Share

#003 Maya Atau Nyata?

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-01-15 16:11:41

“Tili?’

“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. 

“Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.

“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.

Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.

Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.

Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.

“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.

Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.

“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.

Tili ingin terus menyangkal, tapi telah terpandang olehnya perban yang membebat lengannya, juga rasa nyeri yang semakin menyebar. Nyata, rasa sakit yang saat ini menerpa tubuhnya adalah nyata.

“Tapi itu …” Tili meraba perutnya, dan gundukan hangat itu tidak ada. 

Sekali lagi, Tili mengelus, dan tetap tidak ada. Perutnya rata, seolah tidak pernah ada apapun di sana.

“Tapi ini mimpi, Lio…” bisik Tili, tercekat. Tidak mau menerima, lebih berharap saat ini dirinya sedang tertidur saja lalu bermimpi.

Mimpi tidak akan menyakitinya. Mimpi akan berakhir saat terbangun. Mimpi berarti ia masih memiliki anaknya di alam nyata.

“Maaf, Tili… maaf, tapi ini nyata.” Lio menjelaskan sambil mengusap pipinya—juga pipi Tili yang mulai basah.

“Tidak! Lio… ” Tili menepis tangan Lio, menggeleng sekeras mungkin.

Lio juga menggeleng. “Maaf, mereka menarikmu dari bawah reruntuhan dalam keadaan terluka. Dan… aku sudah bersyukur kau bisa selamat.”

Lio tidak sanggup menyebut apa yang terjadi pada kandungan Tili, ingin memeluknya lagi, tapi Tili menepis. 

“Seharusnya mereka membiarkanku mati saja!” Tili tidak keberatan. Tili memilih mati saja kalau kenyataan yang ada untuknya seburuk ini.

“Tili… jangan…”

“UNTUK APA AKU HIDUP KALAU SEMUA ITU BOHONG!” Tili menjerit sambil menyibak selimut, tapi langsung terdiam saat melihat kakinya.

Kaki itu utuh. Tidak remuk seperti dalam bayangan buruk itu. Terluka dan dibalut perban, tapi terlihat membentuk kaki.

“Hanya retak katanya. Akan sembuh. Kau akan sembuh—jangan meminta mati, Tili.” Lio memohon, terisak dan memeluk Tili.

“Aku tahu ini berat, tapi tidak masalah. Kau hidup, Tili. Kau akan hamil lagi.” Lio menghamburkan penghiburan, tapi Tili tidak amat mendengar.

Ia hanya merengkuh saat tangan Lio merangkul lehernya. Air mata duka itu masih terus mengucur, tapi mata Tili tidak kosong.

“Aku bodoh…” bisik Tili. 

Ia melihat bayangan kenyataan yang akan terjadi, tapi karena menganggapnya sebagai mimpi, ia melakukan kesalahan fatal. Kalau saja lebih percaya pada firasat buruk itu, mungkin anaknya akan selamat.

“Tidak bodoh.” Lio masih menghibur sebisanya, mengira Tili hanya tengah berduka biasa.

Tapi Tili sedang memproses perbedaan yang terjadi. Kakinya tidak hancur karena ia membuat sedikit perbedaan. Ia masih kehilangan anaknya—karena perbedaan yang dibuatnya terlalu sedikit.

“Lio…”

“Aku akan memanggil Duke Greybone. Kau berbaring dulu.” Lio menepuk bahu Tili, memintanya kembali berbaring.

Tili belum ingin setuju, tapi diam dan berbaring. Ia membutuhkan sunyi. Untuk berpikir. Memilah ilusi dan kenyataan, memilah perasaan antara amarah, duka dan bersalah.

Tili perlu meluapkan semua perasaan itu pada orang yang tepat.

***

“Tili! Syukurlah!”

Tili duduk mematung saat tangan Theo terulur dan memeluknya. Tapi kening Tili berkerut karena mengingat bagaimana Theo memeluk Sera di balkon itu. 

“Kau meninggalkanku.” Tili bergumam, dan pelukan itu langsung terlepas. Theo duduk di samping Tili dengan amat pelan, melambangkan beban berat yang ditanggungnya.

“Iya. Aku harus mencari ayahku. Dia masih ada di dalam.” Theo menggeleng, sambil menyingkirkan rambut pirang tembaga Tili yang tersangkut di pipi akibat lembab. Mata Theo redup, dan memerah.

“Aku harus memastikan semua orang selamat. Tapi... aku tidak seharusnya meninggalkanmu.” Theo meraih tangan Tili, dan mengecupnya. “Maafkan aku. Seharusnya aku…”

“Kau masuk untuk mencari ayahmu?” Tili mengulang ingatannya. Membedakan mana mimpi dan kenyataan.

“Iya. Ayahku masih ada di kamar. Be—”

“Bukan karena Sera?” Tili persis menatap mata Theo, melihat saat mata redup itu menajam sesaat sebelum akhirnya menutup bersama gelengan.

“Apa maksudmu, Tili? Aku masuk untuk menjemput ayahku.” Theo tersenyum getir—menunduk sebelum akhirnya menggeleng.

“Aku mencoba menyusul setelah guncangan kedua datang, hanya… Aku yang menemukanmu di reruntuhan, tapi…terlambat.”

Theo menunduk lagi, memainkan jari Tili yang masih ada dalam genggamannya. “Aku seharusnya bersamamu.”

“Ya, kau seharusnya…”

Tili menghentikan kalimatnya, bukan karena tercekat. Memang air mata Tili kembali turun, tapi Tili diam karena menyadari kalau Theo tidak akan jujur mengakuinya.

Suami yang telah bersamanya selama tiga tahun lebih itu, tidak akan mengakui kalau malam itu ia berbalik untuk Sera—terutama karena dalam kenyataan ini Theo tidak pernah menyebut Sera sama sekali.

“Aku tahu kau bingung, tapi semua baik-baik saja. Aku sudah membereskan semuanya. Kita akan baik-baik saja.” Theo kembali meraih tangan kanan Tili, membuat bandul gelang dari Lio bergoyang pelan.

Theo mengecup tangan Tili, dengan senyum yang lebih terlihat tulus.

Dan gelap. 

***

Tili mengedip, karena saat membuka mata, ia tidak lagi ada di kamar rumah sakit. Tili melihat tirai biru tipis, dengan jendela bulat. Tili menatap sekitar dengan mata melebar—sangat bingung. 

Tili ingat sedang menatap Theo tadi—dan ada di rumah sakit. Lalu semua ini apa?

“Kenapa…”

“Sera! Jangan pergi!”

Tili mengerjap, dan menyibak tirai di depannya. Teriakan itu dari luar—dan suara itu adalah Theo yang berteriak.

Tili mengintip keluar. Dan melihat Theo mengejar Sera yang akan menaiki kereta kuda yang sudah siap di halaman belakang.

“Jangan pergi lagi, aku mohon.” Theo menangkap tangan Sera.

“Kenapa aku tidak boleh pergi? Kau bersamanya.” Rambut Sera yang hitam panjang, tampak melambai saat menggeleng.

“Tapi aku…”

“Aku apa? Kau masih bersamanya, Theo. Kau ingin aku melakukan apa?” Sera menepuk dadanya, lalu mendorong Theo menjauh.

“Aku…”

Tili menahan napas—terkejut saat merasakan tangannya tersentak.

***

Theo tersenyum menatapnya—kembali berada di hadapannya, bahkan mengelus pipinya. "Yang jelas aku lega kau baik-baik saja," katanya.

Tili mengedip. Theo bicara normal saja, tidak terlihat ada sesuatu hal aneh terjadi. 

“Ragnar ada di depan. Dia ingin menemuimu.” Theo meneruskan berpamitan dengan normal, sementara Tili masih diam dan amat kebingungan. 

Ia bahkan tidak tahu Theo membicarakan apa—siapa Ragnar?

“Tili? Apa kepalamu sakit? Kau kenapa?” Theo sudah berdiri, tapi menunduk dan menatap wajah Tili yang kosong.

“Ada apa?” tanyanya.

“Banyak.” Tili menatapnya. “Kau akan ke mana?” tanya Tili.

Apapun yang dilihat Tili beberapa detik lalu bisa jadi hanya bayangan ilusi, tapi apapun yang dianggapnya mimpi telah terbukti menjadi nyata. Gempa dan petaka itu kenyataan sekarang.

Maka Tili menyimpulkan kalau Theo akan menemui Sera—memohon padanya untuk tinggal. Tili tidak akan menganggapnya mimpi buruk lagi

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #105 Obat Atau Racun?

    Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #104 Keinginan Atau Rencana?

    “Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #103 Niat Atau Perasaan?

    “Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #102 Hijau Atau Darjeeling?

    Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #101 Nasehat Atau Hasutan?

    Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #100 Sibuk Atau Dingin?

    “Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status