LOGINPagi bersinar cerah di lapangan latihan para prajurit. Cahaya matahari memantul di atas tanah yang masih lembap oleh embun, menyoroti deretan senjata dan bayangan tubuh-tubuh yang bergerak disiplin.
Suara benturan pedang kayu dan teriakan komando terdengar berulang, ritmis, nyaris menenangkan jika saja bukan bagi dua bocah yang duduk di pinggir lapangan dengan wajah bosan.
Divr
Udara di sekitar mereka seolah mengeras, seperti ada sesuatu yang tak kasatmata menekan dada setiap orang yang berdiri di sana.Selene memecah keheningan lebih dulu.“Apa kau mengenalku?” tanyanya pelan, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang halus.Hampir bersamaan, Ilard melangkah satu langkah ke depan, posisinya jelas melindungi Selene. Bahunya maju sedikit, sikapnya dingin dan waspada.“Apakah Anda mengenal nyonya?” ulang Ilard, nadanya datar namun tajam.Lelaki itu tidak segera menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada Selene, menelusuri wajahnya seakan berusaha menyusun sesuatu di dalam kepalanya sebuah potongan ingatan yang nyaris tergapai, lalu lepas lagi.
Ia lalu berbalik dan melanjutkan berjalan. Annie segera menyusul di sisinya, sementara Ilard tetap mengikuti dari belakang, kini dengan sikap lebih waspada daripada sebelumnya.Di balik ketenangan Selene, angin sore berembus pelan, membawa udara dingin yang menyentuh kulitnya. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ini memang hanya tentang udara segar.Akhirnya mereka tiba di pusat kota.Kota itu hidup namun bukan dengan kegaduhan yang memekakkan, melainkan dengan denyut yang konstan, seperti napas panjang yang teratur.Jalanan batu memantulkan suara langkah kaki para pejalan, roda kereta yang lewat perlahan, dan percakapan-percakapan kecil yang bercampur menjadi satu gumam lembut. Udara membawa aroma roti panggang, kayu bakar, dan remp
Selene akhirnya bangkit dari duduknya. Langkahnya mantap meski kepalanya masih terasa berat oleh berbagai kemungkinan yang berputar di benaknya. Begitu kembali ke koridor utama, ia memanggil Daisy yang kebetulan melintas.“Daisy,” panggil Selene.Daisy segera berhenti dan menunduk hormat. “Nyonya memanggil saya?”“Aku membutuhkan bantuanmu,” ujar Selene tanpa bertele-tele. “Pergilah ke mansion Moreau. Aku ingin kau mengambil beberapa barang milik Viviene.”Daisy terdiam sesaat, jelas terkejut, namun wajahnya segera kembali tenang. “Barang seperti apa, Nyonya?” tanyanya hati-hati.“Apa saja yang masih menyimpan aromanya,” jawab Selene. “Gaun, parfum, selendang apa
Selene mengangguk kecil. “Itulah yang membuatku tidak tenang.”Dirian meraih tangan Selene di atas meja, menggenggamnya dengan mantap. “Kau tidak sendiri memikirkannya,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama.”Selene menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, sorot matanya sedikit melunak. “Terima kasih,” ucapnya lirih.Dirian tersenyum kecil mendengar ucapan Selene tadi. Bukan senyum yang lebar, melainkan senyum tipis yang menyimpan keyakinan bahwa apa pun yang sedang mereka hadapi, mereka tidak berdiri di sisi yang berlawanan. Namun, senyum itu hanya bertahan sesaat.Karena Selene sendiri masih tenggelam jauh di dalam pikirannya.Sepanjang sisa w
Ruang kerja itu cukup sunyi. Api kecil di perapian berderak pelan, menjadi satu-satunya suara yang menemani keheningan. Jay masih berdiri di tempatnya, namun sikapnya kini tidak lagi sekaku sebelumnya. Ada kegelisahan yang jelas terlihat di wajahnya bukan hanya karena tanggung jawab, tetapi karena perasaan yang selama ini ia tekan sendiri.Selene menyandarkan siku di meja, jemarinya saling bertaut. Ia menatap Jay dengan sorot mata yang tajam, namun tidak menghakimi.“Sudah lebih dari tujuh hari,” katanya pelan namun tegas. “Lebih dari tujuh hari juga tanpa kabar. Tanpa pesan. Tanpa jejak.”Jay menunduk sedikit. “Benar, Nyonya.”Selene mengangkat pandangannya, menatap langsung ke arah Jay. “Kau pernah bertemu dengan Rafael?”
Viviene membuka matanya kembali, napasnya tersengal. Air mata masih menggantung di bulu matanya ketika suara langkah kaki terdengar jelas di ruang sempit itu.“Kenapa diam?” Suara lelaki itu terdengar santai, hampir bosan. “Bukankah kau biasanya selalu punya kata-kata tajam, Viviene?”Viviene mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, tapi tatapannya masih menyimpan sisa-sisa harga diri. “Apa yang kau inginkan dariku…?” suaranya serak. “Uang? Nama? Kekuasaan? Katakan saja. Aku bisa,”Rafael menggerakkan jarinya.Plak.Tamparan itu tidak keras, tapi cukup membuat kepala Viviene terhempas ke samping. Lelaki itu terkekeh pelan. “Lihat?” katanya. “Bahkan sekarang pun ka







