MasukPagi itu terasa berbeda bagi Selene. Jarang sekali Dirian berada di kastil saat sarapan, apalagi duduk bersamanya di meja makan. Biasanya, jika ia ada di rumah, lelaki itu lebih sering bersembunyi di ruang kerja atau kamarnya. Selene pun sudah berhenti mencoba mendekat. Ia sadar—apapun yang ia lakukan hanya dianggap gangguan. Luka di hatinya menahan langkahnya, membuatnya berhenti berusaha.
“…Nenek dan Ibu akan datang nanti,” ucap Dirian setelah meletakkan sendok.
Selene menatapnya sebentar. “Kau sudah bilang kalau aku masih dalam masa pemulihan?”
“Untuk itulah mereka ingin menjengukmu,” jawab Dirian tenang.
Selene menarik napas, lalu mengangguk. “Baiklah.”
Hening sejenak, lalu Dirian berkata lagi.
“Malam ini aku akan tidur di kamarmu.”
Selene terdiam. Hatinya menolak. Ia takut melemah dan batal melangkah pergi.
“Kau tidak perlu, kau tidak perlu mengikuti apa yang diinginkan oleh nenek dan ibu . Tidurlah di kamarmu sendiri,” ucapnya dingin.
“Ini keinginanku,” jawab Dirian mantap.
Selene menatapnya, senyum tipis penuh sindiran. “Kalau begitu, mengapa kita tidak tidur di kamarmu saja?”
Dirian menatap tajam. “Kau ingin itu?”
“Kebetulan aku tidak merasa cukup istimewa untuk tidur di kamarku sendiri,” sahut Selene, teringat Viviene yang pernah diizinkan masuk ke sana.
Dirian mengangguk. “Baiklah. Malam ini kita tidur di kamarku.”
Selene hampir kehilangan kata-kata. Selama ini, bahkan berdiri di depan pintu kamarnya bisa memicu amarah Dirian. Ia selalu menjaga kamar itu sendiri. Seolah semuanya cukup mudah sekarang.
“Baiklah. Aku keluar sebentar. Kembali sebelum makan malam. Kita makan bersama,” ucap Dirian, lalu pergi.
Selene menatap punggungnya hingga menghilang. Piringnya kosong bersih—seperti biasa, Dirian selalu menghabiskan masakannya, tanda ia menghargai usaha Selene.
Siang harinya, Selene berada di ruang kerja.
Dokter yang dipanggil menunduk hormat. “Saya hanya ingin memastikan keadaan Anda, Nyonya.”
“Aku baik-baik saja. Sudah minum obat dan mengikuti anjuranmu,” jawab Selene tegas.
“Setelah keguguran—”
“Tidak perlu. Katakan saja aku sudah pulih,” potong Selene dingin. Tubuhnya menolak pemeriksaan semacam itu. Dokter pun menunduk dan pergi.
Begitu pintu menutup, Ilard masuk membawa map cokelat.
“Ini semua dokumen Anda, termasuk kartu identitas dan tiket perjalanan. Karena Anda akan menggunakan kereta api, semuanya sudah siap,” ucap Ilard, meletakkan map di meja.
Selene membuka map itu. Identitas baru dengan nama ibunya: Ysla Arundel. Arundel, keluarga kecil berpangkat baron yang sudah punah sebelum ia lahir. Ayahnya, Count Moreau mengambil semuanya tanpa tersisa bahkan tanpa mengingat jika Selene berhak atas itu semua.
Matanya berhenti pada kartu berukir lambang yang familiar.
“Apa ini?” tanyanya.
“Jika Anda butuh pengawal atau bantuan mendesak, datanglah ke alamat ini. Guild itu tersebar di seluruh benua,” jawab Ilard tenang.
Selene terkejut. “Bagaimana kau bisa memilikinya?”
“Kenalan lama. Kartu ini membuat Anda diprioritaskan,” jawab Ilard.
Selene menahan senyum getir. “Ini berlebihan…”
“Tidak. Aku hanya ingin Anda aman. Terutama sendirian di luar negeri,” kata Ilard.
Ia kemudian menyerahkan kartu bank. “Semua uang Anda sudah ada di sini. Aku menjual setengah saham, jadi Anda tidak kekurangan apa pun. Keuntungan masuk tiap bulan.”
Selene menelan ludah. “Terlalu banyak…”
“Ini memang milik Anda,” jawab Ilard tulus.
Selene menggenggam kartu itu erat. “Andai saja kau bukan milik Dirian…”
“Saya justru berharap bisa ikut,” sahut Ilard.
“Tapi perjanjian keluarga membuatmu tetap setia pada Duke,” kata Selene.
“Cukup Anda bahagia, Nyonya. Sampai kita bertemu lagi,” jawab Ilard sambil menunduk hormat.
Selene mengangguk.
“Ngomong-ngomong… tetap akan pergi ke tanah itu?” tanya Ilard hati-hati.
“Itu warisan ibuku. Aku tidak tahu kenapa beliau memilikinya,” jawab Selene.
“Apakah beliau dari sana?”
Selene menggeleng. Dokumen itu hanya diserahkan pelayan ibunya sebelum ia diusir. Pelayan itu mati sebulan kemudian. Tidak ada lagi yang bisa ditanya.
Ilard mengangguk. “Mungkin dulu beliau sempat membelinya.”
“Mungkin. Aku akan memastikannya sendiri. Jika tidak, aku akan mencari tempat lain,” jawab Selene mantap.
“Baik, Nyonya. Aku pamit. Masih ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
Di tempatnya sekarang, Sylar berdiri menghadap Mona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding ikut menahan napas saat nama Viviene kembali disebut.“Ceritakan lagi,” ucap Sylar akhirnya, suaranya tenang namun dingin. “Tentang lelaki yang kau bilang mengikuti Viviene.”Mona menatapnya.Sylar masih berdiri di tempatnya, punggungnya tegak namun bahunya sedikit menegang tanda yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang terdekatnya. Mona berdiri di hadapannya, ragu untuk berbicara lagi, namun kegelisahan di dadanya jauh lebih besar daripada rasa takut pada sikap dingin Sylar.“Apa yang sebenarnya kau lihat?” tanya Sylar akhirnya, suaranya rendah dan terkendali, namun ada tekanan yang jelas di se
Selene menghela napas perlahan. Ia mengangkat tangannya, menyentuh lengan Dirian gerakan kecil, namun cukup untuk menghentikan amarah yang masih bergejolak di balik mata suaminya.“Aku tahu,” katanya lembut. “Dan aku tahu kau melakukan semua itu bukan karena harga diri atau kekuasaanmu.”Dirian menatapnya, alisnya sedikit berkerut.“Kau melakukannya,” Selene melanjutkan, “karena aku.”Keheningan kembali turun, kali ini berbeda. Tidak menekan, tidak mengancam. Hangat meski rapuh.“Aku tidak ingin kau menahan diri sampai melukai dirimu sendiri,” ujar Selene lagi. “Aku tidak butuh dunia ini tunduk padaku. Aku hanya butuh kau tetap menjadi dirimu.”
Ilard menegang. Ia menatap Selene, seolah sedang menimbang sejauh mana ia boleh jujur.“Bukan soal suka atau tidak suka, Yang Mulia,” katanya hati-hati. “Namun fokus yang terpecah membuat pengawasan melemah. Dan saat pengawasan melemah… celah akan muncul.”Selene kembali menoleh ke luar jendela.Di bawah sana, suara protes mulai meredup. Pengawal istana bergerak teratur, membentuk barisan, mendorong para bangsawan itu menjauh dari pintu utama. Tidak ada kekerasan berlebihan hanya ketegasan yang tidak memberi ruang tawar-menawar.Selene tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung kemenangan, hanya pemahaman.“Dirian tidak pernah bertindak tanpa alasan,” katanya pelan, lebih kepada d
Selene menoleh sekali lagi pada Lucien, Jayreth, dan Sylar tatapan penuh permintaan maaf yang tak terucap lalu akhirnya mengalah. Ia tahu, jika ia menunda satu detik saja, Dirian bisa benar-benar kehilangan kendali.Ia pun masuk ke dalam kereta.Pintu tertutup.Kereta mulai bergerak, meninggalkan halaman istana, meninggalkan pesta yang masih diliputi bisik-bisik dan tatapan waspada.Di dalam kereta, Dirian duduk kaku, pandangannya lurus ke depan, rahangnya masih mengeras. Selene duduk di sampingnya dalam diam, tahu bahwa malam ini bukan waktunya untuk banyak kata.Dirian menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya.Bukan diam yang dingin, bukan pula diam yang menjauh, melainkan diam yang teng
Keheningan itu pecah bukan oleh musik, melainkan oleh rasa takut yang menyebar cepat karena semua orang di aula tahu, pada detik itu, Dirian tidak sedang berbicara sebagai seorang tamu pesta.Dirian benar-benar murka.Bukan kemarahan yang meledak dengan teriakan liar melainkan amarah pekat yang menekan udara, membuat setiap orang di aula merasa napas mereka ikut tertahan.Aura itu begitu nyata hingga beberapa bangsawan tanpa sadar mundur setapak, seolah jarak beberapa langkah saja bisa menyelamatkan mereka dari tatapan Duke yang kini membeku.Sylar adalah yang pertama bereaksi saat melihat Selene bergerak.Begitu Selene melangkah cepat dari kelompok bangsawan senior, Sylar langsung meninggalkan posisinya, instingnya bekerja lebih dulu daripada pikirannya. Ia tahu betul raut wajah Dirian itu bukan
Tuan Moreau menatap Mona dengan sorot mata yang berubah bukan lagi tenang seperti sebelumnya, melainkan tajam dan penuh perhitungan.“Di mana kau melihatnya?” tanyanya, suaranya rendah namun tegas.Mona mengangkat wajahnya. Napasnya masih sedikit tersengal, namun matanya jernih yakin. “Di luar,” jawabnya cepat. “Dia sepertinya baru saja keluar. Ayah… aku harus menemuinya.”Ia melangkah maju, berniat melewati Tuan Moreau. Namun suara ayahnya menghentikannya tepat sebelum ia benar-benar melangkah lebih jauh.“Mona,” panggilnya.Langkah Mona terhenti. Ia menoleh, menatap ayahnya.“Apa kau yakin?” tanya Tuan Moreau. “Kau yakin or







