MasukSuara Dior terdengar lagi dari depan, membuat Siera segera mengejarnya. Ia berjalan di sampingnya, meskipun tetap tertinggal setengah langkah. Koridor batu perlahan berubah menjadi jalan luar. Dinding kastil menghilang, berganti tanah lembap dan rumput yang masih basah oleh embun pagi. Udara terasa lebih dingin, menusuk ringan di kulit.
Siera menatap sekelilingnya. Ia jarang sekali keluar sejauh ini. Bahkan bisa dibilang, ini pertama kalinya ia benar-benar menuju hutan belakang Kastil
Raut wajah Siera masih sama. Sejak awal memasuki ruangan, ia tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Hanya tatapannya yang sempat berubah sedikit ketika Erick menyebut tentang pengulangan waktu. Perubahan itu begitu kecil, tetapi tetap berhasil ditangkap oleh Erick.Erick kembali terkekeh.“Jadi itu benar, kan, Siera?”Siera tetap menatapnya tanpa memberikan jawaban. Apa yang dikatakan Erick memang benar. Siera memang mengulang waktu dan membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya. Namun, mengetahui kebenaran itu tidak berarti Siera harus mengakuinya di hadapan Erick.Ia tidak memiliki alasan untuk mempercayainya. Karena itu, setelah beberapa saat, Siera berkata dengan tenang,“Yang Mulia sepertinya salah paham.”Erick mengangkat alis.“Salah paham?”Siera tidak menjawab.Erick justru tersenyum semakin lebar.“Kau sampai buru-buru datang ke sini setelah membaca suratku. Bukankah itu berarti kau gelisah karena aku mengetahui rahasiamu?”Siera menatapnya cukup lama sebelum akhirnya meng
Siera tiba di sebuah paviliun restoran mewah di ibu kota. Restoran tersebut dikenal sebagai tempat makan para bangsawan, sementara paviliun pribadi harus dipesan jauh sebelumnya.Begitu turun dari kudanya, seorang pelayan langsung menyambut Siera. Ia sudah mengetahui kedatangannya dan segera membungkuk sebelum mempersilakannya masuk.“Silakan ikut saya, Lady Elvorn. Ruangan pribadi sudah disiapkan.”Siera mengangguk dan mengikuti pelayan tersebut. Mia berjalan di sampingnya, sementara Isacc berada beberapa langkah di belakang mereka. Mereka melewati lorong panjang yang tenang hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.Pelayan itu membungkuk sekali lagi.“Yang Mulia Pangeran sedang menunggu di dalam.”Siera mengangguk.“Baik.”Pelayan tersebut kemudian mundur dan meninggalkan mereka. Isacc maju satu langkah. Tangannya baru saja terangkat hendak membuka pintu ketika Siera tiba-tiba mengangkat tangannya dan menahan pergelangan tangan Isacc.“Tunggu di luar.”Isacc menoleh.“No
Siera membuka surat itu dan membacanya sampai selesai. Wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan keterkejutan atau kemarahan. Setelah selesai, ia melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam amplop, lalu meletakkannya di atas meja.Mia yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tidak tahan lagi. Ia penasaran dengan isi surat dari Erick dan menatap Siera, menunggu penjelasan.“Nona, Yang Mulia Pangeran mengatakan apa?”Siera mengangkat wajah dan menatap Mia.“Dia ingin bertemu denganku.”Mata Mia langsung membesar.“Apa?”Siera hanya menatapnya tanpa menjelaskan lebih jauh. Mia segera menyadari bahwa reaksinya terlalu keras. Ia menurunkan suaranya, tetapi rasa terkejutnya masih terlihat jelas.“Apakah Anda akan menyetujuinya?”Siera tidak langsung menjawab. Ia justru menghela napas pelan dan kembali melihat amplop di atas meja.“Apakah dia menunggu jawabanku?”Mia menggigit bibirnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.“Benar. Yang Mulia Pangeran mengatakan bahwa Anda harus mem
Tidak ada yang berani menjawab. Pejabat tadi hanya diam karena takut jawabannya justru membuat pembicaraan semakin panjang. Gerald bahkan menundukkan wajah untuk menahan tawa, sementara Vale hanya bisa mengusap kening.Dior tetap menunggu dengan wajah datar, seolah tidak menyadari bahwa pertanyaannya membuat semua orang bingung. Setelah beberapa saat, Gerald akhirnya tidak tahan.“Yang Mulia…”Dior menoleh kepadanya.Gerald menelan ludah. “Sepertinya bukan itu maksudnya.”Alis Dior sedikit mengernyit.“Lalu apa?”Gerald terdiam.Ia menoleh kepada Vale, berharap pria itu mau membantu. Namun Vale langsung menggeleng kecil. Tatapannya seolah mengatakan bahwa kali ini Gerald sudah memulai, jadi ia harus menyelesaikannya sendiri.Gerald menghela napas pelan.“Masalahnya bukan siapa yang lebih tinggi, lebih kuat, atau lebih kaya.”Dior tetap diam.“Lady Elvorn mungkin tidak sedang membandingkan Anda dengan Pangeran Erick dalam hal seperti itu,” lanjut Gerald dengan sangat hati-hati.Dior me
Gerald akhirnya menutup mulut, dan Dior menatapnya beberapa detik. Gerald langsung berdiri lebih tegak dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Beberapa orang menahan tawa, tetapi tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua tahu bahwa Gerald memang sudah terlalu banyak bicara.Dior kembali menatap lurus ke depan.“Jadi…”Semua orang kembali memperhatikannya.“Jika dia tidak percaya kepadaku, aku harus membiarkan.”“Ya, Yang Mulia,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.“Tidak memaksanya.”“Ya.”“Memberinya waktu.”“Benar.”Dior mengangguk kecil. Kemudian ia bertanya lagi, “Dan tetap berada di dekatnya?”“Benar, Yang Mulia.”Dior terdiam.Ia memikirkan semuanya dengan serius, seolah sedang menyusun strategi perang. Padahal yang sedang ia pikirkan hanyalah bagaimana menghadapi seorang wanita yang ia cintai. Setelah beberapa saat, Dior berdiri dari kursinya.“Aku mengerti.”Vale langsung menghela napas lega. Gerald juga tampak lega karena percakapan aneh tersebut akhi
Dior menatap Gerald cukup lama. Wajahnya tetap datar, tetapi tatapannya membuat Gerald mulai merasa jawabannya mungkin salah.Di sampingnya, Vale hanya mengangguk pelan, seolah setuju dengan Gerald, Sementara yang lain menahan tawa karena jawaban Gerald.Dior akhirnya kembali bersandar di kursinya. Ia tetap tenang, tetapi jelas bahwa jawaban kedua bawahannya itu tidak membantu masalah yang sedang dipikirkannya. Gerald, yang sepertinya belum menyadari suasana, kembali menatap Dior.“Memiliki kekasih itu merepotkan, Yang Mulia. Anda harus terus memikirkan perasaannya, memperhatikan apa yang dia inginkan, belum lagi kalau dia tiba-tiba marah. Terkadang kita bahkan tidak tahu kesalahan kita apa, tetapi tetap saja harus meminta maaf.”Beberapa orang di sekitar aula langsung menoleh. Tatapan mereka seolah mengatakan hal yang sama. Anak ini benar-benar berani. Ia bahkan mengatakan memiliki kekasih itu merepotkan di depan Kaisar yang baru saja mengaku sedang memiliki masalah dengan kekasihnya
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh







