LOGINJayreth langsung menoleh ke arah Viviene — tatapan tajamnya cukup untuk membuat siapa pun mundur.
Namun Viviene bukan wanita yang tahu tempat untuk berhenti. Ia justru melangkah maju, senyum congkak masih terukir di bibirnya.
Selene tidak bergeming.
Tubuhnya tegak, dagunya sedikit terangkat. Cahaya dari lampu kristal di atas mereka memantul di matanya, memberi kesan seperti permata yang dingin — indah, tapi mematikan.
“Terusik?” Selene mengulang pelan, suaranya datar namun sarat sindiran.
“Aku hanya heran... bagaimana seseorang bisa begitu sibuk mengorek masa lalu orang lain, padahal masa depannya sendiri kosong.”
Beberapa tamu menahan napas.
Kikikan Morvena terhenti begitu saja.Bukan karena perintah, bukan karena ancaman melainkan karena satu pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak pernah Dirian ucapkan.Morvena berdiri mematung di tempatnya. Tubuhnya kaku, jemarinya yang tadi bergerak luwes kini terdiam di udara sebelum perlahan ditarik kembali. Api di matanya seolah membeku, menyisakan kilau rapuh yang jarang bahkan mungkin tidak pernah ditunjukkannya pada siapa pun.Dirian tetap diam.Ia tidak mendesak, tidak mengulang pertanyaan. Tatapannya lurus dan tenang, namun justru itulah yang membuat udara di antara mereka terasa semakin berat. Diam Dirian bukanlah kebingungan melainkan kesungguhan.Morvena menarik napas perlahan.&l
Sebelumnya,Pergulatan batin dan pikiran terjadi sepanjang perjalanan, membuat Dirian terjebak dalam kebimbangan yang menyesakkan. Ia harus menentukan apa yang seharusnya ia lakukan atas semua kekacauan ini. Kepalanya terasa kosong, namun dadanya penuh oleh perasaan yang saling bertabrakan amarah, keraguan, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak ingin ia akui.Satu hal yang pasti, apa pun keputusannya nanti, itu akan menjadi keputusan yang rumit dan berbahaya, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak orang.Mobil itu akhirnya terparkir di depan biara. Seperti biasa, orang-orang yang mengikutinya telah lebih dulu berkumpul. Lima orang berdiri dalam barisan rapi, lalu berlutut di hadapannya begitu Dirian turun dari mobil. Suasana hening, hanya angin yang berdesir di antara bangunan batu tua itu.
Sylar dan Mona cukup kaget dengan ucapan Selene.Selene berdiri perlahan. Gerakannya tenang, namun auranya berubah. Ia tidak mendekat untuk mengancam, tidak pula menjauh untuk menghindar. Ia hanya berdiri, seorang kakak, seorang bangsawan, seorang wanita yang terluka namun masih berpikir jernih.“Aku tidak pernah berkata kau harus berhenti mencintai siapa pun,” ucap Selene. “Dan aku tidak pernah berniat mengurungmu dalam aturan yang bahkan aku sendiri sering melanggarnya.”Ia menatap Mona, tatapan itu membuat Mona gemetar, namun Selene tidak mengandung kebencian. Hanya kelelahan dan kejujuran.“Yang kupersoalkan,” lanjut Selene sambil kembali menatap Sylar, “adalah kebohongan. Jarak yang kau ciptakan. Dan fakta bahwa kau membiar
Bjorn langsung menunduk. “Maaf, Nyonya. Saya akan melakukannya.”Saat pintu tertutup kembali, Selene bersandar di kursinya. Jantungnya berdetak pelan namun berat.Jika dugaannya benar… Maka wanita yang membuat Sylar menjauh darinya mungkin lebih dekat dari yang ia kira. Dan entah kenapa, Selene tidak tahu apakah ia harus bersiap untuk tersenyum atau untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih rumit.Tidak butuh waktu lama bagi Bjorn untuk menemukan jawabannya.Namun Selene tetap tidak menyangka, atau mungkin, tidak ingin menyangka, bahwa kebenaran akan berdiri tepat di hadapannya, setelanjang ini.Perjalanan dari ibu kota memakan waktu hampir tiga jam. Jalanan berbatu yang rapi, deretan bangunan megah namun tertutup, da
Pertanyaan itu membuat Selene terdiam.Ia menatap wajah adiknya. Bukan wajah seorang bangsawan dingin, bukan pula pria yang selalu berdiri tegar di balik tanggung jawab. Yang ia lihat adalah Sylar kecil yang dulu sering bersembunyi di balik punggungnya, anak laki-laki yang selalu bertanya apakah ia melakukan hal yang benar.Selene tidak langsung menjawab.Ia menghela napas pelan, lalu menoleh sejenak ke arah Dagny dan Divrio yang kini duduk di lantai bersama Count Moreau. Ayah mereka tertawa kecil, tangannya gemetar saat mencoba menunjukkan sesuatu pada Dagny. Pemandangan itu membuat dada Selene terasa penuh, oleh rasa kehilangan, penyesalan, dan harapan yang datang bersamaan.Kemudian Selene kembali menatap Sylar.“Sylar,&rdq
Selene menghela napas pelan, lalu menggeleng lagi, lebih lambat kali ini. Tangannya mengusap rambut Divrio dan Dagny bergantian, tanpa berkata apa pun. Ada begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan, namun belum waktunya.Tanpa mereka sadari, mobil telah melambat.Roda berhenti di halaman luas dengan bangunan megah yang menjulang tenang di hadapan mereka Mansion Count Moreau.Pintu mobil terbuka.Begitu mereka turun, langkah Selene terhenti.Ia berdiri diam, seolah waktu membeku di sekelilingnya. Divrio dan Dagny yang masih menggenggam tangannya ikut berhenti, merasakan perubahan mendadak pada ibunya.Di depan sana, di bawah bayangan pilar tua mansion, berdiri Sylar, tegak, tenang, dengan







