Home / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 7. Rahasia Sayap Barat

Share

Bab 7. Rahasia Sayap Barat

Author: Senja Berpena
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-29 22:49:51

“Jika kau ingin mencari tahu cara tercepat untuk mati di kastil ini, teruslah melangkah menuju koridor itu, Nyonya.”

Suara Martha yang parau nyaris membuat Aurelia menjatuhkan lilin di tangannya.

Di lorong yang remang dan dingin, pelayan tua itu berdiri seperti bayangan, matanya menatap tajam ke arah pintu besar berkunci ganda yang memisahkan bagian utama kastil dengan Sayap Barat.

Namun, peringatan itu justru menjadi bahan bakar bagi api rasa penasaran Aurelia yang sudah menyala sejak malam perjamuan.

“Aku sudah mati sejak hari aku menginjakkan kaki di sini, Martha,” balas Aurelia dengan nada datar yang menyembunyikan debar jantungnya. “Setidaknya, izinkan aku tahu hantu apa yang berbagi atap denganku.”

Begitu Alaric berangkat menuju pelabuhan Amsterdam untuk urusan perdagangan pagi itu, Aurelia bergerak.

Dengan kunci yang dia curi dari meja kerja Alaric saat pria itu mandi, ia berdiri di depan pintu terlarang itu. Udara di sekitar Sayap Barat terasa berbeda, lebih lembap, lebih berbau debu lama, dan membawa hawa kesedihan yang nyaris bisa diraba.

Cklik.

Pintu itu terbuka dengan derit panjang yang memilukan, seolah memprotes kehadiran penyusup. Aurelia melangkah masuk, menyusuri galeri yang gelap.

Cahaya lilinnya menari-nari di dinding batu, memperlihatkan pemandangan yang mengerikan. Di sepanjang koridor, terdapat puluhan bingkai lukisan besar, namun semuanya telah dirusak.

Kanvas-kanvasnya disayat secara vertikal dengan kasar, seolah pelakunya ingin menghapus setiap jejak wajah yang ada di sana.

Aurelia mendekati salah satu lukisan yang robek. Di balik sayatan itu, ia bisa melihat sapuan warna gaun seorang wanita dan tangan kecil seorang anak.

Alaric? Apakah ini potret keluarganya? Mengapa dia begitu membenci masa lalunya hingga harus mencabiknya seperti ini?

Langkah kaki Aurelia bergema di lantai marmer yang tak lagi mengkilap.

Ketegangan gothic yang mencekam merayap di tengkuknya.

Setiap kali angin menderu dari celah jendela, ia merasa seolah ada bisikan yang memanggil namanya. Di ujung galeri, dia menemukan sebuah ruangan kecil yang pintunya sedikit terbuka.

Di dalamnya tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah meja kayu tua yang di atasnya diletakkan sebuah botol kaca berbentuk silinder.

Di dalam botol yang hampa udara itu, sebuah mawar merah muda yang sudah mengering namun tetap utuh berdiri dengan anggun.

Di bawahnya, terdapat secarik kertas menguning dengan tulisan tangan anak-anak yang kaku: “Untuk Kak Alaric, agar kau tidak pernah lupa jalan pulang.”

Aurelia terpaku. Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin itu dengan jemari gemetar. Mawar ini bukan simbol romansa dewasa; ini adalah kenangan murni.

Nama “Elisa” yang dia dengar dalam igauan Alaric mendadak terasa begitu nyata. Bukan seorang kekasih yang dikhianati, melainkan sebuah kehilangan yang menghancurkan jiwa.

Kesadaran itu menghantam Aurelia seperti ombak laut utara. Ia melihat Alaric bukan lagi sebagai monster yang kejam, melainkan sebagai pria yang terjebak dalam masa kecil yang hancur.

Semua kekejamannya, sikap posesifnya, dan dinding es yang ia bangun... semuanya adalah bentuk pertahanan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan.

Simpati. Sebuah perasaan yang seharusnya tidak ia miliki untuk pria yang telah “membelinya”, kini tumbuh perlahan di sela-sela rasa takutnya.

Tiba-tiba, suara derap sepatu bot yang berat terdengar dari kejauhan koridor.

Penjaga.

Aurelia panik. Jika ia tertangkap di sini, Alaric tidak akan memaafkannya. Ia segera memadamkan lilin, membiarkan dirinya ditelan kegelapan total.

Dia merapat ke balik tirai beludru yang tebal, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Cahaya lentera penjara menyapu celah di bawah pintu, suara gemerincing kunci terdengar sangat dekat.

“Aku yakin mendengar suara pintu terbuka tadi,” gumam seorang penjaga di luar.

“Hanya angin, bodoh. Tidak ada yang berani masuk ke sini kecuali mereka ingin digantung oleh Duke,” sahut yang lain.

Langkah kaki itu menjauh perlahan, namun Aurelia masih belum berani bergerak.

Dia berdiri dalam kegelapan, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suara itu akan memanggil mereka kembali. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ia memutuskan untuk keluar.

Ia meraba dinding, mencoba menemukan jalan kembali ke pintu utama. Namun, saat dia berbelok di sudut galeri lukisan yang dirusak, udara mendadak menjadi sangat panas di belakang lehernya.

Aroma kayu cendana dan tembakau mahal, aroma yang sangat dia kenal menyerbu indranya sebelum ia sempat berbalik.

Sebuah tangan yang besar dan kasar mencengkeram bahu Aurelia, memutarnya dengan sentakan yang kuat hingga ia menghantam dinding.

Aurelia mendongak dan napasnya seketika terhenti.

Alaric berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jubah kebesarannya; kemeja putihnya berantakan, dan rambut hitamnya basah oleh air hujan. Namun yang paling mengerikan adalah matanya.

Pupil mata abu-abu itu nyaris menghilang, digantikan oleh warna merah padam karena amarah yang murni dan tak terkendali. Rahangnya mengatup begitu keras hingga otot-otot di lehernya menonjol.

Ia tampak seperti iblis yang baru saja bangkit dari neraka untuk menjemput pendosa.

“Sudah kubilang, Aurelia,” suara Alaric pecah, rendah, dan bergetar karena emosi yang tertahan.

Dia lalu mendekatkan wajahnya, memenjarakan Aurelia dengan kedua lengannya, dan menatap botol mawar di ruangan belakang Aurelia seolah-olah ia baru saja melihat jantungnya sendiri ditelanjangi.

Cengkeraman tangannya di dinding di samping kepala Aurelia membuat kayu penyangga retak.

Aura kematian memancar begitu kuat dari tubuhnya, membuat Aurelia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan suaminya.

“Apakah hidupmu begitu tidak berharga bagimu,” desis Alaric dengan mata berkilat yang sangat berbahaya, “sampai kau berani mengusik kuburan yang sudah kututup dengan darahku sendiri?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
karena kmu bikin penasaran alaric .coba kamu jelaskan ada apa sebenarnya c aurelia pasti gak akan diam-diam masuk .TPI dmna datangnya alaric kok udah d dalam ajja
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 193. Kebahagiaan Keluarga Valen

    Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 192. Pelajaran Pertama untuk Laurent

    Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 191. Kelahiran Bayi Kedua

    Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 190. Si Kecil yang Lincah

    Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 189. Kelincahan Laurent

    Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 188. Hamil Anak Kedua

    Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 5. Aturan sang Duke

    “Makanlah, Aurelia. Kau terlihat seperti mayat yang dipakaikan gaun mahal.”Suara Alaric memecah keheningan ruang makan pagi itu. Ruangan itu begitu besar hingga suara denting sendok perak melawan porselen terdengar bergema.Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, namun gag

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 4. Mimpi Buruk Sang Duke?

    “Lepaskan cadarmu, Aurelia. Di sini tidak ada Tuhan yang perlu menyaksikan kemunafikan ini.”Suara Alaric bergema di kapel kecil yang lembap di bawah tanah kastil. Ruangan itu hanya diterangi oleh selusin lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding batu.Tidak ada

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 3. Selamat Datang di Neraka Barumu

    “Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas k

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 2. Kontrak di Atas Kertas Perkamen

    “Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.Langit tertutup mendung abu-abu yang menggan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status