Share

#076 Mempercayai Atau Memperbaiki?

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-03-01 17:28:00
Tili kembali menyandarkan kepala pada bahu ayahnya.

“Seberat itu?” Julian mengerutkan kening saat merasakannya. Tili yang diam—hanya bersandar, memberi jawaban yang jelas baginya. Bebannya berat.

“Aku akan mengatakannya nanti.” Tili bukan ragu, tapi keputusan ini besar. “Ayah, apa kau masih mempercayaiku? Apapun yang aku lakukan.”

Julian tertawa pelan, lalu menepuk puncak kepala Tili. “Aku membiarkanmu berada di tempat miskin ini karena percaya padamu.”

“Ayah!” Tili menyenggol bahu ayahnya. Seb
aisakurachan

Lope sekebon ayah Tiliiii 😍😍 hari ini satu ya

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yanti
theo bakalan nyesal sedalam-dalamnya sdh main api.
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
the best ayah...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #107 Mawar Atau Teh?

    “Sera? Kenapa kau… Oh? Kau membawa dokumen?”Theo sudah akan menegur saat melihat Sera masuk—tidak ingin terganggu keluhannya, tapi segera maklum saat melihatnya membawa gulungan dokumen. Memahami kalau Sera datang atas perintah Tili.“Kau tidak suka aku datang?” Sera menangkap perubahan wajah Theo dengan mudah. Tidak suka menjadi lega.“Aku hanya tidak suka ada yang mengganggu.” Theo mengelak, sambil mengerutkan kening. Ia agak terkejut dengan betapa jujurnya wajahnya bereaksi atas kedatangan Sera, dan betapa cepatnya hatinya memaklumi saat menyadari kalau kedatangan Sera adalah karena Tili.Ia lebih menerima alasan ‘karena Tili’, dibanding urusan Sera sendiri.“Duchess memintaku mengantar ini.” Sera meletakkan ketiga dokumen di meja. “Duchess juga memintaku untuk mencatat apa saja revisi yang kau inginkan.”Theo mengangguk dan mulai memeriksa dokumen itu. Tapi saat baru membuka gulungan pertama, tangan Sera yang terulur menutupi dokumen itu, mengganggu.“Aku akan pergi,” kata Sera

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #106 Bujukan Atau Suruhan?

    “Cal!”Tili berteriak dan lari, padahal kepalanya semakin nyeri. Ia baru memakai gelangnya dalam waktu yang berdekatan. Sakit kepalanya kini berlipat ganda.Untungnya Cal langsung berpaling. “Tili… Ada apa?”Keheranan Cal berubah menjadi waspada saat melihat wajah Tili yang pucat—juga kepanikan Tili terlihat dengan jujur saat ini.“Tili!”Cal menyambar tangan Tili, dan menegakkan tubuhnya, karena jangkauan tangan Tili tidak sampai ke tembok.Tili bermaksud bersandar di tembok agar tidak terjatuh, tapi perkiraan jaraknya sudah agak kacau karena kepalanya berputar.“Tili… bernapas.” Cal menepuk pelan punggung tangan Tili yang sangat dingin, dan membantunya bersandar. “Kau panik lagi?”Cal ingat bagaimana Tili ada dalam keadaan seperti itu saat sedang memperingatkannya tentang perampok. “Ada apa?” tanya Cal, sambil mengusap kening Tili yang berkeringat.Tili mengangkat tangan, ingin bicara tapi napasnya terlalu sulit. Ia menelan ludah berulang kali untuk melegakan tenggorokan sebelum bi

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #105 Obat Atau Racun?

    Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #104 Keinginan Atau Rencana?

    “Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #103 Niat Atau Perasaan?

    “Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #102 Hijau Atau Darjeeling?

    Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status