Beranda / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 6. Pesta Para Bangsawan

Share

Bab 6. Pesta Para Bangsawan

Penulis: Senja Berpena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 13:38:59

“Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”

Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.

Kalung itu luar biasa besar, dengan batu-batu permata yang dideretkan di atas emas murni seberat hampir satu kilogram.

Di telinga Aurelia, anting-anting panjang yang senada menarik cuping telinganya hingga terasa perih, dan di kepalanya, sebuah tiara bertahtakan berlian menekan dahi seolah ingin membelah tengkoraknya.

Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak seperti dewi yang sedang dipajang, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata.

“Ini terlalu berat, Alaric. Aku sulit bernapas, apalagi untuk berdansa.”

“Bernapas bukan prioritasmu malam ini,” sahut Alaric tanpa emosi.

Dia kemudian berdiri di belakang Aurelia, mengenakan seragam kebesaran Duke yang kaku dengan medali-medali perang yang berkilau.

“Tugasmu adalah menunjukkan pada seluruh bangsawan Belanda bahwa aku tidak membeli barang rongsokan. Kau adalah perhiasanku. Dan perhiasan tidak boleh terlihat lemah.”

**

Kereta kuda membawa mereka ke kediaman Count van der Berg, tempat para elit Amsterdam berkumpul dalam sebuah perjamuan yang dipenuhi kemunafikan.

Begitu pintu aula dibuka dan nama mereka diumumkan, sontak seluruh ruangan mendadak sunyi.

“Duke dan Duchess Valen!”

Aurelia melangkah masuk dan tangannya bertumpu kaku pada lengan Alaric.

Setiap langkahnya terasa seperti siksaan; beban perhiasan itu membuatnya ingin membungkuk, namun cengkeraman tangan Alaric pada jemarinya memaksanya untuk tetap tegak.

Dia merasa ribuan pasang mata menghujamnya. Bisik-bisik mulai merayap di balik kipas-kipas sutra.

“Lihat itu ... putri Van Deventer yang malang,” bisik seorang Baroness dengan nada meremehkan yang disengaja.

“Kudengar ayahnya menjualnya untuk membayar utang judi dan kapal karam. Sungguh menyedihkan, memakai berlian sebesar itu di atas kulit seorang pengemis.”

Aurelia menunduk sementara pipinya memanas. Rasa malu itu lebih menyakitkan daripada berat tiara di kepalanya.

Dia tahu semua orang di ruangan ini tahu tentang kebangkrutan ayahnya. Dia merasa seperti badut yang dipakaikan kostum ratu.

Mereka berhenti di tengah kerumunan bangsawan yang sedang memegang gelas kristal berisi champagne.

Seorang Marquis bertubuh tambun dengan wajah kemerahan mendekat, menatap Aurelia dengan pandangan lapar yang menjijikkan.

“Ah, Duke Valen. Anda memiliki selera yang unik,” ucap Marquis itu sambil tertawa kecil, suaranya cukup keras untuk didengar orang di sekitar.

“Tapi bukankah berbahaya membawa bunga yang tumbuh di rawa-rawa ke taman istana? Aku khawatir bau kemiskinan Van Deventer tidak bisa ditutupi bahkan oleh parfum Prancis terbaik sekalipun.”

Tawa kecil pecah di sekeliling mereka. Aurelia meremas lengan Alaric, berharap suaminya akan membawanya pergi dari penghinaan ini. Namun, tubuh Alaric tetap kaku seperti patung.

“Kudengar,” lanjut Marquis itu dan semakin berani melihat keterdiaman Alaric.

“Bahwa keluarga Van Deventer bahkan memalsukan silsilah mereka demi menutupi fakta bahwa kakek mereka hanyalah seorang pelaut mabuk. Benarkah itu, Duchess? Atau haruskah aku memanggilmu 'Nona Kecil Penolong Utang'?”

Aurelia merasakan air mata mulai menggenang. Dia ingin membalas, tapi lidahnya kelu oleh tekanan sosial yang menghimpit. Tepat saat dia mengira Alaric akan membiarkannya hancur, sebuah gerakan tiba-tiba terjadi.

Dengan satu sentakan yang posesif, Alaric menarik pinggang Aurelia dan merapatkan tubuh gadis itu ke dadanya yang bidang.

Cengkeramannya begitu kuat hingga Aurelia terkesiap. Alaric melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan sang Marquis hingga pria tambun itu harus mendongak ketakutan.

“Marquis,” suara Alaric rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti vonis dari lubang kubur.

“Aku tidak tahu bahwa mulutmu lebih kotor daripada selokan di dermaga Amsterdam.”

Suasana pesta mendadak membeku. Musik di latar belakang seolah memudar.

“Keluarga Van Deventer mungkin mengalami kesulitan finansial,” lanjut Alaric, matanya yang abu-abu baja itu berkilat dengan niat membunuh yang nyata.

“Tapi mereka memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki meski kau menjual seluruh hartamu: mereka memiliki aku sebagai pelindung mereka. Dan wanita ini ....”

Alaric menekan jarinya ke pinggang Aurelia, “...adalah Duchess Valen. Menghinanya sama saja dengan meludahi bendera perangkku.”

Alaric melirik gelas anggur di tangan sang Marquis. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, dia menepis gelas itu hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer.

“Jika sekali lagi aku mendengar suara babi keluar dari mulutmu tentang istriku,” bisik Alaric dengan sangat tenang namun mematikan.

“Aku akan memastikan bahwa satu-satunya hal yang tersisa dari silsilah keluargamu adalah nisan tanpa nama di tanah pembuangan. Pergi dari hadapanku sebelum aku memutuskan bahwa lantai ini butuh warna merah dari darahmu.”

Marquis itu pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya dia membungkuk panik dan melarikan diri dari aula.

Para bangsawan lain segera membuang muka, pura-pura sibuk dengan percakapan mereka sendiri, ketakutan akan kemarahan sang Algojo Hitam.

Aurelia menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut pada Marquis, tapi karena kedekatan fisik Alaric yang luar biasa intens.

Untuk pertama kalinya, dia merasa dilindungi. Tapi, apakah ini cinta? Ataukah hanya bentuk proteksi seorang pria terhadap barang miliknya yang tidak boleh diganggu orang lain?

“Kenapa ...,” bisik Aurelia saat Alaric membimbingnya menjauh menuju balkon yang sepi. “Kenapa Anda melakukan itu? Anda bilang aku hanya properti. Anda bilang Anda tidak peduli.”

Mereka sampai di balkon yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang memantul di laut utara yang ganas di bawah sana.

Alaric melepaskan pegangannya, lalu berdiri membelakangi Aurelia dan menatap ombak yang berdebur.

“Kau memang properti, Aurelia,” jawab Alaric dingin, tanpa menoleh.

“Dan aku adalah pemilik yang sangat egois. Aku tidak suka jika orang lain merusak atau merendahkan apa yang sudah kubeli dengan harga mahal.”

Aurelia melangkah mendekat bahkan rasa penasarannya itu mengalahkan rasa takutnya.

“Hanya itu? Hanya karena ego? Anda terlihat sangat marah tadi. Seolah-olah Anda benar-benar peduli.”

Alaric berbalik dengan cepat. Sebelum Aurelia bisa bereaksi, Alaric sudah berada di depannya, mengurung tubuh mungil Aurelia di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pagar balkon.

Dia membungkuk dan wajahnya hanya berjarak satu inci dari telinga Aurelia. Hawa dingin dari laut bercampur dengan panas napas Alaric yang memabukkan.

Aurelia bisa merasakan kalung beratnya beradu dengan kancing seragam Alaric.

Keheningan di antara mereka terasa sangat menyesakkan, dipenuhi oleh ketegangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sebuah tarikan magnetis yang berbahaya.

“Jangan pernah salah mengartikan perlindunganku sebagai kasih sayang, Aurelia,” bisik Alaric dengan suara serak dan sangat rendah, bahkan berhasil membuat bulu kuduk Aurelia meremang hingga ke tulang.

Tangan Alaric naik, lalu jemarinya yang kasar mengusap rahang Aurelia dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian, namun terasa seperti ancaman.

Dia menekan ibu jarinya ke bibir bawah Aurelia, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

“Aku membelamu karena kau adalah milikku untuk dihancurkan, bukan milik mereka,” desis Alaric tepat di telinga Aurelia.

“Ingatlah ini baik-baik sebelum kau mulai bermimpi tentang cinta. Di dunia ini, hanya aku yang boleh membuatmu menangis. Hanya aku yang boleh menghancurkanmu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
wieanton
duh itu mulut duke bikin gemes banget
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
c alaric kejam banget .kirain gak bakalan mengeluarkan kata-kata pedas lagi sesudah membela c aurelia ehh tetap ajja. omongannya bikin jleb
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 97. Maafkan Aku

    Alaric meludah ke samping dengan wajah mengeras. “Jika aku tahu dia membawa kutukan pangeran itu, aku sudah membakarnya hidup-hidup di pasar budak tempat aku menemukannya!“Dia bersumpah padaku bahwa dia hanya yatim piatu tanpa asal-usul. Sampaikan pada Raja, bahwa Duke Valen tidak akan membiarkan penipu ini lolos begitu saja. Aku bersumpah akan memberikan hukuman paling berat padanya di penjara bawah tanahku sendiri!”Silas melangkah maju, mencoba mengambil alih kendali. “Tetap saja, Raja menginginkan dia di istana—”“Dengarkan aku, Lord Silas!” potong Alaric dengan suara yang menggelegar penuh otoritas. Ia lalu melangkah mendekati Silas hingga ujung pedangnya menyentuh leher sang inspektur.“Berdasarkan Hukum Otonomi wilayah Utara, seorang Duke memiliki hak absolut untuk mengadili siapa pun yang melakukan pengkhianatan atau penipuan di dalam wilayah hukumnya.“Dia adalah istriku secara sah menurut gereja, maka secara hukum, dia adalah urusanku. Jika kau membawanya sekarang, kau mela

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 96. Ketegangan di Ruang Sidang

    “Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memerintahkannya!” gertak Alaric saat mereka tiba di depan tangga utama.Aurelia nyaris melangkah, namun suara dehaman yang kering dan tajam dari arah belakang menghentikan gerakannya. Lord Silas berdiri di tengah aula, melipat tangannya di balik punggung dengan ekspresi yang sangat puas.“Jangan terburu-buru, Duke Valen,” ujar Silas, suaranya tenang namun mengandung ancaman.“Istrimu, atau haruskah aku menyebutnya subjek hukum Kerajaan harus tetap di sini. Ada sesuatu yang perlu kalian berdua lihat. Sesuatu yang kami bawa langsung dari arsip rahasia Ibukota.”Silas memberi isyarat kepada seorang ajudannya. Sebuah kotak kayu kecil dibuka, dan Silas mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang tepiannya sudah mulai rapuh.Ia berjalan perlahan ke arah Alaric dan Aurelia, lalu membentangkan perkamen itu tepat di hadapan mereka.“Alaric Valen,” Silas menyebut nama itu dengan nada mengejek.“Kau berbohong pada Raja saat kau datang ke istana

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 95. Hidup dan Mati Aurelia

    Alaric menghela napas kasar, suaranya terdengar frustrasi. “Dengarkan aku. Tentang akting kita nanti, semua itu adalah satu-satunya cara untuk mengelabui mata-mata Raja.“Jika mereka memang sudah tahu tentang identitasmu sebagai anak yang hilang dari hutan itu, biarkan saja. Biarkan mereka beranggapan apa pun. Tugasku adalah menjagamu tetap hidup, meski aku harus menjadi iblis di mata rakyatku sendiri.”Aurelia menundukkan kepalanya, sementara jari-jarinya memainkan tali kekang kuda dengan gelisah.“Aku hanya penasaran, siapa orang tuaku sebenarnya? Kenapa kehadiranku begitu mengancam bagi seorang pria yang duduk di takhta tertinggi?“Dan aku merasa sangat bersalah padamu, Alaric. Karena aku, kau menjadi sasaran empuk bagi mereka yang ingin menggulingkanmu dari posisi Duke.”Alaric mendengus meremehkan, matanya berkilat penuh harga diri. “Tidak semudah itu bagi mereka untuk menggulingkan seorang Valen. Aku membangun wilayah ini dengan pedang dan darah.“Rakyat Valen lebih takut padaku

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 94. Identitas Asli Aurelia

    Fajar menyingsing di ufuk timur Desa Aris, membasuh ladang-ladang gandum yang layu dengan cahaya keemasan yang pucat.Di depan pondok kecil Nenek Isolde, udara dingin menggigit hingga ke tulang, namun ketegangan yang menggantung di antara mereka jauh lebih dingin daripada embun pagi.Kuda-kuda sudah siap, mendengus pelan sambil menghentakkan kaki ke tanah berlumpur, seolah merasakan kegelisahan para penunggangnya.Alaric berdiri di ambang pintu pondok, menatap Isolde yang tampak jauh lebih tua di bawah cahaya matahari langsung.Wanita tua itu meraih tangan Alaric, lalu meletakkan sebuah benda logam yang dingin dan berat ke telapak tangannya. Itu adalah sebuah liontin perak kusam dengan ukiran lambang keluarga Laurent yang hampir terkikis habis.“Ini milik ayahmu, Alaric. Dia menitipkannya padaku sesaat sebelum prajurit Raja membakar rumah kalian,” bisik Isolde, suaranya gemetar namun tajam. “Buka liontin itu saat kau sudah cukup jauh dari sini.”Alaric membuka liontin itu dengan ibu j

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 93. Akan Kembali ke Kastil

    Alaric membalas pelukan itu sejenak sebelum melepaskannya dengan perlahan.“Jabatan Duke itu bukan hal yang mesti kubanggakan, Nenek. Itu hanyalah topeng besi untuk melindungiku agar aku bisa membalas budi pada mereka yang telah tiada,” ucapnya dengan nada getir.Sesuatu hal yang tidak pernah Alaric banggakan, menjadi seorang duke bukanlah hal yang membuat Alaric hidup dengan tenang. Justru sebaliknya.Isolde menyeka air matanya, lalu pandangannya beralih ke samping Alaric. Ia tertegun melihat sosok wanita yang berdiri di sana.Meskipun mengenakan pakaian lusuh, kecantikan Aurelia tetap memancar, seperti permata yang tersembunyi di dalam lumpur.“Dan siapa wanita cantik ini?” tanya Isolde terpana.“Ini Aurelia. Istriku,” jawab Alaric tegas. “Namun saat ini, statusnya dalam bahaya. Dia dicurigai sebagai musuh kerajaan karena identitasnya yang masih belum jelas. Secara teknis, dia adalah tawanan dalam pengawasanku.”Isolde menoleh ke arah Aurelia, matanya membelalak tak percaya. “Wanita

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 92. Desa Masa Lalu Alaric

    Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah papan kayu penginapan kumuh itu, menyinari debu yang beterbangan di udara pengap.Alaric terjaga dalam posisi tegak, punggungnya masih bersandar pada kursi kayu yang menghadap pintu, belati perak di genggamannya seolah telah menyatu dengan kulitnya.Ia menoleh ke arah Aurelia yang masih terlelap di atas kasur jerami, wajahnya tampak lelah bahkan dalam tidur.Alaric lalu berdiri, mendekati jendela kecil dan menyibak tirai kain yang kotor. Matanya menyipit saat memperhatikan aktivitas di luar.Desa nelayan ini tidak semasing yang ia kira semalam. Ada sesuatu yang akrab dari bentuk atap rumah-rumahnya, dari letak sumur tua di tengah alun-alun, dan dari aroma lumpur sungai yang khas.“Aurelia, bangun,” bisik Alaric dengan suara parau namun mendesak.Aurelia tersentak, matanya terbuka lebar dengan sisa ketakutan dari mimpi buruknya. “Apakah mereka sudah di sini?”“Belum. Tapi aku baru menyadari sesuatu,” Alaric menarik napas panjang, rah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status