Home / Zaman Kuno / Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai! / 74. Jangan pikir aku akan melepasmu

Share

74. Jangan pikir aku akan melepasmu

Author: Raisaa
last update Last Updated: 2025-10-21 09:04:57

Kaki Selene gemetar, hampir tak mampu menahan tubuhnya ketika Dirian melepaskan cairan hangat ke dalam rahimnya, menegaskan siapa yang berkuasa di sini. Dirian mencengkeram pinggang Selene, memastikan tubuh istrinya tak jatuh, lalu mengangkatnya dengan mudah menuju bak mandi. Tubuh Selene lemas tak berdaya dalam pelukan laki-laki itu, detakan jantungnya terasa jelas di dada—tanda bahwa ia masih hidup, masih bertahan di tengah teror suaminya.

Dirian memeluk Selene dalam air hangat, tangannya mengelus punggung Selene perlahan. “Mainan” miliknya, bahkan ketika tubuh wanita itu remuk redam dan napasnya tersengal. Ia merasakan dorongan hasrat lagi—maunya memang tidak pernah cukup—tapi Selene nyaris pingsan, bagaimana ia bisa menikmatinya sepenuhnya? Amarah dan nafsu masih bergejolak, belum reda.

Air menghangatkan tubuh mereka, padahal yang diinginkan Dirian adalah pertumpahan, kepemilikan, dan pelampiasan. Pandangan matanya tetap liar saat meli

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   405. Penjaga

    Dirian terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.Namun ia tidak mengatakan itu.Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.“Kepala pelayan berkata… aku mendapat perlakuan istimewa karena aku adalah wanitamu.”Kata itu wanitamu menggantung di udara.Dirian akhirnya meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Morvena lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak melihat kebohongan di sana. Tidak ada sihir dan idak ada manipulasi. Hanya… keyakinan yang tumbuh terlalu cepat.“

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   404. Wanita yang tidak tahu apapun

    Pagi itu, ketika ia baru saja selesai menyisir rambutnya sendiri kebiasaan lama yang belum sempat ia lepaskan ketukan pelan terdengar di pintu kamar tamu yang kini ditempatinya.Tok. Tok.“Masuk,” ucapnya.Pintu terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Kastil Leventis, bukan satu atau dua pelayan yang masuk melainkan enam orang sekaligus.Mereka membawa kotak-kotak besar berlapis kain beludru. Ada yang berwarna biru tua dengan segel emas, ada yang putih mutiara, ada pula yang hitam pekat dengan bordiran lambang Leventis.Morvena berdiri perlahan.“Apa… ini?”Pelayan paling depan menunduk dalam-dalam

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   403. Aku percaya suamiku

    Selene menoleh lebih dulu ke arah Ilard.Tatapan itu singkat, namun cukup untuk membuat pria itu menegakkan punggungnya tanpa sadar, seolah ia kembali menjadi ksatria muda yang menerima perintah pertamanya.“Ilard,” ucap Selene pelan, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah, “dan Sven. Aku ingin kalian mulai menyusun apa saja yang harus dilakukan oleh para pelayan juga seluruh orang di kastil untuk menangani situasi ini.”Ilard terdiam sesaat.Bukan karena ragu, melainkan karena ia memahami betul makna di balik kalimat itu. Ia menunduk hormat, lalu tanpa berkata apa pun, segera mengeluarkan lembar catatan dari balik mantel.Ujung bulu pena menyentuh permukaan kasar kertas, mulai bergera

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   402. membuatnya jatuh cinta.

    Dirian tidak segera menjawab. Kereta terus melaju, roda-roda besinya berderak teratur di atas jalan batu, seolah tak peduli pada percakapan yang perlahan mengoyak sesuatu di antara dua manusia di dalamnya.“Aku tidak mempermainkanmu,” akhirnya ia berkata.Morvena tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ada kelelahan di sana. Ada luka yang baru saja disadari.“Lalu apa ini sekarang?” suaranya lembut, nyaris berbisik, namun sarat tuntutan. “Aku pikir… kau akan bersamaku. Hanya denganku. Aku pikir kau akan meninggalkan istrimu.”Dirian menoleh, menatap wajahnya sesaat sebelum kembali memalingkan pandangan ke depan.“Aku tidak pernah mengatakan hal itu.”

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   401. istri atau selir

    Selene cukup terkejut dengan ucapan Morvena itu. Ia menatap wanita berambut merah yang kini tersenyum seolah taruhan itu hanyalah permainan ringan, bukan sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang.“Bagaimana?” tanya Morvena sekali lagi, nadanya ringan, penuh keyakinan.Selene terdiam sesaat. Ada banyak hal yang bisa ia katakan, amarah, sindiran, bahkan tantangan. Namun semua itu terasa melelahkan. Terlalu murah untuk harga dirinya.“Aku tidak ingin menyia-nyiakan diriku,” ucap Selene akhirnya, suaranya tenang namun tegas, “pada sesuatu yang tidak perlu.”Tanpa menunggu reaksi, ia berbalik pergi. Tidak ada tatapan terakhir. Tidak ada kata penutup. Ia melangkah menjauh seolah percakapan itu tak pernah layak mendapat tempat lebih di pikirann

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   400. cinta yang murahan

    Odet dan nenek berangkat keesokan paginya, tepat setelah sarapan selesai. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung di halaman kastil seolah enggan membiarkan perpisahan itu terjadi begitu saja. Kereta sudah menunggu, pengawal berdiri rapi, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.Selene berdiri di beranda depan bersama Dagny dan Divrio. Tangannya menggenggam tangan kedua anak itu dengan erat, seolah ia sendiri takut kehilangan keseimbangan jika dilepaskan. Odet memeluk Dagny lama, membelai rambutnya berkali-kali, sementara nenek menepuk bahu Divrio dengan senyum yang dipaksakan, matanya berkaca-kaca.“Aku ingin tinggal lebih lama dengan nenek…” gumam Dagny lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi langkah para pengawal.“Iya,” sambung Divrio, bibirnya mengerucut kesal. &ldquo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status