LOGINTidak ada yang berani menjawab. Pejabat tadi hanya diam karena takut jawabannya justru membuat pembicaraan semakin panjang. Gerald bahkan menundukkan wajah untuk menahan tawa, sementara Vale hanya bisa mengusap kening.Dior tetap menunggu dengan wajah datar, seolah tidak menyadari bahwa pertanyaannya membuat semua orang bingung. Setelah beberapa saat, Gerald akhirnya tidak tahan.“Yang Mulia…”Dior menoleh kepadanya.Gerald menelan ludah. “Sepertinya bukan itu maksudnya.”Alis Dior sedikit mengernyit.“Lalu apa?”Gerald terdiam.Ia menoleh kepada Vale, berharap pria itu mau membantu. Namun Vale langsung menggeleng kecil. Tatapannya seolah mengatakan bahwa kali ini Gerald sudah memulai, jadi ia harus menyelesaikannya sendiri.Gerald menghela napas pelan.“Masalahnya bukan siapa yang lebih tinggi, lebih kuat, atau lebih kaya.”Dior tetap diam.“Lady Elvorn mungkin tidak sedang membandingkan Anda dengan Pangeran Erick dalam hal seperti itu,” lanjut Gerald dengan sangat hati-hati.Dior me
Gerald akhirnya menutup mulut, dan Dior menatapnya beberapa detik. Gerald langsung berdiri lebih tegak dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Beberapa orang menahan tawa, tetapi tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua tahu bahwa Gerald memang sudah terlalu banyak bicara.Dior kembali menatap lurus ke depan.“Jadi…”Semua orang kembali memperhatikannya.“Jika dia tidak percaya kepadaku, aku harus membiarkan.”“Ya, Yang Mulia,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.“Tidak memaksanya.”“Ya.”“Memberinya waktu.”“Benar.”Dior mengangguk kecil. Kemudian ia bertanya lagi, “Dan tetap berada di dekatnya?”“Benar, Yang Mulia.”Dior terdiam.Ia memikirkan semuanya dengan serius, seolah sedang menyusun strategi perang. Padahal yang sedang ia pikirkan hanyalah bagaimana menghadapi seorang wanita yang ia cintai. Setelah beberapa saat, Dior berdiri dari kursinya.“Aku mengerti.”Vale langsung menghela napas lega. Gerald juga tampak lega karena percakapan aneh tersebut akhi
Dior menatap Gerald cukup lama. Wajahnya tetap datar, tetapi tatapannya membuat Gerald mulai merasa jawabannya mungkin salah.Di sampingnya, Vale hanya mengangguk pelan, seolah setuju dengan Gerald, Sementara yang lain menahan tawa karena jawaban Gerald.Dior akhirnya kembali bersandar di kursinya. Ia tetap tenang, tetapi jelas bahwa jawaban kedua bawahannya itu tidak membantu masalah yang sedang dipikirkannya. Gerald, yang sepertinya belum menyadari suasana, kembali menatap Dior.“Memiliki kekasih itu merepotkan, Yang Mulia. Anda harus terus memikirkan perasaannya, memperhatikan apa yang dia inginkan, belum lagi kalau dia tiba-tiba marah. Terkadang kita bahkan tidak tahu kesalahan kita apa, tetapi tetap saja harus meminta maaf.”Beberapa orang di sekitar aula langsung menoleh. Tatapan mereka seolah mengatakan hal yang sama. Anak ini benar-benar berani. Ia bahkan mengatakan memiliki kekasih itu merepotkan di depan Kaisar yang baru saja mengaku sedang memiliki masalah dengan kekasihnya
Dior langsung memalingkan wajah dan Siera kembali tertawa kecil."Anda benar-benar..."Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tangannya masih menggenggam tangan Dior, dan Dior tidak melepaskannya.Siera kembali menyandarkan kepalanya di dada Dior sambil memejamkan mata. Dior memang tidak pandai menunjukkan perasaannya. Wajahnya juga selalu datar, bahkan ketika sedang bahagia. Namun Siera mulai memahami caranya mencintai.Dior akan datang ketika merindukannya, memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya, dan tetap berada di sisinya tanpa banyak bicara.Siera tersenyum kecil.Mungkin untuk sekarang, semua itu sudah cukup. Lagipula, jika suatu hari mereka menikah, masih banyak hal yang bisa ia tagih dari lelaki itu.Dior akhirnya melepaskan pelukannya. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi kedua telinganya masih memerah.“Kalau begitu, aku kembali.” Ucap Dior.Siera tidak menjawab. Ia hanya menatap Dior dengan ekspresi sedikit heran, masih belum terbiasa dengan cara lelaki itu datang sesu
Dior langsung diam.Pertanyaan Siera seolah membuat tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Tanpa mengatakan apa pun, ia segera menarik tangannya dari genggaman Siera. Tubuhnya yang semula sedikit bersandar langsung menjadi tegap, kemudian ia bergeser beberapa sentimeter menjauh dari Siera.Gerakan itu begitu jelas hingga Siera tidak mungkin salah melihatnya. Ia berkedip beberapa kali, lalu menatap Dior dengan ekspresi tidak percaya."Anda benar-benar tidak ingin saya cium?"Dior menatapnya dengan wajah datar."Kita belum menikah."Jawabannya terdengar begitu tenang dan pasti, seolah-olah tidak ada alasan lain yang perlu dijelaskan.Siera mengatupkan bibirnya. Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan sedikit rasa kecewa yang muncul tanpa izin. Matanya kemudian melirik ke arah jendela, memperhatikan cahaya sore yang semakin redup di luar."Apakah hanya setelah menikah?""Tentu saja."Siera terdiam.Ia kemudian kembali menatap Dior. Lelaki itu masih duduk dengan tenang,
Siera menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas kecil."Yang Mulia, Anda tidak perlu sampai seperti itu."Dior hanya menatapnya dengan wajah datar. Tidak ada jawaban, seolah perkataan Siera tadi sama sekali tidak mengubah keputusannya."Sudahlah. Tidak perlu membahas hal ini lagi." Siera terdengar menyerah.Dior tetap diam. Suasana kembali hening beberapa saat. Siera kemudian melirik ke arah jendela dan baru menyadari bahwa hari sudah semakin sore. Ia kembali menatap Dior."Anda pergi dari istana seperti ini, apakah istana akan baik-baik saja tanpa Anda?""Aku hanya pergi sebentar."Siera mengangkat alis."Sebentar?"Dior mengangguk kecil. Siera kemudian teringat sesuatu. Ia menatap Dior dengan sedikit heran."Bukankah Anda yang bilang saya seharusnya menunggu Anda?"Dior menatapnya."Ya."Siera mengernyit. "Lalu kenapa sekarang justru Anda yang datang, bukankah seharusnya Segera menyelesaikan semuanya?"Dior tetap menatapnya dengan wajah datar. Ia tidak langsung menjaw
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







