Se connecterSiera terdiam, menatap Dior yang masih menggenggam tangannya dengan wajah datar. Ia tidak menemukan tanda bahwa pria itu sedang menggodanya. Dior justru bersikap seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa, padahal perkataannya berhasil membuat jantung Siera berdegup lebih cepat.“Dior...” Siera akhirnya bersuara, tetapi namanya terdengar lebih seperti keluhan daripada teguran.“Ya?”“Kau...” Siera berhenti sejenak, lalu mengerutkan kening. “Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu secara tiba-tiba.”Dior memiringkan kepala sedikit.“Mengapa?”“Karena...” Siera membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa kalimat tadi membuatnya malu setengah mati. Itu hanya akan memberinya alasan untuk kembali mengatakan sesuatu yang lebih memalukan.Siera akhirnya memalingkan wajah.“Pokoknya, jangan mengatakannya sembarangan.”“Aku tidak mengatakannya sembarangan.”Jawaban itu datang begitu cepat hingga Siera kembali menoleh kepadanya. Dior m
Siera mengangkat kepalanya.“Kaisar?”Ia melirik ke arah pintu, sedikit terkejut karena tidak menyangka Dior akan datang mencarinya saat ini. Padahal, ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu di gudang bersama Mia dan Zelka.Siera menghela napas pelan, lalu menoleh kepada Mia.“Sepertinya aku harus keluar sebentar. Tolong lanjutkan pemeriksaan barang-barang ini.”“Baik, Nona.”Siera keluar dari gudang bersama Ernest yang kemudian mengantarnya menuju ruang tamu. Ia semula mengira ayah atau kakaknya akan berada di sana, mengingat Dior sudah jarang datang ke Kastil Elvorn tanpa ditemani keduanya. Namun, begitu melangkah masuk, ia mendapati sosok kaisar itu duduk sendirian di sofa.Dior mengenakan pakaian kebesarannya yang mempertegas kedudukannya sebagai kaisar. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara mata merahnya tertuju pada cangkir teh di atas meja. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia merasa bosan meskipun harus menunggu sendirian.Siera memperlambat langkahnya, lalu menoleh sekilas ke ar
Siera akhirnya mengembuskan napas perlahan, lalu mengangkat wajahnya.“Baiklah. Kita pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat.” Ia menatap Zelka dengan lebih tenang. “Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kau terus mengulang waktu, dan apakah darah ibuku memang memiliki hubungan dengan semua ini. Namun, jika ternyata semua itu tidak berdampak apa pun kepadaku, kita tetap akan menyelesaikan persoalanmu.”Zelka menatapnya tanpa berkata-kata.Ia tampak sedikit tertegun mendengar perkataan Siera. Setelah membicarakan sesuatu yang begitu rumit, wanita itu justru berusaha menyederhanakan semuanya menjadi satu tujuan yang jelas.Siera memang masih ingin menemukan jawaban tentang dirinya sendiri, tetapi ia tidak berniat mengabaikan persoalan Zelka begitu saja, terlebih setelah mengetahui bahwa wanita itu telah mengulang waktu berkali-kali dan bahkan tidak lagi mengingat alasan awalnya dengan jelas.Siera membalas tatapan Zelka.“Kau sudah membantuku mengetahui banyak h
Siera terdiam mendengar pengakuan Zelka. Ia sulit memahami bagaimana wanita itu bisa terus mengulang waktu meskipun mengetahui bahwa dirinya mungkin akan musnah tanpa jejak. Terlebih lagi, Zelka telah melakukannya berkali-kali hingga tak lagi mengingat jumlahnya.“Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau melakukannya berkali-kali, bahkan sampai tidak bisa mengakhirinya?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia menundukkan pandangan, wajahnya tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mengingat sesuatu yang terletak jauh di dalam pikirannya, sesuatu yang pernah begitu penting hingga membuatnya bersedia melakukan apa pun demi mencapainya.“Dahulu, aku mengingat alasanku,” katanya perlahan. “Aku tahu apa yang ingin kulakukan dan mengapa aku harus terus mengulang waktu. Saat itu, semuanya terasa jelas bagiku. Aku tahu apa yang kucari, apa yang harus kuubah, dan mengapa aku tidak boleh berhenti sebelum semuanya selesai.”Siera mendengarkan tanpa menyela.“Namun, setelah melakukannya berkali-kal
Siera terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Zelka. Berbagai kemungkinan yang sebelumnya hanya berupa dugaan kini semakin memenuhi pikirannya, membuatnya kesulitan menentukan apa yang seharusnya ia pikirkan terlebih dahulu. “Jika kau mengatakan semua ini kepadaku, aku justru semakin tidak bisa tenang,” ujar Siera akhirnya.Zelka menatapnya tanpa mengubah ekspresinya.“Benar.”Siera mengerutkan kening. Ia berharap Zelka akan mengatakan sesuatu untuk menenangkan dirinya, tetapi wanita itu justru mengakui bahwa penjelasannya memang bisa membuat keadaan semakin mengkhawatirkan.“Kenapa kau bisa mengatakannya dengan begitu tenang?” tanya Siera.“Karena ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum terlambat.”Siera tidak langsung menjawab. Ia menatap Zelka, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan wanita itu. Siera hanya mulai menyadari bahwa persoalan tersebut mungkin jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan.“Karena kemungkinan ada darah keturunan Witc
Zelka menatap Siera cukup lama. Ada keraguan yang masih tersisa membuatnya belum yakin apakah dugaan yang selama ini disimpannya benar. Namun, setelah melihat berbagai peninggalan Yelena dan mendengar penjelasan Siera mengenai keluarganya, ia merasa sudah saatnya mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia begitu tertarik pada masa lalu wanita itu.“Aku mengatakan semua ini karena ada kemungkinan kau juga mengulang waktu setelah kematianmu akibat memiliki darah tersebut.”Siera membeku, ia hanya menatap Zelka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mia yang berdiri di samping meja pun langsung menoleh dengan wajah terkejut.“Apa?” Siera akhirnya bersuara. “Apa hubungannya darah itu dengan pengulangan waktu?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia memahami bahwa perkataannya barusan bukan sesuatu yang mudah diterima, terlebih oleh Siera yang selama ini masih berusaha mencari tahu alasan di balik kematiannya pada kehidupan sebelumnya.Siera mendekat.“Tunggu. Kau mengatakan bahwa ibuku mungkin me
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







