LOGINTatapan Ratu berubah. Ia tahu betul apa arti perkataan Kaisar. Ayahnya bukan orang yang akan bergerak tanpa alasan, apalagi tanpa keuntungan. Jika Kaisar sampai menjanjikan sesuatu kepadanya, berarti keadaan benar-benar sudah berada di ujung tanduk.Namun yang paling membuat Ratu gelisah adalah kepada siapa Kaisar meminta bantuan, itu adalah ayahnya sendiri, seorang pria yang selama ini berada jauh dari pusat kekuasaan tetapi memiliki pengaruh besar.Ratu kembali menatap ke depan. Dior masih duduk di kursi utama, sementara Dewan terus memeriksa bukti dan kesaksian. Para prajurit mulai menunjukkan sikap mereka, dan bahkan Duke Arhad semakin kesulitan membela Kaisar.Ratu kemudian kembali menatap Kaisar."Dan jika ayahku meminta sesuatu yang tidak bisa kau berikan?"Kaisar tidak ragu."Aku akan memberikannya.""Bagaimana jika itu menyangkut kekuasaan?""Akan kuberikan.""Jika menyangkut wilayah?""Berikan."Ratu terdiam. Kaisar menggenggam tangannya sendiri dengan kuat."Yang penting ak
Tidak ada seorang pun yang menurut ketika Kaisar meninggikan suara, para prajurit tidak lagi menundukkan kepala. Mereka tetap berdiri, tetapi rasa takut yang selama ini mengikat mereka perlahan menghilang.Salah seorang prajurit akhirnya maju beberapa langkah. Ia masih mengenakan seragam lengkap Pasukan Kekaisaran dengan pedang di pinggang. Sikapnya tetap tegap, tetapi wajahnya menunjukkan kelelahan. Meski masih muda, sorot matanya menunjukkan bahwa ia telah melihat terlalu banyak kematian."Yang Mulia."Kaisar menatapnya tajam. Ada peringatan dalam tatapannya, seolah ia masih berharap satu panggilan saja cukup untuk membuat prajurit itu kembali mengingat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.Namun prajurit tersebut tidak mundur."Saya tidak tahu apa yang akan diputuskan Dewan malam ini," katanya perlahan. Suaranya sempat terdengar berat, tetapi semakin ia berbicara, semakin mantap pula nadanya. "Saya juga tidak tahu apakah kami akan dianggap bersalah karena menjalankan perintah yan
Duke Arhad yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya. Ia berusaha menahan ketakutan yang mulai muncul. Setelah mendengar ancaman Dior, ia sadar bahwa diam pun tidak akan menyelamatkan keluarganya.Jika pemeriksaan terus berlanjut tanpa ada yang melawan, bukan hanya Kaisar yang akan jatuh, tetapi semua orang yang selama ini berada di belakangnya juga bisa ikut terseret.Duke Arhad menarik napas panjang lalu akhirnya berkata,"Yang Mulia."Dior mengangkat pandangan kepadanya.Duke Arhad berusaha mempertahankan suaranya agar tetap terdengar tegas meskipun jelas ada ketegangan di dalamnya."Semua saksi itu bisa saja merupakan orang-orang yang sudah Anda bayar."Aula kembali sunyi. Beberapa bangsawan menahan napas karena tahu Duke Arhad baru saja mengambil langkah berbahaya. Menuduh Grand Duke Rurich memanipulasi saksi di hadapan Dewan bukanlah tuduhan kecil, terlebih Dior kini telah resmi menjadi Kaisar sementara.Namun Arhad tidak mundur. Ia tahu jika dirinya diam,
Suasana kembali hening. Beberapa orang saling berpandangan, sementara Dior tetap tenang tanpa menunjukkan reaksi berarti. Ia hanya mengangkat pandangan ke arah ketua Dewan."Siapa saja?"Ketua Dewan menunduk melihat daftar yang ada di hadapannya."Para saksi yang telah dipanggil dan diamankan oleh Dewan."Ia membalik beberapa lembar dokumen."Beberapa di antaranya adalah prajurit yang kembali dari wilayah utara."Tatapan beberapa bangsawan langsung berubah.Ketua Dewan melanjutkan."Pejabat yang pernah menerima perintah langsung dari Kaisar. Penduduk dari wilayah yang terkena dampak perang. Serta beberapa orang yang berada di lokasi ketika keputusan-keputusan tersebut dijalankan."Suasana aula semakin berat. Siera perlahan mengangkat kepalanya. Ia tahu apa artinya. Bukti tertulis masih bisa diperdebatkan, dokumen bisa dianggap palsu, tanda tangan dapat dipertanyakan, dan keputusan perang masih bisa dibela dengan alasan keadaan darurat.Namun kesaksian orang-orang yang mengalaminya sec
Aula kembali hening setelah peringatan Dior. Tidak ada yang berani berbicara sembarangan. Para anggota Dewan memeriksa dokumen, sementara para bangsawan dan pengawal tetap berada di tempat masing-masing. Kaisar dan Ratu pun hanya diam.Dior duduk di tempatnya dan memandang seluruh ruangan. Tatapannya kemudian berhenti pada Siera yang berdiri bersama Yelian. Wajah Siera terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Dior telah kembali hidup-hidup.Ia seharusnya bahagia. Namun ia juga merasa kesal. Dior membiarkannya percaya bahwa ia telah mati selama berhari-hari, sementara Siera harus menghadapi ketakutan kehilangan lelaki itu untuk selamanya.Dior masih menatapnya. Siera menyadarinya dan memilih mengalihkan pandangan. Yelian pun melihat perubahan itu dan sempat menatap Dior sebelum kembali memperhatikan adiknya. Beberapa saat kemudian, Dior akhirnya mengalihkan pandangan seolah tidak terjadi apa-apa.Yelian kemudian sedikit mendekat dan berbisik pelan."Ka
Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab. Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Bahkan Dregory yang sejak tadi tidak menunjukkan reaksi apa pun akhirnya menatap Dior lebih dalam.Erick pun mengangkat wajah. Sementara Kaisar masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang sulit dipercaya.Dior melanjutkan dengan suara yang tetap tenang."Kalau aku diperintahkan untuk menjalankan pemerintahan selama pemeriksaan berlangsung, maka aku akan menjalankannya."Ketua Dewan membuka mulut."Grand Duke—""Perintahku tegas."Nada suara Dior tidak meninggi, dan karena itulah kalimat tersebut terdengar jauh lebih mengikat."Aku melarang semua orang meninggalkan tempat ini."Beberapa bangsawan langsung terdiam. Dior mengalihkan pandangannya kepada seluruh ruangan."Sidang dilanjutkan malam ini."Ketua Dewan menatapnya cukup lama."Anda serius?"Dior tidak menjawab pertanyaan itu.Ia hanya berkata, "Masalah ini selesai malam ini."Tidak ada yang bergerak. Para anggota Dewan kembali duduk kar
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







