INICIAR SESIÓN“Makanlah, Aurelia. Kau terlihat seperti mayat yang dipakaikan gaun mahal.”
Suara Alaric memecah keheningan ruang makan pagi itu. Ruangan itu begitu besar hingga suara denting sendok perak melawan porselen terdengar bergema.
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, namun gagal menghangatkan suasana.
Alaric duduk di ujung meja yang jauh, memotong daging asapnya dengan presisi yang mengerikan, sementara Aurelia hanya mampu mengaduk bubur gandumnya tanpa selera.
Bekas cengkeraman Alaric semalam masih terasa berdenyut di pergelangan tangannya, tersembunyi di balik manset renda gaun paginya.
“Aku kehilangan selera makan sejak menginjakkan kaki di tempat ini,” jawab Aurelia datar, lalu memberanikan diri menatap mata pria itu.
Alaric meletakkan pisaunya dengan kasar. Dia mengelap bibirnya dengan serbet linen, lalu mengeluarkan selembar kertas perkamen kecil dari balik saku jas rumahnya.
Dia mendorong kertas itu ke atas meja kayu ek yang panjang, hingga meluncur berhenti tepat di depan piring Aurelia.
“Aturan baru untuk kehidupan barumu,” ucap Alaric dingin.
Aurelia mengambil kertas itu. Isinya singkat namun mencekik: Dilarang memasuki Sayap Barat kastil dalam kondisi apa pun. Dilarang mengirim atau menerima surat tanpa pemeriksaan Duke. Dilarang meninggalkan area kastil tanpa pengawalan.
Darah Aurelia mendidih. Dia menghempaskan kertas itu kembali ke meja. “Ini bukan aturan, Yang Mulia. Ini adalah isolasi. Anda melarangku menulis surat kepada keluargaku? Setelah Anda membeliku, Anda ingin memutus lidahku juga?”
Alaric bangkit dari kursinya. Gerakannya lambat, namun penuh ancaman predator.
Dia berjalan mengitari meja panjang itu, lalu mendekat ke arah Aurelia yang masih duduk tegak, meski jantungnya berdegup kencang.
“Aku tidak membeli lidahmu, Aurelia. Aku membeli kesetiaanmu,” ujar Alaric sambil berdiri tepat di belakang kursi istrinya. Dia membungkuk dan wajahnya kini berada di samping telinga Aurelia.
“Sayap Barat adalah urusanku. Dan surat-suratmu? Aku tidak ingin rahasia rumah tanggaku menjadi konsumsi publik di pasar Amsterdam.”
Aurelia berdiri dengan sentakan dan berbalik menghadapi Alaric. “Apa yang Anda sembunyikan di Sayap Barat? Mayat-mayat? Atau nama 'Elisa' yang Anda tangisi semalam?”
Suasana mendadak membeku. Wajah Alaric mengeras; rahangnya mengetat hingga otot-otot di lehernya menonjol.
Dalam satu gerakan yang tak sempat dihindari Aurelia, Alaric mencengkeram bahu gadis itu dan mendorongnya ke belakang hingga punggung Aurelia menghantam dinding batu yang dingin.
Aurelia terkesiap, napasnya tertahan saat tubuh besar Alaric memojokkannya, mengunci kedua sisi tubuhnya dengan lengan yang kuat.
Jarak mereka sangat dekat, hingga Aurelia bisa melihat amarah yang berkilat di pupil mata suaminya yang abu-abu.
“Jangan pernah,” desis Alaric, suaranya selembut beludru namun setajam belati, “menyebut nama itu lagi jika kau masih ingin melihat matahari besok.”
Aurelia gemetar, namun dia menolak untuk menunduk. Dia menatap balik mata itu, menelan rasa takutnya.
“Anda bisa mengurungku, Alaric. Anda bisa mematahkan tanganku agar aku tidak bisa menulis. Tapi Anda tidak bisa mengatur pikiranku. Semakin Anda melarang, semakin aku akan mencari tahu.”
Untuk sesaat, terjadi keheningan yang menyesakkan. Alaric menatap wajah Aurelia dengan intensitas yang berbeda.
Dia tidak melihat ketakutan; dia melihat api. Ada binar ketertarikan yang sangat tipis dan gelap di balik tatapan sang Duke, pengakuan bahwa wanita di depannya memiliki tulang punggung yang kuat.
Alaric mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya yang hangat menerpa bibir Aurelia.
“Keberanianmu akan menjadi penghancurmu sendiri, kecil. Ingat itu,” bisiknya tajam.
Alaric melepaskan tekanannya secara tiba-tiba. Tanpa sepatah kata lagi, dia berbalik dan melangkah pergi, jubah hitamnya melambai bagai sayap gagak.
Aurelia berdiri mematung, mencoba mengatur napasnya. Saat dia berbalik, dia menyadari Martha, si pelayan tua itu sedang membersihkan meja.
Aurelia mendekatinya. “Martha ... apakah Sayap Barat benar-benar seberbahaya itu?” tanyanya ingin tahu.
Pelayan tua itu berhenti bekerja, memastikan Duke telah pergi, lalu mendekat.
“Nyonya muda,” bisik Martha parau. “Jangan mencoba menjadi pahlawan. Tuan Duke tidak suka diganggu hantunya.”
“Apa maksudmu?” tanya Aurelia semakin ingin tahu.
Martha mencengkeram tangan Aurelia sebentar, matanya berkaca-kaca. “Bukan mayat yang beliau simpan di sana, Nyonya. Melainkan alasan mengapa beliau tidak pernah bisa mencintai siapa pun.
“Jika Anda masuk ke sana, Anda tidak akan menemukan benci, tapi Anda akan menemukan sebuah janji berdarah yang seharusnya tidak pernah dibuat.”
Aurelia tertegun, rasa penasarannya kini mengalahkan rasa takutnya. “Janji berdarah? Dengan siapa?”
Martha menunduk dalam, suaranya hampir hilang ditelan angin yang menderu di luar.
“Dengan wanita yang seharusnya menjadi pengantinnya, sebelum Tuan Duke memilih untuk mengutuk dirinya sendiri selamanya.”
Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad
Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep
Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad
Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli
Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi
Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny
Aurelia menatap ibunya dengan tatapan yang perlahan berubah. Kesedihan itu masih ada, sangat dalam, namun di dalamnya mulai tumbuh percikan api kemarahan yang dingin.Dia pun berdiri perlahan dan membiarkan salju menutupi rambutnya. Ia menatap ke seberang jurang, ke arah pasukan musuh yang
Alaric mendengus lalu duduk di kursinya sambil memijat pelipisnya. “Dia pelayan baru yang dibawa Hans dari desa bawah. Aku butuh seseorang yang pendiam dan tidak banyak bicara sepertimu, Maria. Kepalaku sedang sakit, dan aku tidak ingin mendengar ocehan tentang jadwal mencuci seprai.”Maria menyipi
“Tidak ada satu pun orang yang boleh tahu bahwa dia masih bernapas. Jika satu saja informasi bocor, mata-mata Raja yang masih bersembunyi di sekitar wilayah ini akan segera mengirim pesan ke Ibukota.“Aku tidak akan membiarkan siapa pun membocorkan rahasia ini, bahkan ibu kandungnya sendiri.”Valer
Angin kencang bersiul di celah-celah menara Kastil Valen, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di tengah kesunyian aula utama, derap langkah Hans terdengar tergesa-gesa. Ia tidak datang sendiri.Di belakangnya, seorang wanita misterius dengan jubah lusuh dan cadar hitam pekat berjalan dengan ke







