LOGIN“Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.
“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi.
“Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat.
Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.
“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.
Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.
“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati.
Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.
Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya saat ada keadaan buruk.
Yang nyata adalah genggaman tangan Lio dan hingar-bingar pesta di sekitarnya—pesta di kastil Greybone.
“Kau membawa ini untukku.” Tili mengangkat tangannya. Gelang emas bentuk minimalis, dengan bandul hijau emerald, sesuai dengan warna matanya. Tili menyebut ingatan kejadian terakhir yang seharusnya nyata.
“Benar. Apa kau menyukainya? Kau tiba-tiba diam mematung setelah aku memakaikannya.” Lio mengangguk, mengkonfirmasi ingatan Tili.
Pesta itu diadakan sebagai ucapan syukur atas kehamilan Tili, jadi sebagian besar tamu memang membawa hadiah untuknya. Tidak semua diberikan langsung kepada Tili, tapi Lio adalah teman dekatnya.
Liora Ravenshire adalah putri salah satu Count dari Greybone Duchy (wilayah kekuasaan Duke) dan mereka dekat setelah Tili menjadi istri Theo.
“Aku suka. Terima kasih.” Tili memaksakan diri untuk bersikap normal sebelum Lio semakin khawatir.
“Syukurlah. Aku pikir harus mencari hadiah lain untukmu.” Lio tersenyum riang, tidak lagi mendeteksi kegelisahan Tili.
Lalu ia menunduk di depan perut Tili. “Kau dengar itu? Ibumu menyukainya. Aku akan membawa hadiah lain untukmu nanti begitu kau lahir. Asalkan kau tidak bandel, aku akan memberimu banyak hadiah.”
Lio mengusap lembut perut Tili diikuti tawa geli. Tili sudah bisa ikut tersenyum, tapi hanya samar. Rasa gelisah dan putus asa dari mimpi aneh tadi masih sangat kuat menghantui.
“Kau keluar dulu. Aku akan mengambil minuman. Kau masih pucat, Tili. Sepertinya kau butuh udara segar.” Lio melihat senyum setengah hati itu, lalu mendorong Tili ke balkon.
Tili tidak punya alasan menolak, malah lega saat kulitnya tersentuh hembusan angin. Kesejukan itu menjernihkan ingatan penuh kabut debu yang memenuhi otaknya sejak tadi.
“Jangan kemana-mana. Aku akan kembali.” Lio berpesan sambil mengangkat rok, lalu berjalan masuk dengan langkah cepat.
Tili menyandarkan tubuh ke pagar balkon menghela napas panjang. “Tilia, Duchess of Greybone, putri dari Duke of Cornwall. Menikah dengan Thorian, Duke of Greybone”
Tilia menyebut nama dan gelarnya sendiri dengan lengkap–juga nama suaminya, untuk memastikan dirinya waras. Berharap kenyataan akan mengusir sisa rasa gelisah akibat mimpi buruk tadi.
“Sejak kapan juga mimpi bisa terjadi dalam keadaan terbangun?” Tili menggumamkan kebingungan lain.
Tili yakin tidak tertidur tadi. Ia hanya menggenggam tangan Lio setelah memakaikan gelang hadiah itu—sambil mendengarkan penjelasan Lio kalau gelang itu didapatnya dengan cara unik.
Lalu semua bayangan itu apa?
“Aku merindukanmu.”
Bisikan lembut membuat Tili tersentak dan langsung menempelkan diri pada tembok—bersembunyi, tidak ingin terlihat mengintip.
Suara itu berasal dari balkon sebelah. Sepertinya ada tamu yang menepi dan mencari tempat lebih pribadi untuk melepas rindu.
Ini bukan hal aneh. Kebiasaan kaum bangsawan di Lunaris saat ingin merahasiakan hubungan memang seperti itu.
“Aku merindukanmu, Sera.”
Seluruh bulu halus di tubuh Tili berdiri tegak—bukan hanya karena nama itu, tapi karena mengenali suara yang berbisik manis itu. Suara Theo.
Leher Tili kaku, tidak berani bergerak menengok, karena tidak mau mengkonfirmasi sesuatu yang akan menjadi mimpi buruknya. Tapi ini bukan mimpi—seharusnya bukan bagian dari mimpi aneh yang tadi.
Dengan gerak pelan, Tili menoleh. Memang mimpi buruk, karena telinganya tidak salah mengenali.
Suara itu milik Theo. Kini matanya juga dengan mudah mengenali, meski balkon sebelah hanya remang, Tili tidak akan salah mengenali bentuk tubuh yang berulang kali memeluknya itu. Baik dalam keadaan berdiri atau berbaring di atas ranjang.
Theo saat ini sedang memeluk wanita lain—Sera tentunya. Tili bahkan tidak tahu Sera akan datang hari ini, karena hanya mengundang ayahnya, Count Lorne. Tili juga tidak melihatnya datang.
Tili mundur, masuk ke ruang pesta lagi, mencari kursi terdekat dan duduk di sana—sebelum kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Bukan hanya kakinya yang lemas, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, gemetar.
“Tidak, Tili. Itu… mimpi, pasti mimpi…” gumamnya. Detik berikut, Tili langsung mengingkari kenyataan.
Tili tidak bisa percaya, karena keadaan pernikahannya saat ini malah sedang sangat baik. Jadi tidak mungkin Theo tega mengkhianatinya sekarang.
Awal pernikahan mereka memang sangat buruk—Theo sempat bersikap dingin padanya, hampir tidak pernah menyapa.
Tapi itu tiga tahun lalu. Sikap Theo membaik. Mereka mengobrol, berbagi masalah selayaknya pasangan normal, bahkan akhirnya bisa mendapatkan keturunan.
“Tidak mungkin…” Tili mengusap perutnya. Tidak mungkin Theo akan mengabaikan anak mereka. Bukankah Theo juga terlihat sangat bahagia saat kabar itu dikonfirmasi oleh dokter?
Lalu pelukan tadi apa? Bisikan rindu itu apa?
Tili ingin menepis semua pikiran buruk, tapi pelukan dan bisikan yang dilihatnya tadi adalah nyata. Ia tidak salah lihat.
“Tili? Apa kau sakit?”
Tili tersentak, mengedip, dan melihat Theo sudah berlutut di depannya. “Apa kau butuh istirahat? Aku akan mengantarmu ke dalam.”
Theo bertanya dengan nada normal, wajahnya pun dipenuhi kekhawatiran. Ia mengusap kening Tili yang kembali dipenuhi titik-titik keringat dingin.
“Kau…” Tili menunjuk, tapi pertanyaannya tertelan kembali. Tili ragu, merasa kembali tidak bisa membedakan kenyataan akibat mimpi aneh tadi.
Bagaimana kalau adegan di balkon tadi juga bayangan buruk? Theo tidak mungkin merindukan Sera. Theo saat ini berlutut dan terlihat peduli padanya.
“Tilia? Kau kenapa?’ Theo yang masih berlutut, mengguncang pelan tangan Tili.
“Aku tidak…”
“AGHHH!”
Jeritan panik, dan tiba-tiba Tili merasa kembali terbenam dalam mimpi buruk, karena dunia bergetar.
Seperti dalam mimpi buruk itu—dunia di sekitarnya meledak dalam kepanikan bersama guncangan keras.
Chandelier yang ada di tengah ruangan, bergoyang liar, dan hanya butuh dua detik untuk tumbang dan jatuh ke lantai. Derak atap yang retak menyusul kemudian.
Semua berjalan seperti mimpi buruknya itu.
“TILI! Kita keluar!!”
Dan sama lagi, Theo menariknya berdiri dan membawanya berlari turun, menuju pintu keluar.
“Tidak… ini pasti mimpi lagi…” Tili bergumam, menatap orang di sekitarnya yang berhamburan dengan mata nanar dan meneriakkan kata gempa.
Sangat sama. Atap runtuh, tembok bergetar, sampai batu berjatuhan. Suasana pesta berubah dalam waktu tidak sampai satu menit.
“Theo?”
Tili merasakan lagi saat tangan Theo terlepas. “Tunggu…”
“Bawa Duchess keluar!”
Tili ingin meraih, tapi kali ini terlalu lambat. Theo sudah melepaskannya. Lambaian rambut pirang Theo sebelum ia berbelok terlihat seperti adegan berulang.
Maka Tili pun terseret lagi. Pengawal itu membawanya berlari tidak tentu arah.
“TIDAK!” Tili menyentak tangan yang membawanya, menolak sudah yakin ujung jalan itu akan buruk.
“Duchess?” Pengawal itu bingung, dan semakin bingung saat Tili mencengkram balik lengannya.
Sayangnya, Tili terlalu lambat meyakini bayangan yang dianggapnya mimpi itu. Lorong tempatnya berada sudah hancur, Tili juga tidak tahu harus berlari kemana.
“Kita…”
“DUCHESS! Awas!”
Tili merasakan tolakan, tapi kali ini tangannya erat menggenggam lengan yang mencoba menyelamatkannya, dan ikut menarik
Insting saja, karena tidak ingin melihat kematian mengenaskan pengawal itu terulang, tapi Tili tetap salah memperhitungkan buruknya skala runtuhan tembok itu.
Ia kurang jauh memperkirakan jarak menghindar. Diantara debu dan gemuruh, Tili melihat benda besar meluncur ke arahnya.
“Jangan… tidak boleh…”
Gelap lagi. “Mimpi…pasti tidak nyata…” bisik Tili, saat memejamkan mata,
Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili
“Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in
“Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d
Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan
Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan
“Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b







