LOGIN"Jangan pura-pura ah! Maneh sama Teh Susi habis ngapain di dalam kamar?" goda Jupri sambil menyikut lenganku.Belum sempat aku membalas, Teh Susi sudah berjalan keluar dari kamar dan berdiri di belakangku. Dia merogoh dompetnya lalu menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada Jupri."Ini buat beli rokok ya, Kang," kata Teh Susi ramah.Mata Jupri seketika berbinar lebar melihat uang tersebut. "Wah, makasih banyak, Teh! Sudah selesai, Teh?""Sudah nih, mau langsung pulang. Makasih ya, Kang," pamit Teh Susi.Sebelum melangkah pergi, Teh Susi sempat mengelus lembut lenganku. Dia bergegas menuju motor matiknya yang terparkir di pekarangan, mengenakan helm, lalu menyalakan mesin. Dari atas motor, dia menatap kami bertiga sambil melemparkan senyuman manis hingga kendaraan itu melaju dan menghilang di belokan gang.Setelah Teh Susi benar-benar pergi, Jupri kembali menatapku dengan pandangan terperangah dan mata membelalak curiga."Lumayan nih dapat goban! Teh Susi bener-bener cantik ba
"Maksudnya gimana, Teh? Ukurannya kurang gede?" tanyaku sambil menatapnya bingung.Teh Susi dengan cepat membungkam mulutku menggunakan telapak tangannya yang harum. "Jangan keras-keras ngomongnya! Bukan itu ih, tapi pasang di bagian lain maksudnya!" bisiknya panik sambil matanya melirik ke arah pintu depan.Aku menatap ke arah pintu luar. Jupri sedang sibuk di pekarangan, mengaduk adonan semen dan pasir untuk merekatkan kusen pintu yang baru dibobok.Agar urusan cepat selesai dan Teh Susi bisa segera pulang, akhirnya aku membawanya ke kamarku."Ya sudah, Teh, ayo cepat. Aku lagi ada kerjaan," kataku sambil menarik pelan tangannya menuju kamar."Pelan-pelan, Arya... kamu gak sabaran banget sih," goda Teh Susi sambil tersenyum manja.Setelah berada di dalam kamar, aku menutup gorden pintunya rapat-rapat, jangan sampai Jupri mengintip atau melihat ke dalam."Bagian mana yang mau dipasang lagi, Teh?" tanyaku langsung pada intinya.Teh Susi duduk di tepi ranjang kasur kapukku, mengulas se
Setelah selesai makan, kami menyalakan rokok untuk menyegarkan badan, sementara Jupri mulai mengukur bentangan atap yang akan diganti menggunakan meteran gulung."Eh, maneh mah kerja saja atuh, Ar! Ini sudah jam tujuh lebih, nanti dicariin bos geura!" tegur Jupri mengingatkan."Urang hari ini libur, Pri, sudah izin. Hari ini batu nisan Nenek datang, jadi mau sekalian dipasangin di makam," jelasku santai."Pantesan dari tadi santai banget. Mau urang bantuin pasang batu nisannya, Ar?" tawar Jupri perhatian."Gak usah, Pri, urang juga bisa. Lagian cuma sedikit kok, cuma pasang bagian kepalanya doang, sisanya mau dipakein batu kerikil sama rumput korea," tolakku halus."Korea? Jepang meureun! Korea mah lem, bukan rumput!" celoteh Jupri tertawa menepuk bahuku."Salah sedikit ah! Ayo, Pri, kita langsung saja pasang biliknya!" ajakku mengalihkan pembicaraan.Kami pun mulai membongkar atap bilik bambu yang lama. Kami berdua memanjat naik ke atas rangka atap rumah. Pertama-tama, kami melepas
Aku merasa senang, sedikit demi sedikit ingin memperbaiki rumah, mudah-mudahan saja aku bisa memperbaiki seluruh rumah dengan yang baru karena ini hartaku satu-satunya peninggalan keluargaku.Semen, pasir, dan biliknya sedang diantar. Aku dan Jupri membawa keramiknya doang dengan motorku. Tak berapa lama pasir, semen, dan biliknya diantarkan, jadi besok Jupri sudah bisa langsung memperbaiki rumahku.Semuanya selesai pukul setengah tujuh malam, aku juga ikut mengangkat yang membuat tubuhku berkeringat. Aku duduk di ruang tamu hanya memakai kolor sambil merokok menunggu capeknya hilang.Hingga ponselku berdering ada notifikasi pesan masuk:[A ini dari toko batu nisan, mau ngasih tahu nisannya sudah beres dan besok akan diantar]Aku senang akhirnya batu nisan untuk nenek sudah jadi, tinggal bayar sisanya. Mungkin besok aku mau libur dulu saja sehari, aku ingin memasang batu nisannya sendiri dan juga besok hari pertama Jupri memperbaiki rumahku jadi mungkin butuh bantuan.Memikirkan banya
"Belegug maneh mah!" bisik suara itu terkekeh usil.Sontak aku langsung berdiri karena kesal, tanganku masih memegang paha ayam bakar sambil melihat sekeliling."Saha nu belegug? Kalau berani tunjukkan pesonamu... eh wujudmu!" teriakku kesal sambil menunjuk ke arah sudut dapur.Tiba-tiba kursi yang aku duduki barusan bergerak sendiri memutar ke arahku.Tiba-tiba sesosok perempuan cantik duduk di depanku memakai daster bermotif daun ganja dengan posisi duduk tumpang kaki, kedua tangannya memegang mawar melatinya yang besar.Mataku melotot, kakiku mendadak kaku tidak bisa digerakkan."Lihat wanita aja payah maneh mah, masa dideketin cewek ampe keluar keringet dingin?" goda perempuan itu sambil tersenyum miring dan menatapku remeh."Si-siapa kamu?!" tanyaku terbata-bata dengan wajah panik.Suara tikus di atas atap seketika membuatku mendongak ke atas dan wanita tadi tiba-tiba menghilang."Allohuma barik lana..." gumamku cepat sambil merapatkan kedua tangan dan membaca doa.Sambil mencari
"Kata Bu Wulan, setelah Abah Jon meninggal, Aa ini yang menggantikannya ya?" kata si pria itu membuka obrolan begitu aku meletakkan cangkir di depan mereka."Sebenarnya aku bukan penggantinya, Pak. Jadi waktu itu pas Abah meninggal, beliau mengira aku cucunya. Terus sebelum hembusan napas terakhir, beliau ngasih pesan kalau aku pewarisnya," jelasku sejujurnya."Oh, begitu ya... Tapi katanya Aa ini malah lebih jago dari Abah Jon," timpal si pria sambil mengangguk-angguk paham."Iya, selain itu Aa ini masih muda, ganteng banget lagi," puji si wanita sambil tersenyum lebar, membuatku makin salah tingkah.Kami pun saling mengobrol dan berkenalan. Pria itu bernama Pak Darman dan istrinya Bu Hetin. Mereka adalah pengusaha kaya dari kota yang memiliki beberapa cabang rumah makan cukup besar."Jadi begini, A... Sebelumnya kan kami sudah berlangganan sama Abah Jon. Kami ini mau memperbarui penglaris supaya rumah makan kami makin ramai pengunjung," terang Pak Darman menyampaikan maksud kedatang







