Home / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 2. Kontrak di Atas Kertas Perkamen

Share

Bab 2. Kontrak di Atas Kertas Perkamen

Author: Senja Berpena
last update Last Updated: 2026-01-18 12:56:23

“Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”

Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.

Langit tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah di atas kanal-kanal yang tenang, seolah alam pun ikut berkabung atas nasib yang menimpa kediaman Van Deventer.

Di dalam ruang kerja ayahnya yang pengap oleh aroma cerutu dan debu buku-buku tua, Aurelia duduk mematung. Matanya sembab, namun dia tidak lagi memiliki air mata untuk ditumpahkan.

Pintu besar jati itu terbuka dengan debuman pelan namun tegas. Sosok yang masuk membawa hawa dingin yang seolah menyedot seluruh kehangatan dari perapian yang menyala di sudut ruangan.

Duke Alaric Valen muncul, masih dengan setelan hitamnya yang kaku, seolah dia baru saja keluar dari mimpi buruk yang paling pekat.

Di bawah ketiaknya, dia menjepit sebuah map kulit tebal, dan di tangannya terdapat gulungan perkamen yang diikat pita merah darah.

Ayah Aurelia, Willem, yang biasanya meledak-ledak, kini hanya bisa berdiri di sudut ruangan seperti pesuruh yang ketakutan.

“Keluar,” perintah Alaric dengan nada datar.

Willem sempat melirik Aurelia dengan tatapan bersalah yang singkat, yang segera hilang digantikan oleh rasa lega karena dia akan segera terbebas dari jerat utang.

Dia membungkuk rendah dan bergegas keluar, menutup pintu dan meninggalkan putrinya sendirian bersama sang “Algojo Hitam”.

Alaric berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Aurelia. Pria itu tidak duduk. Dia hanya meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja di depan Aurelia dengan gerakan mekanis yang sangat presisi.

“Baca,” perintahnya tegas.

Aurelia menatap kertas perkamen yang kasar itu.

Tulisan tangan di atasnya rapi, tajam, dan miring, mencerminkan kepribadian pemiliknya. “Apa ini?” tanyanya dengan suara serak.

“Syarat dan ketentuan kepemilikanku atas dirimu,” jawab Alaric tanpa emosi.

“Keluargamu berutang tiga ratus ribu gulden pada bank-bank di pelabuhan. Aku telah melunasi semuanya pagi ini. Sebagai gantinya, kau menjadi milikku. Secara hukum, secara fisik, dan secara politik.”

Aurelia membaca baris demi baris. Kalimat-kalimat di sana sangat kejam dalam kejujurannya.

Tidak ada kata 'pernikahan' yang bermakna suci; yang ada hanyalah 'pengalihan aset'. Dia akan menjadi Duchess Valen, namun tugas utamanya adalah mengamankan jalur perdagangan utara.

“Kau memperlakukanku seperti kapal dagang yang kau beli di lelang,” bisik Aurelia sembari menatap pria itu dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan.

Alaric sedikit mencondongkan tubuhnya. Bayangannya yang besar menelan sosok Aurelia yang kecil.

“Karena memang itulah kau, Aurelia. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan dongeng-dongeng romantis. Pernikahan ini adalah transaksi. Kau menyelamatkan nama keluargamu dari tiang gantungan, dan aku mendapatkan bidak yang kubutuhkan di papan catur ini.”

“Apakah kau benar-benar tidak memiliki hati?” Aurelia bertanya dengan tatapan matanya yang menantang meski tubuhnya gemetar. “Setidaknya, apakah aku akan mendapatkan sedikit martabat sebagai istrimu?”

Tiba-tiba, Alaric bergerak secepat kilat. Sebelum Aurelia sempat menghindar, tangan pria itu yang besar dan kuat sudah mencengkeram dagunya.

Cengkeramannya cukup kuat untuk membuat Aurelia meringis kesakitan. Alaric memaksanya mendongak, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

“Dengarkan aku baik-baik, Duchess,” desis Alaric. Suaranya rendah dan penuh ancaman.

“Jangan pernah mengharapkan cinta dariku. Jangan pernah mengharapkan kehangatan, kata-kata manis, atau pelukan di tengah malam.

“Di dalam istanaku, kau akan mendapatkan kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh seluruh harta keluargamu, tapi kau tidak akan mendapatkan jiwaku.”

Dia mempererat cengkeramannya sejenak hingga membuat napas Aurelia tertahan.

“Aku adalah pria yang hidup dalam kegelapan. Jika kau mencoba mencari cahaya di dalam diriku, kau hanya akan buta.

“Peranmu sederhana: berdiri di sampingku saat dibutuhkan, patuhi perintahku tanpa bertanya, dan jangan pernah mencoba masuk ke dalam urusanku. Jika kau melanggar, kau akan tahu mengapa mereka memanggilku Algojo.”

Alaric melepaskan dagu Aurelia dengan gerakan meremehkan. Dia lalu menyodorkan pena bulu yang sudah dicelupkan ke dalam tinta hitam.

Aurelia menatap pena itu seolah-olah itu adalah belati. Dia membayangkan adik-adik perempuannya yang masih kecil akan diusir ke jalanan jika dia menolak ini.

“Cepat, tanda tangan,” desak Alaric dengan nada datarnya.

Dengan napas yang tersengal dan air mata yang jatuh membasahi pipinya, Aurelia meraih pena itu.

Logam pena itu terasa sedingin es. Dia menunduk, melihat namanya yang akan segera bersanding dengan nama Valen.

Tinta hitam itu menggores perkamen dengan suara gesekan yang menyakitkan telinga. Huruf demi huruf terbentuk, mengukir takdirnya ke dalam keabadian yang suram.

Begitu dia selesai, Alaric segera menarik perkamen itu. Dia memeriksanya sebentar, lalu menggulungnya dengan kasar.

“Bagus,” kata Alaric pendek.

Dia bahkan tidak melihat ke arah Aurelia yang kini menelungkupkan wajahnya di meja.

“Kemas barang-barangmu. Kita berangkat ke wilayah Utara dalam dua jam. Aku tidak membawa pelayan tambahan untukmu; kau akan menggunakan apa yang sudah disediakan di kastil.”

Alaric berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak tanpa menoleh. Tangannya mencengkeram gagang pintu jati itu hingga urat-uratnya menonjol.

“Mulai detik ini, kau bukan lagi seorang Van Deventer. Kau adalah milik keluarga Valen. Dan apa pun yang dimiliki Valen, tidak akan pernah bisa lepas, kecuali dalam keadaan mati.”

Aurelia mengangkat kepalanya yang berat dan hanya bisa menatap lirih punggung tegap pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.

Alaric menoleh sedikit dan memberikan senyum miring yang paling tipis dan paling mengerikan yang pernah dilihat Aurelia.

“Kematian pun tidak akan memberimu kebebasan jika aku belum selesai menggunakanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 6. Pesta Para Bangsawan

    “Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.Kalung itu luar biasa besar, dengan batu-batu permata yang dideretkan di atas emas murni seberat hampir satu kilogram.Di telinga Aurelia, anting-anting panjang yang senada menarik cuping telinganya hingga terasa perih, dan di kepalanya, sebuah tiara bertahtakan berlian menekan dahi seolah ingin membelah tengkoraknya.Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak seperti dewi yang sedang dipajang, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata.“Ini terlalu berat, Alaric. Aku sulit bernapas, apalagi untuk berdansa.”“Bernapas bukan prioritasmu malam ini,” sahut Alaric tanpa emosi.Dia kemudian berdiri di belakang Aurelia, mengenakan seragam kebesaran Duke yang kaku dengan medali-medali perang y

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 5. Aturan sang Duke

    “Makanlah, Aurelia. Kau terlihat seperti mayat yang dipakaikan gaun mahal.”Suara Alaric memecah keheningan ruang makan pagi itu. Ruangan itu begitu besar hingga suara denting sendok perak melawan porselen terdengar bergema.Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, namun gagal menghangatkan suasana.Alaric duduk di ujung meja yang jauh, memotong daging asapnya dengan presisi yang mengerikan, sementara Aurelia hanya mampu mengaduk bubur gandumnya tanpa selera.Bekas cengkeraman Alaric semalam masih terasa berdenyut di pergelangan tangannya, tersembunyi di balik manset renda gaun paginya.“Aku kehilangan selera makan sejak menginjakkan kaki di tempat ini,” jawab Aurelia datar, lalu memberanikan diri menatap mata pria itu.Alaric meletakkan pisaunya dengan kasar. Dia mengelap bibirnya dengan serbet linen, lalu mengeluarkan selembar kertas perkamen kecil dari balik saku jas rumahnya.Dia mendorong kertas itu ke atas meja kayu ek yang panjang, hingga meluncur berhen

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 4. Mimpi Buruk Sang Duke?

    “Lepaskan cadarmu, Aurelia. Di sini tidak ada Tuhan yang perlu menyaksikan kemunafikan ini.”Suara Alaric bergema di kapel kecil yang lembap di bawah tanah kastil. Ruangan itu hanya diterangi oleh selusin lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding batu.Tidak ada bunga, tidak ada musik, tidak ada saksi selain seorang pendeta tua yang tangannya gemetar memegang Alkitab dan dua penjaga bersenjata yang berdiri kaku di depan pintu.Aurelia mengangkat tangannya yang dingin lalu menyingkap kain renda tipis yang menutupi wajah pucatnya. Dia menatap Alaric, namun pria itu tidak menatapnya balik.Alaric hanya menatap lurus ke arah salib perak di depan mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seolah-olah dia sedang menantang takdir, bukan sedang mengikat janji suci.Prosedur itu berlangsung singkat, kering, dan tanpa jiwa. Kata-kata “sampai maut memisahkan” keluar dari mulut Alaric seperti sebuah vonis hukuman mati daripada sebuah komitmen.Ketika tiba waktun

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 3. Selamat Datang di Neraka Barumu

    “Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas kota Amsterdam.Jalanan berbatu yang akrab digantikan oleh jalur tanah yang dikelilingi kabut tebal dan pepohonan gundul yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit.Udara musim gugur yang menusuk mulai merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan garam laut dari pantai utara yang liar.Di dalam ruang kereta yang sempit dan berlapis beludru hitam, keheningan terasa begitu berat hingga Aurelia merasa paru-parunya mengecil. Alaric duduk tepat di hadapannya.Pria itu tidak membaca buku, tidak melihat keluar jendela, dan tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 2. Kontrak di Atas Kertas Perkamen

    “Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.Langit tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah di atas kanal-kanal yang tenang, seolah alam pun ikut berkabung atas nasib yang menimpa kediaman Van Deventer.Di dalam ruang kerja ayahnya yang pengap oleh aroma cerutu dan debu buku-buku tua, Aurelia duduk mematung. Matanya sembab, namun dia tidak lagi memiliki air mata untuk ditumpahkan.Pintu besar jati itu terbuka dengan debuman pelan namun tegas. Sosok yang masuk membawa hawa dingin yang seolah menyedot seluruh kehangatan dari perapian yang menyala di sudut ruangan.Duke Alaric Valen muncul, masih dengan setelan hitamnya yang kaku, seolah dia baru saja keluar dari mimpi buruk yang paling pekat.Di bawah ketiaknya, dia menjepit sebuah map kulit tebal, dan di tangannya terdap

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 1. Perjamuan yang Mencekam

    “Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”Aurelia menoleh pelan, tatapan matany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status