FAZER LOGINSugiono melangkah cepat memasuki kamarnya dengan napas yang masih memburu. Sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya belum juga reda setelah pemandangan terlarang tadi malam. Ia meraba area bawah celananya, mendapati alat vitalnya menegang keras di balik balutan kain akibat bayangan tubuh putih Dita yang bergerak liar."Sial... kenapa aku jadi tegang begini..." umpat Sugiono tertahan, mengusap wajahnya dengan kasar untuk melunturkan sisa-sisa rangsangan yang menguasai pikirannya.Suara tawa kecil yang terdengar mengejek tiba-tiba menggema langsung di dalam kepalanya. Siluman kucing itu mendengus tajam lewat telepati, seolah bisa melihat apa yang sedang dialami buruh paruh baya tersebut.Yono... Yono... Kamu pasti habis mengintip suami istri yang sedang berduaan, kan? Mengakulah! Terong di balik celanamu itu tidak bisa berbohong, sedang berdiri tegak menantang langit, ya? ledek siluman kucing dengan nada geli.Sugiono mendengus sebal, balas membatin, "Heh, Dita, diamlah! Jangan i
"Ada apa? Kamu memanggilku, Dita? Aku kan sudah berapa kali bilang, kalau aku hanya pulang sekali dalam setahun! Aku sedang banyak pekerjaan, kamu ini pikirannya selalu kemana-mana!" bentak Bayu dengan nada tinggi, melemparkan ponselnya ke atas meja tamu.Dita mengerjap, menatap suaminya dengan dada bergemuruh. "Kamu selalu bertanya kapan aku pulang, aku dengan siapa... Tentu saja aku bersama sekretarisku! Itupun hanya membahas pekerjaan...!"Bayu mendengus kesal karena terus dicecar pertanyaan, sementara ponsel di sakunya kembali berdering nyaring beberapa kali dalam sehari."Mas, apa kamu tidak mulai memikirkan untuk rumah tangga kita?" suara Dita melemah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Kita sudah cukup banyak uang untuk memperoleh kehidupan kita, kalau memang kita mencukupinya. Lagian aku sudah lebih dari cukup dengan uang yang kamu berikan selama ini."Bayu mendecak pinggang, menatap tajam istrinya. "Dita, ini bukan hanya perkara uang! Ini masalah tanggung jawab.
Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat."Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta.""Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Sugiono singkat.Siti tersenyum malu-malu, matanya melirik memperhatikan postur tubuh Sugiono yang padat dan berisi di balik celana kainnya. "Walah, pantas saja. Kalau cari rezeki memang harus siap kerja apa saja."Bipp... Bipp...!Suara klakson mobil meraung keras dari arah gerbang depan."Dari tadi saya klakson, kenapa pagarnya tidak dibuka? Kamu ini sudah lama bekerja di sini, Ujang!" bentak suara seorang pria dari dalam mobil.Ujang berlari tergopoh-gopoh membuka pagar. "Maaf, Tuan... Saya tad
"Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,
Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono
Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng