LOGIN“Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”
Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.
Kalung itu luar biasa besar, dengan batu-batu permata yang dideretkan di atas emas murni seberat hampir satu kilogram.
Di telinga Aurelia, anting-anting panjang yang senada menarik cuping telinganya hingga terasa perih, dan di kepalanya, sebuah tiara bertahtakan berlian menekan dahi seolah ingin membelah tengkoraknya.
Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak seperti dewi yang sedang dipajang, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata.
“Ini terlalu berat, Alaric. Aku sulit bernapas, apalagi untuk berdansa.”
“Bernapas bukan prioritasmu malam ini,” sahut Alaric tanpa emosi.
Dia kemudian berdiri di belakang Aurelia, mengenakan seragam kebesaran Duke yang kaku dengan medali-medali perang yang berkilau.
“Tugasmu adalah menunjukkan pada seluruh bangsawan Belanda bahwa aku tidak membeli barang rongsokan. Kau adalah perhiasanku. Dan perhiasan tidak boleh terlihat lemah.”
**
Kereta kuda membawa mereka ke kediaman Count van der Berg, tempat para elit Amsterdam berkumpul dalam sebuah perjamuan yang dipenuhi kemunafikan.
Begitu pintu aula dibuka dan nama mereka diumumkan, sontak seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Duke dan Duchess Valen!”
Aurelia melangkah masuk dan tangannya bertumpu kaku pada lengan Alaric.
Setiap langkahnya terasa seperti siksaan; beban perhiasan itu membuatnya ingin membungkuk, namun cengkeraman tangan Alaric pada jemarinya memaksanya untuk tetap tegak.
Dia merasa ribuan pasang mata menghujamnya. Bisik-bisik mulai merayap di balik kipas-kipas sutra.
“Lihat itu ... putri Van Deventer yang malang,” bisik seorang Baroness dengan nada meremehkan yang disengaja.
“Kudengar ayahnya menjualnya untuk membayar utang judi dan kapal karam. Sungguh menyedihkan, memakai berlian sebesar itu di atas kulit seorang pengemis.”
Aurelia menunduk sementara pipinya memanas. Rasa malu itu lebih menyakitkan daripada berat tiara di kepalanya.
Dia tahu semua orang di ruangan ini tahu tentang kebangkrutan ayahnya. Dia merasa seperti badut yang dipakaikan kostum ratu.
Mereka berhenti di tengah kerumunan bangsawan yang sedang memegang gelas kristal berisi champagne.
Seorang Marquis bertubuh tambun dengan wajah kemerahan mendekat, menatap Aurelia dengan pandangan lapar yang menjijikkan.
“Ah, Duke Valen. Anda memiliki selera yang unik,” ucap Marquis itu sambil tertawa kecil, suaranya cukup keras untuk didengar orang di sekitar.
“Tapi bukankah berbahaya membawa bunga yang tumbuh di rawa-rawa ke taman istana? Aku khawatir bau kemiskinan Van Deventer tidak bisa ditutupi bahkan oleh parfum Prancis terbaik sekalipun.”
Tawa kecil pecah di sekeliling mereka. Aurelia meremas lengan Alaric, berharap suaminya akan membawanya pergi dari penghinaan ini. Namun, tubuh Alaric tetap kaku seperti patung.
“Kudengar,” lanjut Marquis itu dan semakin berani melihat keterdiaman Alaric.
“Bahwa keluarga Van Deventer bahkan memalsukan silsilah mereka demi menutupi fakta bahwa kakek mereka hanyalah seorang pelaut mabuk. Benarkah itu, Duchess? Atau haruskah aku memanggilmu 'Nona Kecil Penolong Utang'?”
Aurelia merasakan air mata mulai menggenang. Dia ingin membalas, tapi lidahnya kelu oleh tekanan sosial yang menghimpit. Tepat saat dia mengira Alaric akan membiarkannya hancur, sebuah gerakan tiba-tiba terjadi.
Dengan satu sentakan yang posesif, Alaric menarik pinggang Aurelia dan merapatkan tubuh gadis itu ke dadanya yang bidang.
Cengkeramannya begitu kuat hingga Aurelia terkesiap. Alaric melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan sang Marquis hingga pria tambun itu harus mendongak ketakutan.
“Marquis,” suara Alaric rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti vonis dari lubang kubur.
“Aku tidak tahu bahwa mulutmu lebih kotor daripada selokan di dermaga Amsterdam.”
Suasana pesta mendadak membeku. Musik di latar belakang seolah memudar.
“Keluarga Van Deventer mungkin mengalami kesulitan finansial,” lanjut Alaric, matanya yang abu-abu baja itu berkilat dengan niat membunuh yang nyata.
“Tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki meski kau menjual seluruh hartamu: mereka memiliki aku sebagai pelindung mereka. Dan wanita ini ....”
Alaric menekan jarinya ke pinggang Aurelia, “...adalah Duchess Valen. Menghinanya sama saja dengan meludahi bendera perangkku.”
Alaric melirik gelas anggur di tangan sang Marquis. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, dia menepis gelas itu hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer.
“Jika sekali lagi aku mendengar suara babi keluar dari mulutmu tentang istriku,” bisik Alaric dengan sangat tenang namun mematikan.
“Aku akan memastikan bahwa satu-satunya hal yang tersisa dari silsilah keluargamu adalah nisan tanpa nama di tanah pembuangan. Pergi dari hadapanku sebelum aku memutuskan bahwa lantai ini butuh warna merah dari darahmu.”
Marquis itu pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya dia membungkuk panik dan melarikan diri dari aula.
Para bangsawan lain segera membuang muka, pura-pura sibuk dengan percakapan mereka sendiri, ketakutan akan kemarahan sang Algojo Hitam.
Aurelia menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut pada Marquis, tapi karena kedekatan fisik Alaric yang luar biasa intens.
Untuk pertama kalinya, dia merasa dilindungi. Tapi, apakah ini cinta? Ataukah hanya bentuk proteksi seorang pria terhadap barang miliknya yang tidak boleh diganggu orang lain?
“Kenapa ...,” bisik Aurelia saat Alaric membimbingnya menjauh menuju balkon yang sepi. “Kenapa Anda melakukan itu? Anda bilang aku hanya properti. Anda bilang Anda tidak peduli.”
Mereka sampai di balkon yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang memantul di laut utara yang ganas di bawah sana.
Alaric melepaskan pegangannya, lalu berdiri membelakangi Aurelia dan menatap ombak yang berdebur.
“Kau memang properti, Aurelia,” jawab Alaric dingin, tanpa menoleh.
“Dan aku adalah pemilik yang sangat egois. Aku tidak suka jika orang lain merusak atau merendahkan apa yang sudah kubeli dengan harga mahal.”
Aurelia melangkah mendekat bahkan rasa penasarannya itu mengalahkan rasa takutnya.
“Hanya itu? Hanya karena ego? Anda terlihat sangat marah tadi. Seolah-olah Anda benar-benar peduli.”
Alaric berbalik dengan cepat. Sebelum Aurelia bisa bereaksi, Alaric sudah berada di depannya, mengurung tubuh mungil Aurelia di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pagar balkon.
Dia membungkuk dan wajahnya hanya berjarak satu inci dari telinga Aurelia. Hawa dingin dari laut bercampur dengan panas napas Alaric yang memabukkan.
Aurelia bisa merasakan kalung beratnya beradu dengan kancing seragam Alaric.
Keheningan di antara mereka terasa sangat menyesakkan, dipenuhi oleh ketegangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sebuah tarikan magnetis yang berbahaya.
“Jangan pernah salah mengartikan perlindunganku sebagai kasih sayang, Aurelia,” bisik Alaric dengan suara serak dan sangat rendah, bahkan berhasil membuat bulu kuduk Aurelia meremang hingga ke tulang.
Tangan Alaric naik, lalu jemarinya yang kasar mengusap rahang Aurelia dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian, namun terasa seperti ancaman.
Dia menekan ibu jarinya ke bibir bawah Aurelia, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
“Aku membelamu karena kau adalah milikku untuk dihancurkan, bukan milik mereka,” desis Alaric tepat di telinga Aurelia.
“Ingatlah ini baik-baik sebelum kau mulai bermimpi tentang cinta. Di dunia ini, hanya aku yang boleh membuatmu menangis. Hanya aku yang boleh menghancurkanmu.”
“Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.Kalung itu luar biasa besar, dengan batu-batu permata yang dideretkan di atas emas murni seberat hampir satu kilogram.Di telinga Aurelia, anting-anting panjang yang senada menarik cuping telinganya hingga terasa perih, dan di kepalanya, sebuah tiara bertahtakan berlian menekan dahi seolah ingin membelah tengkoraknya.Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak seperti dewi yang sedang dipajang, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata.“Ini terlalu berat, Alaric. Aku sulit bernapas, apalagi untuk berdansa.”“Bernapas bukan prioritasmu malam ini,” sahut Alaric tanpa emosi.Dia kemudian berdiri di belakang Aurelia, mengenakan seragam kebesaran Duke yang kaku dengan medali-medali perang y
“Makanlah, Aurelia. Kau terlihat seperti mayat yang dipakaikan gaun mahal.”Suara Alaric memecah keheningan ruang makan pagi itu. Ruangan itu begitu besar hingga suara denting sendok perak melawan porselen terdengar bergema.Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, namun gagal menghangatkan suasana.Alaric duduk di ujung meja yang jauh, memotong daging asapnya dengan presisi yang mengerikan, sementara Aurelia hanya mampu mengaduk bubur gandumnya tanpa selera.Bekas cengkeraman Alaric semalam masih terasa berdenyut di pergelangan tangannya, tersembunyi di balik manset renda gaun paginya.“Aku kehilangan selera makan sejak menginjakkan kaki di tempat ini,” jawab Aurelia datar, lalu memberanikan diri menatap mata pria itu.Alaric meletakkan pisaunya dengan kasar. Dia mengelap bibirnya dengan serbet linen, lalu mengeluarkan selembar kertas perkamen kecil dari balik saku jas rumahnya.Dia mendorong kertas itu ke atas meja kayu ek yang panjang, hingga meluncur berhen
“Lepaskan cadarmu, Aurelia. Di sini tidak ada Tuhan yang perlu menyaksikan kemunafikan ini.”Suara Alaric bergema di kapel kecil yang lembap di bawah tanah kastil. Ruangan itu hanya diterangi oleh selusin lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding batu.Tidak ada bunga, tidak ada musik, tidak ada saksi selain seorang pendeta tua yang tangannya gemetar memegang Alkitab dan dua penjaga bersenjata yang berdiri kaku di depan pintu.Aurelia mengangkat tangannya yang dingin lalu menyingkap kain renda tipis yang menutupi wajah pucatnya. Dia menatap Alaric, namun pria itu tidak menatapnya balik.Alaric hanya menatap lurus ke arah salib perak di depan mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seolah-olah dia sedang menantang takdir, bukan sedang mengikat janji suci.Prosedur itu berlangsung singkat, kering, dan tanpa jiwa. Kata-kata “sampai maut memisahkan” keluar dari mulut Alaric seperti sebuah vonis hukuman mati daripada sebuah komitmen.Ketika tiba waktun
“Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas kota Amsterdam.Jalanan berbatu yang akrab digantikan oleh jalur tanah yang dikelilingi kabut tebal dan pepohonan gundul yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit.Udara musim gugur yang menusuk mulai merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan garam laut dari pantai utara yang liar.Di dalam ruang kereta yang sempit dan berlapis beludru hitam, keheningan terasa begitu berat hingga Aurelia merasa paru-parunya mengecil. Alaric duduk tepat di hadapannya.Pria itu tidak membaca buku, tidak melihat keluar jendela, dan tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata
“Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.Langit tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah di atas kanal-kanal yang tenang, seolah alam pun ikut berkabung atas nasib yang menimpa kediaman Van Deventer.Di dalam ruang kerja ayahnya yang pengap oleh aroma cerutu dan debu buku-buku tua, Aurelia duduk mematung. Matanya sembab, namun dia tidak lagi memiliki air mata untuk ditumpahkan.Pintu besar jati itu terbuka dengan debuman pelan namun tegas. Sosok yang masuk membawa hawa dingin yang seolah menyedot seluruh kehangatan dari perapian yang menyala di sudut ruangan.Duke Alaric Valen muncul, masih dengan setelan hitamnya yang kaku, seolah dia baru saja keluar dari mimpi buruk yang paling pekat.Di bawah ketiaknya, dia menjepit sebuah map kulit tebal, dan di tangannya terdap
“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”Aurelia menoleh pelan, tatapan matany







