LOGIN“Aku sudah mengatakannya tadi, Tili. Aku harus mengurus pengungsi dan kerusakan yang terjadi di kota. Gempa kali ini cukup besar.” Theo menunduk mengecup kening Tili, lalu berbalik keluar.
Tili menyipitkan mata, dan perlahan tangannya terangkat, mengusap kening—tidak rela bekas ciuman Theo menetap di sana.
“Duchess? Maaf.”
Tili membuka mata, pintu kamarnya terbuka. Pria yang masuk asing untuk Tili—karena tidak tahu namanya, tapi Tili mengenali wajahnya.
“Kau… pengawal itu.”
Sejenak himpitan di dada Tili mengendur. Melihat pria yang sempat dilihatnya tertimbun reruntuhan—dan tenggelam dalam genangan darahnya sendiri—saat ini sedang berdiri tegak, membuatnya lega.
Tili mengusap perutnya yang kosong. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi tidak semuanya hilang.
Pengawal yang dengan sepenuh hati berusaha menjalankan tugas sampai mengorbankan nyawa—Tili tidak akan pernah menyesal menyelamatkannya.
“Siapa namamu?” tanya Tili sambil tersenyum, dan menatap beberapa balutan perban di tangannya. Luka ringan dibanding apa yang terjadi dalam bayangannya.
“Ragnar, Duchess.” Wajah Ragnar tampak merona. “Saya ingin berterima kasih. Kalau Anda tidak… terima kasih, dan maaf.”
Ragnar berlutut dengan satu kaki menekuk, satu tangannya di lantai. “Anda justru menyelamatkan saya—padahal seharusnya tugas saya adalah menjaga Anda.”
Suaranya serak dan bergetar. Prajurit muda itu tidak berani mengangkat tubuh. “Maafkan saya—tapi terima kasih. Saya berhutang nyawa pada Anda.”
Tarikan tangan Tili membuatnya tidak tertimbun reruntuhan, tapi kini Ragnar juga merasa bersalah karena Tili kehilangan bayinya.
“Ragnar, itu hanya…” Tili ingin menenangkan, menyebut kalau semua itu kebetulan, tapi itu bohong. Tili mengambil keputusan menyelamatkan Ragnar saat itu. Ia memperbaiki sesuatu.
Mimpi itu sekali lagi membuat perbedaan, bukan hanya kakinya yang tidak lagi hancur, tapi menyelamatkan nyawa orang lain.
“Ragnar… apa aku boleh meminta tolong?” Tili baru membentuk rencana itu, nekat tapi bisa jadi sangat salah. Ini membuat Tili agak ragu saat mengucapkannya. Juga Tili sangat sadar kalau apa yang dimintanya sudah melampaui batas waras.
“Tentu, Duchess. Saya akan melaksanakannya, apapun itu!” Ragnar berdiri, menegakkan tubuh, menatap Tili tekab bulat di matanya.
“Aku… khawatir pada keadaan Duke Greybone. Dia bekerja tanpa henti untuk memulihkan keadaan, tanpa peduli keadaan tubuhnya.” Tili belum menyiapkan alasan, jadi menjelaskan dengan agak berputar-putar.
“Bisakah kau mengikutinya dan melaporkan padaku apa saja kegiatannya? Aku khawatir Duke Greybone akan sakit.”
Tili tentu tidak akan jujur menyebut kalau Theo akan menemui wanita lain kepada prajurit yang jelas bekerja untuk Greybone. Dan belum tentu juga hal itu terjadi. Tili tidak mau dianggap istri pencemburu yang tidak masuk akal.
“Saya?” Ragnar tampak agak bingung.
“Ya, Ragnar. Aku tahu ini permintaan tidak biasa, tapi apa kau bisa? Theo tidak suka kalau aku berlebihan mengkhawatirkannya. Jadi beginilah… aku minta juga—jangan sampai dia melihatmu.”
Tili menambahkan dengan senyum manis. Permintaan itu terdengar benar-benar seperti permohonan istri yang mengkhawatirkan suaminya—bukan kegiatan memata-matai.
“Tentu saja bisa, Duchess. Akan saya laksanakan.” Ragnar membungkuk lagi.
“Terima kasih. Kau bisa melapor padaku malam nanti.” Tili menghasilkan senyum lain yang tidak kalah manis.
Ragnar mengangguk, lalu berpamitan.
Tili berbaring, memejamkan mata. Kembali memikirkan kenyataan—mencoba membuat kehidupannya tetap masuk akal.
Mimpi yang dilihatnya itu… apakah benar-benar masa depan? Laporan Ragnar malam nanti yang akan membuktikannya.
***
“Kau membaik.” Lio menarik napas panjang, puas melihat buah yang disiapkannya untuk Tili ludes dalam waktu singkat.
“Aku baik-baik saja.” Tili tersenyum untuk meyakinkan. Keadaan perasaan dan otaknya sedang tidak baik-baik saja, tapi Lio belum perlu tahu.
Tili tidak akan membagi apapun padanya sebelum membuktikan kalau dirinya tidak gila. Ragnar belum kembali untuk melapor, jadi Tili belum bisa membuktikannya.
“Aku mungkin harus mencari jimat yang lebih ampuh. Gelang itu tidak ampuh. Katanya bisa memperbaiki nasib buruk, tapi mana? Yang ada kau malah…”
“Tunggu!” Tili tadinya tidak amat ingin mendengar ocehan Lio—yang memang selalu percaya pada hal mistis dan keajaiban, tapi saat menyebut ‘memperbaiki nasib’, otak Tili seolah tersengat.
Tili menatap gelang yang masih ada di tangannya. Mimpi aneh itu ada—hampir seketika, setelah Lio memasang gelang itu di tangannya.
“Ada apa? Kau ingin aku menunggu apa?” Lio mengibaskan tangan di depan wajah Tili dengan penasaran.
“Kau mendapatkan ini dari mana? Aku lupa.” Tili mengangkat tangan, menunjuk gelang hadiah itu. Lio sudah menjelaskan, tapi Tili ingin mendengar lebih detail.
“Dari chapel di ujung Whisperwood. Aku tersesat saat berkuda, dan berteduh di sana saat hujan. Ada orang tua yang mendekatiku. Aku pikir hanya pengemis, tapi rupanya pedagang. Ia menawarkan beberapa barang, tapi aku tertarik pada ini. Terutama karena bandul yang mirip dengan matamu—juga isinya.”
Lio menunjukkan permata berwarna hijau emerald itu.”Kau lihat, ada titik pasir di sana.”
Tili menatap bandul berbentuk prisma itu dengan lebih seksama. Sekilas memang seperti permata pada umumnya, tapi Lio benar. Saat Tili mengguncang, ada bagian dalam batu itu yang seolah bergerak.
Tidak sangat terlihat karena warna hijau batu itu cukup pekat, tapi pergerakannya bisa terlihat.
“Kata wanita itu, namanya pasir waktu. Tapi aku tahu kalau itu bohong.” Lio tertawa. “Bahkan untuk ukuran otakku, aku tahu dia sedang membual.“
Lio mengangkat tangan dan, menjentik bandul itu dengan jari. “Dan kini aku semakin tahu kalau dia memang berbo—Tili?”
Mata Tili telah kosong.
***
Tili tidak amat bingung saat menyadari tidak lagi ada di rumah sakit, tapi tetap bingung kenapa harus muncul di dalam kamar mandi.
Tili berdiri di belakang partisi empat lipatan yang biasa memisahkan area kamar mandi dan kamar bangsawan.
Tili sedikit bergeser, dan terlihat bak mandi yang sudah penuh dan wangi. Bak mandi itu tidak asing. Tili sudah pernah melihat saat Lio berendam di sana. Ia ada di dalam kamar Lio.
“Kenapa…” Tili mundur dan menutupi tubuhnya dengan tirai jendela saat mendengar langkah mendekat.
Lio muncul dari balik partisi dengan jubah mandi warna biru favoritnya.
“Tu…” Tili menutup mata saat Lio menurunkan jubah itu. Mereka berteman, tapi bukan berarti Tili akan nyaman melihatnya telanjang bulat.
“AGHHH!”
Tili membuka mata, dan melihat Lio terpelanting—tidak tahu kenapa, tapi Lio sedang menggapai, sebelum akhirnya terjengkang dengan bagian belakang kepala menghantam tepi bak keramik yang tebal itu.
“Lio!” Tili memekik, mengulurkan tangan, ingin menolong Lio yang terbaring diam.
***
“Tili! Kenapa kau berteriak?”
Lio ada di hadapannya, masih duduk di samping ranjangnya seperti tadi. Hanya wajahnya saja yang heran.
“Kenapa juga kau mengulurkan tangan?” Lio menatap kedua tangan Tili yang memang terulur maju—masih dalam sikap ingin menolong.
Tapi Tili sudah keluar dari mimpi itu, dan Lio baik-baik saja.
“Lio, kalau kau akan mandi, hati-hati saat melangkah mendekati bak.” Tili mencengkram lengan Lio.
“Tili? Apa kau sehat?” Lio tanpa ragu menyentuh kening Tili, mengangganya sedang mengigau, dan demam.
“Berjanjilah kau akan berhati-hati.” Tili meremas lengan Lio dengan lebih erat, memaksa.
“Ya.. oke. Tapi…”
“Duchess!” Pintu kamarnya diketuk, suara Ragnar memita izin masuk.
“Aku akan pergi kalau begitu. Aku harus pulang. Ayahku akan bingung.” Lio berdiri. Ia memang selalu menyingkir kalau Tili bekerja. Ia mengira Ragnar akan melaporkan pekerjaan.
“Ingat, hati–”
“Iya, aku akan berhati-hati di kamar mandi.” Lio memutar matanya, masih heran tapi berjanji sembarangan untuk teman yang masih dinilai sakit. Ia melambai saat membuka pintu, mempersilakan Ragnar masuk sekaligus keluar.
“Bagaimana?” Tili menuntut laporan Ragnar dengan tidak sabar.
Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili
“Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in
“Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d
Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan
Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan
“Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b







