Share

#002 Pengulangan Atau Perwujudan?

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-01-15 16:05:33

“Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.

“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. 

“Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat.

Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.

“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.

Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.

“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. 

Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.

Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya saat ada keadaan buruk.

Yang nyata adalah genggaman tangan Lio dan hingar-bingar pesta di sekitarnya—pesta di kastil Greybone. 

“Kau membawa ini untukku.” Tili mengangkat tangannya. Gelang emas bentuk minimalis, dengan bandul hijau emerald, sesuai dengan warna matanya. Tili menyebut ingatan kejadian terakhir yang seharusnya nyata.

“Benar. Apa kau menyukainya? Kau tiba-tiba diam mematung setelah aku memakaikannya.” Lio mengangguk, mengkonfirmasi ingatan Tili.

Pesta itu diadakan sebagai ucapan syukur atas kehamilan Tili, jadi sebagian besar tamu memang membawa hadiah untuknya. Tidak semua diberikan langsung kepada Tili, tapi Lio adalah teman dekatnya. 

Liora Ravenshire adalah putri salah satu Count dari Greybone Duchy (wilayah kekuasaan Duke) dan mereka dekat setelah Tili menjadi istri Theo.

“Aku suka. Terima kasih.” Tili memaksakan diri untuk bersikap normal sebelum Lio semakin khawatir.

“Syukurlah. Aku pikir harus mencari hadiah lain untukmu.” Lio tersenyum riang, tidak lagi mendeteksi kegelisahan Tili. 

Lalu ia menunduk di depan perut Tili. “Kau dengar itu? Ibumu menyukainya. Aku akan membawa hadiah lain untukmu nanti begitu kau lahir. Asalkan kau tidak bandel, aku akan memberimu banyak hadiah.” 

Lio mengusap lembut perut Tili diikuti tawa geli. Tili sudah bisa ikut tersenyum, tapi hanya samar. Rasa gelisah dan putus asa dari mimpi aneh tadi masih sangat kuat menghantui.

“Kau keluar dulu. Aku akan mengambil minuman. Kau masih pucat, Tili. Sepertinya kau butuh udara segar.” Lio melihat senyum setengah hati itu, lalu mendorong Tili ke balkon.

Tili tidak punya alasan menolak, malah lega saat kulitnya tersentuh hembusan angin. Kesejukan itu menjernihkan ingatan penuh kabut debu yang memenuhi otaknya sejak tadi.

“Jangan kemana-mana. Aku akan kembali.” Lio berpesan sambil mengangkat rok, lalu berjalan masuk dengan langkah cepat.

Tili menyandarkan tubuh ke pagar balkon menghela napas panjang. “Tilia, Duchess of Greybone, putri dari Duke of Cornwall. Menikah dengan Thorian, Duke of Greybone”

Tilia menyebut nama dan gelarnya sendiri dengan lengkap–juga nama suaminya, untuk memastikan dirinya waras. Berharap kenyataan akan mengusir sisa rasa gelisah akibat mimpi buruk tadi.

“Sejak kapan juga mimpi bisa terjadi dalam keadaan terbangun?” Tili menggumamkan kebingungan lain. 

Tili yakin tidak tertidur tadi. Ia hanya menggenggam tangan Lio setelah memakaikan gelang hadiah itu—sambil mendengarkan penjelasan Lio kalau gelang itu didapatnya dengan cara unik.

Lalu semua bayangan itu apa?

“Aku merindukanmu.”

Bisikan lembut membuat Tili tersentak dan langsung menempelkan diri pada tembok—bersembunyi, tidak ingin terlihat mengintip. 

Suara itu berasal dari balkon sebelah. Sepertinya ada tamu yang menepi dan mencari tempat lebih pribadi untuk melepas rindu. 

Ini bukan hal aneh. Kebiasaan kaum bangsawan di Lunaris saat ingin merahasiakan hubungan memang seperti itu.

“Aku merindukanmu, Sera.”

Seluruh bulu halus di tubuh Tili berdiri tegak—bukan hanya karena nama itu, tapi karena mengenali suara yang berbisik manis itu. Suara Theo.

Leher Tili kaku, tidak berani bergerak menengok, karena tidak mau mengkonfirmasi sesuatu yang akan menjadi mimpi buruknya. Tapi ini bukan mimpi—seharusnya bukan bagian dari mimpi aneh yang tadi.

Dengan gerak pelan, Tili menoleh. Memang mimpi buruk, karena telinganya tidak salah mengenali. 

Suara itu milik Theo. Kini matanya juga dengan mudah mengenali, meski balkon sebelah hanya remang, Tili tidak akan salah mengenali bentuk tubuh yang berulang kali memeluknya itu. Baik dalam keadaan berdiri atau berbaring di atas ranjang.

Theo saat ini sedang memeluk wanita lain—Sera tentunya. Tili bahkan tidak tahu Sera akan datang hari ini, karena hanya mengundang ayahnya, Count Lorne. Tili juga tidak melihatnya datang.

Tili mundur, masuk ke ruang pesta lagi, mencari kursi terdekat dan duduk di sana—sebelum kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Bukan hanya kakinya yang lemas, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, gemetar.

“Tidak, Tili. Itu… mimpi, pasti mimpi…” gumamnya. Detik berikut, Tili langsung mengingkari kenyataan.

Tili tidak bisa percaya, karena keadaan pernikahannya saat ini malah sedang sangat baik. Jadi tidak mungkin Theo tega mengkhianatinya sekarang.

Awal pernikahan mereka memang sangat buruk—Theo sempat bersikap dingin padanya, hampir tidak pernah menyapa.

Tapi itu tiga tahun lalu. Sikap Theo membaik. Mereka mengobrol, berbagi masalah selayaknya pasangan normal, bahkan akhirnya bisa mendapatkan keturunan.

“Tidak mungkin…” Tili mengusap perutnya. Tidak mungkin Theo akan mengabaikan anak mereka. Bukankah Theo juga terlihat sangat bahagia saat kabar itu dikonfirmasi oleh dokter?

Lalu pelukan tadi apa? Bisikan rindu itu apa?

Tili ingin menepis semua pikiran buruk, tapi pelukan dan bisikan yang dilihatnya tadi adalah nyata. Ia tidak salah lihat.

“Tili? Apa kau sakit?”

Tili tersentak, mengedip, dan melihat Theo sudah berlutut di depannya. “Apa kau butuh istirahat? Aku akan mengantarmu ke dalam.”

Theo bertanya dengan nada normal, wajahnya pun dipenuhi kekhawatiran. Ia mengusap kening Tili yang kembali dipenuhi titik-titik keringat dingin.

“Kau…” Tili menunjuk, tapi pertanyaannya tertelan kembali. Tili ragu, merasa kembali tidak bisa membedakan kenyataan akibat mimpi aneh tadi.

Bagaimana kalau adegan di balkon tadi juga bayangan buruk? Theo tidak mungkin merindukan Sera. Theo saat ini berlutut dan terlihat peduli padanya.

“Tilia? Kau kenapa?’ Theo yang masih berlutut, mengguncang pelan tangan Tili.

“Aku tidak…”

“AGHHH!”

Jeritan panik, dan tiba-tiba Tili merasa kembali terbenam dalam mimpi buruk, karena dunia bergetar.

Seperti dalam mimpi buruk itu—dunia di sekitarnya meledak dalam kepanikan bersama guncangan keras.

Chandelier yang ada di tengah ruangan, bergoyang liar, dan hanya butuh dua detik untuk tumbang dan jatuh ke lantai. Derak atap yang retak menyusul kemudian.

Semua berjalan seperti mimpi buruknya itu. 

“TILI! Kita keluar!!”

Dan sama lagi, Theo menariknya berdiri dan membawanya berlari turun, menuju pintu keluar.

“Tidak… ini pasti mimpi lagi…” Tili bergumam, menatap orang di sekitarnya yang berhamburan dengan mata nanar dan meneriakkan kata gempa.

Sangat sama. Atap runtuh, tembok bergetar, sampai batu berjatuhan. Suasana pesta berubah dalam waktu tidak sampai satu menit.

“Theo?” 

Tili merasakan lagi saat tangan Theo terlepas. “Tunggu…”

“Bawa Duchess keluar!”

Tili ingin meraih, tapi kali ini terlalu lambat. Theo sudah melepaskannya. Lambaian rambut pirang Theo sebelum ia berbelok terlihat seperti adegan berulang.

Maka Tili pun terseret lagi. Pengawal itu membawanya berlari tidak tentu arah.

“TIDAK!” Tili menyentak tangan yang membawanya, menolak sudah yakin ujung jalan itu akan buruk.

“Duchess?” Pengawal itu bingung, dan semakin bingung saat Tili mencengkram balik lengannya.

Sayangnya, Tili terlalu lambat meyakini bayangan yang dianggapnya mimpi itu. Lorong tempatnya berada sudah hancur, Tili juga tidak tahu harus berlari kemana.

“Kita…”

“DUCHESS! Awas!”

Tili merasakan tolakan, tapi kali ini tangannya erat menggenggam lengan yang mencoba menyelamatkannya, dan ikut menarik

Insting saja, karena tidak ingin melihat kematian mengenaskan pengawal itu terulang, tapi Tili tetap salah memperhitungkan buruknya skala runtuhan tembok itu.

Ia kurang jauh memperkirakan jarak menghindar. Diantara debu dan gemuruh, Tili melihat benda besar meluncur ke arahnya.

“Jangan… tidak boleh…” 

Gelap lagi. “Mimpi…pasti tidak nyata…” bisik Tili, saat memejamkan mata,

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #007 Pengingkaran Atau Kebenaran?

    “Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria ding

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #006 Cemburu Atau Gila?

    “Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. “Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. “Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu meng

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #005 Benar Atau Salah?

    “Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #004 Kebohongan Atau Kejujuran?

    “Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.“Duchess? Maaf.”Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.“Kau… pengawal itu.”Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tang

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #003 Maya Atau Nyata?

    “Tili?’“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. “Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #002 Pengulangan Atau Perwujudan?

    “Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. “Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat. Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status