LOGIN“Tili?’
“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya.
“Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.
“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.
Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.
Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.
Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.
“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.
Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.
“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.
Tili ingin terus menyangkal, tapi telah terpandang olehnya perban yang membebat lengannya, juga rasa nyeri yang semakin menyebar. Nyata, rasa sakit yang saat ini menerpa tubuhnya adalah nyata.
“Tapi itu …” Tili meraba perutnya, dan gundukan hangat itu tidak ada.
Sekali lagi, Tili mengelus, dan tetap tidak ada. Perutnya rata, seolah tidak pernah ada apapun di sana.
“Tapi ini mimpi, Lio…” bisik Tili, tercekat. Tidak mau menerima, lebih berharap saat ini dirinya sedang tertidur saja lalu bermimpi.
Mimpi tidak akan menyakitinya. Mimpi akan berakhir saat terbangun. Mimpi berarti ia masih memiliki anaknya di alam nyata.
“Maaf, Tili… maaf, tapi ini nyata.” Lio menjelaskan sambil mengusap pipinya—juga pipi Tili yang mulai basah.
“Tidak! Lio… ” Tili menepis tangan Lio, menggeleng sekeras mungkin.
Lio juga menggeleng. “Maaf, mereka menarikmu dari bawah reruntuhan dalam keadaan terluka. Dan… aku sudah bersyukur kau bisa selamat.”
Lio tidak sanggup menyebut apa yang terjadi pada kandungan Tili, ingin memeluknya lagi, tapi Tili menepis.
“Seharusnya mereka membiarkanku mati saja!” Tili tidak keberatan. Tili memilih mati saja kalau kenyataan yang ada untuknya seburuk ini.
“Tili… jangan…”
“UNTUK APA AKU HIDUP KALAU SEMUA ITU BOHONG!” Tili menjerit sambil menyibak selimut, tapi langsung terdiam saat melihat kakinya.
Kaki itu utuh. Tidak remuk seperti dalam bayangan buruk itu. Terluka dan dibalut perban, tapi terlihat membentuk kaki.
“Hanya retak katanya. Akan sembuh. Kau akan sembuh—jangan meminta mati, Tili.” Lio memohon, terisak dan memeluk Tili.
“Aku tahu ini berat, tapi tidak masalah. Kau hidup, Tili. Kau akan hamil lagi.” Lio menghamburkan penghiburan, tapi Tili tidak amat mendengar.
Ia hanya merengkuh saat tangan Lio merangkul lehernya. Air mata duka itu masih terus mengucur, tapi mata Tili tidak kosong.
“Aku bodoh…” bisik Tili.
Ia melihat bayangan kenyataan yang akan terjadi, tapi karena menganggapnya sebagai mimpi, ia melakukan kesalahan fatal. Kalau saja lebih percaya pada firasat buruk itu, mungkin anaknya akan selamat.
“Tidak bodoh.” Lio masih menghibur sebisanya, mengira Tili hanya tengah berduka biasa.
Tapi Tili sedang memproses perbedaan yang terjadi. Kakinya tidak hancur karena ia membuat sedikit perbedaan. Ia masih kehilangan anaknya—karena perbedaan yang dibuatnya terlalu sedikit.
“Lio…”
“Aku akan memanggil Duke Greybone. Kau berbaring dulu.” Lio menepuk bahu Tili, memintanya kembali berbaring.
Tili belum ingin setuju, tapi diam dan berbaring. Ia membutuhkan sunyi. Untuk berpikir. Memilah ilusi dan kenyataan, memilah perasaan antara amarah, duka dan bersalah.
Tili perlu meluapkan semua perasaan itu pada orang yang tepat.
***
“Tili! Syukurlah!”
Tili duduk mematung saat tangan Theo terulur dan memeluknya. Tapi kening Tili berkerut karena mengingat bagaimana Theo memeluk Sera di balkon itu.
“Kau meninggalkanku.” Tili bergumam, dan pelukan itu langsung terlepas. Theo duduk di samping Tili dengan amat pelan, melambangkan beban berat yang ditanggungnya.
“Iya. Aku harus mencari ayahku. Dia masih ada di dalam.” Theo menggeleng, sambil menyingkirkan rambut pirang tembaga Tili yang tersangkut di pipi akibat lembab. Mata Theo redup, dan memerah.
“Aku harus memastikan semua orang selamat. Tapi... aku tidak seharusnya meninggalkanmu.” Theo meraih tangan Tili, dan mengecupnya. “Maafkan aku. Seharusnya aku…”
“Kau masuk untuk mencari ayahmu?” Tili mengulang ingatannya. Membedakan mana mimpi dan kenyataan.
“Iya. Ayahku masih ada di kamar. Be—”
“Bukan karena Sera?” Tili persis menatap mata Theo, melihat saat mata redup itu menajam sesaat sebelum akhirnya menutup bersama gelengan.
“Apa maksudmu, Tili? Aku masuk untuk menjemput ayahku.” Theo tersenyum getir—menunduk sebelum akhirnya menggeleng.
“Aku mencoba menyusul setelah guncangan kedua datang, hanya… Aku yang menemukanmu di reruntuhan, tapi…terlambat.”
Theo menunduk lagi, memainkan jari Tili yang masih ada dalam genggamannya. “Aku seharusnya bersamamu.”
“Ya, kau seharusnya…”
Tili menghentikan kalimatnya, bukan karena tercekat. Memang air mata Tili kembali turun, tapi Tili diam karena menyadari kalau Theo tidak akan jujur mengakuinya.
Suami yang telah bersamanya selama tiga tahun lebih itu, tidak akan mengakui kalau malam itu ia berbalik untuk Sera—terutama karena dalam kenyataan ini Theo tidak pernah menyebut Sera sama sekali.
“Aku tahu kau bingung, tapi semua baik-baik saja. Aku sudah membereskan semuanya. Kita akan baik-baik saja.” Theo kembali meraih tangan kanan Tili, membuat bandul gelang dari Lio bergoyang pelan.
Theo mengecup tangan Tili, dengan senyum yang lebih terlihat tulus.
Dan gelap.
***
Tili mengedip, karena saat membuka mata, ia tidak lagi ada di kamar rumah sakit. Tili melihat tirai biru tipis, dengan jendela bulat. Tili menatap sekitar dengan mata melebar—sangat bingung.
Tili ingat sedang menatap Theo tadi—dan ada di rumah sakit. Lalu semua ini apa?
“Kenapa…”
“Sera! Jangan pergi!”
Tili mengerjap, dan menyibak tirai di depannya. Teriakan itu dari luar—dan suara itu adalah Theo yang berteriak.
Tili mengintip keluar. Dan melihat Theo mengejar Sera yang akan menaiki kereta kuda yang sudah siap di halaman belakang.
“Jangan pergi lagi, aku mohon.” Theo menangkap tangan Sera.
“Kenapa aku tidak boleh pergi? Kau bersamanya.” Rambut Sera yang hitam panjang, tampak melambai saat menggeleng.
“Tapi aku…”
“Aku apa? Kau masih bersamanya, Theo. Kau ingin aku melakukan apa?” Sera menepuk dadanya, lalu mendorong Theo menjauh.
“Aku…”
Tili menahan napas—terkejut saat merasakan tangannya tersentak.
***
Theo tersenyum menatapnya—kembali berada di hadapannya, bahkan mengelus pipinya. "Yang jelas aku lega kau baik-baik saja," katanya.
Tili mengedip. Theo bicara normal saja, tidak terlihat ada sesuatu hal aneh terjadi.
“Ragnar ada di depan. Dia ingin menemuimu.” Theo meneruskan berpamitan dengan normal, sementara Tili masih diam dan amat kebingungan.
Ia bahkan tidak tahu Theo membicarakan apa—siapa Ragnar?
“Tili? Apa kepalamu sakit? Kau kenapa?” Theo sudah berdiri, tapi menunduk dan menatap wajah Tili yang kosong.
“Ada apa?” tanyanya.
“Banyak.” Tili menatapnya. “Kau akan ke mana?” tanya Tili.
Apapun yang dilihat Tili beberapa detik lalu bisa jadi hanya bayangan ilusi, tapi apapun yang dianggapnya mimpi telah terbukti menjadi nyata. Gempa dan petaka itu kenyataan sekarang.
Maka Tili menyimpulkan kalau Theo akan menemui Sera—memohon padanya untuk tinggal. Tili tidak akan menganggapnya mimpi buruk lagi
“Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria ding
“Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. “Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. “Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu meng
“Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count
“Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.“Duchess? Maaf.”Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.“Kau… pengawal itu.”Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tang
“Tili?’“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. “Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.Tili
“Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. “Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat. Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya sa







