LOGIN“Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”
Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.
Langit tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah di atas kanal-kanal yang tenang, seolah alam pun ikut berkabung atas nasib yang menimpa kediaman Van Deventer.
Di dalam ruang kerja ayahnya yang pengap oleh aroma cerutu dan debu buku-buku tua, Aurelia duduk mematung. Matanya sembab, namun dia tidak lagi memiliki air mata untuk ditumpahkan.
Pintu besar jati itu terbuka dengan debuman pelan namun tegas. Sosok yang masuk membawa hawa dingin yang seolah menyedot seluruh kehangatan dari perapian yang menyala di sudut ruangan.
Duke Alaric Valen muncul, masih dengan setelan hitamnya yang kaku, seolah dia baru saja keluar dari mimpi buruk yang paling pekat.
Di bawah ketiaknya, dia menjepit sebuah map kulit tebal, dan di tangannya terdapat gulungan perkamen yang diikat pita merah darah.
Ayah Aurelia, Willem, yang biasanya meledak-ledak, kini hanya bisa berdiri di sudut ruangan seperti pesuruh yang ketakutan.
“Keluar,” perintah Alaric dengan nada datar.
Willem sempat melirik Aurelia dengan tatapan bersalah yang singkat, yang segera hilang digantikan oleh rasa lega karena dia akan segera terbebas dari jerat utang.
Dia membungkuk rendah dan bergegas keluar, menutup pintu dan meninggalkan putrinya sendirian bersama sang “Algojo Hitam”.
Alaric berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Aurelia. Pria itu tidak duduk. Dia hanya meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja di depan Aurelia dengan gerakan mekanis yang sangat presisi.
“Baca,” perintahnya tegas.
Aurelia menatap kertas perkamen yang kasar itu.
Tulisan tangan di atasnya rapi, tajam, dan miring, mencerminkan kepribadian pemiliknya. “Apa ini?” tanyanya dengan suara serak.
“Syarat dan ketentuan kepemilikanku atas dirimu,” jawab Alaric tanpa emosi.
“Keluargamu berutang tiga ratus ribu gulden pada bank-bank di pelabuhan. Aku telah melunasi semuanya pagi ini. Sebagai gantinya, kau menjadi milikku. Secara hukum, secara fisik, dan secara politik.”
Aurelia membaca baris demi baris. Kalimat-kalimat di sana sangat kejam dalam kejujurannya.
Tidak ada kata 'pernikahan' yang bermakna suci; yang ada hanyalah 'pengalihan aset'. Dia akan menjadi Duchess Valen, namun tugas utamanya adalah mengamankan jalur perdagangan utara.
“Kau memperlakukanku seperti kapal dagang yang kau beli di lelang,” bisik Aurelia sembari menatap pria itu dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan.
Alaric sedikit mencondongkan tubuhnya. Bayangannya yang besar menelan sosok Aurelia yang kecil.
“Karena memang itulah kau, Aurelia. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan dongeng-dongeng romantis. Pernikahan ini adalah transaksi. Kau menyelamatkan nama keluargamu dari tiang gantungan, dan aku mendapatkan bidak yang kubutuhkan di papan catur ini.”
“Apakah kau benar-benar tidak memiliki hati?” Aurelia bertanya dengan tatapan matanya yang menantang meski tubuhnya gemetar. “Setidaknya, apakah aku akan mendapatkan sedikit martabat sebagai istrimu?”
Tiba-tiba, Alaric bergerak secepat kilat. Sebelum Aurelia sempat menghindar, tangan pria itu yang besar dan kuat sudah mencengkeram dagunya.
Cengkeramannya cukup kuat untuk membuat Aurelia meringis kesakitan. Alaric memaksanya mendongak, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
“Dengarkan aku baik-baik, Duchess,” desis Alaric. Suaranya rendah dan penuh ancaman.
“Jangan pernah mengharapkan cinta dariku. Jangan pernah mengharapkan kehangatan, kata-kata manis, atau pelukan di tengah malam.
“Di dalam istanaku, kau akan mendapatkan kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh seluruh harta keluargamu, tapi kau tidak akan mendapatkan jiwaku.”
Dia mempererat cengkeramannya sejenak hingga membuat napas Aurelia tertahan.
“Aku adalah pria yang hidup dalam kegelapan. Jika kau mencoba mencari cahaya di dalam diriku, kau hanya akan buta.
“Peranmu sederhana: berdiri di sampingku saat dibutuhkan, patuhi perintahku tanpa bertanya, dan jangan pernah mencoba masuk ke dalam urusanku. Jika kau melanggar, kau akan tahu mengapa mereka memanggilku Algojo.”
Alaric melepaskan dagu Aurelia dengan gerakan meremehkan. Dia lalu menyodorkan pena bulu yang sudah dicelupkan ke dalam tinta hitam.
Aurelia menatap pena itu seolah-olah itu adalah belati. Dia membayangkan adik-adik perempuannya yang masih kecil akan diusir ke jalanan jika dia menolak ini.
“Cepat, tanda tangan,” desak Alaric dengan nada datarnya.
Dengan napas yang tersengal dan air mata yang jatuh membasahi pipinya, Aurelia meraih pena itu.
Logam pena itu terasa sedingin es. Dia menunduk, melihat namanya yang akan segera bersanding dengan nama Valen.
Tinta hitam itu menggores perkamen dengan suara gesekan yang menyakitkan telinga. Huruf demi huruf terbentuk, mengukir takdirnya ke dalam keabadian yang suram.
Begitu dia selesai, Alaric segera menarik perkamen itu. Dia memeriksanya sebentar, lalu menggulungnya dengan kasar.
“Bagus,” kata Alaric pendek.
Dia bahkan tidak melihat ke arah Aurelia yang kini menelungkupkan wajahnya di meja.
“Kemas barang-barangmu. Kita berangkat ke wilayah Utara dalam dua jam. Aku tidak membawa pelayan tambahan untukmu; kau akan menggunakan apa yang sudah disediakan di kastil.”
Alaric berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak tanpa menoleh. Tangannya mencengkeram gagang pintu jati itu hingga urat-uratnya menonjol.
“Mulai detik ini, kau bukan lagi seorang Van Deventer. Kau adalah milik keluarga Valen. Dan apa pun yang dimiliki Valen, tidak akan pernah bisa lepas, kecuali dalam keadaan mati.”
Aurelia mengangkat kepalanya yang berat dan hanya bisa menatap lirih punggung tegap pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Alaric menoleh sedikit dan memberikan senyum miring yang paling tipis dan paling mengerikan yang pernah dilihat Aurelia.
“Kematian pun tidak akan memberimu kebebasan jika aku belum selesai menggunakanmu.”
Alaric meludah ke samping dengan wajah mengeras. “Jika aku tahu dia membawa kutukan pangeran itu, aku sudah membakarnya hidup-hidup di pasar budak tempat aku menemukannya!“Dia bersumpah padaku bahwa dia hanya yatim piatu tanpa asal-usul. Sampaikan pada Raja, bahwa Duke Valen tidak akan membiarkan penipu ini lolos begitu saja. Aku bersumpah akan memberikan hukuman paling berat padanya di penjara bawah tanahku sendiri!”Silas melangkah maju, mencoba mengambil alih kendali. “Tetap saja, Raja menginginkan dia di istana—”“Dengarkan aku, Lord Silas!” potong Alaric dengan suara yang menggelegar penuh otoritas. Ia lalu melangkah mendekati Silas hingga ujung pedangnya menyentuh leher sang inspektur.“Berdasarkan Hukum Otonomi wilayah Utara, seorang Duke memiliki hak absolut untuk mengadili siapa pun yang melakukan pengkhianatan atau penipuan di dalam wilayah hukumnya.“Dia adalah istriku secara sah menurut gereja, maka secara hukum, dia adalah urusanku. Jika kau membawanya sekarang, kau mela
“Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memerintahkannya!” gertak Alaric saat mereka tiba di depan tangga utama.Aurelia nyaris melangkah, namun suara dehaman yang kering dan tajam dari arah belakang menghentikan gerakannya. Lord Silas berdiri di tengah aula, melipat tangannya di balik punggung dengan ekspresi yang sangat puas.“Jangan terburu-buru, Duke Valen,” ujar Silas, suaranya tenang namun mengandung ancaman.“Istrimu, atau haruskah aku menyebutnya subjek hukum Kerajaan harus tetap di sini. Ada sesuatu yang perlu kalian berdua lihat. Sesuatu yang kami bawa langsung dari arsip rahasia Ibukota.”Silas memberi isyarat kepada seorang ajudannya. Sebuah kotak kayu kecil dibuka, dan Silas mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang tepiannya sudah mulai rapuh.Ia berjalan perlahan ke arah Alaric dan Aurelia, lalu membentangkan perkamen itu tepat di hadapan mereka.“Alaric Valen,” Silas menyebut nama itu dengan nada mengejek.“Kau berbohong pada Raja saat kau datang ke istana
Alaric menghela napas kasar, suaranya terdengar frustrasi. “Dengarkan aku. Tentang akting kita nanti, semua itu adalah satu-satunya cara untuk mengelabui mata-mata Raja.“Jika mereka memang sudah tahu tentang identitasmu sebagai anak yang hilang dari hutan itu, biarkan saja. Biarkan mereka beranggapan apa pun. Tugasku adalah menjagamu tetap hidup, meski aku harus menjadi iblis di mata rakyatku sendiri.”Aurelia menundukkan kepalanya, sementara jari-jarinya memainkan tali kekang kuda dengan gelisah.“Aku hanya penasaran, siapa orang tuaku sebenarnya? Kenapa kehadiranku begitu mengancam bagi seorang pria yang duduk di takhta tertinggi?“Dan aku merasa sangat bersalah padamu, Alaric. Karena aku, kau menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin menggulingkanmu dari posisi Duke.”Alaric mendengus meremehkan, matanya berkilat penuh harga diri. “Tidak semudah itu bagi mereka untuk menggulingkan seorang Valen. Aku membangun wilayah ini dengan pedang dan darah.“Rakyat Valen lebih takut padaku
Fajar menyingsing di ufuk timur Desa Aris, membasuh ladang-ladang gandum yang layu dengan cahaya keemasan yang pucat.Di depan pondok kecil Nenek Isolde, udara dingin menggigit hingga ke tulang, namun ketegangan yang menggantung di antara mereka jauh lebih dingin daripada embun pagi.Kuda-kuda sudah siap, mendengus pelan sambil menghentakkan kaki ke tanah berlumpur, seolah merasakan kegelisahan para penunggangnya.Alaric berdiri di ambang pintu pondok, menatap Isolde yang tampak jauh lebih tua di bawah cahaya matahari langsung.Wanita tua itu meraih tangan Alaric, lalu meletakkan sebuah benda logam yang dingin dan berat ke telapak tangannya. Itu adalah sebuah liontin perak kusam dengan ukiran lambang keluarga Laurent yang hampir terkikis habis.“Ini milik ayahmu, Alaric. Dia menitipkannya padaku sesaat sebelum prajurit Raja membakar rumah kalian,” bisik Isolde, suaranya gemetar namun tajam. “Buka liontin itu saat kau sudah cukup jauh dari sini.”Alaric membuka liontin itu dengan ibu j
Alaric membalas pelukan itu sejenak sebelum melepaskannya dengan perlahan.“Jabatan Duke itu bukan hal yang mesti kubanggakan, Nenek. Itu hanyalah topeng besi untuk melindungiku agar aku bisa membalas budi pada mereka yang telah tiada,” ucapnya dengan nada getir.Sesuatu hal yang tidak pernah Alaric banggakan, menjadi seorang duke bukanlah hal yang membuat Alaric hidup dengan tenang. Justru sebaliknya.Isolde menyeka air matanya, lalu pandangannya beralih ke samping Alaric. Ia tertegun melihat sosok wanita yang berdiri di sana.Meskipun mengenakan pakaian lusuh, kecantikan Aurelia tetap memancar, seperti permata yang tersembunyi di dalam lumpur.“Dan siapa wanita cantik ini?” tanya Isolde terpana.“Ini Aurelia. Istriku,” jawab Alaric tegas. “Namun saat ini, statusnya dalam bahaya. Dia dicurigai sebagai musuh kerajaan karena identitasnya yang masih belum jelas. Secara teknis, dia adalah tawanan dalam pengawasanku.”Isolde menoleh ke arah Aurelia, matanya membelalak tak percaya. “Wanita
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah papan kayu penginapan kumuh itu, menyinari debu yang beterbangan di udara pengap.Alaric terjaga dalam posisi tegak, punggungnya masih bersandar pada kursi kayu yang menghadap pintu, belati perak di genggamannya seolah telah menyatu dengan kulitnya.Ia menoleh ke arah Aurelia yang masih terlelap di atas kasur jerami, wajahnya tampak lelah bahkan dalam tidur.Alaric lalu berdiri, mendekati jendela kecil dan menyibak tirai kain yang kotor. Matanya menyipit saat memperhatikan aktivitas di luar.Desa nelayan ini tidak semasing yang ia kira semalam. Ada sesuatu yang akrab dari bentuk atap rumah-rumahnya, dari letak sumur tua di tengah alun-alun, dan dari aroma lumpur sungai yang khas.“Aurelia, bangun,” bisik Alaric dengan suara parau namun mendesak.Aurelia tersentak, matanya terbuka lebar dengan sisa ketakutan dari mimpi buruknya. “Apakah mereka sudah di sini?”“Belum. Tapi aku baru menyadari sesuatu,” Alaric menarik napas panjang, rah






