Morvena dengan senyum samar, serta para pelayan yang lalu-lalang dengan kepala tertunduk. Kursi yang seharusnya menjadi milik nyonya rumah Leventis kosong, kosong dengan cara yang terlalu mencolok untuk diabaikan.Morvena menegakkan bahunya. Setelah beberapa detik keheningan yang menyiksa, akhirnya ia bersuara, berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak.“
Kalimat itu menggantung di udara, menghantam Morvena lebih keras daripada penghinaan mana pun. Untuk sesaat, Morvena hanya menatap Selene, menyadari satu hal yang sejak awal luput darinya.Selene menarik napas pendek, lalu berkata dengan suara yang dingin dan terkendali, “Jika tidak ada hal penting lagi, aku akan pergi. Dan Morvena jangan lagi mengajakku bicara seolah kita memiliki hubungan yang baik.”Morvena terkekeh pelan. Suara itu ringan, nyaris seperti tawa yang tak berbahaya, namun cukup membuat alis Selene berkerut.“Tidak bisakah kita memiliki hubungan yang baik,” ujar Morvena santai, “mengingat kita semua terikat oleh takdir?”Selene berbalik sedikit, menatapnya dengan sorot mata yang tidak menyisakan toleransi apa pun.
Semua mata tertuju pada Morvena.Dagny, Divrio, Jay, para ksatria bahkan Annie secara naluriah berhenti bergerak. Udara di lapangan latihan terasa berubah, seperti angin yang mendadak menahan napasnya. Morvena berdiri di sana dengan sikap tenang, seolah ia tidak sedang menjadi pusat perhatian.Sementara Selene… masih diam. Wajahnya tenang, terlalu tenang.Keheningan itu justru membuat Dagny dan Divrio panik.“Ibu, jangan bicara dengannya!” seru Dagny lantang, refleks menarik ujung gaun Selene.“Iya!” sambung Divrio cepat, berdiri setengah melindungi meski tubuhnya sendiri lebih kecil. “Ibu jangan bicara dengan orang jahat!”Beberapa ksatria nyaris tersedak menaha
Selene menatap Viviene lama, terlalu lama, seolah sedang menimbang apakah percakapan ini masih layak dilanjutkan atau seharusnya dihentikan di sini sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam.“Viviene,” ucap Selene akhirnya, suaranya tenang namun berlapis peringatan, “aku tidak bisa ikut campur jika sesuatu terjadi dan Dirian mengetahuinya. Jika itu sampai terjadi… kau tidak akan bisa lepas dari ini.”Viviene terkekeh kecil, tawa tanpa kehangatan. “Jangan menggurui aku seolah kau tahu semua hal tentang Dirian,” balasnya tajam. Matanya menyipit, lalu ia melanjutkan tanpa ragu, “Ingat satu hal, kau itu hanya pengganti, Selene. Pengganti dari aku, wanita Dirian yang sebenarnya.”Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada yang Viviene bayangkan. Selene menghela nap
Pagi itu Selene tampak tenang. Ia duduk rapi di balik meja kerjanya, punggung tegak, rambutnya disematkan sederhana seperti hari-hari biasa. Sinar matahari masuk dari jendela tinggi, menyapu permukaan meja dan berkas-berkas yang tersusun rapi. Namun hanya Selene yang tahu, ketenangan itu palsu.Jari-jarinya mencengkeram berkas yang sedang ia baca sedikit terlalu kuat.Ilard berdiri beberapa langkah di depannya, sikapnya formal seperti biasa. Ia sudah lama mengenal nyonyanya itu, dan dari cara Selene terlalu lama menatap satu halaman, Ilard tahu ada sesuatu yang mengganggunya.Selene akhirnya mengangkat wajahnya. “Jadi,” katanya pelan namun tajam, “dia ingin membuat pesta teh?”Ilard mengangguk singkat. “Benar, Nyonya.”
Viviene mengatupkan bibir. Ia sudah terbiasa dengan tatapan orang yang menghakimi, tetapi ada sesuatu dalam cara Morvena menatapnya yang membuat tengkuknya terasa dingin.“Dia begitu membencimu,” lanjut Morvena, suaranya tetap tenang namun setiap katanya menghujam, “bahkan ingin membunuhmu. Mencekikmu dengan tangannya sendiri.”Viviene tercekat. Untuk sesaat, wajahnya menegang sebelum ia terkekeh singkat tawa kering yang dipaksakan. “Berlebihan,” katanya. “Dia hanya bocah yang tak tahu apapun.”Morvena menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya lembut, hampir simpatik. “Itu bukan amarah seorang bocah. Itu naluri yang lahir dari luka yang dalam.”Ia memiringkan kepala, menambahkan dengan nada seolah sedang







