Home / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 1. Perjamuan yang Mencekam

Share

Duke Kejam itu Suamiku
Duke Kejam itu Suamiku
Author: Senja Berpena

Bab 1. Perjamuan yang Mencekam

Author: Senja Berpena
last update Last Updated: 2026-01-18 12:50:00

“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”

Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.

Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.

Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.

Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.

“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.

“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”

Aurelia menoleh pelan, tatapan matanya yang besar dan jernih itu kini tampak layu.

“Kesepakatan apa, Ayah? Kapal-kapal kita sudah karam di perairan Hindia. Kreditur sudah berdiri di depan pintu rumah sejak fajar. Apa lagi yang tersisa untuk dijual?”

Willem mendekatkan wajahnya, napasnya berbau brendi murahan menyengat di hidung Aurelia. “Kau,” bisiknya tajam.

“Kau adalah aset terakhir kita. Jika kau gagal memikatnya malam ini, kita akan tidur di selokan besok pagi. Apa kau ingin melihat adik-adikmu mengemis di dermaga?”

Aurelia memalingkan wajahnya dengan mata yang memanas. Dia merasa seperti hewan ternak yang sedang dipajang di pasar.

Kehormatan keluarga van Deventer yang telah dibangun berabad-abad kini bergantung pada selembar kulit dan paras cantiknya. Dia merasa kecil, kerdil, dan hancur di tengah kemegahan yang menipu ini.

Tiba-tiba, suara riuh rendah di aula itu mendadak surut. Musik gesek yang membawakan simfoni ceria kehilangan temponya, lalu berhenti sama sekali.

Hening yang mencekam jatuh seperti selimut es. Di ambang pintu besar yang dilapisi emas, seorang pria berdiri.

Duke Alaric Valen.

Dia tidak mengenakan warna-warna cerah seperti bangsawan lainnya. Alaric mengenakan setelan hitam pekat yang kaku, kontras dengan kulitnya yang pucat seputih pualam.

Tubuhnya tinggi tegap, dengan bahu lebar yang seolah-olah mampu memikul kutukan seluruh kerajaan.

Matanya yang berwarna abu-abu baja menyapu ruangan dengan sorot yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah siapa pun yang menatapnya.

“Sang Algojo Hitam dari Utara,” bisik-bisik ketakutan mulai terdengar di antara para tamu.

Alaric berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara naluriah melangkah mundur, memberi jalan seolah ia adalah pemangsa yang sedang melintasi kumpulan domba.

Dia tidak tersenyum. Tidak ada anggukan hormat. Dia bergerak dengan keanggunan yang mematikan.

“Dia datang,” desis Willem dengan nada yang dipenuhi ketakutan sekaligus harapan yang menjijikkan. “Aurelia, berdiri tegak! Jangan menunduk!”

Langkah kaki Alaric berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Aura dingin yang menyertainya membuat bulu kuduk Aurelia meremang.

Pria ini tidak terasa seperti manusia; ia terasa seperti monumen batu yang dipahat dari penderitaan.

Willem membungkuk sangat rendah bahkan hampir mencium lantai. “Yang Mulia Duke Valen, sebuah kehormatan yang tak terhingga Anda berkenan hadir di kediaman kami yang sederhana.”

Alaric tidak menyahut. Ia bahkan tidak melirik Willem. Matanya tertuju sepenuhnya pada Aurelia. Itu bukan tatapan seorang pria yang mengagumi kecantikan wanita.

Tidak ada gairah, tidak ada kehangatan. Alaric menatap Aurelia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cara yang sama seperti seorang pedagang memeriksa kualitas kain.

“Ini putri Anda?” tanya Alaric dengan nada rendah, berat, dan bergema seperti suara gesekan batu di dasar jurang.

“Benar, Yang Mulia. Ini Aurelia,” sahut Willem dengan nada menjilat. “Dia terdidik, murni, dan sangat patuh.”

“Patuh,” Alaric mengulang kata itu dengan nada hambar.

Dia lalu melangkah satu langkah lebih dekat dan memasuki ruang pribadi Aurelia.

“Keindahan adalah investasi yang berisiko, Van Deventer. Biasanya tidak bertahan lama di bawah tekanan.”

Jari Alaric yang mengenakan sarung tangan kulit hitam terangkat, lalu dengan kasar dia mencengkeram dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya lebih dalam.

Aurelia tersentak, napasnya tertahan. Jantungnya berpacu saking takutnya, namun dia menolak untuk menangis di depan pria monster ini.

“S-saya merasa terhormat dengan kehadiran Anda, Yang Mulia,” suara Aurelia bergetar hebat, sebuah kebohongan yang pahit.

Alaric melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang tidak bersih.

Dia mengeluarkan sapu tangan hitam dan mengusap jarinya. “Siapkan dokumennya. Aku tidak suka membuang waktu,” ucap Alaric pada Willem.

Willem tampak seolah baru saja memenangkan lotre kematian. “Tentu, Yang Mulia! Malam ini juga!”

Alaric berbalik dan membiarkan kehadirannya tetap menjadi bayang-bayang yang mengawasi dari sudut. Aurelia merasa lemas. Dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh pingsan.

“Ayah ... apa yang kau lakukan?”

Willem tidak menjawab. Dia justru berjalan menuju tengah aula, memberi isyarat kepada para pemusik untuk berhenti lagi. Dia lalu mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi.

“Hadirin sekalian! Malam ini adalah malam bersejarah bagi keluarga van Deventer. Dengan penuh rasa syukur, saya umumkan bahwa putri saya, Aurelia van Deventer, telah resmi dipinang!”

Gumam kaget pecah seperti badai. Tatapan kasihan dan ejekan menghujam Aurelia.

“Mulai malam ini, Aurelia adalah tunangan dari Yang Mulia Duke Alaric Valen! Pernikahan akan dilangsungkan fajar mendatang!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
astagaaa apa-apaan Willem ini tanpa persetujuan c aurelia main iya-iya ajja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 97. Maafkan Aku

    Alaric meludah ke samping dengan wajah mengeras. “Jika aku tahu dia membawa kutukan pangeran itu, aku sudah membakarnya hidup-hidup di pasar budak tempat aku menemukannya!“Dia bersumpah padaku bahwa dia hanya yatim piatu tanpa asal-usul. Sampaikan pada Raja, bahwa Duke Valen tidak akan membiarkan penipu ini lolos begitu saja. Aku bersumpah akan memberikan hukuman paling berat padanya di penjara bawah tanahku sendiri!”Silas melangkah maju, mencoba mengambil alih kendali. “Tetap saja, Raja menginginkan dia di istana—”“Dengarkan aku, Lord Silas!” potong Alaric dengan suara yang menggelegar penuh otoritas. Ia lalu melangkah mendekati Silas hingga ujung pedangnya menyentuh leher sang inspektur.“Berdasarkan Hukum Otonomi wilayah Utara, seorang Duke memiliki hak absolut untuk mengadili siapa pun yang melakukan pengkhianatan atau penipuan di dalam wilayah hukumnya.“Dia adalah istriku secara sah menurut gereja, maka secara hukum, dia adalah urusanku. Jika kau membawanya sekarang, kau mela

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 96. Ketegangan di Ruang Sidang

    “Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memerintahkannya!” gertak Alaric saat mereka tiba di depan tangga utama.Aurelia nyaris melangkah, namun suara dehaman yang kering dan tajam dari arah belakang menghentikan gerakannya. Lord Silas berdiri di tengah aula, melipat tangannya di balik punggung dengan ekspresi yang sangat puas.“Jangan terburu-buru, Duke Valen,” ujar Silas, suaranya tenang namun mengandung ancaman.“Istrimu, atau haruskah aku menyebutnya subjek hukum Kerajaan harus tetap di sini. Ada sesuatu yang perlu kalian berdua lihat. Sesuatu yang kami bawa langsung dari arsip rahasia Ibukota.”Silas memberi isyarat kepada seorang ajudannya. Sebuah kotak kayu kecil dibuka, dan Silas mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang tepiannya sudah mulai rapuh.Ia berjalan perlahan ke arah Alaric dan Aurelia, lalu membentangkan perkamen itu tepat di hadapan mereka.“Alaric Valen,” Silas menyebut nama itu dengan nada mengejek.“Kau berbohong pada Raja saat kau datang ke istana

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 95. Hidup dan Mati Aurelia

    Alaric menghela napas kasar, suaranya terdengar frustrasi. “Dengarkan aku. Tentang akting kita nanti, semua itu adalah satu-satunya cara untuk mengelabui mata-mata Raja.“Jika mereka memang sudah tahu tentang identitasmu sebagai anak yang hilang dari hutan itu, biarkan saja. Biarkan mereka beranggapan apa pun. Tugasku adalah menjagamu tetap hidup, meski aku harus menjadi iblis di mata rakyatku sendiri.”Aurelia menundukkan kepalanya, sementara jari-jarinya memainkan tali kekang kuda dengan gelisah.“Aku hanya penasaran, siapa orang tuaku sebenarnya? Kenapa kehadiranku begitu mengancam bagi seorang pria yang duduk di takhta tertinggi?“Dan aku merasa sangat bersalah padamu, Alaric. Karena aku, kau menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin menggulingkanmu dari posisi Duke.”Alaric mendengus meremehkan, matanya berkilat penuh harga diri. “Tidak semudah itu bagi mereka untuk menggulingkan seorang Valen. Aku membangun wilayah ini dengan pedang dan darah.“Rakyat Valen lebih takut padaku

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 94. Identitas Asli Aurelia

    Fajar menyingsing di ufuk timur Desa Aris, membasuh ladang-ladang gandum yang layu dengan cahaya keemasan yang pucat.Di depan pondok kecil Nenek Isolde, udara dingin menggigit hingga ke tulang, namun ketegangan yang menggantung di antara mereka jauh lebih dingin daripada embun pagi.Kuda-kuda sudah siap, mendengus pelan sambil menghentakkan kaki ke tanah berlumpur, seolah merasakan kegelisahan para penunggangnya.Alaric berdiri di ambang pintu pondok, menatap Isolde yang tampak jauh lebih tua di bawah cahaya matahari langsung.Wanita tua itu meraih tangan Alaric, lalu meletakkan sebuah benda logam yang dingin dan berat ke telapak tangannya. Itu adalah sebuah liontin perak kusam dengan ukiran lambang keluarga Laurent yang hampir terkikis habis.“Ini milik ayahmu, Alaric. Dia menitipkannya padaku sesaat sebelum prajurit Raja membakar rumah kalian,” bisik Isolde, suaranya gemetar namun tajam. “Buka liontin itu saat kau sudah cukup jauh dari sini.”Alaric membuka liontin itu dengan ibu j

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 93. Akan Kembali ke Kastil

    Alaric membalas pelukan itu sejenak sebelum melepaskannya dengan perlahan.“Jabatan Duke itu bukan hal yang mesti kubanggakan, Nenek. Itu hanyalah topeng besi untuk melindungiku agar aku bisa membalas budi pada mereka yang telah tiada,” ucapnya dengan nada getir.Sesuatu hal yang tidak pernah Alaric banggakan, menjadi seorang duke bukanlah hal yang membuat Alaric hidup dengan tenang. Justru sebaliknya.Isolde menyeka air matanya, lalu pandangannya beralih ke samping Alaric. Ia tertegun melihat sosok wanita yang berdiri di sana.Meskipun mengenakan pakaian lusuh, kecantikan Aurelia tetap memancar, seperti permata yang tersembunyi di dalam lumpur.“Dan siapa wanita cantik ini?” tanya Isolde terpana.“Ini Aurelia. Istriku,” jawab Alaric tegas. “Namun saat ini, statusnya dalam bahaya. Dia dicurigai sebagai musuh kerajaan karena identitasnya yang masih belum jelas. Secara teknis, dia adalah tawanan dalam pengawasanku.”Isolde menoleh ke arah Aurelia, matanya membelalak tak percaya. “Wanita

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 92. Desa Masa Lalu Alaric

    Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah papan kayu penginapan kumuh itu, menyinari debu yang beterbangan di udara pengap.Alaric terjaga dalam posisi tegak, punggungnya masih bersandar pada kursi kayu yang menghadap pintu, belati perak di genggamannya seolah telah menyatu dengan kulitnya.Ia menoleh ke arah Aurelia yang masih terlelap di atas kasur jerami, wajahnya tampak lelah bahkan dalam tidur.Alaric lalu berdiri, mendekati jendela kecil dan menyibak tirai kain yang kotor. Matanya menyipit saat memperhatikan aktivitas di luar.Desa nelayan ini tidak semasing yang ia kira semalam. Ada sesuatu yang akrab dari bentuk atap rumah-rumahnya, dari letak sumur tua di tengah alun-alun, dan dari aroma lumpur sungai yang khas.“Aurelia, bangun,” bisik Alaric dengan suara parau namun mendesak.Aurelia tersentak, matanya terbuka lebar dengan sisa ketakutan dari mimpi buruknya. “Apakah mereka sudah di sini?”“Belum. Tapi aku baru menyadari sesuatu,” Alaric menarik napas panjang, rah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status