Share

#004 Kebohongan Atau Kejujuran?

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-01-15 16:14:17

“Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.

Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.

“Duchess? Maaf.”

Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.

“Kau… pengawal itu.”

Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.

Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. 

Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.

“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tangannya. Luka ringan dibanding apa yang terjadi dalam bayangannya.

“Ragnar, Duchess.” Wajah Ragnar tampak merona. “Saya ingin berterima kasih. Kalau Anda tidak… terima kasih, dan maaf.” 

Ragnar berlutut dengan satu kaki menekuk, satu tangannya di lantai. “Anda justru menyelamatkan saya—padahal seharusnya tugas saya adalah menjaga Anda.”

Suaranya serak dan bergetar. Prajurit muda itu tidak berani mengangkat tubuh. “Maafkan saya—tapi terima kasih. Saya berhutang nyawa pada Anda.”

Tarikan tangan Tili membuatnya tidak tertimbun reruntuhan, tapi kini Ragnar juga merasa bersalah karena Tili kehilangan bayinya.

“Ragnar, itu hanya…” Tili ingin menenangkan, menyebut kalau semua itu kebetulan, tapi itu bohong. Tili mengambil keputusan menyelamatkan Ragnar saat itu. Ia memperbaiki sesuatu.

Mimpi itu sekali lagi membuat perbedaan, bukan hanya kakinya yang tidak lagi hancur, tapi menyelamatkan nyawa orang lain.

“Ragnar… apa aku boleh meminta tolong?” Tili baru membentuk rencana itu, nekat tapi bisa jadi sangat salah. Ini membuat Tili agak ragu saat mengucapkannya. Juga Tili sangat sadar kalau apa yang dimintanya sudah melampaui batas waras.

“Tentu, Duchess. Saya akan melaksanakannya, apapun itu!” Ragnar berdiri, menegakkan tubuh, menatap Tili tekab bulat di matanya. 

“Aku… khawatir pada keadaan Duke Greybone. Dia bekerja tanpa henti untuk memulihkan keadaan, tanpa peduli keadaan tubuhnya.” Tili belum menyiapkan alasan, jadi menjelaskan dengan agak berputar-putar.

“Bisakah kau mengikutinya dan melaporkan padaku apa saja kegiatannya? Aku khawatir Duke Greybone akan sakit.” 

Tili tentu tidak akan jujur menyebut kalau Theo akan menemui wanita lain kepada prajurit yang jelas bekerja untuk Greybone. Dan belum tentu juga hal itu terjadi. Tili tidak mau dianggap istri pencemburu yang tidak masuk akal.

“Saya?” Ragnar tampak agak bingung.

“Ya, Ragnar. Aku tahu ini permintaan tidak biasa, tapi apa kau bisa? Theo tidak suka kalau aku berlebihan mengkhawatirkannya. Jadi beginilah… aku minta juga—jangan sampai dia melihatmu.”

Tili menambahkan dengan senyum manis. Permintaan itu terdengar benar-benar seperti permohonan istri yang mengkhawatirkan suaminya—bukan kegiatan memata-matai.

“Tentu saja bisa, Duchess. Akan saya laksanakan.” Ragnar membungkuk lagi.

“Terima kasih. Kau bisa melapor padaku malam nanti.” Tili menghasilkan senyum lain yang tidak kalah manis.

Ragnar mengangguk, lalu berpamitan.

Tili berbaring, memejamkan mata. Kembali memikirkan kenyataan—mencoba membuat kehidupannya tetap masuk akal.

Mimpi yang dilihatnya itu… apakah benar-benar masa depan? Laporan Ragnar malam nanti yang akan membuktikannya.

***

“Kau membaik.” Lio menarik napas panjang, puas melihat buah yang disiapkannya untuk Tili ludes dalam waktu singkat.

“Aku baik-baik saja.” Tili tersenyum untuk meyakinkan. Keadaan perasaan dan otaknya sedang tidak baik-baik saja, tapi Lio belum perlu tahu.

Tili tidak akan membagi apapun padanya sebelum membuktikan kalau dirinya tidak gila. Ragnar belum kembali untuk melapor, jadi Tili belum bisa membuktikannya.

“Aku mungkin harus mencari jimat yang lebih ampuh. Gelang itu tidak ampuh. Katanya bisa memperbaiki nasib buruk, tapi mana? Yang ada kau malah…” 

“Tunggu!” Tili tadinya tidak amat ingin mendengar ocehan Lio—yang memang selalu percaya pada hal mistis dan keajaiban, tapi saat menyebut ‘memperbaiki nasib’, otak Tili seolah tersengat.

Tili menatap gelang yang masih ada di tangannya. Mimpi aneh itu ada—hampir seketika, setelah Lio memasang gelang itu di tangannya.

“Ada apa? Kau ingin aku menunggu apa?” Lio mengibaskan tangan di depan wajah Tili dengan penasaran.

“Kau mendapatkan ini dari mana? Aku lupa.” Tili mengangkat tangan, menunjuk gelang hadiah itu. Lio sudah menjelaskan, tapi Tili ingin mendengar lebih detail.

“Dari chapel di ujung Whisperwood. Aku tersesat saat berkuda, dan berteduh di sana saat hujan. Ada orang tua yang mendekatiku. Aku pikir hanya pengemis, tapi rupanya pedagang. Ia menawarkan beberapa barang, tapi aku tertarik pada ini. Terutama karena bandul yang mirip dengan matamu—juga isinya.”

Lio menunjukkan permata berwarna hijau emerald itu.”Kau lihat, ada titik pasir di sana.”

Tili menatap bandul berbentuk prisma itu dengan lebih seksama. Sekilas memang seperti permata pada umumnya, tapi Lio benar. Saat Tili mengguncang, ada bagian dalam batu itu yang seolah bergerak.

Tidak sangat terlihat karena warna hijau batu itu cukup pekat, tapi pergerakannya bisa terlihat.

“Kata wanita itu, namanya pasir waktu. Tapi aku tahu kalau itu bohong.” Lio tertawa. “Bahkan untuk ukuran otakku, aku tahu dia sedang membual.“

Lio mengangkat tangan dan, menjentik bandul itu dengan jari. “Dan kini aku semakin tahu kalau dia memang berbo—Tili?”

Mata Tili telah kosong.

***

Tili tidak amat bingung saat menyadari tidak lagi ada di rumah sakit, tapi tetap bingung kenapa harus muncul di dalam kamar mandi.

Tili berdiri di belakang partisi empat lipatan yang biasa memisahkan area kamar mandi dan kamar bangsawan. 

Tili sedikit bergeser, dan terlihat bak mandi yang sudah penuh dan wangi. Bak mandi itu tidak asing. Tili sudah pernah melihat saat Lio berendam di sana. Ia ada di dalam kamar Lio.

“Kenapa…” Tili mundur dan menutupi tubuhnya dengan tirai jendela saat mendengar langkah mendekat.

Lio muncul dari balik partisi dengan jubah mandi warna biru favoritnya.

“Tu…” Tili menutup mata saat Lio menurunkan jubah itu. Mereka berteman, tapi bukan berarti Tili akan nyaman melihatnya telanjang bulat.

“AGHHH!”

Tili membuka mata, dan melihat Lio terpelanting—tidak tahu kenapa, tapi Lio sedang menggapai, sebelum akhirnya terjengkang dengan bagian belakang kepala menghantam tepi bak keramik yang tebal itu.

“Lio!” Tili memekik, mengulurkan tangan, ingin menolong Lio yang terbaring diam.

***

“Tili! Kenapa kau berteriak?”

Lio ada di hadapannya, masih duduk di samping ranjangnya seperti tadi. Hanya wajahnya saja yang heran. 

“Kenapa juga kau mengulurkan tangan?” Lio menatap kedua tangan Tili yang memang terulur maju—masih dalam sikap ingin menolong.

Tapi Tili sudah keluar dari mimpi itu, dan Lio baik-baik saja.

“Lio, kalau kau akan mandi, hati-hati saat melangkah mendekati bak.” Tili mencengkram lengan Lio.

“Tili? Apa kau sehat?” Lio tanpa ragu menyentuh kening Tili, mengangganya sedang mengigau, dan demam.

“Berjanjilah kau akan berhati-hati.” Tili meremas lengan Lio dengan lebih erat, memaksa.

“Ya.. oke. Tapi…”

“Duchess!” Pintu kamarnya diketuk, suara Ragnar memita izin masuk.

“Aku akan pergi kalau begitu. Aku harus pulang. Ayahku akan bingung.” Lio berdiri. Ia memang selalu menyingkir kalau Tili bekerja. Ia mengira Ragnar akan melaporkan pekerjaan.

“Ingat, hati–”

“Iya, aku akan berhati-hati di kamar mandi.” Lio memutar matanya, masih heran tapi berjanji sembarangan untuk teman yang masih dinilai sakit. Ia melambai saat membuka pintu, mempersilakan Ragnar masuk sekaligus keluar.

“Bagaimana?” Tili menuntut laporan Ragnar dengan tidak sabar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yanti
wah teman yg sangat baik. gelang yg seharusnya bisa menyelamatkan dia malah dikasih ke Tili. nasib memang misteri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #007 Pengingkaran Atau Kebenaran?

    “Terima kasih atas sambutannya, Duke Greybone. Dan saya ikut prihatin atas keadaan Anda, Duchess.” Caelan membungkuk sekilas di hadapan Tili, dan menampilkan pandangan simpatik saat menatap kaki Tili sekilas.“Terima kasih, Pangeran. Selamat datang di Greybone.” Tili menyilangkan satu tangan di dada dan membungkuk untuk balasannya. Sikap pangeran yang sempurna, jelas sangat terdidik.“Saya sudah mendengar kalau keadaan Greybone sangat buruk, dan saya sudah melihat sebagian saat perjalanan tadi.” Ia menjabat tangan Theo, dengan wajah prihatin yang sama.“Memang, karena itu saya sangat bersyukur Lunaris mengirim bantuan.” Theo pun bersikap sempurna. Setahu Tili, Theo dekat dengan beberapa pangeran, tapi sepertinya Caelan tidak termasuk. Sikap di antara mereka berdua sangat resmi.“Ini sudah kewajiban kami untuk membantu daerah yang kesulitan. Lunaris tidak akan membiarkan Greybone sendirian.”Tili sampai melirik, karena kalimat Caelan sangat manis. Pangeran itu tampak seperti pria ding

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #006 Cemburu Atau Gila?

    “Kau salah lihat, Tili.” Bantahan adalah yang pertama keluar dari bibir Theo. “Di mana kau melihat aku memeluk Sera? Apa ada yang melapor padamu? Aku akan menghukum siapa pun yang—”“Maka kau harus menghukumku,” potong Tili cepat. “Karena aku yang melihatnya sendiri—dan mendengarmu membisikkan rindu padanya.”Tili membuka mata selebar mungkin, menunggu. Ia ingin melihat keterkejutan, kepanikan, atau sekadar kikuk. Namun wajah Theo justru tenang. “Tili, itu absurd.” Theo menggeleng pelan. “Kalau kau sampai merasa melihat aku memeluk Sera, berarti kondisi tubuhmu saat itu tidak baik. Kau terluka parah. Sangat mungkin kau berhalusinasi.”“Berhalusinasi?” Tili tertawa pendek, getir. “Jadi sekarang kau menyebutku gila?”“Aku tidak mengatakan begitu.” Theo menghela napas dan meraih tangan Tili, kali ini lebih cepat, Tili tidak sempat menepis.“Memang tidak, tapi kau menyiratkannya.” Suara Tili bergetar, emosi kini mengalir bersama ingatan.“Tiga tahun, Theo! Tiga tahun aku membantumu meng

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #005 Benar Atau Salah?

    “Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #004 Kebohongan Atau Kejujuran?

    “Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.“Duchess? Maaf.”Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.“Kau… pengawal itu.”Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang. Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tang

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #003 Maya Atau Nyata?

    “Tili?’“Syukurlah.” Tili membisikkan rasa lega luar biasa, saat mendapati mata biru Lio yang pertama terpandang olehnya. “Semua itu mimpi… syukurlah…” Tili teramat lega. Kalau Lio yang bersamanya, berarti semua itu tidak nyata, seperti sebelumnya.“Oh… Tili…” Lio memeluknya, dan terisak.Saat itu Tili menyadari perbedaan. Mereka tidak lagi berada di ruang pesta—dan tidak sedang berdiri.Tili berbaring di ranjang sempit tertutup selimut putih tipis, bukan ranjang lebar di dalam kamarnya dengan selimut tebal. Itu ranjang rumah sakit. Tili mengenali pohon Magnolia ungu yang tumbuh menjulang di jendela.Tili selalu melewati deretan pohon itu setiap kali mengunjungi rumah sakit yang ada tidak jauh dari Kastil Greybone.“Kenapa aku di sini?” Tili menepuk punggung Lio, dan ingin bangkit.Tapi Lio semakin mempererat pelukan, dan masih meneruskan isakan, bahkan menjadi lebih keras.“Lio… aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi…” Tili meyakinkan, tapi suaranya sendiri sudah bergetar.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #002 Pengulangan Atau Perwujudan?

    “Anakku?’ Tili menangkup perutnya, dan langsung dihujani kelegaan karena masih merasakan gundukan hangat di sana.“Apa perutmu sakit? Apa kau mual lagi?” Lio mulai menebak sambil membawa Tili ke tepi. “Apa…” Tili menarik napas panjang, mengusap keningnya yang berkeringat. Lio semerta-merta membuka kipas berenda sewarna gaun yang sedang dipakainya, mengipasi wajah Tili yang memang pucat dan berkeringat.“Bagaimana kalau kau masuk saja? Istirahat,” usul Lio. Di matanya, Tili terlihat amat lemas.Tili menggeleng. “Tidak… aku hanya bermimpi buruk. Aku masih harus menyambut tamu,” gumam Tili.“Aku dan Theo baik-baik saja.” Tili menyimpulkan dalam hati. Lidah Tili saat ini rasanya masih kasap—seolah bisa merasakan debu yang ikut terhirup bersama napas terengah. Kakinya juga agak lemas, karena bayangan kedua kakinya tidak lagi berbentuk masih sangat nyata di matanya.Tapi semua bayangan aneh itu tidak mungkin nyata. Yang benar adalah Theo mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status