LOGINPada saat yang sama, beberapa prajurit yang sebelumnya berdiri di belakang Duke Arhad mencabut pedang mereka dan menyerang para kesatria Dregory. Serangan itu terjadi begitu mendadak hingga sebagian pasukan tidak sempat membentuk pertahanan.“Lindungi Duke!” teriak Gerald.Suara benturan pedang segera memenuhi halaman. Para kesatria Dregory yang semula mengepung para penyerang kini terpaksa membagi perhatian untuk menghadapi pasukan baru. Barisan mereka pun mulai menyusut, sementara anak buah Duke Arhad memanfaatkan celah tersebut untuk bergerak maju.Dregory mencabut pedangnya sendiri dan menangkis serangan seorang prajurit yang mencoba mendekatinya.“Jadi, ini tujuan kalian sejak awal,” ucapnya tajam.Duke Arhad hanya tersenyum tipis.“Kau selalu terlalu cepat mengambil kesimpulan.”“Kalau begitu, jelaskan mengapa pasukanmu menyerang anak buahku!”“Karena mereka menghalangi jalan kami.”Dregory tidak lagi membuang waktu untuk berdebat. Ia menyerang balik, memaksa beberapa prajurit m
Dior tetap bersembunyi di balik dinding batu, mengamati kelompok yang baru saja keluar dari penjara bawah tanah. Lionel berada di tengah-tengah mereka, diapit oleh dua orang yang terus mencengkeram lengannya. Mantan kaisar itu tampak lemah, tetapi masih mampu berjalan.Mereka membawanya melintasi halaman belakang, melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di dekat bangunan penjara, seolah hendak menuju salah satu gerbang samping istana.Dior memperhatikan mereka dalam diam. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat beberapa orang berjalan lebih dahulu untuk memeriksa keadaan, sementara yang lain mengawasi bagian belakang rombongan.Mereka bergerak terlalu teratur untuk disebut sebagai sekelompok penyusup biasa. Terlebih, mereka masih bisa bergerak bebas ketika hampir seluruh penghuni istana telah tumbang akibat gas beracun.Jumlah mereka juga jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan Dior sebelumnya.Ia menghitung sekilas orang-orang yang terlihat di halaman, lalu mengalihkan pandangan
Wajah Gerald berubah. Ia segera menutup mulut dengan punggung tangan, lalu mengamati sekeliling seolah baru menyadari bahwa bahaya yang mereka hadapi mungkin tidak terlihat oleh mata.“Yang Mulia, racun apa?” tanyanya. “Saya tidak mencium bau apa pun. Tidak ada asap, dan saya juga tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.”“Tidak berbau dan tidak berwarna,” jawab Dior singkat. “Itu sebabnya mereka tidak menyadarinya.”Gerald terdiam. Ia kembali memandang para penjaga yang tergeletak tidak jauh dari sana. Jika benar gas beracun telah menyebar ke seluruh istana, berarti siapa pun yang menghirupnya bisa tumbang tanpa mengetahui penyebabnya. Bahkan mereka yang masih sadar mungkin hanya memiliki sedikit waktu sebelum kehilangan tenaga sepenuhnya.Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya.Gerald kembali menatap Dior.“Sejak kapan Anda mengetahuinya, Yang Mulia?”Dior memandang bangunan utama istana yang menjulang di kejauhan. Wajahnya masih tertutup masker, menyisakan sepasang mata merah
Vale segera membungkuk dan meninggalkan Dior setelah menerima perintahnya. Dior melanjutkan perjalanan menuju kamar pribadi, mengabaikan para pelayan yang menunduk saat berpapasan dengannya. Meski istana tampak tenang, suasana malam itu terasa sedikit berbeda.Setibanya di kamar, Dior membiarkan para pelayan membantunya bersiap sebelum mandi. Setelah berganti pakaian tidur, ia berjalan menuju jendela dengan rambut hitam yang masih sedikit basah, lalu mengamati halaman istana dalam diam hingga kepala pelayan menghampirinya.“Yang Mulia, apakah Anda akan langsung beristirahat malam ini?”“Ya. Kembalilah.”Kepala pelayan itu tidak segera bergerak. Ia melirik beberapa pelayan lain yang masih berdiri di dekat pintu, seolah ingin memastikan apakah mereka benar-benar harus meninggalkan kaisar seorang diri. Biasanya, setidaknya satu atau dua pelayan akan tetap berjaga di luar kamar untuk memenuhi kebutuhan Dior apabila diperlukan. Namun, perintah yang diberikan malam ini terdengar begitu mutl
Siera tidak mengatakan apa pun. Ia berbalik dan meninggalkan Zelka, sementara Mia segera mengikutinya. Perkataan wanita gipsi itu membuat pikirannya kacau, terutama ketika ia menyarankan agar Siera menggunakan tangan orang lain untuk membunuh Erick demi memutus ikatan takdir mereka.Setibanya di kamar, Siera duduk di sofa dan melepas sarung tangannya. Mia menutup pintu, lalu menatapnya dengan khawatir. Ia tidak menyukai arah pembicaraan mereka, terlebih karena kali ini bukan hanya tentang pengulangan waktu, tetapi juga kemungkinan seseorang harus kehilangan nyawa.“Nona,” panggil Mia akhirnya, memecah keheningan. “Anda tidak perlu memercayai semua yang dikatakan Zelka.”Siera mengangkat wajah dan menatapnya.“Aku tidak mungkin tidak memercayainya.”Mia mengerjapkan mata, tampak tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.“Tetapi, Nona, Anda sendiri bahkan pernah memanggilnya Nona Penipu.”“Itu karena aku belum mengetahui apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau tidak.” Sie
Siera membeku. Ia memahami maksud perkataan Zelka, tetapi tetap sulit menerimanya. Menjadikan Dior sebagai pedang untuk mengakhiri ikatannya dengan Erick? Ia tidak pernah membayangkan hubungan yang baru saja mulai ia bangun dengan Dior akan terseret ke dalam persoalan takdir yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.Siera menatap Zelka dengan campuran keterkejutan dan kewaspadaan.“Jadi, menurutmu aku harus menjadikan Dior pedang yang akan membunuh Erick?”Zelka tidak langsung menjawab. Ia hanya mempertahankan senyum tipisnya, membuat Siera semakin sulit menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya.“Benar,” jawab Zelka akhirnya.Siera terdiam. Ia tidak tahu apakah perempuan itu benar-benar memahami cara kerja benang merah takdir atau hanya menafsirkan sesuatu berdasarkan penglihatannya. Satu hal yang pasti, membatalkan pernikahan dengan Erick ternyata belum tentu cukup untuk membebaskannya dari masa lalu.Jika memang ada sesuatu yang masih mengikat mereka, Siera harus menemukan car
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







