Share

6. Surat Cerai

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-21 08:01:24

Pagi itu udara terasa sangat dingin. Seperti biasa, Selene tidak melihat Dirian. Ia sudah terbiasa—suaminya jarang pulang. Dulu ia masih mencoba percaya bahwa Dirian sibuk dengan urusan kastil, tapi setelah tahu kebenaran, yang tersisa hanya rasa muak. Luka di hatinya memang belum sembuh, tapi ia terus meyakinkan diri bahwa waktu akan membuatnya lebih kuat.

Namun pagi itu menjadi lebih berat saat ayahnya, Count Moreau, datang tiba-tiba ke kastil Duke.

“Apa sebenarnya yang kau katakan pada Viviene?” suara Count terdengar menekan, menuntut jawaban.

“Apa yang bisa kukatakan? Memangnya dia mengadu apa padamu?” Selene membalas, nadanya dingin, acuh tak acuh.

Count terdiam sejenak, menarik napas panjang. “Selene… Viviene dan Duke itu teman masa kecil. Mereka bahkan pernah bertunangan. Wajar jika mereka dekat. Kau tidak bisa sedikit mengalah?”

Selene menahan tawa sinis di balik bibirnya.

“Tuan Count…” ucapnya dengan nada sedingin es.

Mata Count terbelalak. Putrinya—anak sahnya sendiri—baru saja memanggilnya dengan sebutan yang menusuk.

“Aku sudah mengatakan pada Duke untuk menikahi Viviene. Kurang apa lagi aku mengalah?” Tatapan Selene lurus menembus Count, menusuk hingga ke dasar hati.

“Selene, bukan begitu maksudku—”

“Sekarang kau bilang mereka hanya teman?” Selene menyela, senyumnya sinis. “Teman macam apa yang berbagi ranjang?”

Kata-katanya menampar keras. Count menelan ludah, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada bantahan yang bisa ia lontarkan.

“Jangan kira aku tidak tahu,” Selene melanjutkan dingin. “Dan sekarang kau datang ke sini hanya untuk menyudutkan putri sahmu demi membela putri tirimu.”

“Selene—”

“Aku penasaran,” tatap Selene menajam, suara lirih tapi menusuk. “Apakah dia benar hanya putri tiri… atau sebenarnya dia putrimu?”

“Selene! Kau sudah terlalu jauh!” suara Count meninggi.

Selene menghela napas panjang, mata sayu namun tetap penuh perlawanan.

“Seumur hidup ibuku, kau mungkin tidak pernah menduakan cintanya. Tapi kau… menduakan putrinya sendiri.”

Kata-kata itu menampar keras. Wajah Count perlahan meredup, amarah digantikan kesenduan. Untuk pertama kalinya, Selene menantangnya seperti ini.

“Pernahkah kau sedikit saja memikirkan perasaan putri sahmu sendiri, Ayah?” tanyanya lirih, menembus lebih dalam daripada teriakan.

Count menunduk, kata-kata tak lagi keluar.

“Seluruh hidupku… semua hal yang seharusnya milikku, selalu kau serahkan padanya. Apakah itu belum cukup? Sampai aku pun harus merelakan suamiku?” Suara Selene bergetar, pahit.

“Selene, aku tidak bermaksud begitu. Bagaimanapun, sebelumnya kaulah yang memberikannya padanya,” Count mencoba membela diri.

Selene tertawa hambar, sinis. “Kalau aku tidak memberikannya, aku akan berakhir dikurung di loteng… tidur di lantai, berbagi makanan dengan tikus. Kau lupa?”

“Selene—”

“Pulanglah, Ayah,” potong Selene dingin. “Jika kedatanganmu hanya untuk membela putri tirimu, lebih baik jangan pernah muncul lagi di hadapanku.” Ia bangkit, wajah keras tanpa sisa kelembutan.

Count menatapnya, tak berani membalas. Selene menyingkir, meninggalkan ayahnya sendiri di ruangan itu.

Dirian berdiri di balik pintu dan mendengar semuanya. Dadanya sesak. Selene tahu tentang perselingkuhannya, dan itu membuatnya berubah—dingin, tegas, tak lagi takut padanya.

Pikiran Dirian kalut. Siapa yang memberitahunya? Bagaimana ia tahu? Yang jelas, luka Selene lebih dalam dari yang ia kira—dari ayahnya, dan darinya sendiri.

Siang itu, Selene masuk ke ruang kerja Dirian membawa dokumen. Dirian duduk, tatapannya kosong.

“Aku ingin kau menandatangani ini,” kata Selene tenang, meletakkan berkas di meja.

Dirian menoleh, sedikit terkejut. “Apakah ini mendesak?” suaranya datar, tapi ada getaran jelas.

“Kalau tidak penting, tidak perlu tanda tangan,” jawab Selene sambil menarik dokumen, hendak pergi.

“Besok,” tiba-tiba Dirian bersuara.

Selene berhenti, menatapnya sulit dibaca.

“Besok… malam intim dan nenek akan datang,” ucap Dirian, seolah meminta pengertian.

“Aku belum pulih. Tak perlu berpura-pura. Katakan saja pada nenek,” jawab Selene.

Dirian bangkit, mendekat. “Aku akan tanda tangan,” katanya akhirnya.

Dengan hati berdebar, Selene menyerahkan dokumen lagi. Dirian menandatangani lembar demi lembar—hingga surat cerai terakhir. Dirian tidak membaca, hanya menahan napas. Rasanya sakit, tapi semuanya sudah sia-sia.

“Selene…” panggil Dirian saat ia hendak pergi.

Langkahnya terhenti. “Apa?”

“Apakah kau… baik-baik saja?” tanyanya ragu.

Pertanyaan itu membuat Selene tercekat. Sepanjang hidupnya, bahkan saat nyawa nyaris hilang, Dirian tak pernah menanyakannya. Air mata nyaris jatuh, tapi ia menahannya.

“Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” jawab Selene lirih, lalu pergi.

Sejak itu, Dirian gelisah. Sosok Selene terus menghantui pikirannya. Selene yang dulu lembut, kini tegas dan dingin.

Ia berdiri di jendela, menatap taman. Selene berjalan bersama dua pelayan, cahaya sore menyorot wajahnya, menampilkan kecantikan yang menyesakkan dada.

Jika jujur, Selene jauh lebih memesona dan berkarisma dibanding Viviene. Malam-malam intim mereka bukan kewajiban, tapi kenikmatan yang ia nikmati. Namun hatinya tetap pada Viviene—bukan karena pesona, tapi hutang budi. Gadis kecil itu pernah menyelamatkan nyawanya saat keluarganya hancur.

Itulah sebabnya ia memberi lebih pada Viviene—meski Selene adalah wanita yang sepenuhnya miliknya.

“Tuan.”

Sven masuk. “Ada apa?”

“Lady Moreau mengirim surat, menanyakan kapan Anda akan menyusulnya.”

Dirian menghela napas. “Hari ini dan besok tidak bisa. Nenek akan datang. Katakan begitu.”

“Baik, Tuan,” Sven menunduk hendak pergi.

“Tunggu,” panggil Dirian. “Sven.”

“Ya, Tuan?”

“Panggil dokter. Suruh dia memeriksa Nyonya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   410. Tidak pernah lahir kedunia ini

    Morvena mengangguk dengan senyuman mengembang. “Terima kasih, Dirian.”Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu terbuka, Sven yang sejak tadi menunggu langsung menegakkan tubuhnya.“Ayo,” kata Morvena padanya. “Temani aku.”Sven menunduk patuh dan mengikutinya pergi.Dirian bangkit dari tempat duduknya.Langkahnya keluar dari ruang kerja terasa lebih berat dari biasanya. Lorong kastil yang panjang menyambutnya dengan bisik-bisik yang tak lagi disembunyikan. Nama itu Viviene mengalir dari mulut ke mulut, dari pelayan ke penjaga, seperti bayangan lama yang dipaksa bangkit kembali.Dirian mendengarnya. Namun ia memilih meng

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   409. Penyelamat

    Morvena menatap Viviene lebih lama dari yang ia sadari.Wanita itu kini terlihat benar-benar kosong seolah setelah kalimat terakhirnya terucap, sesuatu di dalam dirinya runtuh sepenuhnya. Bahunya tetap tegak, tatapannya masih tajam, tetapi ada kehampaan yang menganga di balik mata biru itu. Kehampaan yang tidak lahir dalam semalam, melainkan terbentuk oleh waktu, oleh ketakutan yang berulang, oleh harapan yang dipatahkan berkali-kali.Morvena mengenal Dirian Leventis.Ia tahu pria itu adalah sosok yang mampu melawan bahkan membantai para penyihir tanpa gentar. Sosok yang kehendaknya tidak mudah digoyahkan oleh siapa pun. Namun kegelapan yang membungkus Viviene jauh lebih dalam dari sekadar rasa takut pada seorang duke. Ini adalah kegelapan yang telah melekat pada hidupnya seperti bayangan yang tidak akan hilang ke mana pun ia

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   408. Cinta pertama

    Ia bersandar kembali di kursinya, seolah keputusan itu hanyalah bagian kecil dari pagi yang biasa.Ilard menunduk hormat. “Baik, Nyonya.”Ilard pergi tanpa menoleh lagi.Langkahnya tenang, terukur seperti seseorang yang tahu betul bahwa apa yang sedang ia lakukan akan menimbulkan riak, dan riak itu memang diinginkan. Tidak ada perintah tertulis, tidak ada suara lantang. Hanya bisikan yang diarahkan dengan tepat, ke telinga yang tepat.Dan kastil pun berubah.Dalam waktu singkat, nama itu mulai hidup kembali.Viviene.Ia muncul di antara desir rok para pelayan, di sela denting piring dapur, di balik pilar-pilar batu tempat orang-orang berhent

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   407. Cemburu

    Dirian menatap Morvena dengan sorot yang tenang, nyaris datar. Tidak ada tantangan di sana hanya keyakinan yang dingin dan terukur.“Rasa penasaran seorang laki-laki,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan mantap, “bukan berasal dari apa yang mereka lihat.”Morvena tidak langsung menjawab. Ia menatap Dirian, mencoba membaca celah apa pun yang bisa ia genggam sebagai peluang. Namun wajah lelaki itu tetap sulit ditembus.Dirian lalu mengalihkan pandangan. Matanya menangkap sosok Annie yang berdiri tak jauh, menunggu dengan sikap hormat.“Annie,” panggilnya singkat. “Antar Lady Morvena ke kamarnya. Sudah malam. Ia perlu beristirahat.”Annie menunduk. “Baik, Yang Mulia.”

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   406. Hanya rasa penasaran

    Malam itu, Kastil Leventis tidak pernah benar-benar tidur.Jerit pelayan berlari dari lorong ke lorong, suara langkah tergesa memecah keheningan, dan lampu-lampu dinyalakan satu per satu seperti ada sesuatu yang hendak disembunyikan dari gelap.Viviene.Nama itu berbisik di antara dinding batu, dibawa angin malam yang dingin dan basah. Viviene kembali mencoba mengakhiri hidupnya.Ia ditemukan di ruang bawah tanah ruang sempit yang selama ini menjadi penjaranya, terkapar dengan napas tersengal, wajahnya pucat kebiruan. Sebuah sendok plastik, yang telah lama menggantikan alat makan besi demi mencegah hal semacam ini, patah dan berlumur darah di dekat bibirnya.Ia memaksakan benda itu masuk ke tenggorokannya sendiri. Entah sudah percobaan b

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   405. Penjaga

    Dirian terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.Namun ia tidak mengatakan itu.Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.“Kepala pelayan berkata… aku mendapat perlakuan istimewa karena aku adalah wanitamu.”Kata itu wanitamu menggantung di udara.Dirian akhirnya meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Morvena lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak melihat kebohongan di sana. Tidak ada sihir dan idak ada manipulasi. Hanya… keyakinan yang tumbuh terlalu cepat.“

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status